
Author POV
Seperti biasa, Rama akan turun lebih dulu dari pada sang istri. Dia membuka pintu mobil, yang di dalamnya ada Kalisa, sebelum wanita itu benar-benar keluar, Rama lebih dulu membenahi tata letak jilbab isterinya.
Sempat terlelap membuat penampilan Kalisa sedikit berantakan. Bahkan Rama tak lupa, memasang kembali masker untuk menutupi wajah wanita tercintanya itu.
"Sudah," ucap Rama seraya mengulum senyum.
Dan senyum itu langsung menular ke Kalisa, dibalik kain tipis itu, Kalisa menggigit bibir bawahnya, dengan binar mata yang selalu mampu menyihir Rama.
"Tapi aku ke toilet dulu ya, Mas. Pembalutku rasanya penuh," izin Kalisa.
Dan langsung dijawab anggukan oleh Rama. "Kalau begitu biar Mas yang ambil nomor antrean. Sayang hati-hati yah." Balasnya seraya mengusap puncak kepala Kalisa.
Kalisa mengangguk, dan detik selanjutnya, Kalisa keluar dari dalam mobil tersebut, melangkah untuk mencari toilet.
Sedangkan Rama masuk ke dalam rumah sakit, mengambil nomor antrean di bagian Dokter kandungan.
Setelah beberapa menit membersihkan **** ************* dengan mengganti pembalut, Kalisa keluar dengan penuh kelegaan.
Di luar, orang-orang sedikit berdesakkan, karena rumah sakit ini memang terlihat sedang sangat ramai. Hingga dalam himpitan itu, Kalisa tak sengaja menabrak bahu seseorang.
"Aw!"
Seseorang memekik dan. Brugh!
Kalisa langsung berjengit kaget, dan membulatkan matanya dengan sempurna, dia bisa melihat, orang yang baru saja ditabraknya, jatuh ke pelukan seorang pria.
__ADS_1
Dengan perasaan khawatir pria itu langsung memeriksa bahu wanitanya. "Sayang apa ada yang sakit?" Tanyanya cemas.
Dan si wanita yang terlihat sedang hamil itu menggeleng. Namun, seolah tidak percaya. Pria itu langsung mengecupi bahu wanitanya dengan sayang. "Katakan kalau memang ini sakit, biar aku tuntut orang yang menabrakmu."
Glek!
Mendengar itu, Kalisa langsung menelan salivanya dengan susah payah.
Apa aku tidak salah dengar? Hanya karena menabrak bahu, aku akan dipenjara? Gumamnya takut-takut.
"Maafkan Saya, Nona. Saya tidak sengaja." Ucap Kalisa dengan kepala yang tertunduk.
Posisi mereka tadi sedikit berdesakkan, hingga membuat Kalisa benar-benar tidak melihat ibu hamil itu hendak keluar. Dia tidak sengaja.
Mata pria itu memicing tajam ke arah Kalisa, seseorang yang hampir saja mencelakai istrinya itu, membuat Kalisa lagi-lagi bersusah payah, menelan salivanya yang terasa tercekat di tenggorokan.
Paham, emosi suaminya tengah memuncak.
"Tapi dia hampir melukaimu dan anak kita, Sayang." Cetusnya masih tidak terima. Bahkan kini rahangnya sudah mengeras.
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan, Nona." Kalisa terus menunduk dalam, merasa bersalah.
Tak dipungkiri, kakinya gemetaran sekarang.
"Iya, Mbak. Aku juga tidak apa-apa," sahut wanita itu, ingin masalah ini cepat selesai.
"Tidak apa-apa, bagaimana? Bahumu pasti sakit, Sayang. Bagaimana kalau sampai mengganggu perkembangan anak kita?" Balas sang suami cepat.
__ADS_1
"Kak, yang sakit itu bahuku, tidak akan terjadi apapun dengan Baby kita." Ucapnya meyakinkan, Kalisa tahu wanita itu ingin masalah ini cepat selesai.
Pun dengan dirinya, karena ia juga merasa risih, akan semua mata yang ada di sana, mata yang tengah memandang ke arah mereka.
Dengan tergesa, wanita hamil itu menunduk untuk pamit pada Kalisa, dan segera menarik lengan suaminya untuk menjauh.
Sedangkan pria itu tak berhenti untuk merutuk, karena masih merasa tidak terima.
Hah!
Setelah kedua sejoli itu pergi, Kalisa langsung menghela nafas panjang, seolah beban yang menghimpit dadanya berangsur menghilang.
Kenapa lelaki tadi sangat mengerikan? Batin Kalisa.
Lalu tanpa apapun lagi, dia melangkah pergi, karena ia yakin, Rama pasti sudah menunggu dirinya terlalu lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wkwkwk maaf ya mbak Kalisa, dia emang begitu, suka sensian kalo udah menyangkut istri dan calon anaknya.
Ada yang tahu istri siapa yang ditabrak mbak Kalisa?
Jangan lupa mampir ke karya kakakku
__ADS_1