Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Tatapan yang sama


__ADS_3

Keluar dari restoran, Reyhan terus bersorak riang, membuat kedua orang yang sedang berjalan beriringan itu jadi ikut tersenyum melihat gemas tingkahnya.


"Yeh... Apa Rey dan adik sudah boleh panggil Papa Rama?" Tanyanya, bola mata jernih itu berbinar meminta persetujuan. Ia melirik ke arah Rama, yang di dilirik malah melirik ke arah Kalisa, karena ia tahu diri, hanya wanita itulah yang bisa memutuskannya sekarang juga. Boleh, atau tidak. Kalau saja ia boleh memutuskan, maka dengan lantang Rama akan mengatakan YA.


Kalisa mengerti situasi ini, di depan restoran sebelum masuk ke mobil Kalisa terlebih dahulu berjongkok di depan May dan Reyhan.


"Sayang... Om Rama kan belum jadi suami bunda. Jadi panggil Papa nya nanti. Kalau..."


Kalisa menggantung kalimatnya sendiri, merasa tak kuasa untuk melanjutkan nya, bisa-bisa ia akan salah tingkah, apalagi masih ada Rama.


"Kalau apa bunda? Kenapa tidak sekarang? Kan latihan." Tanya Rey.


"Kalau om dan bunda sudah sah menjadi suami istri." Jawab Rama, tahu kalau Kalisa sedang malu-malu.


Kamu memang mengerti aku. Batin Kalisa.


"Ummm... Kalau begitu bunda cepat menikah saja dengan om Rama." Timpal Reyhan lagi, meladeni anak kecil memang tidak ada habisnya, sudah terjawab satu, muncul pernyataan yang lainnya.


"Rey, sudah. Kamu tidak lihat wajah bunda?" Ucap Rama melerai pertanyaan-pertanyaan Reyhan.


"Kenapa? Wajah bunda baik-baik saja, malah semakin terlihat cantik." Balas Reyhan malah menggoda Kalisa, Kalisa tersenyum sambil membolakan mata. Anak sulungnya ini benar-benar tidak mengerti situasi.


*****


Rama tak langsung mengantarkan Kalisa dan juga anak-anak nya pulang ke rumah, ia malah membawa mereka ke kantornya. Entahlah, mungkin Rama ingin menunjukkan sesuatu pada seseorang atau ada maksud yang lainnya.


30 menit perjalanan menggunakan kijang besi, akhirnya mereka sampai di kantor cabang milik Rama yang berada di kota yang sama dengan tempat tinggal Kalisa.


Dengan cekatan pak Toto membukakan pintu gerbang, lalu menunduk hormat pada sang bos, ketika Rama memasuki area perkantoran nya.

__ADS_1


"Kal, jangan keluar dulu." Ucap Rama ketika mobilnya sudah sampai di parkiran, dengan cepat ia membuka seatbelt. Kalisa hanya mengernyit bingung , tapi ia tetap menuruti perintah lelaki berkacamata itu untuk berdiam diri.


Rama keluar dari mobilnya, berjalan ke depan lalu ke samping, ia membuka pintu mobil sebelah dimana Kalisa duduk.


"Jangan keluar sebelum aku membukakan pintu untukmu." Ucap Rama dengan lugas, dan itu sukses membuat hati Kalisa berdenyut tak karuan. Bahkan detak jantung nya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, ia yakin ini bukan perasaan biasa. Pelan-pelan ternyata ia sudah bisa menerima Rama berada disisinya. Untuk beberapa detik mereka saling tatap, mengunci satu sama lain.


Hingga akhirnya Kalisa melengoskan wajah kesamping, ia tersenyum kecil tak ingin Rama tahu.


"Aku kira ada apa mas." Ucap Kalisa menunduk, tak ingin melihat wajah lelaki itu dari jarak sedekat ini.


"Cie-cie, bunda suka yah sama om." Ucap Reyhan tiba-tiba. Membuat gadis kecil disampingnya tersenyum sambil menutup mulutnya merasa lucu dengan ucapan kakaknya.


"Kak, apa yang kamu bicarakan? Kamu ini masih kecil, belum mengerti apa-apa tentang orang dewasa." Balas Kalisa.


"Bunda... Dulu waktu kita masih sama-sama, Rey sering memperhatikan bunda saat menatap mata ayah. Dan sekarang tatapan bunda pada om Rama itu sama. Sama seperti bunda menatap ayah waktu itu. Jadi Rey benarkan?"


Glek! Kenapa aku jadi seperti tertangkap basah begini.


"Ten—"


"Kakak... Mas ayo lebih baik kita keluar. Kita sudah terlalu lama di parkiran. Aku haus." Potong Kalisa mencari alasan, jika semakin lama, bisa-bisa ia mati kutu, anak lelakinya ini benar-benar bisa mengerti perasaan orang yang sedih, nelangsa bahkan jatuh cinta.


Rey... Kamu benar-benar membuat bunda malu pada om Rama. Lebih baik kamu tenggelamkan bunda sekarang juga.


Rama mengangguk, lalu tanpa sepatah kata pun lagi Kalisa keluar dari mobil, Rama membukakan pintu untuk Reyhan dan May, dan dengan senang hati Rama menggendong tubuh gadis ciliknya untuk masuk ke dalam kantor.


Sedangkan di post satpam, seorang laki-laki yang sedang di duduk terus memperhatikan dengan seksama empat orang yang baru saja masuk ke dalam kantor. Benarkah dia tidak salah lihat?


Bahkan Hendri sampai mengucek mata beberapa kali, memastikan bahwa apa yang ia lihat tidaklah salah. Itu Kalisa, Reyhan, May dan juga Rama, Bosnya.

__ADS_1


Ada hubungan apa mereka dengan Rama? Begitulah kira-kira isi pikiran Hendri saat ini.


Dari sisi mana pun mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Apakah orang yang sedang di dekati bos besarnya itu adalah Kalisa? Benarkah begitu? Ia harus cepat menyelidiki sendiri persoalan ini. Kalaupun iya, itu artinya ia harus bersaing dengan Rama. Itu tidak jadi masalah, siapapun lelaki yang mendekati Kalisa akan menjadi rivalnya. Meskipun sebelum berperang Hendri sudah kalah saing. Tapi ia tetap percaya diri, bahwa Kalisa hanya akan ditakdirkan untuk nya. Dan bukan untuk Rama.


Pak Toto mendekat ke arah Hendri setelah beliau membuat kopi hitamnya. Dilihatnya sang partner terbengong-bengong sambil melihat ke arah pintu masuk kantor.


"Hen, ada apa?" Tanya pak Toto sambil menepuk bahu lebar Hendri.


"Eh bapak. Ngagetin aja." Karena terbengong, Hendri jadi terkejut dengan kedatangan pak Toto, ia sampai mengusap-usap dadanya agar kembali tenang.


"Kamu lagian bengong, kenapa? Ada masalah? Apa otongmu masih sakit?" Tanya pak Toto beruntun. Bukan tanpa sebab ia bertanya seperti itu, ia lihat sendiri saat datang tadi, Hendri berjalan mengangkang-ngangkang. Saat ditanya katanya otongnya sakit karena terbentur pucuk meja. Ada-ada saja. Padahal itu benda pusaka lelaki yang paling berharga, malah di bentur-benturin ke meja. Kalau sampai terluka bagaimana? Hancur sudah dunia.


Hendri menelan ludahnya terlebih dahulu.


"Ngomongin otongnya nggak usah kencang-kencang napa pak, saya malu nih kalau sampai ada yang denger." Ucap Hendri setengah berbisik, membuat pak Toto jadi cekikikan sendiri.


"Hehe maaf Hen." Ucap pak Toto masih nyengir, Hendri hanya ber'hem' ria.


"Oiya pak, saya mau tanya. Tadi bapak lihat orang yang datang dengan pak Rama nggak?" Tanya Hendri kembali ke fokus awal.


"Lihat, sepertinya itu calon istri dan anak-anaknya Hen. Calonnya pak Rama cantik dan anggun yah." Ucap pak Toto dengan jujur sambil mengingat wajah Kalisa yang terbungkus jilbab, nampak anggun nan cantik, bahkan tatapannya sangat meneduhkan hati.


Sadar tak sadar Hendri mulai mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras mendengar ucapan jujur pak Toto. Ingatannya yang lalu telah kembali, ia ingat bahwa Rama adalah orang yang sama, yang ada di foto bersama Kalisa, foto yang di kirimkan Sela siang itu. Bahkan Rama juga orang yang sempat menjemput Kalisa dari rumah sakit.


Jadi benar, Rama dan Kalisa memiliki hubungan?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


Lagian elu sih bikin huru hara Mulu Hen!


__ADS_2