
POV Rama
Hari ini, hari Minggu. Seperti menjadi hal wajib. Aku dan keluarga kecilku berencana untuk pergi bersama.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk yang melilit sebatas pinggang. Ku lihat, semua pakaian yang akan aku kenakan sudah siap di atas ranjang.
Siapa yang menyiapkannya? Sudah pasti Kalisa jawabannya.
Semenjak ada dia. Semua duniaku berbanding terbalik.
Aku yang awalnya hanya seorang pria kesepian, kini menjadi suami yang dilimpahi kebahagiaan.
Aku yang awalnya hanya seorang pria yang rapuh, kini menjadi suami yang lebih tangguh.
Aku yang awalnya hanya seorang pria hampa, kini menjadi suami yang penuh warna.
Semuanya karena Allah mengirim Kalisa. Wanita baik, yang tidak ku sangka akan menjadi pendamping hidupku.
Setelah sama-sama merasakan sakit, kecewa, perih. Bahkan aku pernah berpikir tak ingin hidup lagi.
Astaghfirullah...
Aku bersyukur, Allah menegurku. Hingga aku kembali percaya.
Bahwa akan ada pelangi setelah hujan badai. Akan ada bahagia setelah kesakitan. Dan akan ada masanya, perbuatan jahat seseorang pada kita, dibalas setimpal oleh yang Maha kuasa.
Kita tinggal tunggu saja karmanya. Karena karma tidak akan pernah salah sasaran.
Aku telah selesai memakai pakaianku. Ku dengar, suara pintu kamar terbuka, dan menampilkan Kalisa yang masuk, dia menghampiriku dengan seutas senyum di bibir tipisnya.
__ADS_1
Ini dia penawarku.
"Mas, sini. Biar aku yang keringin rambut kamu." Tawarnya seraya meminta handuk kecil di tanganku.
"Memangnya kamu sudah selesai memasak?" Aku bertanya, tak ingin merepotkannya. Toh, aku masih bisa sendiri, aku tak ingin menjadi suami yang apa-apa harus istri, ingin ini, ingin itu harus dia.
Tidak! Sebisa mungkin aku ingin membaginya. Aku tak ingin hanya dia yang merasa lelah, baik zhohir maupun batin.
Dia mengangguk lengkap dengan uluman senyum di bibirnya.
Melihat itu, akhirnya aku menyerahkan handuk kecil itu pada Kalisa. Satu kecupan di pipi ku berikan. "Supaya semangat." Ucapku sambil terkekeh.
Dan dibalas cubitan manja Kalisa di lengan kekarku.
Lantas, dia menyuruhku untuk duduk di kursi meja riasnya. Sama-sama menghadap ke arah cermin, Kalisa mulai mengeringkan rambutku, memberikan sedikit pijatan membuatku merasa rileks.
"Ada apa, Mas?" Balasnya tanpa menatap mataku, dia hanya fokus dengan kegiatannya.
"Enak." Ungkapku jujur. Karena pijatannya benar-benar terasa sangat nyaman.
Tanpa menghentikan gerakan-gerakan jarinya, dia menjawab. "Apa yang enak?"
"Pijatanmu. Sepertinya aku harus membayarnya." Mataku semakin terpejam, kalau saja tidak ingin pergi, aku pasti memilih untuk tidur lagi.
"Tentu saja. Ini tidak gratis Mas." Cetusnya seperti benar-benar meminta bayaran.
Aku tertantang. "Bilang, berapa yang kamu inginkan?"
"Mas pikir aku ingin uang? Tidak, aku tidak ingin uang." Jelasnya dengan gamblang.
__ADS_1
"Lalu?"
Kalisa berhenti, lalu berbisik di telingaku. "Aku hanya ingin mas Rama mencintaiku, selamanya."
Aku menyunggingkan senyum, mataku kembali terbuka, ku tarik tangan Kalisa dari atas kepalaku. Lalu kami berdua sama-sama melihat cermin.
Melihat pantulan wajah sumringah kami masing-masing.
Aku menepuk pahaku, meminta dia untuk duduk di sana.
Menurut, Kalisa langsung melakukannya, ku raih kembali jari-jari lentiknya itu. Jari yang telah suka rela melayaniku, ku kecup satu persatu tanda terimakasih.
Ku lihat semburat merah sudah muncul dimana-mana, ku tatap dia yang malah menunduk menahan malu.
Tanganku mulai melingkar, aku mencium pipinya hingga ia bergerak kegelian. "Mas..." Rengeknya, tidak sanggup lagi menahan seranganku.
"Ini akibat menggodaku."
Aku tidak berhenti, aku malah mengangkat dagu Kalisa, dan dengan cepat melabuhkan ciumanku disana. Ciuman yang selalu memabukan, dan terasa menggelora.
Ku lumaat benda kenyal itu atas bawah, mengalirkan kembali seluruh cinta. Hingga akhirnya, lama kelamaan Kalisa mulai membalas, memberiku hal yang sama.
Untuk pertama kalinya, aku memberanikan diri untuk melesakan lidahku, mengabsen setiap rongga di mulutnya, lalu menarik lidahnya untuk ku sesap.
Kami berdua hampir hanyut, namun seolah kami tengah diingatkan, suara ketukan di pintu kamar membuat kami berdua kelabakan.
Tok tok tok...
"Bunda, Papa... Kok nggak keluar-keluar?"
__ADS_1