Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Tentang kembar


__ADS_3

Mendapat kabar bahwa sang menantu hamil. Ayah dan ibu Rama berniat untuk bertandang ke rumah putranya. Tak dipungkiri keduanya begitu antusias mendapat kabar bahagia ini.


Apalagi Kalisa mengandung bayi kembar. Rasanya umi Rama yang bernama Safa, sudah tidak sabar untuk menggendong seorang bayi, dari dulu dia sangat ingin memiliki seorang anak yang lahir dari rahimnya sendiri.


Namun, ternyata Allah belum mengizinkan hingga dia dan sang suami, Ridwan. Mengadopsi Rama.


"Bi, kira-kira anak Rama nanti cowok atau cewek yah?" tanya Safa pada Ridwan, dia sudah membayangkan bayi-bayi mungil dengan tangis yang memekik menggemaskan.


"Apa saja lah, Mi. Yang penting, Kalisa sama anak-anaknya diberi keselamatan dan kesehatan." timpal Ridwan sambil sesekali melirik Safa.


Safa mengangguk membenarkan. "Aamiin. Umi udah pengen cepet-cepet gendong, Bi." ucapnya lagi.


Ridwan terkekeh, lalu mengusak puncak kepala Safa dengan sayang. Dia begitu paham dengan antusias istrinya. "Sabar Mi. Tujuh bulan lagi."


Safa mengulum senyum, dia kembali mengangguk lalu kembali tenang di tempat duduknya.


Sama-sama tinggal di ibu kota, tak membuat mereka mengabiskan waktu di jalan terlalu lama. Ridwan mengemudikan kijang besi itu sendiri, hingga tak berapa lama kemudian, mereka sampai di alamat rumah Rama yang baru.


Tempat tinggal putra semata wayang mereka dengan sang istri, Kalisa. Dengan membawa beberapa buah tangan, Safa keluar dengan begitu ceria.

__ADS_1


Mbak Darmi yang kebetulan berada di luar rumah, menyambut kedatangan dua orang paruh baya itu, di tangannya ada rujak buah pesanan Kalisa.


"Ibu, Bapak." sapanya dengan senyum mengembang dan begitu hormat.


"Mbak Darmi, Kalisanya ada?" tanya Safa to the point.


"Ada Bu. Mari masuk." Mbak Darmi membukakan pintu, lalu berjalan di depan membimbing Safa dan Ridwan sampai di ruang tamu.


"Mbak, itu rujak punya Kalisa?" tanya Safa, saat Mbak Darmi pamit untuk ke dapur.


Mbak Darmi mengangguk sebagai jawaban.


"Kalo begitu biar saya aja yang siapkan. Kamu panggil Kalisa gih."


Mendengar kedua mertuanya datang, Kalisa langsung terperanjat, karena Safa sama sekali tidak memberi kabar. Kalisa bergerak cepat, merasa tidak enakan, tidak menyambut kedua orang paruh baya itu.


"Umi." panggil Kalisa di ambang pintu dapur dengan wajah sumringah.


Safa tersenyum, dia mengangkat piring yang berisi rujak yang diinginkan Kalisa, lalu melangkah ke arah ibu hamil tersebut. Kalisa menyalimi tangan Safa dengan takdzim, tanpa segan Kalisa juga memeluk ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Umi, kenapa nggak bilang kalo mau kesini?" ujar Kalisa, merasa bersalah karena tak menyambut kedatangan Safa dan Ridwan.


"Memangnya kenapa?" tanya Safa, dia melerai pelukan, dan menatap Kalisa.


"Umi, Kalisa jadi tidak bisa menyambut umi sama abi."


"Itu tidak penting, Sayang." Safa menggandeng tangan Kalisa, hingga sampai di ruang tamu.


Tempat dimana Ridwan berada. Sama halnya bersikap pada Safa, Kalisa pun menyalimi tangan Ridwan, kemudian duduk di samping wanita paruh baya itu.


Safa mempersilahkan Kalisa untuk makan rujak buah yang sudah dia siapkan. Dengan lahap, ibu hamil itu memakannya, karena sedari tadi dia begitu mengidamkan sesuatu yang segar untuk dimakan.


"Kal, anak kalian kan kembar. Memangnya kamu ada keturunan kembar yah?" tanya Ridwan. Setahunya ibu Kalisa, hanya melahirkan seorang putri, yaitu wanita di hadapannya ini.


Mendengar pertanyaan itu, Kalisa menatap Ridwan dan menyelesaikan kunyahannya.


Pelan, dia menggeleng. "Nggak Abi, Kalisa hanya anak tunggal. Memangnya kalau hamil anak kembar harus dari keturunannya?"


Safa menggenggam tangan Kalisa. "Umi juga nggak tahu pasti sih, Kal. Tapi biasanya orang yang hamil anak kembar, pasti salah satu leluhurnya pernah melahirkan kembar juga."

__ADS_1


Kalisa tampak berpikir, "Tapi kayanya, di keluarga Kalisa nggak ada yang kembar umi. Apa jangan-jangan dari keluarga mas Rama?"


Ridwan dan Safa saling pandang. Dan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan menantunya itu.


__ADS_2