Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Sakit perut


__ADS_3

Mulut Sela menganga begitu menelisik setiap daftar kerja hariannya yang memanjang hampir menyentuh tanah. Ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Benarkah Kalisa yang menuliskannya sendiri untuknya?


Benar-benar keterlaluan. Batinnya, sepertinya istri pertama suaminya itu ingin membunuhnya secara perlahan.


Sela mengangkat wajahnya siap protes pada Kalisa yang duduk santai diatas sofa.


"Mbak, tolong jangan keterlaluan begini dong. Aku juga manusia bukan kerbau." protes Sela, sambil menyodongkan kertas yang baru saja ia dapat dari Kalisa.


Kalisa memutar bola matanya.


"Memangnya aku bilang kalau kamu itu kerbau? Lagi pula itukan pekerjaan yang biasa ibu rumah tangga kerjaan. Jangan bilang kamu tidak pernah melakukannya. Hih lalu apa gunanya Mas Hendri menikahimu." cibir Kalisa, ia mengangkat satu kakinya dengan elegan.


Benar, Sela memang tidak pernah mengerjakannya, bahkan dirumah Hendri yang ada kota ia menyewa orang membersihkannya setiap seminggu sekali.


Bungkam Sela tak mampu menjawab apa-apa.


"Ternyata benar kamu nggak pernah melakukannya? Enak sekali yah hidupmu saat disana. Sedangkan aku disini harus memeras tenagaku sendiri." mengandung unsur sindiran mematikan.


"Jadi tunggu apalagi? Kerjaan Sela sayang." ucap Kalisa.


"Mbak tapi apa harus membeli sayuran ke pasar, pasar itu jauh kenapa tidak ke tukang sayuran saja? " ingin membantah lagi.


"Sekarang kamu tinggal pilih, kerjaan semua itu atau hari ini juga kamu pergi dari rumah ini." Tegas Kalisa.


Sela mengerjakan seluruh pekerjaan yang tertera di daftar dengan kesal. Ia terus menendang dan meninju udara melampiaskan kekesalannya. Ia jadi berpikir apa ia harus kembali ke rencana awal saja yah? Mengambil harta Hendri, lalu pergi. Tapi bagaimana dengan perasaan cintanya terhadap lelaki itu?


Ah, dia benar-benar frustrasi sekarang. Semakin hari pasti semakin ada saja yang Kalisa bebankan padanya. Ia juga harus punya rencana untuk menyerang balik wanita itu. Ya, dia tidak boleh ditindas seperti ini.


*****


Dua minggu berlalu, dan dalam kurun waktu sebegitu singkatnya bisnis Hendri semakin merosot jauh kebawah. Terlebih kini rekannya, Bimo telah membawa kabur modal yang tersisa ditabungannya.


Nasibnya benar-benar sial. Semenjak Sela dibawa ke rumah, ada saja petakanya.


Apa benar istri keduanya itu membawa petaka? Tetapi bukankah anak membawa rejeki untuknya?


"Ahhhhhhh. " Hendri menjabak rambutnya frustrasi. Lelaki itu memutuskan untuk pulang sore ini ke rumah Kalisa. Ia berharap dengan Kalisa hatinya yang gusar bisa kembali sedikit tenang, meski tidak dengan bisnisnya.


Brakk!!!


Hendri menutup pintu mobil dengan kasar, ia menginjak pedal gas kuat dan mulai menyusuri jalan raya dengan kecepatan tinggi.


Dua jam cukup membawanya untuk sampai dikediaman istri pertamanya, tanpa mengabari Sela maupun Kalisa, ia mulai mengetuk pintu sambil mengucap salam.


"Waa'alaikumussalam."


Wajah Sela langsung sumringah begitu dibukakan pintu, ternyata lelaki tercintanya yang datang.

__ADS_1


Tapi tidak dengan wajah Hendri, ia malah menatap aneh pada istri keduanya itu. Daster kelelawar, badannya bau bawang. Koyo juga menghias kepalanya. Bukannya senang, Hendri malah semakin pusing dibuatnya.


Tanpa segan Sela memeluk tubuh suaminya, ia tak mengindahkan mimik wajah Hendri yang tertekuk.


Hendri langsung melerai pelukan Sela dengan mendorong tubuh wanita itu kasar, ia merasa mual dengan bau bawang.


"Kau ini apa-apaan sih Sel, sudah bau bawang begitu, pakai peluk-peluk segala." protes Hendri, ia mengibas-ibaskan bajunya seakan jijik dengan bau Sela.


Sela mencebik, kesal dengan pernyataan Hendri yang menyakitkan.


"Ini tuh gara-gara Mba Kalisa mas, dia selalu menyuruhku ini dan itu. Kalo aku mengeluh dia pasti bilang, aku juga 8 tahun melakukan ini dan itu, tetapi tidak pernah mengeluh." adu Sela, tanpa sadar itu semua membuat mata hati seorang Hendri sedikit terbuka. Benar, wanita itu tidak pernah mengeluh, tidak seperti wanita yang ada dihadapannya ini. Ah, kenapa rasa bersalah itu kembali muncul sih?


Sela terus menyerocos mengadukan sikap Kalisa selama tidak ada Hendri, wanita itu tidak tahu, kalau lelaki itu tidak mendengarnya sama sekali, ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Mas.... Mas Hendri!!! " pekiknya.


"Apasih Sel, dari tadi teriak-teriak nggak jelas kaya orang hutan." kesal, Hendri langsung pergi meninggalkan Sela, lalu ke kamar Kalisa.


Sela kembali cemberut karena mendapat bentakan lagi dari suaminya.


****


Malam mulai menjelang, semua keluarga itu sudah bersiap untuk menikmati makan malam, Sela dan Kalisa sedang menyiapkan semuanya.


"Sel, titip mie ayam kesukaanku dulu yah. Aku ke kamar mandi sebentar, tolong siapkan." ucap Kalisa dengan begitu lembutnya, setelah Sela mengangguk wanita itu melangkah menuju kamar mandi yang ada dikamarnya.


Dengan senyum yang terus mengembang, Sela menyusun makanan dimeja makan.


Tak berapa lama semuanya telah berkumpul. Kalisa juga sudah kembali, dan meminta makanan yang sedang diingankannya itu.


"Selamat makan mba." ucap Sela dengan bibir terus tersenyum, membuat Kalisa dan Hendri mengernyitkan dahi mereka.


Kenapa ini orang? Seperti sedang senang?


Kalisa mulai menyendokan mie ayam untuk masuk ke dalam mulutnya.


Sedangkan disudut yang berlawanan, Sela terus berharap agar Kalisa cepat menghambiskan makanannya. Ia yakin rencananya kali ini akan berhasil.


"Hemmm... Kenapa aku jadi ingin kamu yang memakan ini ya Mas? " ujar Kalisa, dan itu sukses membuat Sela ketar-ketir. Tidak boleh! Suaminya itu tidak boleh memakan mie ayam itu bagaimanapun caranya.


Hendri langsung menatap ke arah Kalisa, mengulas senyum lalu meminta mie ayam itu agar dipindahkan ke mejanya. Tapi sebelum itu Sela menahannya.


"Jangan! "


Semua orang memandang ke arahnya, tak terkecuali May yang sudah asyik dengan kunyahannya.


"Kenapa? " tanya Kalisa.

__ADS_1


Sela menggigit bibir bawahnya, harus menjawab apa dia?


"Ya.... Mba kan tadi bilang katanya sedang ingin sekali makan mie ayam." kelitnya.


"Tapi sekarang aku maunya mas Hendri yang memakan mie ini." ujar Kalisa.


"Mungkin bawaan bayi Sel, kamu kan juga begitu." timpal Hendri, lalu mengambil alih sendok yang ada ditangan Kalisa.


"Jangan! Aku bilang jangan! "


Sekali lagi, ucapan Sela membuat keduanya memicing curiga.


Tapi kali ini Hendri tak peduli, dengan perasaan lapar ia memakan mie ayam itu dengan lahap.


Bodoh!


Setelah selesai makan, Reyhan dan May diminta untuk langsung ke kamar. Sedangkan mereka bertiga masih di meja makan.


"Malam ini, kamu tidur dengan Sela saja Mas." ucap Kalisa.


Sela membulatkan mata. Ini memang keinginannya tapi masalahnya, tadi? Ahhhh benar-benar sial. Kenapa takdir selalu saja berpihak pada Kalisa.


"Tapi aku ingin tidur denganmu Kal." sanggah Hendri.


"Mas, sebelum pergi kan kamu sudah tidur denganku. Kasian kan Sela, bayinya pasti merindukanmu." ucap Kalisa, Hendri hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Entah kenapa ia sedang sangat tidak berselera untuk tidur dengan Sela.


Malam hari, saat baru saja semua orang telah terlelap. Kini Hendri yang terbangun sendiri. Karena ia sudah bolak-balik kamar mandi sebanyak dua kali.


"Ah kenapa juga dengan perutku." keluh Hendri dengan memegangi perutnya yang semakin terasa mulas.


Sela terbangun karena mendapati tempat disebelahnya telah kosong. Dilihatnya Hendri sedang duduk dengan dahi yang berkeringat.


"Mas kamu kenapa? " tanya Sela ragu, padahal ia menyadari kalau ini adalah ulahnya.


Prettttt!!!


Hendri langsung masuk kamar mandi lagi tanpa memperdulikan pertanyaan Sela. Perutnya benar-benar terasa panas, padahal ia tidak makan-makanan yang terlalu pedas.


Prretttt!!!


Sela hanya mampu bergidik jijik mendengar suara-suara itu.


"Iuhhhhhhh."


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak, dan baca karya dd yg satunya #Cintalelakibiasa Hatur tengkyuuu semua 🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2