Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Menemani Rama bekerja


__ADS_3

Sepanjang makan siang itu. Kalisa tak berhenti tertawa, mengingat wajah kesal Erina saat dia kerjai tadi. Dia begitu puas, karena telah memberikan pukulan telak pada wanita penggoda itu.


Akan dia pastikan, Erina akan berpikir ulang untuk mengganggu rumah tangganya bersama Rama.


Oh no! Tidak akan semudah itu nyonya Erina. Gumam Kalisa dalam hati.


Jangan harap Kalisa akan diam. Sebuah pengalaman yang pernah dia rasakan, membuat dia tidak ingin menjadi wanita lemah. Dia akan menjaga Rama, membuat lelaki itu setia berada di sampingnya.


"Makasih ya, Mas. Aku beruntung memiliki kamu," ungkap Kalisa. Karena walau bagaimanapun, semuanya tak lepas dari usaha lelaki itu, satu hubungan yang baik, perlu kontribusi yang baik pula dari kedua belah pihak.


Karena seekor burung, tidak mungkin bisa terbang hanya dengan satu sayap.


Rama mengusap kepala Kalisa dengan sayang. Bahkan jauh dalam lubuk hati Rama, dia merasa lebih beruntung memiliki wanita itu. "Aku yang beruntung memiliki kamu, Kal. Terimakasih sudah percaya padaku."


Keduanya saling melempar senyum, dengan buncahan bahagia yang tak terkira. Apalagi kini Kalisa tengah mengandung buah cinta mereka.


Hingga ponsel Rama yang berdering, menghentikan semuanya. Lelaki itu izin pada istrinya untuk mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Haris, sekretarisnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Ris? Ada apa?" tanya Rama to the point. Dia sama sekali tak berlalu dari tempat duduknya.


Satu tangannya dengan setia menggenggam tangan Kalisa.


Dalam panggilan itu, Haris mengingatkan bahwa ada janji temu, dengan direktur perusahaan yang berasal dari Surabaya, siang ini juga. Tak lupa, Haris memberikan alamat restoran yang digunakan untuk pertemuan tersebut.


Dan Haris mengatakan bahwa dia akan menyusul. Jadi Rama tidak perlu repot-repot kembali ke perusahaan.


Karena ternyata Rama dan Kalisa sudah ada di restoran yang Haris maksud.


"Baik, waalaikumussalam," ucap Rama mengakhiri panggilannya dengan Haris.


"Mas, kamu kan ada pertemuan dengan orang penting, masa aku ikut? Nanti aku ganggu pertemuan kalian lagi, lebih baik aku pulang saja yah. Aku pakai taksi," Kalisa menolak karena merasa tidak enakan.


Baginya Rama haruslah profesional, tidak boleh mencampur adukkan hal pribadi dengan pekerjaan.


Rama melingkarkan tangannya di bahu Kalisa. "Sayang, tidak apa-apa. Aku pesan ruangan VVIP di sini, dan aku akan lebih semangat bekerja jika kamu menemaniku. Sekali ini saja."

__ADS_1


Kalisa menghela nafas, dan akhirnya dia mengangguk. "Oke deh, tapi bener yah sekali ini aja."


Rama tersenyum lalu mengecup puncak kepala Kalisa. "Janji, sekali ini aja Bunda."


Setelah mengatakan itu, Rama dan Kalisa menyelesaikan makan siang mereka. Dan berpindah pada ruangan VVIP yang telah direservasi oleh Haris.


Keduanya menunggu sambil bercengkrama seperti biasa, membicarakan masa depan anak-anak mereka berdua, hingga tak berapa lama kemudian Haris sampai.


Lelaki itu mengangguk hormat, karena ada Kalisa di sana. Lalu duduk setelah memesan minuman, untuk menunggu klien mereka.


"Ris, kenapa dia lama yah? Kamu tidak dapat info apa-apa darinya?" tanya Rama.


"Katanya sedang dalam perjalanan, Pak. Mungkin sedikit terjebak macet," balas Haris apa adanya.


Rama manggut-manggut. Dan tak berapa lama kemudian, dari arah pintu datang seorang lelaki bersama seorang pelayan. Rama, Kalisa dan Haris kompak berdiri untuk menyambut.


Namun, betapa terkejutnya ketiga orang tersebut, saat melihat wajah orang mereka tunggu ternyata begitu mirip dengan wajah Rama.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2