
Pov Kalisa
Aku tidak semena-mena menghukum Sela dengan ini semua. Aku punya alasan tersendiri yang membuat ia jadi terhukum seperti ini. Kelak aku akan membuktikannya. Dari info yang ada dia sengaja melakukan ini dengan rekannya. Aku yakin, jika Mas Hendri mendengar dan mengetahui ini semua dia juga akan kecewa. Dan mengamuk pada Sela.
Tega tak tega, tapi Astri benar-benar menyuruh dan mendukungku melakukan ini. Hah, ya ini idenya. Ia yang selalu membantuku untuk berencana ini dan itu. Tak ayal, kalo aku yang berpikir ini sendirian aku pasti sudah kelimpungan.
Aku dan ia selalu bertukar ide melalui pesan. Tak lupa juga orang yang membantuku untuk mengurus Mas Hendri diluar kota.
Ternyata jadi orang harus kejam sedikit yah, karena dunia tak selalu memihakmu.
****
Aku pulang ke rumah di jam 2 siang, Reyhan dan May, jangan ditanya mereka ku tinggal di toko bersama Atikah.
Aku berjalan santai ke arah kamar Sela. Mengambil kunci lalu membukanya.
Mungkin karena mendengar kunci terbuka, Sela segera membuka pintu itu dan menatap tajam ke arahku.
"Kau keterlaluan Mbak!!! " bentaknya. Aku menatap aneh pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Maksudmu apa Sela? Aku tidak mengerti." balasku.
"Mbak sengaja kan mengunci pintu kamarku, membiarkan aku kelaparan dan kehausan didalam? Apa mbak tidak kasihan pada bayiku?!!!! " pekiknya lagi, aku angkat bahu seakan tidak mau tahu.
"Mbak!!! "
"Heuh kamu bisa membohongi Mas Hendri, tapi kamu tak bisa membohongiku." tukasku, ku lihat dia mulai tertegun dengan ucapanku. Mencari tahu apa maksud dari ini semua.
"Ma—maksud Mbak apa? " lihat, dia mulai melunak dan malah jadi terbata.
"Aku yakin kamu tidak bodoh Sela! Aku punya kartu As mu, jika kamu masih ingin berada disisi Mas Hendri, baik-baik lah denganku." ancamku, lalu berbalik melanjutkan langkah ku untuk pergi ke kamar.
Tap
__ADS_1
Dia menahan pergelangan tanganku. Aku menepisnya kasar.
"Sebagai seorang wanita, harusnya kamu pun mengerti bagaimana jika kamu berada diposisiku, kelak kamu pun akan menjadi seorang ibu. Bagaimana jika saat itu suamimu malah mengkhianatimu? Apa benar kamu akan diam saja? Sedangkan anakmu selalu memanggil nama sang ayah? Sedangkan saat itu anakmu merengek agar ayah dan juga ibunya memiliki waktu bersama? Bagaimana, sudah terbayangkan olehmu bagaimana sakitnya? Ini belum ada apa-apanya Sela, dibanding rasa sakit yang aku dapat dari ulahmu dan juga dia." tegasku, aku ingin ia merasa tersindir dengan ucapanku. Tapi karena tak kuat, aku lari dan lekas mengunci kamarku.
Ya Tuhan.... Rasanya masih sama, ini menyakitkan.
Aku memegangi dadaku yang tiba-tiba kembali terasa sesak.
Aku duduk dibelakang pintu sambil menangis sejadi-jadinya. Aku berpikir ulang mengenai apa yang sudah ku susun dengan matang. Semoga ini memang jalan yang terbaik. Karena cinta, tak harus bersama selamanya bukan? Karena cinta bisa pupus saat setia dibalas pengkhianatan.
Maafkan Nda Rey, May... Maaf...
*****
Pov Sela
Aku sedikit tersentil memang dengan ucapan Kalisa, tapi bagi aku yang hanya memikirkan dunia semuanya ku anggap remeh, dan omong kosong belaka. Kalisa hanya ingin mematahkanku untuk berhenti mencintai Mas Hendri. Ya kini aku benar-benar sudah mencintainya. Aku lupa akan rencana awalku, dan berniat merebut Mas Hendri sepenuhnya dari tangan Kalisa, menjadikannya milikku seutuhnya.
"Oh my god, please jangan!"
Kalau sampai Mas Hendri mengetahuinya, akan ku pastikan ia bakal menceraikanku, meninggalkanku sendiri disaat aku sudah mencintainya.
Tidak!
Aku tidak ingin itu terjadi, aku ingin terus bersama Mas Hendri. Jika disuruh mundur, harusnya Kalisa lah yang mundur dari pernikahan ini. Ya, akan ku buat Mas Hendri menceraikannya.
Tapi caranya bagaimana? Mas Hendri mencintainya, walaupun ia juga menerimaku.
Apa menjadi penurut dan baik hati bisa membuat Mas Hendri jatuh sepenuhnya ke pelukanku? Kalau iya, akan ku lakukan. Dan satu lagi, aku akan membuat kebohonganku itu menjadi nyata, agar Mas Hendri terjerat dan tak bisa memiliki alasan untuk melepasku begitu saja.
Drttt... drtt
Tiba-tiba suara ponsel mengagetkanku. Ya aku menemukan ponselku tergeletak didepan. Terserahlah siapa yang menaruhnya disana, aku tak lagi memikirkannya, aku hanya ingin melihat siapa yang menelponku, apa itu suamiku?
__ADS_1
Ck! Dugaanku salah. Malas sekali rasanya meladeni dia.
"Ada apa? " bentakku begitu panggilan terhubung.
"...."
"Sudah cukup, aku tidak mau lagi mengikuti rencanamu. Aku sudah mencintai Mas Hendri sekarang. Jadi, aku tak butuh kamu lagi dalam hidupku, dan aku peringatkan jangan pernah hubungi lagi nomor ini!!! "
"...."
"Ja—ja—jangan macam-macam kamu!"
******
Pov Kalisa
Sore hari setelah aku mandi, aku berniat kembali ke toko, tapi sebelum itu aku kembali mampir ke kamar Sela.
Tok tok tok
Tak butuh waktu lama, ia membukakan pintu untukku. Dengan wajah dingin aku menyerahkan beberapa lembar uang tepat didepan dadanya. Ia mengambilnya dengan tergesa.
"Beli sendiri makananmu. Jangan menyusahkanku. Aku tahu, kamu tidak punya cukup uang untuk membeli itu. Kau kan hanya benalu." ujarku, Sela menggeram, tangannya mengepal dan mengayun ke udara siap menamparku.
Tap... Aku menangkapnya.
"Jaga sikapmu!!! Disini aku masih menjadi seorang ratu. Dan jangan harap, kamu bisa menggantikan posisiku! "
Sela menarik tangannya dengan kasar, menatapku tak kalah tajam.
"Dan satu lagi! Ingat baik-baik, aku punya satu kebusukanmu yang bisa aku gunakan untuk menghancurkanmu kapan saja!" dia membisu, tak mampu menjawab ucapanku. Akhirnya ku putuskan untuk segera pergi menjemput May dan Reyhan, aku meliriknya sebentar, kini tatapannya kembali meluap penuh kebencian.
Tapi apa peduliku?
__ADS_1