Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Awal


__ADS_3

Pov Hendri


Aku pulang ke rumah ibu untuk istirahat disana sekalian menjemput May, setelah perdebatanku dengan Kalisa. Seperti tak pernah ada kata bosan Kalisa selalu menohokan kalimat yang membuat mulutku bungkam. Dan sepertinya Kalisa semakin bisa membantah setiap perkataanku. Aku yakin Astri pasti sudah mencuci otak Kalisa agar tak lagi menghargai aku sebagai suaminya. Ia pasti meracuni wanitaku agar membenciku. Terlebih dia sangat benci pada Sela.


Astri, kurang ajar!


"Astaghfirullah, Hen kenapa berdiri didepan pintu? " ucap ibu sedikit terkejut, melihat aku yang berdiri sedari tadi diambang pintu tanpa berniat ingin langsung masuk ke dalam rumah. Terlalu banyak yang aku pikirkan.


"Iya ini baru mau ketuk pintu Bu. " balasku bohong. Padahal aku sedari tadi hanya melamun.


Ibu mengajakku masuk, menggandeng tanganku dan membawaku ke ruang tamu.


Aku duduk berdua dengannya. Bersebrangan, entah karena apa ibu tak duduk disampingku.


"Hen,"


"Bu,"


Ucapku dan ibu berbarengan. Aku memandang ke arahnya lalu mempersilakan ibu untuk bicara terlebih dahulu.


"Hen, Ibu minta kamu lepaskan wanita itu yah." ucap ibu hati-hati. Aku tidak kaget, karena ibu memang sangat menyayangi Kalisa. Namun aku pun tak bisa lepas tanggung jawab dari bayi yang dikandung Sela. Toh ini juga atas permintaan Kalisa. Dia yang menyuruhku menikah lagi, ya meskipun itu juga karena kesalahanku.


Aku lebih dulu menelan ludah "Dia hamil anakku Bu, mana mungkin aku melepaskannya begitu saja, lagipula ini atas perintah Kalisa. Dia yang memintaku untuk menikahi Sela." terangku. Ibu tak lagi kaget, aku rasa beliau sudah tahu jika Sela memang sedang hamil anakku. Tak perlu aku jelaskan beliau tahu darimana, yang pasti dia akan membela Kalisa.


"Hen, Kalisa mungkin bisa bicara seperti itu. Tapi apa kamu tidak memikirkan perasaannya? Bagaimana jika itu terjadi pada Maya adikmu? Apa kamu tidak akan merasakan sakit juga?"


"Bagaimana jika ayah Kalisa dan keluarganya juga tau Hendri? Apa kamu yakin mereka bisa menerima ini? " lanjutnya.


Ibu terlihat khawatir, bahkan aku tidak memikirkan sampai sejauh itu. Benar, keluarga Kalisa belum tahu, cepat atau lambat pasti mereka semua juga akan tahu keadaannya bagaimana. Aku harus apa? Melepas salah satunya? Bukankah itu berat? Namun mempertahankan Sela pun akan menjadi boomerang bagiku.


"Hen, " panggil ibu lagi, dan itu semua membuat fokusku hilang, pikiranku buyar.


"Bu, aku tidak mungkin melepas salah satunya." ucapku seraya menatapnya.

__ADS_1


"Kamu bisa, bila kamu tegas dalam menyikapinya. Pokoknya Ibu tidak ingin kehilangan menantu seperti Kalisa!! " tegas ibu, lalu pergi meninggalkan aku.


Ahhh, semakin runyam saja rasanya. Kenapa hidupku semakin tidak karuan dan jauh sekali dari kata damai.


*****


Pov Kalisa


Selepas isya Mas Hendri datang kembali ke rumah dengan membawa May, aku sudah menyiapkan makan malam untuknya, karena aku dan Reyhan sudah lebih dulu makan sebelum ia datang. Aku sengaja menyiapkan ini semua. Bagaimana pun dia juga sudah merawatku ketika aku sakit, dan aku tidak lupa kalau dia masih suamiku.


"Kamu sudah makan? " tanyaku, begitu dia keluar dari kamar anak-anak, ku lihat dia tersenyum senang.


"Belum Kal, aku belum makan, dan aku rindu masakanmu." balasnya sedikit di dramatisir. Aku tersenyum tipis.


"Makanlah, aku sudah menyiapkannya untukmu. Dan setelah ini ada hal yang ingin aku bicarakan." dia mengangguk dan kembali tersenyum, seakan menunjukkan kebahagiaannya padaku. Kebahagiaan seperti apa Hendri?


Ia mengayunkan langkah ke arah meja makan, sedangkan aku pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu, belum juga sampai suara ponsel menghentikan langkahnya.


"Apasih Sel? "


"...."


"Ya ampun, aku ini kemarin baru pulang kesana dan menemanimu seharian, aku tidak bisa. Kalisa marahpun gara-gara kamu. Sudah aku matikan! "


Lalu dengan cepat ia mematikan panggilan itu dan sedikit membanting ponselnya di meja makan. Ku lihat dia mulai kesal. Dan aku sedikit merasa senang.


Aku akan buat kalian bertengkar. Pelan-pelan aku akan merebutmu kembali Hen, tapi maaf bukan untuk seperti dulu lagi.


Aku akan sedikit bermain-main denganmu. Dan jangan salahkan aku bila begini caraku. Ini baru awal. Karena aku ingin sedikit memberimu pelajaran.


*****


Setelah dua puluh menit berlalu aku kembali ke dapur dan menemui Mas Hendri, ku lihat dia masih bersantai disana. Aku mendudukan diri disampingnya. Aku tersenyum. Dan dia menyambutku dengan suka cita.

__ADS_1


"Ada apa Kal? " tanyanya. Dia menegakkan duduknya.


Aku sedikit menghirup udara lalu menatap netra pekat itu, masih saja tampan seperti dulu. Ahh tidak aku mengusir pikiran itu. Aku tidak ingin lagi jatuh pada cintanya. Karena nanti aku pasti akan semakin terluka.


"Aku hanya ingin Mas menandatangani ini." aku menyerahkan pulpen beserta satu lembar kertas ke arahnya.


Dia menatapku penuh tanya, aku sudah tahu ia tak mungkin langsung menandatanganinya.


"Ini hanya surat pernyataan bahwa kamu takkan menelantarkan aku dan anak-anakku jika kelak anak itu lahir." ucapku dengan tegas. Dia menajamkan pandangannya ke arahku.


"Kal, tanpa ini pun aku pasti tanggung jawab atas kalian." balasnya, suaranya sedikit meninggi karena mungkin tak percaya akan sikapku yang seakan berlebihan.


"Mas, aku hanya ingin melindungi hak-hak mereka. Kalau kamu tak ingin menandatanganinya yasudah. Memang hubungan kita lebih baik sampai disini saja." Aku melirik, lalu sedikit tersenyum sinis tanpa dia ketahui. Wajahku ku buat sendu.


Mas Hendri membuang nafasnya kasar, "Baiklah, baik aku akan menandatanganinya. Tapi ku mohon jangan ada kata pisah diantara kita. Aku tidak mau kalo sampai itu terjadi Kal." ia melemah. Aku yakin sedikit demi sedikit kamu akan lupa pada wanita itu dan lebih memilihku.


Aku sudah berbaik hati memberikan separuh hatimu untuknya. Tapi ternyata aku salah, wanita itu ingin memiliki mu sepenuhnya. Baiklah kita lihat siapa yang akan lebih unggul diantara kita.


Aku tersenyum penuh ketulusan "Terimakasih, setelah ini aku akan coba memulai hubungan baik dengan—" ah aku sama sekali tak ingin menyebut nama wanita itu dengan mulutku.


"Dengan? "


"Dengan Mar—sela." aku terpaksa. Hih. Aku jijik menyebutnya.


Ku lihat Mas Hendri tersenyum lega. Ia meraih pulpen itu dan lekas tanda tangan tanpa membaca surat itu. Akhirnya, kau jatuh dalam permainanku. Dan aku akan bawa wanita itu masuk juga. Karena aku rasa dia pantas mendapatkannya.


"Makasih ya sayang, aku janji akan adil pada kalian berdua." ucapnya lalu meraih tanganku, ia kecup dan aku tersenyum ke arahnya. Senyum pura-pura.


*****


Setuju sama sikap Mbak Kal?


Hanya hiburan tidak untuk ditiru adegan berbahaya 😂

__ADS_1


__ADS_2