Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Persimpangan jalan


__ADS_3

POV author


Dengan senyum yang terus mengembang di dua sisi bibirnya, Rama memasuki kawasan rumah Kalisa, wanita pujaan hati yang sudah semakin penuh mengisi kekosongan hatinya. Tak hanya Kalisa, Rama juga sangat menerima dengan tangan terbuka dua bocah cilik yang satu paket dengan wanita tercinta nya. Kalau kata pepatah, cinta ibunya, cintai juga anaknya. Bukan karena kedua anak itu bukan darah dagingnya lantas Rama membenci nya, tidak.


Ia malah bersyukur, karena tanpa susah payah ia sudah memiliki sepasang putra dan putri yang pintar seperti May dan Reyhan. Itu pun kalau Kalisa menerimanya, kalau tidak? Ya berusaha.


"Cih! Seseneng itu lo mau ajak Kalisa pergi?" Cibir Astri yang duduk di samping Rama. Ia menyedikepkan tangan di dada. Merasa benar-benar akan menjadi setan nanti saat Rama dan Kalisa pergi bersama.


Rama malah terkekeh sambil terus mengemudikan mobilnya menuju rumah sang pujaan.


"Kenapa? Kamu iri As? Makanya cari pasangan sana!" Balas Rama sambil terus tertawa pelan. Ia sengaja mengajak Astri untuk ikut agar Kalisa pun mau menerima ajakannya, karena hari ini ada sesuatu yang akan ia bicarakan. Sesuatu yang serius.


"Nggak usah ngledek deh Ram, pokoknya beliin gue tas branded yang seharga 100 juta abis ini. Hadiah buat gue karena udah nemenin lo kencan!!!" Ketus Astri.


"Dasar perampok!" Cibir Rama, tetapi ia tetap tertawa kecil.


*****


Sesampainya dirumah Kalisa....


Reyhan berlari keluar mengajak sang adik, begitu mendengar suara mobil yang sudah sangat familiar di telinga dua bocah itu.


"Ndaaa... Om baik udah dateng." Pekik Reyhan dengan girang, memberitahu kalau orang yang mereka tunggu sudah ada di depan mata.


Rama tersenyum senang, dirinya disambut dengan begitu antusias oleh calon kedua anaknya. Mereka bertiga melakukan tos terlebih dahulu.


Kalisa berjalan dengan langkah sedikit tergesa, ingin melihat wajah lelaki yang akhir-akhir ini menjadi bunga dalam tidurnya. Mengisi tiap waktu dengan pesan-pesan singkatnya.


Cih! Kenapa rasanya aku kembali seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.


Langkahnya terhenti di ambang pintu, manik mata mereka saling bersitatap. Terkunci untuk beberapa detik, namun kacau karena Reyhan memberi peringatan.


"Nda, om baik. Dosa loh tatapannya lama-lama."


Eh!


Keduanya langsung jadi salah tingkah. Kalisa membuang mukanya kesamping sambil tersenyum kikuk, karena seperti ketahuan mencuri oleh anak sendiri. Sedangkan Rama hanya merekah kan bibir itu, mengusap kepala Reyhan dengan gemas karena sukses membuat pipi bundanya merona.


"Eum, lebih baik kita sarapan dulu yuk?" Ajak Kalisa, berusaha menghilangkan kecanggungan. Namun sebelum Kalisa berbalik, Rama mencekal tangannya.


"Kal," panggil Rama. Kalisa langsung berbalik, lalu memandangi tangan Rama yang masih setia memegang erat lengannya.


Rama yang menyadari sikapnya langsung melepas cekalan itu. Rama tersenyum.


"Hari ini kamu ikut yah Kal." Ajak Rama, ia berharap ajakan kali ini berhasil, kalaupun tidak, ia akan memakai jurus andalannya. Astri.


"Tapi mas?"


"Iya nda, nda kan belum pernah ikut kita pergi." Timpal Reyhan dengan wajah sedih.

__ADS_1


Kalisa sedikit menggigit bibir bawahnya, bingung harus bagaimana. Haruskah ia ikut? Benarkah saat ini adalah saat yang tepat untuk membuka hati kembali? Menerima mas Rama dalam hidup dan percintaan nya?


"Sudahlah Kal, jangan banyak berpikir. Ayo kita pergi bersenang-senang." Ucap seorang wanita dengan tiba-tiba dari arah mobil milik Rama.


Kalisa langsung melihat ke arah sumber suara. Dilihatnya sang sahabat sedang menaik turunkan alisnya.


"Astri? Kamu ikut juga?" Tanya Kalisa. Dan Astri hanya manggut-manggut sambil tersenyum lebar.


Tak memiliki alasan lagi, akhirnya Kalisa menyetujui ajakan Rama. Lelaki itu tersenyum sumringah akhirnya sang wanita mau ikut pergi dengannya.


*****


Sedangkan di daratan yang lain, suasana selalu dingin diantara keduanya. Tak ada obrolan hangat, atau apapun itu. Yang ada hanya suara ketus dan logat penuh kemarahan.


"Mas, aku izin yah. Aku ingin pergi hari ini dengan temanku." izin Sela takut-takut pada Hendri, karena hari ini Pak William mengajaknya pergi. Dan ia sudah berjanji untuk mengikuti lelaki itu.


Hendri melirik tajam ke arah Sela, suasana hatinya yang sedang berbunga karena sebentar lagi akan bertemu Kalisa dan anak-anaknya, mendadak jadi berantakan.


"Mas?" Panggil Sela lagi.


"Terserah!!!" Bentak Hendri.


"Terserah kalau kau mau pergi! Tidak usah kembali pun tidak papa, aku sama sekali tidak masalah!" Sambungnya.


Sela memegangi dadanya yang terasa bergemuruh hebat, berusaha menahan air bening yang sebentar lagi akan tumpah.


Kenapa mesti marah-marah? Bukankah aku meminta izin dengan cara baik-baik?


Sela menekan sudut matanya sedikit, lalu kembali ingin bicara pada suaminya.


"Yaudah, aku pergi dulu ya mas. Kalau ada yang mas butuhkan, telpon aku." Pamit Sela, ia segera berbalik dan ingin cepat-cepat meninggalkan Hendri. Tetapi begitu beberapa langkah, Hendri kembali memanggilnya, dengan terpaksa Sela berhenti.


"Belikan aku beberapa kebutuhan pokok dan makanan ringan. Untuk lebih jelasnya akan ku kirim lewat pesan. Karena sore nanti aku akan pergi ke rumah Kalisa." Ucap Hendri dengan santainya. Tak merasa bersalah sedikitpun akan tingkahnya yang sudah kelewatan.


Sela hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya, langkah yang penuh luka. Meninggalkan sosok pria yang selalu ia puja.


Haruskah, aku terus begini?


*****


Kelima orang berbeda generasi itu sudah dalam satu mobil yang sama. Astri duduk dibelakang bersama Reyhan dan May. Sedangkan Kalisa dan Rama duduk bersebelahan.


Kali ini ketiganya ingin sekali membantu lelaki bernama Rama itu mendekati Kalisa. Berharap wanita itu segera membuka hatinya. Karena Rey dan May juga sudah menerima Rama, bukan hanya menjadi om baik mereka berdua. Tetapi menjadi sosok pelindung untuk sang bunda, lelaki yang akan membawakan bahagia untuk mereka bertiga.


Astri yang menjadi pimpinan diantara dua bocah belum cukup umur itu, banyak sekali bicara. Memberi beberapa lelucon untuk menggoda Kalisa.


"Beuh... Tuh pipi nggak pake blush-on aja udah merahnya kaya apa?" Ledek Astri sambil melirik Kalisa yang masih tersenyum malu-malu.


"As, sudahlah, Kalisa itu seorang wanita sejati. Makanya begitu. Kalau kamu yang di goda mungkin lain cerita." Timpal Rama, melirik sang pujaan sekilas.

__ADS_1


"Maksud lo apa Ram?" Teriak Astri, memajukan badannya agar suara cempreng itu sampai ke telinga Rama.


Rama terkekeh lagi, Kalisa jadi serba salah karena belum terbiasa dengan suasana seperti ini. Apalagi hatinya saat ini tak bisa dikondisikan, bahkan Rama jadi terlihat lebih tampan.


"Udah deh As, lebih baik kamu cari pasangan biar kamu nggak jamuran." Ledek Rama.


Bugh!


"Sialan lo Ram!" Maki Astri. Dan langsung mendapat pelototan dari Kalisa.


"As, jaga bicaramu, disini ada anak-anak."


"Heheh iya maaf-maaf Kal." Balas Astri merasa bersalah. Lalu kembali memukul Rama menggunakan tas selempang nya.


******


Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu, kali ini Astri akan benar-benar menagih apa yang ia bicarakan tadi dengan Rama. Dengan berjalan penuh kegirangan dua wanita itu menggandeng tangan Rey dan May, masuk ke satu toko ke toko yang lainnya.


Kali ini Rama bukan hanya menjadi pengawal bagi dua bocah itu, tapi tugasnya bertambah menjadi asisten dua wanita dewasa yang berjalan di depannya. Barang belanjaan milik Astri dan Kalisa sudah berada di tangannya, Kalisa sengaja belanja cukup banyak karena merasa belum pernah melakukan ini lagi, lagi pula ia akan membayar dengan uangnya. Jadi ia tak sungkan sedikitpun.


Mengenai barang belanjaan yang ada ditangan Rama, itu adalah ide Astri, mana mungkin Kalisa dengan tidak tahu malu meminta Rama membawa barang-barang nya.


"Mas, yang ini biar aku yang bawa yah." ucap Kalisa tidak membiarkan Rama merebut paper bag yang ada ditangannya.


"Kal, sudahlah biar kali ini kamu bersenang-senang dengan Reyhan dan May." balas Rama.


"Dan juga gue." timpal Astri.


Rama hanya bisa menghembuskan nafasnya, lalu tersenyum ke arah Kalisa. Tangan kekar itu tiba-tiba mengusap kepala Kalisa yang terbungkus hijab warna hijau tosca.


"Ahhh... Maaf." Rama menarik tangannya yang sudah cukup lancang. Sedangkan Kalisa hanya bisa tersenyum kecil, hatinya berdesir dengan aneh. Namun tingkah manis ini, cukup membuat bibirnya ingin terus melengkung dengan sempurna.


******


Pukul empat sore mereka sudah kembali ke rumah Kalisa, Rama membawa barang-barang milik wanita itu ke dalam. Lalu menggendong tubuh Reyhan yang sudah terlelap karena kelelahan bermain dan berkeliling kebun binatang, sedangkan Kalisa menggendong putri kecilnya. Dilihat dari sudut manapun mereka terlihat seperti keluarga bahagia.


"Ram, gue mau di gendong juga." ucap Astri, membuat kedua orang yang sedang menggendong itu menghentikan langkah.


"Minta gendong aja sama gorila." balas Rama acuh, Astri langsung mencebik, sementara Kalisa tertawa kecil melihat wajah kecewa sahabat nya. Lucu pikirnya.


Selesai membaringkan tubuh Reyhan dan May di kamar mereka, keduanya melangkah keluar kembali tapi sebelum itu, Rama kembali meraih lengan Kalisa, dua orang berbeda jenis itu berdiri dipintu kamar.


Sama-sama mematung untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Kalisa memberanikan diri buka suara.


"Mas, ada apa?" ia tak ingin berlama-lama seperti ini, meskipun tak dipungkiri hatinya menerima. Tetapi ini belum saatnya.


"Kal, mengenai tadi, aku sama sekali tidak bercanda, aku benar-benar serius." ucap Rama, arah pandang Kalisa langsung beralih, menatap manik mata Rama yang sama sedang menatapnya.


Sedangkan di lain sisi, Hendri sedang mengendarai motor yang dua bulan lalu telah di belinya dengan cara kredit menuju rumah Kalisa. Senyum penuh arti itu terus mengembang, ia membawa beberapa makanan kesukaan anak-anak nya, dan juga kesukaan Kalisa. Hari ini ia benar-benar ingin memanfaatkan waktu kebersamaan keluarga kecilnya. Keluarga yang sudah terpecah belah.

__ADS_1


"Pasti mereka suka." gumam Hendri, hingga tak terasa beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di depan gerbang rumah Kalisa yang terbuka.


*******


__ADS_2