Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Kesukaanku


__ADS_3

Karena tidak dapat mencium aroma nasi, yang membuatnya mual, akhirnya pagi itu Rama hanya memakan roti panggang selai kacang buatan Kalisa.


Bahkan entah kenapa, piring, sendok dan semua alat makan yang Rama pakai, tidak boleh disentuh oleh siapapun, kecuali istrinya.


Dia juga menyemprotkan minyak wangi milik Kalisa ke seluruh anggota tubuhnya, bagi Rama semua yang berhubungan dengan wanita itu membuatnya merasa lebih tenang.


Rasa mualnya juga ikut berkurang.


"Jangan dipaksakan, Mas. Biar Reyhan dan May berangkat diantar pak Amir saja yah?" bujuk Kalisa pada Rama yang masih kukuh ingin mengantar Reyhan dan May ke sekolah.


"Tapi, Sayang. Aku masih sanggup." untuk kesekian kali, Rama mengatakan kalimat itu, dan jawaban Kalisa masih tetap sama.


Ibu hamil itu menggeleng, seraya menggenggam tangan Rama. "Mas..."


Melihat kekhawatiran Kalisa yang begitu besar, akhirnya Rama mengalah, dia menghembuskan nafas pelan lalu menganggukkan kepala.


"Hem, baiklah. Maafkan papa ya, Nak. Setelah ini Papa pasti antar kalian lagi." ucap Rama sambil menatap Reyhan dan May dengan penuh rasa bersalah.


Reyhan dan May mengangguk dengan senyum mengembang. Keduanya tidak merasa keberatan. Karena Kalisa sudah lebih dulu menjelaskan keadaan papa mereka.


Dengan takdzim kedua bocah itu menyalimi tangan Rama dan juga Kalisa, lalu mengucap salam seraya melangkah keluar rumah, dengan Mbak Darmi yang mengekor di belakang tubuh mungil mereka.


Setelah kepergian kedua anaknya. Kalisa kembali menatap Rama.

__ADS_1


Kalisa mengusap pipi Rama dengan sayang. "Aku sudah sering mengatakannya, Mas. Apapun, kalau kamu merasa tidak sanggup bicara padaku, jangan dipaksa."


Rama menangkap tangan Kalisa, lalu mengecupnya sekilas. Sekali lagi dia patuh, dia mengangguk pelan. "Iya, Sayang. Maafkan aku, aku hanya merasa bersalah kalau aku tidak melakukan sesuatu seperti biasanya, aku takut Reyhan dan May merasa aku ini berubah."


Kalisa menggeleng, dia bangkit lalu mendudukkan dirinya di pangkuan Rama, karena kini di dapur tersebut hanya ada mereka berdua. Dalam jarak sedekat ini, Kalisa bisa melihat dengan jelas kekhawatiran lelaki itu.


Kalisa mengalungkan tangannya dengan sempurna di leher Rama.


Entah kenapa semenjak hamil, Kalisa jadi merasa ada yang berbeda dengan dirinya, dia lebih berani, bahkan kerap memulai lebih dulu.


Seperti saat ini, Kalisa mengikis jarak yang terbentang tak seberapa, dia berniat untuk mengecup bibir Rama sekilas, tetapi lelaki itu tak ingin hanya sekedar kecupan, dia menahan tengkuk Kalisa hingga bibir itu kembali bertemu.


Rama mulai melumaat habis bibir ranum Kalisa, menyesap kuat hingga Kalisa terdengar melenguh, dan tangannya berganti meremat dada Rama.


Pasokan oksigen dalam tubuh keduanya mulai menipis, Kalisa menarik diri, hingga tubuh Rama sedikit mencondong mengikuti gerak Kalisa.


Rama dan Kalisa saling memandang dengan mengulum senyum. Sekali lagi Rama mengecup bibir Kalisa sekilas.


"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, Mas. Reyhan dan May pasti mengerti, apalagi mereka sangat menginginkan bayi ini, anak kita kembar dan mereka akan mendapat adik satu-satu." Ucap Kalisa sambil mengelus pipi Rama.


Membuat tatapan sendu lelaki itu, berangsur membinar, dengan bias yang selalu menenangkan.


"Maafkan aku, Kal. Aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sekarang, aku buatkan susu untukmu yah."

__ADS_1


Kalisa tersenyum kemudian mengangguk. Dia bangkit dan membiarkan Rama membuatkan susu untuknya. Kebiasaan yang tak pernah berubah.


Tak sampai menunggu lama, Rama sudah kembali dengan segelas susu rasa coklat di tangannya, dia menyerahkannya ke arah Kalisa, lalu duduk di samping wanita itu, dia tidak akan berangkat bekerja, sebelum memastikan Kalisa menghabiskan susunya.


Kalisa menatap Rama sekilas, lelaki itu juga ikut menatapnya dengan tatapan intens. Membuat Kalisa jadi ingin tersenyum.


"Kenapa Mas? Kok melihatku seperti itu?"


Ditanya seperti itu, Rama tersadar sekilas dan menelan salivanya yang terasa keluar lebih banyak, sambil terus menatap segelas susu yang ada di tangan Kalisa.


"Mas?" panggil Kalisa, mengikuti pandangan mata Rama yang tak berhenti menatap ke arah susu yang ada di tangannya.


"Mas." panggil Kalisa sekali lagi, dan Rama langsung tersentak kaget.


"Eh, iya sayang." jawabnya gelagapan.


"Kenapa? Mas mau nyobain susu hamilku?" tanya Kalisa menebak, dan Rama langsung mengecap-ngecap mulutnya, dan tanpa sadar dia mengangguk.


Kalisa terkekeh, lalu mengulurkan susu yang tersisa setengah gelas ke arah Rama. Dengan semangat lelaki itu menerima uluran Kalisa, dan segera menenggak susu itu hingga tandas.


Kalisa terperangah sekaligus merasa lucu. "Bagaimana rasanya, Sayang? Apa rasanya enak?"


Rama mengernyitkan dahinya, tampak berpikir. "Eum, lebih enak susu kesukaanku." jawabnya ambigu.

__ADS_1


__ADS_2