Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Biar rame


__ADS_3

POV Kalisa


Setelah kami menunaikan shalat subuh berjamaah. Mas Rama mengajak aku, Reyhan dan juga May untuk duduk dengan posisi berjajar.


Sedangkan dia bangkit mengambil Al-Qur'an beserta penyanggahnya. Ternyata dia mau mengajak kami mengaji, sebelum mulai, Mas Rama menyerukan kami semua untuk membaca surat alfatihah terlebih dahulu.


Dengan patuh kamu membaca taawuz dan basmallah lalu disambung dengan alfatihah secara bersama-sama.


Suasana hening.


Mendengar lantunan ayat-ayat suci yang keluar dari mulut anak-anak ku, mataku berair, darahku berdesir, menahan haru yang tiba-tiba menyeruak ke dasar hatiku.


Ya Allah... Sungguh bahagia yang Engkau berikan ini tiada tara. Tidak ada bandingannya sedikitpun dengan seisi dunia.


Memperhatikan Mas Rama yang begitu menyayangi kami, dan anak-anak yang terlihat sangat antusias dengan ajakannya, membuatku tak mampu lagi untuk membendungnya.


Air mataku mengalir deras, tetapi bukan kesedihan alasannya. Aku bahagia, ya hanya ada bahagia di dalam hatiku saat ini.


Ku rasakan usapan lembut di pucuk kepalaku, aku sedikit mendongak, kulihat sambil membaca Mas Rama mengulum senyum, senyum yang langsung menular padaku.


Aku terus berdoa, semoga kebahagiaan ini akan abadi, tidak ada lagi rasa sesak, sakit atau apapun, aku berharap itu semua tidak akan lagi menghampiriku.


Dengan sayang, aku usap kepala Reyhan dan juga May, lalu aku ikut melantunkan ayat-ayat suci, mulai dari surat-surat yang pendek.


"Shadaqollahul adziim." Ucap kami bersamaan. Tersenyum, aku mengecup bangga pipi kedua anakku secara bergantian, setelah kami selesai mengaji.


"Papa juga dong Bunda. Masa anak-anak aja yang dicium." Protes Mas Rama, aku balas dengan bibir mencebik, tapi ku cium juga pipinya.


Ia tersenyum senang, lalu menyuruh Reyhan dan May juga melakukan hal yang sama.


******

__ADS_1


Kami semua berkumpul di meja makan. Aku memasak ayam goreng dan sayur bayam pagi ini.


Ku angkat satu persatu piring mereka, lalu mulai menyendokkan nasi lengkap dengan lauk pauk.


Hening, tak ada yang bersuara kecuali dentingan sendok yang beradu dengan piring masing-masing.


Dan orang pertama yang menghabiskan makannya adalah lelaki tampanku, seperti sudah menjadi hal lumrah, suami memang makannya lebih cepat. Lalu disambung olehku dan yang lainnya.


"Oh ya, Rey, May. Papa ada berita buat kalian." Ucap Mas Rama, membuat kedua bocah itu kompak bertanya. "Apa, Pa?"


Hal yang pertama kali ia lakukan adalah menatap ke arahku, lalu tersenyum. "Papa berencana mengajak kalian pindah, bagaimana?"


Kedua bocah itu saling pandang, yang satu sudah paham, yang satu terlihat kebingungan.


"Pindah kemana?" Tanya si besar Reyhan. Menaruh piring bekas makan di samping tangannya.


"Ke Jakarta sayang." Aku yang membalas, ku lihat May melirik Reyhan.


"Kita tidak tinggal di sini lagi. Adek." Jawab Reyhan dengan lembut. Memberi pengertian pada sang adik.


"Iya, tapi kita tetap tinggal sama-sama. Jadi, mau tinggal dimana pun, tidak masalahkan?" Tanyaku pada anak-anak, mereka kembali saling pandang, lalu kompak menganggukkan kepala lengkap dengan senyum mengembang.


"Anak Papa yang pintar." Puji Mas Rama tak kalah senang. "Nah, sekarang Papa mau tanya sama Reyhan dan May." Sambungnya mencondongkan tubuh ke arah dua bocah manis itu.


Bola mata bulat nan berkilau itu memandang ke arah Mas Rama, berkedip pelan seolah mengatakan, apa?


Mas Rama berdehem. "Kalian mau punya adik tidak?"


Terkejut, aku langsung melirik ke arah Mas Rama, sedikit melotot tak percaya, dia menanyakan itu pada anak-anak.


Bibir yang mirip denganku itu melengkung, dengan semangat dia menjawab. "Mau. May mau."

__ADS_1


Aku salah tingkah, sedangkan Mas Rama sudah tersenyum sumringah, senang keinginannya disetujui oleh sang anak.


"Apa besok sudah ada?" Tanya anak gadisku antusias. Bersorak kegirangan di sebelah Reyhan, sedangkan sang kakak terlihat tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Tidak bisa lah Dek." Reyhan menimpali, sudah berpengalaman menjadi seorang Kakak. Pangeran kecilku pasti sudah tahu bagaimana proses bayi itu, setidaknya dia harus bersabar, menunggu 9 bulan.


"Kenapa?" Tanya May berubah sendu.


"Kita harus menunggu perut bunda besar dulu." Terang Reyhan.


Mata itu kembali mengerjap, mencoba mencerna ucapan kakaknya. Lalu, tangan mungil itu mengambil banyak makanan di meja, dan mengarahkannya kepadaku.


"Ayo bunda makan yang banyak, biar perutnya cepat besar." Titah May dengan binar mata penuh harap.


Mendengar itu, kami bertiga justru kompak terkekeh. Reyhan yang paling keras. Cukup lama, hingga membuat anak gadis itu hampir menangis, Mas Rama lebih dulu menyelesaikan kekehannya, dia bangkit lalu duduk di samping May.


Ku lihat dia mengatupkan bibir, berusaha untuk menahan tawa.


"May, tidak begitu sayang. May, harus menunggu sampai beberapa bulan, nanti adiknya baru ada." Jelasnya dengan pelan-pelan, seraya mengusap rambut ikal May dengan sayang.


"Kenapa lama sekali?" Keluh May dengan bibir mencebik, seolah tidak sabar ingin bermain dengan adiknya itu.


"Waktu Kakak nunggu Adek lahir juga lama." Timpal Reyhan.


"Benar, Sayang. Kita harus sabar." Aku ikut memberi pengertian.


Dia manggut-manggut lucu. "Oh begitu, terus nanti adiknya ada berapa?"


"Memang May mau berapa?" Tanya sang Papa.


Sontak anak itu melengoskan wajah ke arah Mas Rama, dan mengacungkan ke sepuluh jari mungilnya. "Biar rame, kaya di sekolah."

__ADS_1


Eh!


__ADS_2