Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Batu berlian vs Batu koral


__ADS_3

Sore itu, Maya mengendarai sepeda motornya membawa dua keponakan tersayangnya untuk pulang ke rumah. Setibanya di rumah Kalisa, Maya menggandeng tangan May dan juga Reyhan untuk masuk, namun tiba-tiba ia menghentikan laju kakinya sebelum sampai diambang pintu. Ia mendengar sayup-sayup suara ribut dari dalam, dan Maya yakin kalau itu adalah suara kakak dan kakak iparnya sedang bertengkar, kaki Maya berpindah haluan memutar kembali untuk pulang kerumahnya dengan membawa May dan Reyhan.


"Tante, Nda sama Ayah kenapa?" Tanya si besar Reyhan pada Maya. Jelas, Reyhan begitu hafal dengan dua suara yang sedang adu mulut itu, Maya memejamkan mata sejenak,lalu kembali menarik tangan May dan Reyhan untuk menjauh terlebih dahulu, agar tak mendengar lebih jauh pertengkaran kedua orangtuanya.


"May, Rey. Kita ke rumah nenek lagi yah, sepertinya Bunda sama Ayah sedang membicarakan sesuatu yang serius, jadi kita tidak boleh mengganggu mereka." Ucap Maya setenang mungkin. Ia tak ingin dua bocah ini merasa sedih. Dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Membicarakan apa Tante?" Tanya Reyhan lagi, anak ini benar-benar penasaran, karena terakhir kali ia melihat orang tuanya bertengkar. Dan ia tidak mau jika didalam sana Bundanya kenapa-napa. Sedangkan si kecil May yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa bungkam.


"Rey, ini masalah orang dewasa, nanti kamu juga akan mengerti. Lebih baik kita ke rumah nenek lagi aja yah." Ajak Maya, lalu keduanya menurut tanpa bertanya kembali.


Dan disinilah Ibu Hendri sekarang, dari info yang ia dapat dari putrinya bahwa putra pertamanya seperti sedang bertengkar dengan sang menantu, Kalisa. Beliau langsung meminta diantar ke rumah mereka, tanpa mau menunda. Beliau ingin menjadi penengah diantara keduanya.


Kini di ruang tamu, tepatnya diruangan tempat sofa berjejer dengan rapih. Ibu Hendri sudah duduk disebelah Kalisa yang sedang memeluk lengannya erat. Meminta ampun pada sang mertua karena telah membuat bangkrut putranya, bahkan kini ia akan meninggalkanya. Berseberangan dengan kedua wanita beda usia itu ada Sela yang sedang meremat-remat buku jarinya karena merasa gelisah. Dan di sofa single, tampak seorang pria yang wajahnya sudah sangat muram, yang tak lain dan tak bukan adalah Hendri. Lelaki yang dengan mudah membuang batu berliannya.


Semuanya bungkam, hanya ada suara Isak tangis Kalisa yang terus merasa bersalah pada mertuanya. Sedangkan ibu hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Bu." Panggil Hendri memecah keheningan, suaranya tertahan. Menahan sesaknya dada, karena menyesali segala perbuatannya.


Air mata ibu luruh, menatap putra pertamanya, lalu kembali membuang muka. Bukan lagi kasihan, tetapi lebih kepada menyesali sikap Hendri yang seperti ini, yang rela membuang batu berlian, hanya demi sebongkah batu koral yang mudah ditemui dijalanan.


"Maafkan Hendri Bu." Sambung Hendri, dibubuhi tangis yang kembali memecah. Ruangan disekitar sana sudah seperti tidak ada udara, sulit walaupun hanya untuk sekedar bernafas dengan lega.


Sedangkan Sela hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Pikirannya telah melenceng jauh, ia kira dengan memberi bukti bahwa Kalisa bersalah maka cukup hanya ada perceraian diantara mereka berdua, dan ia bisa memiliki Hendri sepenuhnya. Tetapi ternyata dia salah, Kalisa telah menyiapkan semuanya, bahkan kini rahasianya juga ikut terbongkar. Ia tak berpikir jauh sampai kesitu, hingga dengan perasaan girang ia mengirimkan bukti telak bahwa Kalisa bukanlah wanita baik-baik seperti yang Hendri kira. Ia menyesal, ah... Kenapa juga ia harus jatuh cinta, jatuh cinta hanya membuat dirinya bodoh dan buta.


"Untuk apa kamu meminta maaf pada ibu?" Balas ibu dengan lugas. Beliau sama sekali tak memandang ke arah Hendri, beliau malah terus mengusap punggung Kalisa yang masih setia naik turun.


"Ibu... Hendri salah." Lelaki itu kembali tergugu. Suara tangisnya tak bisa ia tahan, ini benar-benar sakit. Hatinya seperti diremat oleh tangan besar yang tak kasat mata. Dunia yang ia tuju pun kini sudah tidak ada. Pernikahannya sudah diujung tanduk. Hendri bangkit, lalu melangkah dan duduk bersimpuh di kaki ibu. Membuat Kalisa melirik sejenak lelaki itu. Begitu pun juga Sela, ia hanya bisa bungkam dan menyaksikan semuanya. Ia juga jadi merasa bersalah, hati kecilnya tersentuh melihat ini, ia telah menghancurkan keluarga yang mulanya harmonis, dan penuh kasih sayang. Tapi dengan alasan uang, ia malah tega untuk menghancurkannya.


Kalisa semakin mengeratkan pelukannya dilengan ibu mertuanya, ibu yang baik, ibu yang selalu memberinya nasihat, ibu yang menjadi tauladannya untuk mengurus Reyhan dan juga May. Bahkan, beliau selalu membelanya. Tak pandang bulu, meski Hendri adalah putra kandungnya.


"Kalisa sayang sama ibu." Lirih Kalisa, tetapi jelas terdengar ditelinga ibu.

__ADS_1


"Ibu juga akan selalu menyayangimu Kalisa, ibu akan mendukung keputusanmu untuk berpisah dari Hendri." Ucap ibu sambil menangkup kedua pipi Kalisa. Beliau mengangguk,memberi isyarat, kalau beliau benar-benar ada dipihak Kalisa.


"Lepaskan cincinmu Kal." Titahnya, membuat air mata Kalisa semakin menderas.


Kalisa mengangguk, lalu ia mengamati jari manisnya yang masih tersemat cincin kawinnya bersama Hendri, ia mulai melepaskan cincin itu, dan secepat kilat Hendri menahannya. Ia menggeleng kan kepala, memohon untuk jangan melakukan itu. Kalisa berhenti sejenak, hatinya telah mantap.


Bismillah...


Kalisa benar-benar melepaskannya dan memberikannya pada Hendri, lalu detik selanjutnya ia langsung memeluk ibu kembali.


Hendri menggeleng tak percaya. Pernikahannya hancur lebur. Sama halnya dengan hatinya. Kalisa sama sekali tidak main-main dengan kata-kata nya. Ia dan Kalisa telah berakhir hari ini.


"Kau boleh pergi Hendri, biar ibu yang merawat batu berlianmu." Ucap ibu, lalu bangkit dan membawa Kalisa menuju kamar.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


__ADS_2