
Pov Kalisa
Aku menyiapkan baju kerja Mas Hendri, karena ia bilang hari ini juga, ia akan berangkat ke kota dimana usahanya berkembang. Dan kota dimana ia bertemu Sela, memadu kasih dengannya, dan ah akhirnya tumbuhlah benih cinta keduanya.
Ah, kenapa mesti kesitu ujungnya.
Mas Hendri keluar dari kamar mandi dengan hanya sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Haha aku merasa puas mengerjainya semalam dengan berpura-pura mual. Dan menggagalkan rencana bercinta kami, aku yang memberi harapan aku juga yang menghempaskannya ke dasar jurang.
Wajah kecewanya, tak lagi dapat aku beri nilai iba. Aku akan tega, yah. Wanita baik-baik sepertiku kini akan menjadi wanita tega. Tapi hanya untuk dua orang yang telah melukai hatiku. Bukan orang-orang disekitarku.
Mas Hendri mendekat ke arahku, ia hendak mengambil baju kemejanya. Tapi secepat itu juga, aku kembali berlari ke arah kamar mandi.
"Sel, kamu kenapa? " tanyanya.
"Eum, maksudku Kal, kamu kenapa? " ulangnya lagi karena sudah salah sebut nama.
Ya Tuhan, betapa hebatnya dia.
Ia kembali membantu memijat tengkukku. Aku hanya diam dan fokus dengan mual bualanku.
"Kita ke dokter yuk Kal." tawarnya.
"Aku tidak papa Mas, tapi aku minta tolong yah, supaya Sela yang memasak pagi ini." lemas, ya wajahku ku buat lemas, lesu agar ia iba padaku.
"Dia kan sudah melewati masa mual-mualnya. " sambungku lagi, dan dia mengangguk.
"Yasudah kalo ada apa-apa nanti telpon aku yah. Aku ke kamar Sela dulu memintanya untuk memasakan makanan untuk kita." balasnya lalu mengusap kepalaku.
"Tapi aku ingin makan ikan goreng ya Mas, kemarin masih ada sisa ikan di frezer suruh dia memasaknya yah." rajukku.
Hendri mengangguk patuh atas permintaanku. Dan siap-siap aku akan menonton pertunjukan drama selanjutnya.
****
Pov Hendri
__ADS_1
"Sel, tolonglah Kalisa ingin makan ikan goreng." aku sedikit menaikan pita suaraku karena Sela tak mau memasak. Ya aku tahu dia memang tidak bisa memasak, karena selama disana juga kita hanya membeli makanan yang kita suka. Bahkan memegang spatula saja aku tidak pernah melihatnya. Tapi ya entahlah, karena dia seorang wanita jadi aku berpikir sebenarnya dia bisa.
"Mas kan sudah tahu aku ini tidak bisa memasak." tak kalah membentak, aku tahu dia kesal. Tapi apa harus aku? Kalo seorang wanita saja tidak bisa apalagi aku coba?
Aku menarik tangan Sela agar ia ikut denganku untuk pergi ke dapur. Ia memberontak, dan itu semakin membuatku ingin menariknya secara paksa.
Aku tak menyadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan gerak-gerik kami. Reyhan, dia melihatnya.
"Ayah, kenapa tante itu ditarik-tarik? " tanyanya dengan wajah polos.
"Ahh, ini sayang tante Sela ini ayah suruh mandi tidak mau, jadi terpaksa ayah agak narik tangan dia." jawabku dengan alesan yang sama sekali tidak masuk akal. Tapi biasanya bocah kecil kan gampang untuk dibohongi.
"Kan kamar mandi dikamar tante juga ada, kenapa mesti keluar? " tanyanya lagi, ah aku pusing menjawabnya. Kenapa juga Sela tak langsung mengiyakan saja permintaan Kalisa. Jadi aku tidak perlu untuk menarik-nariknya, ini akan mengundang kecurigaan anak-anakku.
"Kamar mandi tante rusak." Sela membantu aku menjawab pertanyaan Reyhan, aku sedikit bernafas dengan lega.
Reyhan manggut-manggut "Yaudah tante mandi dikamar Reyhan aja. Jangan sampe nggak mandi ya tante, soalnya kata bunda orang yang jorok itu temennya setan." ucap Reyhan, karena Kalisa memang menasihatinya seperti itu.
Sialan! Anak sama ibu sama saja. Gumam Sela.
****
Pov Sela
Ahh aku jijik dengan bau ikan mentah. Sangat amis. Seumur-umur baru kali ini aku memasak, dan berlama-lama didapur.
Eh tapi sepertinya ada untungnya juga aku memasak. Aku kan bisa mengerjai Kalisa balik, semalam dia sudah membuatku kehabisan tenaga membersihkan kamar sebesar itu sendirian. Jadi ini adalah saatnya aku membalasnya. Awas kamu Kalisa.
Aku tidak lagi mencuci ikan itu, langsung ku masukan saja ke dalam bumbu racikanku yang pastinya akan membuat Kalisa keracunan. Dari mulai memasak aku sudah banyak mengumpat dan menyumpahinya.
Dengan tersenyum kegirangan aku meneruskan misiku. Aku mencari yang namanya penggorengan. Yang mana yah? Aku melihat alat masak didapur rumah ini satu persatu. Nihil, aku sama sekali tidak ingat yang mana bentuk wajan itu. Tapi aku percaya diri saja, karena ingat akan rencanaku mengerjai Kalisa.
Ah yang itu kali, aku mengambil satu buah alat masak yang bentuknya cekung tapi agak gepeng, dan memiliki satu pegangan. Yah palingan nanti aku masak kan sambil megang wajan.
Aku menuangkan minyak ke atas wajan dengan penuh, lalu mencoba menyalakan kompor. Tak sulit untuk menyalakan kompor karena memang ada petunjuk yang tertera disana.
__ADS_1
Api aku besarkan agar minyak cepat panas dan aku pun cepat keluar dari tempat sialan ini.
Aku mendekatkan tanganku, merasai sudah panas belum minyak diwajan itu.
"Sepertinya sudah." gumamku.
Aku lekas mengambil racikan ikan yang mematikan itu, mengambilnya beberapa potong dan mulai menceburkannya sekaligus. Dan..
Brushhhhh... Minyak tumpah kemana-mana tapi aku tidak peduli.
Pletokkk... pletokkkk...pletokkk.
"Ahhh kenapa ini, kenapa ikannya loncat-loncat." aku panik sendiri.
Duakkk!!!
"Ahhh tanganku." ikan itu membuatku terkena minyak panas. Aku menjauhi penggorengan itu terlebih dahulu. Sekitar lima menit ku lihat lagi ikannya malah hampir gosong tapi aku tidak tahu yang mana spatula, aku yang benar-benar frustrasi sekaligus gugup, akhirnya aku mengambil sendok. Memegangi gagang wajan mencoba membalik ikan itu, dan...
Duakk!!!
Aku kaget, reflek mundur ke belakang tanpa memperdulikan tanganku yang sedang memegangi wajan.
Glomprankkkk!!!
"AKHHHHH MAS HENDRIIIII." pekikku, tangan dan kakiku terasa panas karena minyak itu menyiram beberapa bagian tubuhku.
"Aw, aw panas, panas. Hiksss panas." aku meniup-niup tanganku.
Mas Hendri yang mendengar teriakanku langsung berlari ke arah dapur dengan tergopoh, ia mematikan kompor terlebih dahulu, lalu mencoba melihat keadaanku yang mengenaskan.
"Mass panas, sakit." rintihku, aku benar-benar merasakan sakit sekaligus perih yang tiba-tiba menjalar. Kulitku juga memerah dan terlihat mau melepuh.
"Ya ampun Sel, kenapa bisa seperti ini." tanyanya khawatir. Ia membantuku untuk keluar dari dapur sialan ini.
"Aku juga tidak tahu, Mas tolong aku. Hikssss." aku sudah menangis karena nasib malang menghampiriku, niat hati ingin mengerjai Kalisa malah aku yang kena getahnya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
__ADS_1
Huaaaaa ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜