
Setelah beberapa saat tercenung dengan segala pikiran yang berkecamuk diotaknya, kini Hendri berangsur sadar, tapi bukan sadar akan kesalahannya. Melainkan sadar bahwa kini Kalisa telah menginjak-injak harga dirinya, ia tak terima. Ia akan mengikuti apa yang Kalisa mau saat ini. Bercerai? Baiklah ia akan lakukan, sekarang juga ia akan menandatangani surat cerai itu. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Kalisa, pasti wanita itu akan menyesal dengan keputusannya, ia tahu kalau ini hanya gertakan, dan dengan api amarah yang masih begitu membara didalam dada, maka ia akan kabulkan permintaan Kalisa.
Bukan apa, dia melakukan ini karena ia merasa masih memiliki rumah dan mobil, ya kedua benda itu masih atas namanya. Sedangkan Kalisa punya apa? Hanya toko itu, itu tidak masalah. Ia bisa tanpa Kalisa.
Hendri bangkit dari posisi terduduknya, melangkah ke arah kamar mandi dimana wanita yang telah menginjak-injak harga dirinya berada.
Dok dok dok....
"Keluar kamu Kalisa!!!" pekik Hendri begitu kerasnya, hingga membuat Kalisa yang sama terkulainya segera menyadarkan diri kembali. Untuk apa menangis lagi?
"Jangan kamu pikir aku takut, kamu meminta cerai bukan? Ayo kita bercerai, aku akan tanda tangani sekarang juga surat ini. Aku tidak akan takut hidup tanpamu, karena aku tahu kamu lah yang tak bisa hidup tanpa aku." ucap Hendri dengan begitu pedenya. Kalisa yang mendengar itu merasa tertantang, benarkah begitu? Ayo kita buktikan Hendri. Kalisa mengusap sisa air matanya. Bangkit dan mencoba membuka pintu kamar mandi itu sebelum digedor kembali oleh lelaki yang tidak bisa introspeksi diri itu.
Kalisa berdiri diambang pintu sambil melipat tangannya di dada, seolah tidak ada kata keraguan didalam kamusnya.
Cih!
Hendri berdecih melihat tingkah Kalisa yang benar-benar sudah berbeda. Kini dimatanya Kalisa hanyalah wanita angkuh dan wanita paling tega.
"Ternyata kamu tidak lebih baik dari Sela." cibir Hendri.
Kalisa menyunggingkan senyum remehnya, merasa lucu dirinya dibandingkan dengan Sela. Tidak lebih baik katanya? Setelah ia tahu semua, maka ia akan menilai sendiri siapa yang lebih buruk dimatanya.
"Tidak usah berbasa-basi Hendri, kau bilang mau menandatanganinya sekarang bukan? Lakukan, dan kita buktikan, siapa diantara kita yang tidak bisa hidup tenang setelah perceraian ini." tantang Kalisa, mata memerah itu masih jelas kentara. Lelaki yang ia kenal sangat baik, kini berbanding terbalik. Harta kekayaan seperti sudah menyulap diri Hendri untuk menjadi orang lain. Bukan lagi, sosok lelaki yang pandai bersyukur dan gigih dalam bekerja untuk mencari sesuap nasi bagi keluarganya.
Hendri mengangguk, "Baik, aku akan tanda tangani sekarang. Tapi setelah itu, kamu pergi dari rumah ini." ucap Hendri dengan sengit sambil meremat surat cerai itu hingga lusuh.
Ia berbalik, berniat mencari pulpen yang ada dikamar ini, tetapi Kalisa menghentikan niatanya.
"Tunggu, sebelum itu aku ingin sekali lagi memberi kejutan untukmu. Ini yang terakhir, dan berjanjilah untuk tidak menangis dihadapanku." ucap Kalisa dengan lugas.
__ADS_1
Kalisa mengambil ponsel, dan beberapa benda yang menurutnya penting untuk ditunjukkan kepada Hendri. Setelah mendapatkannya Kalisa tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin Hendri akan menyesali keputusannya menantang dirinya.
Greppppp!!!
Kalisa menyerahkan benda-benda itu tepat didepan tubuh Hendri, Hendri sontak menerimanya. Dengan tangan yang bergetar, ia melihatnya satu persatu. Ada pil penunda kehamilan, foto Sela bemesraan dengan? Dengan Bima? Hendri membulatkan mata, dunia seperti sedang memberikan lelucon padanya.
Dan satu lagi surat perjanjian antara dirinya dan Kalisa yang sudah ia tanda tangani. Disana bertuliskan, bahwa rumah, mobil, toko dan segala aset adalah atas nama Kalisa.
Bejat!!! Kurang ajar!!! Hanya kalimat kotor itu yang bisa Hendri gumamkan dalam hatinya. Apa maksud ini semua, siapa pemilik pil penunda kehamilan itu? Bukankah ia sudah tahu kalau Kalisa tidak benar-benar hamil? Dan Sela dengan Bima?
AHHHH!!! Hendri membuang kasar benda-benda tidak bermutu itu ke atas lantai. Tatapannya menajam ke arah Kalisa, ia menarik tangan wanita itu meminta penjelasan.
"Jelaskan padaku, apa maksud semua itu? " cecar Hendri, tatapannya sama sekali belum melunak.
Kalisa menepis tangan Hendri yang sedang memegang lengannya.
"Kamu penasaran dengan itu semua? Akan ku beritahu." ucap Kalisa, lalu ia membuka ponselnya, menampilkan video cctv kamar tamu yang dihuni oleh istri kedua suaminya, Kalisa sengaja memasangnya sebelum Sela datang ke rumah. Dan di video tersebut terlihat Sela sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya dan seseorang itu adalah Bima. Rekan kerja suaminya.
"Oh yah, bagaimana kalau aku beritahu Hendri, kalau kamu ternyata pura-pura hamil dan bekerja sama denganku?"
"Ja—ja—jangan macam-macam kamu!"
"Heuh, Sela... Sela. Kalau kau tidak mau itu terjadi, lekas ambil berkas-berkas itu dari tangan Hendri dan berikan padaku."
"Tidak Bima." tolak Sela.
"Aku tidak menerima penolakan, segera lakukan, atau kau tahu akibatnya sayang." ancam Bima, lalu tuttt... tutt...
"Hallo, Bim, Bima??? "
__ADS_1
"Bagaimana kau sudah tahu pil itu milik siapa? Dan siapa yang berkhianat padamu? Mau bagaimana pun bisnismu akan hancur, karena jika tidak ditanganku, maka semuanya akan hancur ditangan Sela. Bagaimana? Sakit Hen? Sakitkan rasanya dikhianati oleh pasangan kita sendiri? Sakitkan rasanya dibohongi?"
"Bagaimana Hen? "
"DIAM!!! " bentak Hendri, ia kembali merasa tak percaya, kedua istrinya sama-sama berlomba untuk menghancurkan dan membohonginya. Terlebih Sela, jadi selama ini ia tidak hamil, bahkan ia bekerja sama dengan Bima? Lelaki biadab yang telah membawa sisa uang modalnya.
Ya Tuhan....
Hendri mengusap wajahnya kasar, entah seperti apa kondisi hatinya sekarang, ia benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Dunia seakan runtuh menimpa tubuhnya yang kini kembali terkulai lemas, ia tak bisa untuk tidak menangis. Dan sedikit demi sedikit ia juga mulai sadar, bahwa perselingkuhan memang membawa dampak yang sangat besar. Meskipun apapun alasannya, selingkuh tetap tidak dibenarkan oleh hukum dan agama.
Kenapa? Kenapa ia bisa terjebak dalam kondisi seperti ini, kenapa ia tak bisa menahan gejolak nafsunya malam itu, kenapa ia tak bisa menolak pesona Sela? Kenapa ia tak pulang saja dan menyelesaikan gairahnya bersama Kalisa, kenapa? Kenapa ia malah memilih neraka sebagai jalan hidupnya, kenapa?
Selama ini ia sudah melukai hati wanitanya, tanpa sadar ia menoreh banyak kesakitan pada sosok yang setia menemaninya dalam suka dan duka. Kenapa juga ia tak memilih saran ibu untuk melepaskan Sela? Dan kenapa ia tak menyelidiki terlebih dahulu bahwa Sela benar-benar hamil atau tidak. Terlambat, semuanya terlambat sudah. Kini ia hanya bisa menangisi takdirnya yang tragis.
"Kal... " lirih Hendri, kini ia sudah duduk bersimpuh di kaki Kalisa, seolah meminta ampun.
"Maafkan aku Kalisa."
Diam. Kalisa bergeming sekarang, semuanya telah selesai, ia tak ingin kembali pada Hendri dan menjilat ludahnya sendiri.
"Lekas tanda tangani, dan pergi dari rumah ini."
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Selamat hari senin, jangan lupa vote nya yah, dan jangan lupa baca karya dd yang satunya juga #Cinta lelaki biasa ❤❤❤❤❤
__ADS_1
Happy monday 🌷🌷🌷