Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Aku akan berjuang


__ADS_3

POV Kalisa


Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan nya pada Mas Rama, pembicaraanku bersama ayah benar-benar seperti sebuah boom yang akan menghancurkan segala anganku bersamanya.


Haruskah aku jujur? Tapi hatiku tak bisa dibohongi, aku sudah terpaut dalam cintanya, sudah jatuh dalam pelukannya yang setia mendekap ku dalam kesunyian.


Kenapa begitu tiba-tiba ayah dan ibu meminta ini, kenapa tidak mau mendengar keputusan ku, kenapa tidak bertanya dulu padaku.


Ah, rasanya kekalutan ini tak bisa untuk ku atasi sendiri, aku harus jujur pada lelaki itu. Meski harus mematahkan hatinya, tetap saja kejujuran itu lebih penting ketimbang aku membohongi nya.


Kring... Kring... Kring


Ponselku kembali berbunyi dengan nyaring, ku baca nama di atas layar yang menyala.


Mas Rama? Gumamku.


Kenapa bisa pas sekali, apa aku harus bicara sekarang juga mengenai permintaan ibu dan ayah?


Ya Allah... Aku sama sekali tidak sanggup melihat wajahnya sedih dan bermuram durja.


Suara ponselku semakin berbunyi nyaring, tak hentinya mas Rama untuk mencoba menghubungi ku.


Angkat? Tidak? Angkat? Tidak? Angkat? aku mencari sebuah pilihan.


Akhirnya aku menggeser tombol yang ada di layar menggunakan ibu jariku. Aku menarik nafas sejenak, lalu membuangnya kasar.


"Assalamualaikum mas." Ucapku berusaha untuk tetap tenang, aku putuskan untuk bertemu dengannya, aku ingin membicarakan ini secara langsung hanya berdua.


"Waalaikumussalam, Reyhan sudah pulang?" Tanyanya padaku, aku melihat jam yang ada di dinding, memang saat ini waktu nya Reyhan pulang, namun anak itu belum memunculkan batang hidungnya.


"Belum, eummm... Mas apa ada waktu luang?" Jawabku, sekaligus bertanya.


"Untukmu, selalu ada Kalisa, kenapa? Apa ada sesuatu?" mas Rama balik bertanya, dan aku mengiyakannya, aku memintanya untuk bertemu di cafe terdekat. Karena aku tak ingin membuang waktu.


Begitu kami sepakat, aku memutus panggilan darinya. Lalu bergegas melanjutkan kegiatan ku yang tertunda, yaitu menyiapkan makan siang untuk Reyhan dan May terlebih dahulu.


Setelah selesai, aku bersiap untuk bertemu mas Rama, aku menitipkan Reyhan dan May pada Atikah sebentar, aku meminta pegawai ku untuk menyampaikan pada anak sulung ku, agar lekas mengajak adiknya untuk tidur siang setelah selesai makan.


Tadinya mas Rama ingin menjemput ku, namun rasanya aku begitu tidak enakan, hingga akhirnya aku memesan taksi online. Kurang dari 10 menit aku menaiki taksi, akhirnya sampailah aku di tempat yang ku tuju.


Aku turun dan langsung membayar, tak ingin mas Rama menunggu lama aku segera masuk ke dalam cafe tersebut.


Terlihat cukup ramai, karena banyak pegawai kantoran sedang menikmati makan siang.

__ADS_1


Di tengah keramaian itu, aku bisa melihat mas Rama melambaikan tangan ke arah ku. Aku tersenyum senang, namun seketika berubah murung begitu aku mengingat berita apa yang akan aku sampaikan. Sekali lagi, aku membuang nafas kasar.


Begitu aku mendekat, mas Rama langsung bangun dari duduknya. Kalian tahu dia ingin apa? Dia hanya ingin menarik kursiku, agar aku bisa langsung duduk.


"Kamu udah lama nunggu disini?" Tanyaku saat ia kembali menduduki kursinya.


Mas Rama menggeleng, ia terlihat begitu santai.


"Mau pesan makanan?" Tanyanya, dan aku langsung menolak.


Aku merasa tak enak dengan suasana ramai di cafe ini, secara apa yang akan kami bicarakan adalah sesuatu yang privasi.


Jadilah, akhirnya mas Rama memesan satu ruangan VVIP untuk kami berdua.


Lagi, mas Rama menawari ku makan, jangankan makan sebenarnya minum pun sangat enggan.


Tetapi demi menetralisir kecanggungan, aku memesan satu gelas minuman. Orange juice kesukaan ku.


Begitupun dengan dia, cukup banyak tahu, aku dan dia sering kedapatan memiliki selera yang sama. Dari makanan, bahkan warna kesukaan.


"Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicara kan. " ucapku setelah pelayan pergi membawa catatan pesanan kami berdua.


Mas Rama tersenyum tipis, memandang dengan tatapan yang selalu saja sama. Penuh cinta.


"Tentang apa? " tanyanya.


Semuanya tergantung pada jawaban mas Rama sekarang.


"Mas... Ayahku... Ayahku... Ayahku. " ucapku mengulang-ulang kalimat. Lidahku mendadak kelu tak bisa diajak kompromi. Kenapa rasanya sulit sekali?


"Apa ada sesuatu yang serius Kal? " tanyanya lagi, dan mengangguk cepat.


Mataku tiba-tiba memanas merasa haru dengan momen seperti ini.


Aku menggigit bibir bawahku. Meyakinkan hati, kalau aku harus kuat menyampaikan ini.


"Mas, sebenarnya ayahku tadi menelpon...."


Aku kembali mengambil jeda sejenak. Tetapi mas Rama tetap bergeming, ia membiarkan aku menyelesaikan ucapan ku.


"Ayah... Membicarakan tentang masa depanku, yang artinya semua ini akan bersangkutan denganmu. Aku ingin jujur sedini mungkin karena ayah seperti nya sangat serius mengenai hal ini. Beliau... Beliau akan menikahkanku dengan anak sahabat nya mas. " ucapku lemah.


Deg, deg, deg !

__ADS_1


Aku melirik mas Rama yang tadinya terlihat santai berubah jadi sendu.


Ia menatap kosong meja yang hanya berisi vas bunga.


Sorot mata kecewa yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.


Namun hari ini, aku telah membuatnya ada.


Kesenjangan waktu antara aku dan mas Rama mulai tercipta.


Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena mau bagaimana pun kami akan saling terluka.


Namun aku bersyukur, akhirnya pelayan datang membawakan pesanan, sekaligus membuyarkan lamunan antara aku dan mas Rama.


Aku melirik nya sebentar, lalu kembali menunduk. Takut.


"Kalisa. " panggilnya lembut, aku tak langsung menyahut, ku gerakan kepalaku pelan. Hingga aku dapat kembali melihat binar mata itu, binar yang kini hampir redup.


Aku tersenyum canggung.


"Apa benar semua yang kamu ucapkan?" tanya Mas Rama, dan aku mengangguk-anggukkan kepala membenarkan.


"Lalu siapa yang kamu pilih Kal?"


Deg!


Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang, nafasku memburu. Dengan susah payah aku menelan salivaku, tenggorokan ku terasa tercekat mendapati pertanyaan seperti itu.


Tak mampu menjawab akhirnya hanya lelehan air mata yang berbicara.


Mas Rama bangkit dari duduknya, lalu ku rasakan dia duduk di sampingku. Lelaki itu berusaha mengusap air mata yang mengalir tadi, membuatku semakin merasa bersalah.


"Jangan menangis Kalisa, kamu membuatku sedih. Katakan jika memang kamu memilihku. Maka aku akan berjuang mendapatkanmu..." ucap Mas Rama sungguh-sungguh, dan aku langsung mematung. Tak dipungkiri ada rasa bahagia yang menyusup ke relung hatiku. Hingga rasanya aku ingin berteriak Iya aku memilihmu , namun rasa malu lebih mendominasi hingga aku hanya bisa membungkam mulut ini.


"Tapi apa yang akan kamu lakukan Mas? " tanyaku. Apa iya nantinya akan berhasil? Hatiku bertanya-tanya.


Dan mas Rama mengangguk mantap.


Ia menatap mataku lamat-lamat.


"Asalkan kamu mendukungku, maka aku akan berjuang untuk kita. Kamu cukup diam, dan doakan aku agar aku bisa meminang mu. " ucap Mas Rama menyihirku, sihir yang membuatku mampu untuk tersenyum kembali, padahal kami belum tahu takdir apa yang akan kami berdua jalani setelah ini.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


__ADS_2