
Pov Hendri
Brakk!!!
Aku menggebrak meja kerjaku dengan keras, setelah aku membaca laporan minggu ini. Kenapa jadi seperti ini batinku, sebagian penanam modal menarik kembali modalnya. Belum lagi pendapatan semakin berkurang dari minggu ke minggu. Sepertinya ada yang sedang mencoba bermain-main denganku.
Siapa sebenarnya yang melakukan ini semua? Aku harus segera menyelidikinya. Sebelum orang itu bertindak semakin jauh. Apalagi kalau ia sampai membuat bisnisku hancur. Itu tidak boleh.
Tapi kali ini aku masih sedikit beruntung, karena Kalisa masih ada dalam genggamanku, itu artinya aku masih bisa mendapat modal dari toko besar yang Kalisa kelola. Terlebih Kalisa memberitahu ku bahwa kini dia tengah hamil lagi, itu artinya dia takkan bisa lari dari ku. Huh, senjataku masih sangat ampuh ternyata. Sekali mencoba nya langsung jadi saja.
Ku akui, saat ini cintaku memang mulai terbagi. Semenjak Kalisa selalu menolak bercinta denganku, aku jadi melampiaskannya pada Sela, dengan tangan terbuka Sela selalu menerimaku, meski ia tahu, bahwa ia hanya seorang madu. Bahkan tak jarang aku suka memarahinya jika ia membuatku kesal, dan membuatku harus berulang kali berdebat dengan Kalisa.
Tetapi Sela tak pernah menunjukkan wajah marahnya untuk waktu yang panjang, membuatku lebih bisa mentoleransinya. Apalagi bayi yang dikandung Sela adalah benihku, aku tidak mungkin kan menyakiti anakku?
Kemarin aku kelepasan menampar bahkan mengguyurnya terus menerus, karena akal sehatku tak bisa ku kendalikan. Kehilangan Kalisa sama halnya aku akan kehilangan bisnis ini. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Tapi kalaupun itu terjadi, aku masih bisa mengelola toko yang Kalisa punya, aku masih bisa menghidupi dua istriku, sambil merintis karir kembali. Itulah gunanya Kalisa kali ini.
Tok tok tok
Suara pintu ruang kerjaku diketuk, aku langsung menyuruh nya masuk, dan disana menampilkan Bima yang sedang melangkah ke arahku.
__ADS_1
"Hen, kalo kaya gini terus. Usaha kita bakal bangkrut." ujarnya dengan melempar berkas ke mejaku, lalu mendudukan dirinya dikursi tepat didepanku, dengan menaikan satu kakinya bertumpu di kaki yang lain.
Aku bergeming sesaat, memang benar apa yang dikatakan oleh Bima, tapi aku tidak mungkin menyerah begitu saja. Ini bisnis yang sudah aku perjuangkan dari awal, dengan ditemani doa Kalisa disetiap langkahku, akhirnya aku bisa sesukses sekarang. Jadi aku tak mungkin tiba-tiba menyerah, aku akan buktikan pada pecundang yang sudah main-main denganku. Dan akan ku pastikan dia akan mendapat balasan yang setimpal.
"Sudahlah, lebih baik kita pikirkan rencana, kalau sampai berlarut-larut dalam satu masalah, malah akan membuat timbul masalah yang lainnya." timpalku, dan Bima hanya manggut-manggut.
****
Pov Kalisa
Siang ini aku sangat santai sekali, aku duduk memainkan ponsel sambil ditemani buah apel yang sudah dikupas dan dipotong dadu oleh pembantu baruku. Sela. Haha. Aku senang sekali mengerjainya, apa lagi melihat wajah kesalnya.
"Sel," panggilku pada Sela yang sedang memijit-mijit kakiku.
"Kalau aku hamil, kamu percaya tidak? " tanyaku, dia langsung menghentikan gerak tangannya. Mungkin terkejut dengan pertanyaanku. Lalu detik selanjutnya ia menatapku penuh selidik. Tapi aku acuh, ku buat seolah memang benar adanya begitu.
"Mbak jangan bohong deh." ujarnya dengan tatapan sedikit menajam. Berharap apa yang ia dengar bukanlah sebuah kebenaran.
"Hey, aku kan hanya bertanya, kok kamu malah menuduhku bohong." balasku menatapnya tak kalah sengit.
Ku lihat dia menelan ludahnya takut, tak berani membalas tatapanku.
__ADS_1
"Aku hamil Sel." ucapku lagi.
Glek!
"Apa? Bagaimana bisa? " ia menanggapi ucapanku dengan rasa tak percaya, bukan tak percaya tapi lebih kepada kenapa harus Kalisa hamil lagi, itu tidak boleh terjadi. Begitulah kira-kira yang tatap dari sorot matanya.
"Iya, kemarin aku muntah-muntah karena aku memang hamil, masuk tri semester pertama. Aku juga sudah mengeceknya menggunakan test pack tadi pagi. Dan hasilnya dua garis merah." balasku, ku lihat wajahnya sendu, ah kenapa dia jadi suka melow begini yah. Mana jiwa wanita ularmu yang selalu membusungkan dada ketika didepanku?
"Sudahlah Sel, tidak usah berkecil hati begitu. Ku yakin kamu juga akan bisa seperti aku." ucapku menasihatinya, padahal mengandung ejekan semata.
"Aku ke kamar mbak." ujarnya tak menanggapi perkataanku, bahkan ia mengucapkan itu dengan nada ketus. Dan langsung pergi begitu saja.
Ku biarkan saja dia melenggang ke arah kamar, mungkin dia mau menangisi nasibnya lagi. Sela, sela. Cinta sudah membuatmu jadi bodoh ternyata. Tapi kuucapkan selamat, karena ini adalah bentuk karma dari apa yang kamu perbuat.
****
Pov Sela
"Ahhhhhhh. Kenapa bisa Kalisa hamil, kenapa? Ini akan semakin membuatku sulit untuk membuat Mas Hendri lepas dari wanita itu." aku berteriak didalam hatiku sambil meremat-remat sabun. Ya sabun kini menjadi sasaran kekesalanku, karena saat pamit pada Kalisa, aku langsung masuk ke kamar mandi yang ada di kamarku ini.
Padahal aku sudah berusaha membuatnya ada dengan selalu meminta bercinta, tapi kenapa tak kunjung ada juga. Apa karena sesuatu yang aku konsumsi? Ahhh bodoh memang. Kenapa juga aku mesti mengkonsumsi itu kalau akhirnya akan sulit seperti ini. Aku jadi terjebak dengan permainanku sendiri.
__ADS_1
Ya Tuhan, ku mohon berpihaklah padaku kali ini.
****