Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Permintaan (2)


__ADS_3

Masih dalam posisi yang sama, Rama berniat mengajak istrinya untuk bicara. Ini mengenai rencana kepindahan mereka, Rama berniat memboyong keluarga kecilnya ini ke ibu kota.


Bukan apa, perusahaan yang Rama kelola di sana lebih membutuhkan tenaganya. Terlebih, ia ingin mengajak Kalisa untuk keluar dari masa lalu yang masih ada di pelupuk mata.


Maka dari itu, ia memutuskan untuk membicarakan ini dengan istrinya.


"Kal." Panggilan Rama menghentikan tangan Kalisa yang tengah menulis-nulis huruf abstrak di dada suaminya. Kepala itu terangkat, menengadah dengan sorot mata yang bertanya, ada apa?


"Aku ingin membicarakan sesuatu." Ucap Rama, mengelus-elus surai hitam panjang Kalisa. Uraian lembut yang aromanya paling ia suka.


Lelaki itu menyelipkan anak rambut di belakang telinga Kalisa, lalu memberikan kecupan singkat di kening sempit itu.


"Mas mau bicara tentang apa?" Tanya Kalisa mulai penasaran.


Rama lebih dulu menarik nafas dan membuangnya secara bergantian. Lalu menatap netra pekat sang istri. "Kal, kalau kita pindah ke ibu kota bagaimana? Apa kamu setuju?"


Kalisa tak langsung menjawab. Sejenak ia mencerna ucapan Rama yang meminta mereka pindah, pasti bukan tanpa sebab lelaki itu meminta pendapatnya.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan, Kalisa meraih tangan kokoh itu dari kepalanya, mencium berulang kali sumber rezekinya, lalu menempelkannya di atas pipi.


"Insyaallah aku setuju, Mas." Jawab Kalisa tanpa ragu, namun lelaki lembut seperti Rama tidak bisa langsung yakin akan hal itu.


"Kamu benar-benar tidak keberatan?" Tanyanya lagi, semakin menatap dalam netra Kalisa mencari kesungguhan.


"Mas, sekarang ini aku sudah menjadi istrimu, makmummu. Jadi kemanapun imamku pergi, aku pasti akan mengikutinya, mau kamu menetap di sini, atau mengajakku tinggal di rumah umi dan Abi. Aku, May dan juga Reyhan, insyaallah kami akan selalu bersamamu." Balas Kalisa yakin, ia sudah ikhlas, mau kemana Rama membawanya, ia akan ikuti langkah lelaki itu.


Toh, pasti ini yang terbaik untuk mereka, Rama tidak mungkin cuma-cuma ingin pindah.


Rama tersenyum lebar dengan jawaban Kalisa. Lalu memeluk tubuh polos itu dengan erat. Ia pikir wanita itu akan merasa keberatan, karena terlalu banyak kenangan di kota ini. Tapi nyatanya, sang wanita bisa bersikap jauh lebih dewasa.


"Tidak apa-apa, kita santai saja. Tidak perlu terburu-buru. Lagi pula bagaimana dengan tokoku Mas?"


Rama tampak berpikir, toko yang cukup besar dan ramai itu sayang sekali kalau dijual. Seketika terbesit sebuah ide. "Bagaimana kalau Astri yang mengelolanya? Dia kan punya toko baju kecil-kecilan juga."


"Astri? Benar juga. Nanti aku coba bicarakan ini dengannya. Semoga dia mau menerima tawaranku." Ujar Kalisa lengkap dengan senyuman.

__ADS_1


Senyuman yang langsung menular ke diri Rama.


Rama mengusak puncak kepala itu, lalu ia meraih tangan Kalisa untuk digenggamnya. "Ada satu lagi yang ingin aku bicarakan." Ucap Rama, kali ini wajah itu nampak lebih serius dari sebelumnya.


"Apa?"


Rama mengecup tangan lentik itu berulang kali, dadanya berdebar kencang hanya karena ingin menguraikan permintaannya. "Jangan KB yah, aku benar-benar ingin memilikinya. Kita buat adik untuk Reyhan dan juga May, adik yang lucu mirip seperti kamu."


Terhenyak, Kalisa menggigit bibir bawahnya. Jujur, ia tidak menyangka kalau Rama akan secepat ini, memintanya untuk hamil lagi.


"Aku bersumpah, Kal. Aku tidak akan membeda-bedakan kasih sayangku pada anak-anak, semuanya aku sama ratakan, karena mereka semua anakku." Melihat Kalisa yang bergeming, Rama merasa ada kekhawatiran dalam diri wanita itu. Dan ia mencoba meyakinkan Kalisa akan ucapannya.


"Tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak akan mema_"


"Aku mau." Potong Kalisa cepat. "Aku mau kita memiliki malaikat kecil lagi." Sambungnya dengan mata yang berbinar-binar dan uluman senyum yang bersinar. Ia tidak boleh egois, Rama sudah benar-benar menyayangi Reyhan dan juga May, untuk apalagi ragu menambah momongan.


Mendengar itu, Rama langsung tersenyum sumringah, lalu tanpa Kalisa duga lelaki itu kembali mengungkungnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita main satu kali lagi yah."


__ADS_2