
Malam harinya, entah kenapa tiba-tiba Kalisa bersikap dingin pada suaminya. Selesai makan malam, tanpa sepatah kata pun, Kalisa masuk ke dalam kamar. Sementara Rama, seperti biasa dia membuatkan susu untuk istrinya itu.
Segelas susu strawberry ada di tangan Rama, dengan sumringah lelaki itu membuka pintu kamar, dan Kalisa sudah terlihat berbaring di atas ranjang.
"Sayang," panggil Rama lembut, dia mendudukkan dirinya di samping sang istri. Rama tak ambil pusing melihat Kalisa yang cuek padanya. Lelaki itu hanya menebak kalau mood Kalisa sedang tidak baik-baik saja.
Bawaan Dedek bayi. Batin Rama.
Tak mendengar Rama memanggilnya Kalisa hanya bergeming, dia masih berkecamuk dengan pikirannya yang tiba-tiba melalang buana, memikirkan sebuah foto yang masuk ke akun media sosialnya.
"Humairah, Sayang." Panggil Rama lagi, kini tangannya sudah mengusap pipi mulus ibu hamil itu.
Membuat Kalisa menghindar karena merasa terkejut. Dia melihat Rama yang sudah duduk di samping tubuhnya, lalu dengan cepat Kalisa bangkit.
"Mas?"
"Sayang, kamu memikirkan apa? Kenapa melamun?" tanya Rama, dan Kalisa menggeleng, dia menundukkan kepala enggan untuk menatap suaminya.
Dan hal itu sukses membuat Rama menjadi gusar, sepertinya ada hal yang mengganggu wanita itu, dan dia harus secepatnya tahu.
"Hei, Sayang bicaralah, apa ada sesuatu yang mengganggumu? Apa Mas menyakitimu? Kalau iya, Mas minta maaf yah." Ujar Rama seraya mengangkat dagu Kalisa.
Tak menanggapi ucapan suaminya Kalisa justru menangis, air matanya luruh begitu saja, saat foto itu terus terngiang-ngiang dalam otaknya, foto yang menunjukkan sang suami tidur dengan wanita lain.
"Ya Allah, Kal. Kamu kenapa, Sayang? Mas salah apa?" Rama menarik tubuh Kalisa dan mendekapnya, dia terus mengelus lembut punggung wanita itu dengan sayang.
__ADS_1
Sementara Kalisa terus sesenggukan, untuk pertama kalinya, Kalisa menangis seperti ini, dan hal itu membuat Rama tak tenang.
Namun, sebisa mungkin dia tidak ingin mencerca Kalisa dengan banyak pertanyaan, dia ingin pelan-pelan mengatasi masalah ini, hingga Kalisa mau buka suara.
Setelah cukup lama, Kalisa menarik diri dari dekapan Rama, lalu wanita itu menatap suaminya, wajah Rama terlihat gusar.
"Aku ingin kamu menjelaskan sesuatu padaku, Mas." Ujar Kalisa dengan suara parau, menahan tangis.
Meski tidak tahu itu apa, Rama mengangguk, mengiyakan ucapan Kalisa. Dan Kalisa mengambil ponselnya, dia membuka akun sosial medianya, dan menunjukkan sebuah pesan seseorang yang baru di kirim beberapa jam yang lalu.
"Astaghfirullah, Kal. Mas bisa jelaskan foto ini, sumpah demi apapun, Sayang. Ini memang Mas, tapi itu foto dulu saat Mas masih menjadi suaminya." Jelas Rama, dia begitu terperanjat, melihat foto dirinya hanya berbagi selimut dengan Erina.
"Jadi dia mantan istri, Mas?" tanya Kalisa, pelupuk matanya masih tergenang cairan bening.
Pelan, Rama mengangguk. Foto itu memang Erina yang mengambilnya, saat dia berbulan madu, tak disangka wanita itu masih menyimpannya. Dan menjadikan foto itu untuk menyerang dirinya.
"Untuk apa dia ke kantor, Mas?" Kalisa membalas tatapan Rama, dia berusaha mencari kebenaran dalam sorot mata lelaki itu.
"Mas tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tetapi dia bilang ingin kembali padaku, dan aku tidak mungkin mau. Mas mencintaimu, Kal. Mas benar-benar mencintaimu. Bahkan kamu tahu, Mas hanya bisa mencium aroma tubuhmu, kemana-mana Mas membawa minyak wangi milikmu."
Dan Kalisa bergeming. Dia tidak menemukan kebohongan dalam netra Rama.
"Mas harus apa, Kal? Supaya kamu percaya?"
Bahkan Rama sudah berjongkok di samping ranjang, dia bersimpuh ingin membuat Kalisa percaya padanya, bahwa Erina hanya masa lalunya.
__ADS_1
Dan hal itu sukses membuat Kalisa tersenyum, melihat Rama yang begitu sungguh-sungguh meyakinkan dirinya, membuat ibu hamil itu akhirnya luluh.
"Aku percaya sama kamu, Mas." Ucap Kalisa lirih.
Lelaki yang sudah berkaca-kaca itu akhirnya mengangkat kepala, dia meraih kedua tangan Kalisa dan mengecupinya bertubi-tubi. "Ya Allah, Sayang. Mas benar-benar takut, Mas takut kamu tidak percaya lagi pada Mas."
"Maafkan aku, Mas. Harusnya aku sadar, bahwa kamu pun pernah merasakan sesuatu yang menyakitkan, kamu tidak mungkin melakukan itu padaku. Sepertinya ini cara dia ingin mendapatkan kamu lagi. Tapi aku tidak akan semudah itu untuk kalah, aku harus membuktikan padanya, bahwa aku bisa menjaga suamiku, aku bisa menjaga kamu agar tetap berada di sampingku." Ujar Kalisa.
Perlahan Rama bangkit, dia mengulum senyum dan mengangguk, membenarkan ucapan Kalisa.
"Makasih ya, Sayang. Mulai hari ini, jika dia mengirimimu pesan lagi, beritahu Mas."
Kalisa mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Rama, sedangkan Rama membalas Kalisa, dengan memeluk erat tubuh wanita itu.
Tak lama dari itu, keduanya saling memandang, dan Rama lebih dulu merampas bibir Kalisa. Tak menolak, Kalisa membiarkan bibir Rama menari-nari, melumaat dan menyesap bibirnya.
Kedua sejoli itu hanyut, dalam permainan yang tiba-tiba tercipta, susu hangat itu terlupakan, tak lagi hangat seperti tubuh Rama dan Kalisa yang tengah berusaha menuai puncak kenikmatan.
Rama mengerang, dia sedikit menghentak dalam saat dirinya sampai pada sengatan gelombang pelepasan.
Rama memandang wajah Kalisa yang memerah, dengan getaran yang masih terasa Rama tersenyum. "Bagaimana kalau kita balas dia, Sayang?"
"Maksud Mas?"
"Kita foto keadaan kita sekarang, terus kita kirim supaya dia kepanasan?"
__ADS_1
Kalisa mendelik, lalu memukul dada polos Rama, dan Rama hanya terkekeh, lalu kembali melumaat bibir Kalisa, benda yang terasa begitu candu untuknya.