Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Tunjukkan hanya untukku


__ADS_3

Rama menarik tangan Kalisa begitu wanita itu keluar dari ruangan Hendri. Rama membawanya ke parkiran, dan Kalisa hanya menurut, lalu lelaki itu menyuruh Kalisa untuk masuk ke dalam mobil miliknya.


Ia sama sekali tak memperdulikan Astri yang dari tadi ada disampingnya, yang ia khawatir kan hanya kondisi wanita yang ia cinta. Jadi tanpa pamit, ia langsung membawa Kalisa.


Di dalam mobil Rama tak langsung menjalankan nya, ia memandangi Kalisa yang masih terisak. Hatinya ikut terenyuh, merasa tak tega, tangan Rama reflek menyentuh kepala Kalisa, mengusapnya pelan memberi ketenangan.


Merasakan ada tangan yang bergerak-gerak dikepalanya Kalisa mendongak. Dilihatnya Rama yang sedang menatapnya, lelaki itu tersenyum manis, membuat Kalisa seakan terhipnotis.


"Luapkan apa yang menjadi beban dihatimu, keluarkan semuanya hanya dihadapanku. Setelah semuanya berakhir, kembalilah tersenyum, senyum yang sangat cantik yang kamu tunjukkan hanya untukku." Ucap Rama dengan tulus, ia masih setia mengusap-usap kepala Kalisa. Ingin membuat wanita itu percaya, bahwa dalam keadaan apapun hanya dia yang akan selalu ada disampingnya.


Kalisa jadi enggan untuk menangis lagi, ia malah tersenyum mendengar Rama mengucapkan kata-kata manis itu.


Perlahan ia mengelap sisa-sisa air matanya, tak ingin ketinggalan momen, Rama ikut membantu Kalisa.


Kalisa menggeplak tangan Rama pelan, merasa bahwa Rama terlalu berlebihan dan membuat nya malu.


"Jangan seperti ini." Ucap Kalisa sedikit mencebikkan bibir nya.


"Kenapa?" Balas Rama dengan tatapan heran. Namun lain di mata Kalisa, ia seperti sedang di tatap lekat oleh Rama.


"Bisa-bisa aku lebih cepat jatuh cinta kalau sikapmu seperti ini." Ucap Kalisa jujur, lalu langsung membuang muka. Rama menatap Kalisa gemas, merasa lucu dengan jawaban wanita satu ini. Hingga membuat dirinya terkekeh pelan.


Mendengar Rama yang terkekeh, Kalisa jadi mendongak kembali.


"Kenapa tertawa?" Tanya Kalisa.


Rama kembali tersenyum melihat wajah Kalisa yang sedang dilanda tanda tanya. Terlihat sangat menggemaskan, hingga tanpa sadar ia menjawil hidung mancung Kalisa yang terlihat memerah.


"Kamu lucu Kalisa. Makanya aku tertawa. Jika kamu cepat jatuh padaku bukannya bagus?" Rama balik bertanya, namun mimik wajahnya terlihat menjengkelkan di mata Kalisa.


Kalisa mencebik, bahkan tak sadar ia memukul dada Rama. Membuat Rama pura-pura mengaduh kesakitan.


"Awww... Tenagamu kencang sekali." Ucap Rama, meringis sambil memegangi dadanya, yang sebenarnya sedang berdegub dengan kencang.


Kalisa jadi terlihat panik, rasanya ia tak memukulnya terlalu keras, tetapi melihat wajah Rama yang kesakitan ia jadi merasa bersalah.


"Ah aku minta maaf, aku tidak sengaja Mas. Apa sakit sekali?" Tanya Kalisa, dan Rama mengangguk.


"Lalu aku harus apa?" Tanya Kalisa lagi.


Rama semakin meringis, ia menggapai tangan Kalisa yang sedang memeriksa dadanya lalu ia genggam. Rama menatap Kalisa dengan lekat.

__ADS_1


"Menikahlah denganku." Ucap Rama dengan serius, Kalisa yang semula sudah begitu percaya merasa sedang dibohongi, ia langsung melepas kan tangannya dari genggaman Rama. Jangan lupa untuk memukul kembali dada itu, kali ini lebih keras.


Plak!!!


"Awww..." Pekik Rama, namun tak lama ia tergelak, tak tahan melihat wajah Kalisa yang lucu.


"Udah pinter bohong ya kamu." Cibir Kalisa, ia membenarkan posisi duduknya, lalu menyedikepkan tangan di dada. Ngambek cerita nya.


Rama menuntaskan kekehannya, tetapi ia tetap dalam pendiriannya untuk duduk menghadap Kalisa.


"Aku tidak pernah berbohong Kalisa, dadaku memang sakit karena kamu. Tapi walaupun sakit, aku tetap menikmatinya dan tak berniat untuk mengakhiri ini semua." ucap Rama sedikit terdengar menggelitik di telinga Kalisa.


Percakapan mereka seperti dua orang yang baru saja mengenal cinta, dan mencoba ingin di satukan oleh waktu.


Sehingga Kalisa jadi tersenyum-senyum sendiri memikirkannya.


...****************...


Seminggu kemudian...


Dan tepat hari ini ibu Kalisa menelpon, Kalisa menghentikan aktivitas nya sejenak, ia mengambil ponselnya yang masih ia simpan di dalam tas.


Ia memandangi sejenak ponsel itu, ia teringat tentang hubungannya dengan Rama, apakah ini saatnya untuk memberitahukan ayah dan ibunya tentang itu semua.


"Assalamualaikum Bu?" Ucap Kalisa untuk pertama kalinya, saat panggilan terhubung.


"Waalaikumussalam Lis. Lis gimana kabarmu?" Tanya ibu, Kalisa menjawab bahwa dirinya beserta anak-anak baik-baik saja. Ia menyangka ibunya menelpon hanya untuk menanyakan tentang itu.


Namun tiba-tiba ibu bilang kalau ayah ingin bicara dengannya. Ia tak pernah berpikir kemana-mana, hingga ia hanya mengiyakan saja. Dan kebetulan ia juga ingin membicarakan tentang Rama pada ayahnya.


"Hallo Lis." Ucap ayah Kalisa, kini ponsel ibu sudah berpindah tangan.


"Iya ayah, ada apa? Ibu bilang ayah ingin bicara, bicara tentang apa ayah?" Tanya Kalisa beruntun, tak biasanya ayahnya begini, jadi ia cukup penasaran.


"Lis, ayah dan ibu begitu menyayangi mu, kami berdua hanya punya kamu. Jadi kami ingin yang terbaik untukmu nak." Ujar ayah Kalisa, sepertinya apa yang ingin beliau sampaikan sangat serius, hingga membuat Kalisa jadi menggigit jarinya.


Suasana menandak jadi hening seketika.


"Ayah, sebenarnya apa yang ingin ayah bicarakan? Kenapa terdengar serius sekali?" Tanya Kalisa.


"Ayah dan ibu sudah putuskan Lis, kami sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari. Kami berdua... Akan menikahkan kamu dengan anak sahabat ayah. Ibu dan ayah menghubungi mu karena ingin kamu mengirimkan berkas-berkas untuk persyaratan pernikahan mu." Terang ayah Kalisa dengan gamblang.

__ADS_1


Deg!


Tubuh Kalisa sedikit terhuyung, mulutnya menganga begitu tak percaya dengan berita yang didengarnya.


Tiba-tiba saja air matanya berjatuhan, perasaan nya sangat tak menentu. Mengingat percakapan nya kembali dengan Rama, tentang perencanaan masa depan mereka.


Omong kosong apa ini? Gumam Kalisa.


"Lis." Panggil ayah, sedari tadi tak ada jawaban dari Kalisa. Beliau sudah bertekad bulat, ingin yang terbaik untuk anak semata wayangnya. Hingga akhirnya beliau beserta sang istri mengambil langkah ini.


Kalisa tersadar begitu sang ayah memanggilnya berkali-kali.


"Tapi ayah, Kalisa—tidak bisa." Balasnya terbata, ia berusaha menahan agar isakan tangis nya tak terdengar.


"Lis, dia itu lelaki yang baik. Ayah sudah cukup mengenalnya. Jadi ibu dan ayah sudah membulatkan tekad untuk menikahkan kalian berdua. Ayah mohon Lis, jangan mengecewakan kami yah." Ucap ayah dengan suara memohon, kali ini beliau akan pastikan putrinya akan mendapatkan orang yang tepat.


"Tapi ayah....Kalisa sudah—"


Tut... Tut... Tut...


"Hallo ayah... Ayah."


"Ayah Kalisa tidak bisa."


"Ayah..."


Hati Kalisa semakin terpukul, ia sudah seperti tak memiliki pilihan lain. Sepertinya ayahnya tak main-main, bahkan sebelum ia menjawab ayahnya sudah mematikan panggilan itu. Itu artinya orang tuanya benar-benar ingin ia menikah dengan lelaki pilihan mereka.


Ia memejamkan mata sejenak, air matanya berjatuhan membasahi pipi mulusnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan mas Rama? Ibu, ayah... Kenapa kalian memutus kan sendiri persoalan ini, kenapa kalian tidak bertanya dulu, apakah aku setuju untuk menikah dengannya atau tidak." Lirihnya dengan terus berpikir. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak sambil bersandar ditembok.


Sedangkan diujung sana, ayah Kalisa mencoba menghubungi anaknya, karena tiba-tiba sambungan telpon itu terputus.


"Bagaimana yah?" Tanya ibu Kalisa penasaran.


"Pulsanya abis Bu." Balas ayah dengan khas cengirannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2