Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Bukan mandi biasa


__ADS_3

POV Rama


Aku pamit pada Kalisa untuk berangkat ke perusahaan. Sekalian mengantar Reyhan dan May ke sekolah.


Hari ini, aku benar-benar langsung memutuskan untuk mengurus kepindahan mereka.


Aku meminta izin terlebih dahulu untuk menemui wali kelas Reyhan. Awalnya Kalisa yang akan mengurus hal itu, tetapi aku kekeuh menolak.


Ini tanggung jawabku sebagai kepala rumah tangga. Reyhan dan May adalah anakku, dan aku ingin semua orang tahu itu.


Aku dan wali kelas Reyhan sedikit berbincang. Ia cukup kaget saat aku mengatakan bahwa aku adalah suami dari Kalisa, sekaligus ayah sambung Reyhan dan juga May.


Namun, aku hanya mengatakan, bahwa ada sesuatu yang terjadi, aku ingin menutup rapat aib istriku. Tentang pengkhianatan suaminya. Biarlah semua orang tahu dengan sendirinya, tidak perlu aku yang mengumbar.


Toh hanya dalam hitungan detik, biasanya sebuah berita bisa langsung tersebar. Malah terkadang bisa dilebih-lebihkan.


Akhirnya setelah menjelaskan apa tujuanku, wali kelas Reyhan memintaku untuk menunggu sekitar dua hari lagi. Dan aku langsung mengangguk menyetujui.


Selesai dengan sekolah anak-anak. Aku langsung meluncur ke perusahaan. Untuk mengadakan rapat dadakan, soal peralihan jabatan.


Ya, aku akan mempercayakan sahabatku, Hilal. Untuk mengelola cabang perusahaanku yang ada di daerah ini.


"Cih, mentang-mentang sudah menikah, kamu mau meninggalkan aku lagi." Gerutu Hilal saat kami berdua keluar dari ruangan rapat.


Aku terkekeh pelan disela-sela langkahku. "Makanya kamu juga cepat-cepat menikah, menikah itu ibadah, menikah itu indah, menikah itu_"


"Berisik lah kau, Ram." Potong Hilal, sepertinya ia sudah bebal akan desakan-desakan yang menyuruhnya untuk cepat-cepat menikah.

__ADS_1


Mengingat usianya yang tak terpaut jauh dariku, masuk kepala tiga.


Dan aku malah semakin terkekeh lebih keras. "Ingat Lal, belum sempurna agama seseorang jika dia belum menikah." Ceramahku semakin menggodanya.


"Ya, ya aku tahu Rama aku tahu, tapi mana calonnya?" Cetus Hilal seraya mengangkat tangan meminta calon padaku, memangnya aku Mak comblang.


Tetapi dengan sedikit pikiran usil, aku bertanya. "Mau aku kenalkan?"


"Memangnya kamu punya kenalan?" Lihat, wajahnya langsung berubah antusias. Dan aku tak tahan ingin secepatnya tertawa.


"Ada."


Dan jawabanku menghentikan langkah kami berdua. "Orang mana?" Tanyanya.


"Orang utan. Hahaha." Aku langsung terbahak-bahak memegangi perutku, merasa lucu dengan wajah Hilal yang nampak kesal.


*********


POV Kalisa


Pukul 4 sore, aku pulang ke rumah. Seperti biasa untuk menyiapkan makan malam sambil menunggu suamiku pulang.


Kebetulan, hari ini Reyhan dan May dijemput oleh Maya, diajak main ke rumah nenek mereka. Jadilah, aku hanya pulang seorang diri, membawa 3 bungkus jamur mentah yang akan aku masak.


Rumah nampak begitu sepi tidak ada dua bocah itu, aku melangkah masuk dan langsung ke arah dapur, memasukan jamur itu ke dalam kulkas.


Setelah itu, barulah aku melengang ke arah kamar. Namun, langkahku terhenti, begitu aku mendengar suara deru mobil mas Rama memenuhi pekarangan rumah.

__ADS_1


Ku urungkan niat, lantas pergi menyambut kedatangan Mas Rama di ambang pintu.


"Assalamualaikum?" Ucapnya dengan senyum yang tersemat di kedua sudut bibirnya.


"Waalaikumussalam." Balasku seraya mencium tangan besar itu begitu takdzim.


Dan sebuah kecupan melandas di keningku. Terasa manis dan menenangkan. Hingga aku ingin berlama-lama dengan posisi seperti ini.


"Anak-anak kemana, Kal?" Tanyanya setelah melerai, kedua netranya celingukan mencari dua sosok bocah kecil yang ia sayang.


"Dibawa sama Maya Mas. Main ke rumah ibu." Dan Mas Rama langsung mengerti, ibu disini adalah ibu Mas Hendri, nenek dari mereka.


Tapi percayalah, dia tidak marah, dia malah tersenyum, senyum yang tak bisa ku artikan. Karena detik selanjutnya, tubuhku sudah mengudara.


Digendong olehnya menuju kamar. Mentang-mentang hanya berdua, di setiap langkah kami, ia selalu menghitung, dan sebanyak itu pula dia mencium.


Ah, aku tidak tahu. Sudah semerah apa pipiku sekarang. Aku hanya mampu tersenyum malu akan setiap tingkah manisnya, memanjakanku.


Lantas, saat kami sudah masuk, ia langsung mengunci pintu. Aku melotot, mau apa? Arti tatapanku.


Dan dia hanya tersenyum nakal. Aku coba meronta meminta turun, tetapi dia malah membekap mulutku, membekapnya dengan ciuman.


"Mas, aku belum mandi. Mas juga." Keluhku mencari alasan. Saat ciuman itu terlepas, karena oksigen dalam tubuh kami terasa menipis.


"Benar juga. Kalau begitu, kita mandi dulu ya." Ucap Mas Rama, dengan tatapan yang menggoda, dia kembali melangkah membawaku ke kamar mandi.


Dan akhirnya, di dalam sana, aku tidak bisa menolak lagi, kami benar-benar mandi, tetapi bukan mandi biasa...

__ADS_1


__ADS_2