Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Kecelakaan


__ADS_3

Kalisa sedang menyiapkan makan siang untuknya dan juga kedua anaknya. Tak lupa juga ia sering menawari Atikah pegawainya untuk makan siang bersama.


Setelah malam itu, entah kenapa dirinya jadi sering tersenyum-senyum sendiri, benarkah hatinya sebahagia ini menerima cinta dari lelaki bernama Rama?


"Mbak." Panggil Tikah, namun tak ada jawaban sama sekali dari bosnya ini. Entah tidak mendengar atau apa, yang jelas dalam pandangan Tikah bosnya ini seperti sedang bahagia. Lihat saja wajahnya saat baru datang, begitu cerah ceria.


"Mbak Kalisa." Tikah berusaha memanggil kembali, tetapi Kalisa masih saja tersenyum-senyum sendiri, hingga akhirnya ia berbalik dan terkejut mendapati Tikah sudah berada disana.


"Astaghfirullah. Tikah." Ucap Kalisa, untung saja piring yang sedang di pegangnya tak sampai terjatuh. Ia mengatur nafasnya sejenak, namun dilihatnya Tikah malah tersenyum sambil memandanginya.


"Kamu kenapa Tik?" Tanya Kalisa sambil berjalan ke meja makan. Ia jadi malu sendiri karena tertangkap basah oleh pegawainya.


"Hehe nggak papa mbak, kayanya mbak Kalisa lagi seneng yah." Balas Atikah sambil nyengir menunjukkan sederet gigi-giginya.


Kalisa berbalik dan kembali menatap Atikah.


"Apa terlalu mencolok yah?" Tanya Kalisa dengan senyum terus mengembang.


Atikah mengangguk membenarkan apa yang di ucapkan Kalisa, tetapi Kalisa tak menanggapi Atikah lagi, ia hanya meneruskan pekerjaan nya, ia menaruh piring yang tadi ia ambil di atas meja.


Namun sebelum itu terjadi, piring yang ia pegang tiba-tiba terjatuh.


Crank!!!


"Astaghfirullah." Ucap Kalisa dan Atikah berbarengan.


"Hati-hati mbak." ucap Atikah mengingatkan Kalisa.


Mereka berdua langsung memunguti bekas serpihan piring tersebut. Dengan cekatan Atikah mengambil sapu dan juga serok sampah yang ada berada diluar.


"Aw." Pekik Kalisa begitu satu serpihan menancap di jari telunjuknya. Sedikit demi sedikit darah mulai mengalir dari sana.


"Mbak, kenapa?" Tanya Atikah, ia buru-buru menaruh apa yang ada ditangannya, dan berjongkok di depan Kalisa berniat membantu nya.


"Tik ambilkan kotak p3k." Pinta Kalisa, Atikah langsung mengangguk. Sedangkan Kalisa berusaha mencabut sendiri serpihan itu, saat berhasil, darah kembali menderas.


Ya Allah... Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?

__ADS_1


Begitu menemukan apa yang Kalisa butuhkan, Atikah langsung menyerahkan nya pada bosnya itu. Lalu, ia diminta untuk kembali berjaga di depan toko, takut ada pelanggan datang.


Setelah membereskan lukanya, Kalisa kembali ke kamarnya dengan perasaan yang tak menentu, dilihatnya sang anak bungsu masih asyik bermain dengan boneka bayinya.


Ia melirik ke arah jam dinding, sudah lewat cukup jauh dari jam kepulangan Reyhan dari sekolahnya. Sebenarnya ada apa?


Apa ada sesuatu yang menimpa Reyhan? Kenapa perasaan nya semakin tidak karuan.


Ia tak ingin bergelut dalam rasa tak menentu ini, dengan cepat ia menyambar kunci motornya untuk menjemput Reyhan, dan memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu pada anak sulungnya itu.


"Nak, nda jemput kakak dulu yah. May disini aja sama mbak Atikah." Pamit Kalisa, perasaan khawatir sudah benar-benar menyeruak.


May mengangguk setuju, lalu Kalisa langsung berjalan cepat, meminta Atikah juga menjaga May sebentar karena dirinya akan pergi menjemput Reyhan.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat anaknya menimba ilmu, karena dirinya pun memakai kecepatan cukup penuh.


Kalisa segera memarkirkan motornya, lalu menghampiri satpam yang biasa berjaga di pintu gerbang sekolah.


"Permisi pak." Sapa Kalisa.


"Saya mau tanya pak, anak-anak kelas dua sudah pulang belum yah? Tidak biasanya sampai jam segini, apa ada pelajaran tambahan?" tanya Kalisa, pasalnya baru sekarang ini Reyhan pulang terlambat. Kalaupun ada pelajaran tambahan, pasti ia sudah diberi tahu dari semalam. Tapi nihil, Reyhan tidak memberi informasi apapun padanya.


"Oh, anak-anak kelas dua sudah pulang semua Bu. Tersisa kelas 4, 5 dan 6 disini." Balas pak satpam, Kalisa memejamkan mata sejenak, pikirannya semakin kacau. Kemana sebenarnya anaknya ini?


"Apa bapak tahu anak yang bernama Reyhan, dia pulang sendiri atau ada yang menjemput yah?" Tanya Kalisa lagi, ia tak ingin menduga duga, apalagi sampai berprasangka buruk.


"Oh Reyhan, saya liat tadi sih—"


Kringg... kringg... kringg...


Suara ponsel Kalisa berbunyi nyaring, menghentikan pak satpam yang ingin berbicara. Kalisa meminta waktu sebentar, karena ada telpon masuk dari kontak bernama Hendri.


Apa ada hubungannya dengan dia?


Kalisa menimang sebentar, karena tak memiliki pilihan akhirnya Kalisa menggeser tombol hijau di layar.


"Halo mas." Ucap Kalisa begitu panggilan terhubung. Namun sampai beberapa saat tak ada suara lain yang menyahutinya, disana hanya terdengar isak tangis seseorang yang begitu ia kenali.

__ADS_1


"Ndaaaaa....." Panggil Reyhan dalam telpon itu. Suaranya bergetar seperti sedang menahan sesuatu, Kalisa langsung membulat kan mata, menutup mulutnya yang sedikit menganga dengan satu tangan, karena saking terkejutnya.


Kenapa Reyhan bisa menggunakan ponsel milik mas Hendri?


Dalam otaknya ia terus bertanya-tanya, sebenarnya ada kejadian apa diantara mereka. Hari ini Reyhan pulang terlambat, dan sekarang Reyhan menghubungi nya menggunakan nomor Hendri.


"Nda.... Ayah nda." Ucap Reyhan sambil terisak.


Suara Reyhan yang begitu menyayat hati menyadarkan Kalisa dalam lamunan yang tak tentu arah. Kalisa langsung menggeleng pelan, mengusir keterkejutannya.


"Ada apa kak? Kakak dimana? Kakak baik-baik aja kan? Kenapa telpon ayah bisa ada di kakak?" Tanya Kalisa beruntun. Ia benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada anak sulungnya.


"Ayah nda, ayah..." Balas Reyhan, tak menanggapi pertanyaan Kalisa, yang ia khawatirkan hanya kondisi sang ayah.


Kalisa semakin bingung, dari tadi Reyhan hanya menyebutkan ayah, ayah dan ayah. Apa terjadi sesuatu pada Hendri? Tak ingin hanya menerka nerka, lebih baik Kalisa bertanya.


"Ayah? Ada apa dengan ayah?" Tanya Kalisa dengan sedikit terbata.


Reyhan semakin terisak, ia duduk berjongkok didepan ruangan sang ayah yang tak tahu kondisinya bagaimana.


"Ayah kecelakaan ndaaa... Ayah berdarah, ayah tertabrak mobil."


Deg!


Bulir bening yang berusaha ia tahan akhirnya luruh, mengalir deras membasahi pipi mulusnya, tapi bukan karena mendengar cinta lamanya mengalami kejadian naas, tetapi ia lebih memikirkan bagaimana kondisi putra sulungnya. Sudah dipastikan Reyhan kini sangat terpukul dan merasa takut.


"Kalian dimana? Biar bunda kesana." Ucap Kalisa dengan cepat, ia tak ingin membuat pria kecilnya melewati ketakutan ini sendiri, ia harus segera datang.


"Rumah sakit yang paling dekat dengan sekolah bunda. Ayah sedang di periksa, bunda cepat kesini yah." Ucap Reyhan, tak henti-hentinya air mata suci itu mengalir dari sudut matanya, bahkan ia menyaksikan sendiri bagaimana sang ayah tak mampu menghindari mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya.


"Baik, bunda akan segera kesana. Reyhan jangan takut yah, tetap tunggu bunda dan jangan kemana-mana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2