
Pov Sela
PLAK!!!
Satu tamparan keras mendarat dipipiku begitu aku dan mas Hendri sampai dikamar, aku memegangi pipiku yang terasa panas.Ternyata begini rasanya mencintai, tak hanya pipiku yang terasa sakit tapi juga hatiku.
Mas Hendri menatapku dengan sengit, aku tahu ia murka. Tapi apa iya aku salah? Sebenarnya Kalisa sedang memainkan drama apa? Tadi dia juga menyunggingkan senyumnya kepadaku artinya ia tidak sungguh menangiskan tadi.
"Kau hampir membuat Kalisa pergi dariku Sela!!!" bentak Mas Hendri, dan itu sukses membuat air mataku mengalir, kenapa kini aku jadi begitu cengeng seperti ini. Padahal sebelumnya aku tidak pernah menangis hanya gara-gara seorang laki-laki.
"Mas tapi aku berani sumpah, aku tidak bohong. Mbak Kalisa lah yang—" aku menggantungkan kalimatku begitu tangan Mas Hendri mengayun kembali ke udara.
"Jaga mulutmu, Kalisa tidak pernah berbohong padaku." jawab Mas Hendri. Membatalkan niatannya untuk menamparku lagi.
"Lalu kenapa kamu percaya padaku? Itu artinya kamu pun menganggapnya seperti itu kan Mas? " tanyaku sambil bercucuran air mata.
Mas Hendri tertegun dengan ucapanku. Menunda mulutnya yang ingin kembali bicara untuk menyanggahku.
"Mas tolong kali ini kamu percaya padaku, aku tidak bohong, mba Kalisa benar-benar membawa lelaki lain, dan itu bukan pacar Astri Mas." ucapku lagi, bukannya percaya Mas Hendri malah kembali menyeret tanganku menuju kamar mandi.
"Masss lepaskan." aku meronta meminta dilepaskan, tetapi semakin kuat aku melawan semakin kencang pula Mas Hendri menarik tanganku.
"Kau harus diberi pelajaran Sela. Lagi-lagi kamu membuat Kalisa kecewa padaku." ujar Mas Hendri dengan berapi -api, kilatan amarahnya semakin menyambarku.
"Mas sakit! " rintihku, pergelangan tanganku terasa panas.
Begitu sampai dikamar mandi. Mas Hendri mendudukanku dengan paksa. Dan,
BYURRRR
Mas Hendri langsung mengguyur tubuhku dengan air, dingin mulai merasuk ke pori-pori kulitku, karena saking dinginnya air kolam saat dipagi hari.
"Mas,"
"Kepalamu itu perlu diingankan Sela, agar otakmu itu sadar, dan tidak berprasangka buruk lagi terhadap Kalisa." ujarnya, padahal aku yakin dia pun sudah berburuk sangka duluan pada istri pertamanya. Tapi dia malah menggunakan aku untuk melampiaskan kekesalannya.
"Mmm."
Aku tak bisa lagi menjawab perkataan Mas Hendri, ia terus mengguyur tubuhku hingga aku basah kuyup. Dingin menyapa, sedingin hati yang sedang merasakan sakit diperlakukan seperti ini oleh orang yang ku cinta. Baru pernah aku merasa seperti ini, karena sejatinya selama ini aku hanya banyak main-main dengan para pria.
Sekali lagi aku memberontak, tapi Mas Hendri malah mengikatku dengan sabuk pinggangnya, untungnya ia tak memecutku menggunakan sabuk itu.
Air mataku terus luruh bersamaan dengan air yang membasahi tubuhku.
"Mas cukup, ingat anakmu! " teriakku menyela ia yang sedang memegang gayung hendak mengambil air lagi.
Ia berhenti, ya itu semua sukses membuatnya bergeming. Mungkin alam bawah sadarnya kini berangsur pulih.
Aku menangis sejadi-jadinya, sambil berpikir begini kah rasanya menanggung akibat dari mengambil suami orang?
Hening sejenak hingga akhirnya.
__ADS_1
Brakk!!!
Ia membanting gayung dan lekas meninggalkanku sendiri dengan luka ini. Hikss... Aku semakin menangis histeris.
****
Pov Kalisa
Aku meraih handle pintu Reyhan dan juga May saat Mas Hendri menarik tangan Sela untuk pergi ke kamar.
Begitu pintu itu terbuka betapa kagetnya aku saat melihat Reyhan sedang menangis sambil memeluk kedua lututnya.
Pemandangan yang memilukan menurutku, Reyhan tidak mungkin mendengarnya kan? Tidak kan?
Aku terus meyakinkan diri ini sambil melangkah ke arah putra sulungku.
Aku mendudukan diri tepat didepannya, dan dia mendongak menatap sedih ke arahku.
"Nda, " panggilnya seraya melesak memelukku erat. Ia menangis lebih kencang.
"Nda, Nda nggak bakal pisah sama ayahkan? " tanyanya.
Deg!
Benar, putraku mendengarnya. Mendadak lidahku kelu, harus menjawab apa aku? Sejujurnya aku tidak mau membuat kedua anakku kecewa. Tapi ini sungguh pilihan yang sulit. Karena Sela pun bersikeras merebut Mas Hendri dariku dan dimilikinya seorang. Aku sudah bertekad mengalah setelah ini, tapi saat melihat Reyhan bersedih. Sanggupkah aku?
"Nda jawab nda." rengeknya, bola mata jernih itu menatapku penuh kasih, tersimpan banyak kesedihan disana setelah mendengar semuanya.
Aku menangkup kedua pipi Reyhan, mencium pipi kiri dan kanan.
"Reyhan nggak mau lihat bunda sakitkan? " tanyaku lagi.
Dan Reyhan mengangguk kembali.
"Berjanjilah sayang untuk tetap selalu disisi bunda, dan ikut kemana pun bunda pergi, kamu dan May adalah kekuatan bunda. Bunda mohon jangan buat bunda sedih." ujarku, aku tahu Reyhan tak paham dengan apa yang aku ucapkan, dia malah langsung memelukku lebih erat.
"Rey sayang sama nda, Rey sama adek bakal ikut kemana pun Nda pergi. Kalau memang ayah sakitin bunda, Rey nggak papah nggak sama ayah. Rey sama nda aja." ucapnya, dan disitulah tangisku kembali pecah. Aku tak sanggup mendengar curahannya yang begitu menyayangi aku. Ku harap setelah ini ia juga akan mengerti, dan tak berbalik membenci keputusanku.
******
Mas Hendri langsung izin kembali untuk pergi setelah kami sarapan. Ku lihat mata Sela sembab, bisa menangis juga dia? Atau hanya pura-pura?
Sela sedang mencuci piring bekas makan kami, sedangkan aku berdiri diambang pintu dapur menunggunya selesai.
Begitu ia akan keluar, aku menarik pergelangan tangannya.
Ia menepisnya, aku tahu dia marah dan kesal.
"Berani yah kamu mengadukanku pada Mas Hendri. Padahal aku bisa saja menyerahkan bukti itu padanya dan kamu lekas ditendang dari sini." ucapku, membuat langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menatapku.
"Aku tahu mbak hanya menggertakku, agar aku menuruti semua perintahmu." tudingnya, bahkan jari telunjuknya kini sudah ada tepat didepan hidungku, aku menggesernya cepat.
__ADS_1
"Heuh! Sela, Sela. Kamu mau aku beri tahu kebusukanmu? " tanyaku sambil menyedikapkan tangan diatas dada.
"Nggak usah basa-basi deh mbak, kalo Mbak punya buktinya, mana? " tantangnya sambil menyodorkan tangannya meminta bukti itu.
Aku manggut-manggut, lalu melangkah ke arah kamar. Menyuruhnya menunggu sebentar.
Setelah aku mengambil bukti itu aku kembali menemui Sela yang kini duduk di meja makan.
"Kau menyimpan ini bukan di tas mu? " tanyaku seraya mengangkat sesuatu yang ada ditangan kananku.
Matanya membelalak, terkesiap dengan apa yang ia lihat.
"Ba—bagai, bagaimana Mbak bisa tahu? " tanyanya dengan terbata, dan itu artinya dia mengakui bahwa barang itu adalah miliknya.
Aku tersenyum senang, itu artinya dugaanku benar.
"Mudah Sela, ini naluri seorang istri yang tersakiti." balasku.
Ia mencoba merebut benda itu dari tanganku, eitss tapi secepat kilat aku menyembunyikannya dibelakang punggungku.
"Mbak jangan macam-macam." ujarnya, ia mulai ketakutan ternyata.
"Kau takut? " tanyaku, dia menelan ludahnya, lalu dengan berani kembali membusungkan dada. Wow hebatnya dia.
"Tidak, lagi pula, Mas Hendri takkan mempercayaimu mbak." balasnya berusaha setenang mungkin.
Heuh, aku tersenyum kembali, lalu mengambil ponselku dan menunjukkan sesuatu ke arahnya. Ia semakin terpojokkan, ia meremat-remat tanganya kesal. Seperti mengatakan kenapa bisa Kalisa tahu semuanya? Haha jelaslah Sela.
"Bagaimana? Kau takut sekarang?"
"Mbak ku mohon jangan beri tahu Mas Hendri tentang ini, aku sudah benar-benar mencintainya sekarang. Aku ingin jadi istri yang baik untuk—"
"Menggantikan aku? Begitu maksudmu? " potongku.
"Mbak, ayolah. Aku takkan merebut Mas Hendri darimu, tapi aku hanya minta padamu agar ikhlas membagi cinta Mas Hendri juga untukku." ucapnya tanpa merasa berdosa.
Cih!
"Baiklah, kalo begitu turuti semua mauku." tawarku.
Sela diam, gamang dengan pilihannya. Dia pasti berpikir tentang tawaranku yang jelas-jelas akan merugikan dirinya.
"Baik, aku akan turuti semua maumu Mbak, tapi ku mohon jangan beritahu Mas Hendri tentang ini." balasnya dengan memelas.
Daebak!!!
Cinta ternyata sudah merasuki dirinya.
"Deal? " aku mengayunkan tanganku ke arahnya. Dan ia menjabat tanganku dengan cepat.
"Deal."
__ADS_1
Setelahnya aku mengusap-usapkan tanganku dipundak Sela, menunjukkan betapa jijiknya aku setelah disentuh olehnya.
******