
Reyhan masih menangis di dalam pelukan Kalisa, hatinya seperti tersayat mendapati sang ayah mengalami kejadian yang memilukan seperti ini. Kalau saja ia tidak meminta es krim saat itu, ayahnya pasti masih baik-baik saja.
Flashback on
"Rey." Panggil Hendri dengan riang, hari ini ia izin tidak masuk kerja, hanya karena ingin menjemput sang anak pulang dari sekolahnya.
Reyhan sedikit terkejut mendapati sang ayah sudah menunggunya di pintu gerbang. Ingin sekali ia menghindar, tapi ia sudah berjanji pada Rama dan Kalisa untuk memaafkan Hendri. Dan dia tidak mau jadi orang yang ingkar janji.
"Ayah, kenapa ayah ada disini?" Tanyanya dengan heran.
"Hari ini ayah mau jemput Reyhan sama May buat makan siang. Mau yah?" Jelas Hendri, mengenai tujuannya datang ke sekolah sang anak.
Reyhan bergeming, bingung antara ingin menerima atau tidak. Tetapi jika ia menolak, hubungannya dengan sang ayah pasti akan terus memburuk.
"Rey kan belum maafin ayah." Ucap Rey jujur.
Hendri tersenyum, ia mengusap kepala anak sulungnya dengan perhatian.
"Yaudah, Rey mau minta apa dari ayah? Biar ayah di maafin." Tanya Hendri, kali ini ia sudah berjongkok mensejajarkan diri dengan Reyhan.
Reyhan tersenyum kali ini, ia ingin memberikan kesempatan pada sang ayah, dengan memaafkan segala kesalahan nya.
"Rey cuma mau es krim yang ada disana. Kalau ayah mau Rey maafin, beliin Rey es krim." Ucap Reyhan dengan binar mata polosnya. Ia melirik gerobak es krim itu dengan ujung matanya. Memberitahu Hendri.
Senyum Hendri semakin mengembang, ia tahu anaknya ini memiliki hati suci seperti ibunya, tulus dan mudah memaafkan orang lain. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan kembali simpati Reyhan dan May, agar ia bisa rujuk dengan Kalisa.
"Baik, jagoan ayah tunggu disana. Ayah beli es krim dulu yah." Ucap Hendri sambil menunjuk bangku besi terdekat, sebelum pergi ia mengusak kepala Reyhan dengan gemas. Membuat hati Reyhan kembali melunak.
Hendri menggerakan kakinya dengan langkah lebar menuju gerobak es krim yang Reyhan maksud. Ia tahu betul kesukaan anaknya, jadi tanpa perlu bertanya ia sudah tahu apa yang akan ia beli, ia mengambil dua buah cup es krim dengan perisa coklat.
Setelah membayar nya, Hendri bergegas kembali melangkah menuju tempat duduk Reyhan, dengan terus tersenyum ia berjalan, menyebrang jalan dimana kendaraan berlalu lalang.
Padangan matanya tak lepas dari sosok sang anak yang sedang tersenyum lebar ke arahnya, hingga ia tidak tahu kalau ada satu mobil sport yang sedang melaju kencang ke arahnya.
Reyhan yang menyadari hal itu langsung berteriak, meminta Hendri untuk menyingkir, "Ayah awas."
Namun rasa bahagia dihati Hendri membuatnya terlambat menyadari, ketika ia melihat ke samping, mobil itu sudah menerjang tubuhnya.
Brak!!!
"Ayahhh....."
Flashback off
"Bundaaaa... Ayah nggak apa-apa kan bunda?" Tanyanya sambil terus terisak-isak.
Kalisa memeluk erat tubuh Reyhan, berkali kali mengecup kepala bocah itu agar kembali tenang. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Rey nggak perlu khawatir, ayah pasti kuat. Ayah pasti bisa ngelewatin ini semua." Balas Kalisa menenangkan, namun hati tak bisa di bohongi, perasaan kalut itu masih mendiami hati kecil milik Reyhan.
Pria kecil itu sangat merasa bersalah pada ayahnya.
Untuk beberapa saat kedepan, hanya keheningan yang menyapa keduanya, hingga terdengar suara pintu ruangan dibuka, dan menampilkan dokter yang menangani Hendri. Kalisa langsung mengajak Reyhan untuk berdiri.
"Dengan keluarga pasien?" Tanya sang dokter ramah.
"Saya—saya mantan istrinya dok, untuk keluarganya, sudah saya hubungi, mungkin sebentar lagi akan datang. Jika ada sesuatu yang akan dokter sampaikan, sampaikan saja pada saya." Jawab Kalisa, karena setelah sampai di rumah sakit, ia langsung menghubungi Maya untuk memberitahu mantan ibu mertuanya tentang keadaan Hendri, tak lupa juga ia menghubungi Atikah untuk menjaga May lebih lama lagi.
"Baik, begini Bu. Dalam pemeriksaan, saudara Hendri mengalami kecelakaan yang cukup parah, ia mengalami patah tulang pada kedua kakinya, serta beberapa luka di kepala, tapi kami sudah menjahitnya. Pasien sekarang masih belum sadarkan diri, mohon untuk menunggunya beberapa saat lagi." Jelas sang dokter pada Kalisa.
Mendengar penjelasan dari dokter itu Kalisa merasa sedikit prihatin dengan kondisi Hendri.
"Apa kakinya bisa sembuh seperti semula dok?" Tanya Kalisa.
"Kemungkinan masih bisa, dengan menjalani tindakan dan beberapa terapi. Saya yakin pasien bisa berjalan kembali." Jawab dokter.
Kalisa mengangguk-anggukan kepala tanda ia mengerti.
"Baik dok, semuanya akan saya sampaikan pada keluarganya. Terimakasih." Ucap Kalisa.
"Sama-sama, mari Bu." Pamit sang dokter, setelah mengatakan itu, ia benar-benar pergi dari ruangan Hendri.
Kalisa mengajak Reyhan untuk masuk melihat ayahnya. Saat pintu baru saja terbuka, yang pertama terlihat adalah tubuh seseorang yang dulunya sangat ia cintai itu terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Beberapa alat medis menancap, serta perban yang melilit di kepala dan kakinya.
Hati Kalisa mendadak pilu, matanya memanas.
__ADS_1
Perlahan Kalisa memasuki ruang rawat Hendri. Namun, sebelum benar-benar masuk, ibu Hendri dan juga Maya datang.
"Kalisa." panggil ibu, Kalisa langsung menoleh, begitu tahu kalau itu adalah ibu Hendri, tanpa segan Kalisa berjalan mendekat dan langsung memeluk mantan ibu mertua nya tersebut.
Ibu Hendri mengusap punggung Kalisa yang naik turun, untuk beberapa saat beliau membiarkan wanita muda itu ada dalam pelukannya.
Saat tangis Kalisa mulai mereda, ibu Hendri perlahan melepas dekapan tangannya. Memandangi wajah Kalisa yang tampak sedih.
Kalisa pun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, melihat Hendri yang seperti ini, hatinya pun ikut perih.
"Aku turut prihatin Bu." ucap Kalisa tulus, seraya berusaha mengusap jejak tangisnya sendiri.
Ibu Hendri mengangguk, lalu mengajak Kalisa untuk duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Iya Kalisa, mungkin ini teguran dari Allah untuk Hendri. Kamu doa kan saja supaya dia bisa segera pulih." balas Ibu Hendri, Kalisa mengiyakan perkataan mantan ibu mertuanya. Lalu keduanya kembali berpelukan.
Sesaat Kalisa menemani Maya dan mantan ibu mertuanya, juga menyampaikan perihal kondisi Hendri, merasa sudah cukup lama Kalisa berada di rumah sakit ini, akhirnya ia pamit undur diri. Karena ia pun tak mungkin meninggalkan May lebih lama lagi.
"Bu, Kalisa sama Reyhan pamit pulang dulu yah, soalnya Kalisa nitipin May sama Atikah, takutnya dia rewel dan ngrepotin." izin Kalisa sedikit tak enakan. Namun, ibu Hendri begitu mengerti posisinya, bahkan atas kejadian ini beliau sama sekali tak menyalahkan dirinya ataupun Reyhan. Ini murni kecelakaan.
Ibu Hendri tersenyum, beliau mengusap kepala Kalisa sebentar lalu mengangguk.
"Jika ada waktu, datanglah nak." ucap ibu Hendri penuh harap. Kalisa tak menjanjikan apapun, ia hanya mampu berucap Insya Allah. Lalu tanpa ragu, ia melangkah sambil menggandeng tangan Reyhan untuk pulang.
*****
Tiga hari telah berlalu pasca terjadinya kecelakaan itu, Hendri sudah sadar dan kondisinya berangsur membaik. Namun sampai hari ini Kalisa belum menjenguknya lagi, ia hanya sekedar mengantar Reyhan, lalu kembali pulang.
Rama, Astri bahkan Sela sudah mengetahui kejadian ini. Semuanya turut prihatin, namun juga ikut mewaspadai, takut kalau Hendri menggunakan cara ini untuk menjerat Kalisa lagi.
Kalisa juga sempat berpikir kesana, namun segera ia tepis karena tak ingin terus berburuk sangka.
Hingga akhirnya ia berencana untuk menjenguk Hendri, dengan mengajak ketiga orang tersebut. Dan disinilah mereka sekarang.
Tok tok tok
Suara pintu sebuah ruangan di ketuk dari luar. Tak menunggu waktu lama pintu itu dibuka dengan perlahan.
Kalisa tersenyum ramah ke arah Maya yang kebetulan sedang menjaga kakak lelakinya, Kalisa izin untuk masuk karena ia beralasan ingin menjenguk Hendri.
Hendri tersenyum senang, karena akhirnya Kalisa datang, ia sudah tahu ini, sebenarnya Kalisa masih lah peduli. Kalau saja tidak, mungkin Kalisa tidak akan berada disana.
Kalisa duduk disamping Hendri yang sedang berbaring, melihat itu semakin membuat hati Hendri berbunga, lalu mengkode Maya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Mas, mbak. Maya pergi cari minum dulu ya." Pamit Maya, yang sebenarnya adalah di usir oleh Hendri.
Keduanya mengangguk. Lalu Maya berbalik dan melangkah pergi.
"Bagaimana keadaan mu Mas?" Tanya Kalisa membuka obrolan keduanya, hanya untuk sekedar berbasa-basi.
"Seperti yang kamu lihat, asal kamu ada. Maka aku akan baik-baik saja." Balas Hendri tanpa segan.
Kalisa sedikit menghirup udara, jawaban Hendri membuat suasana jadi terasa tak nyaman untuknya. Namun, ia ingin segera meluruskan ini semua. Tak ingin lagi menunda.
"Syukurlah, aku—"
"Aku tahu kamu masih peduli padaku Kal." Potong Hendri, ia memandang ke arah Kalisa dengan tatapan intens. Dengan berani ia mencoba meraih tangan Kalisa untuk di genggam nya.
Namun Kalisa tak sebodoh itu, ia langsung menghindar. Hingga akhirnya Hendri kembali menarik tangannya. Dan suasana kembali canggung.
Untungnya Kalisa masih mampu menguasai keadaan, ia tersenyum tipis. Menarik nafas sejenak, lalu menatap Hendri.
"Aku kesini bukan hanya ingin menjengukmu, tapi aku juga butuh bicara berdua denganmu mengenai kita. Sekali lagi aku tekankan, jangan pernah berpikir kalau aku ini masih peduli." Ucap Kalisa dengan tenang.
Namun lain dengan tanggapan Hendri, ia masih bersikap tidak tahu malu. Menganggap bahwa apa yang Kalisa ucapkan adalah omong kosong belaka.
"Kamu tahu Kal, anak kita begitu senang saat tahu aku sudah sadar. Bahkan ia sudah memaafkan aku dan bilang kalau dia sangat menyayangiku. Bagaimana kalau kita kembali seperti dulu?" Ujar Hendri dengan penuh senyuman.
Cih! Kalisa berdecih dalam hati.
"Kamu tahu kenapa dia begitu senang? Karena itu naluri seorang anak pada orang tuanya, apalagi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kecelakaan itu. Masa kamu tidak mengerti? Lagi pula aku kemari bukan hanya untuk membahas itu..."
"Hen, kenapa sampai sekarang kamu belum sadar juga? Kenapa kamu masih ingin terus dalam kubangan masa lalu?" Ucap Kalisa mulai serius, ia tak ingin berlama-lama lagi memendam ini. Ia ingin semuanya segera selesai.
"Karena aku masih mencintaimu." Balas Hendri cepat.
__ADS_1
Kalisa mengernyitkan dahinya. Menarik nafas dan membuangnya bergantian.
"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti ingin melihatku bahagia bukan?"
Hendri bergeming, ia memang ingin melihat Kalisa bahagia, tapi cukup bahagia bersamanya. Bukan dengan orang lain.
"Aku hanya ingin kamu bahagia denganku Kal. Aku ingin kita bersama seperti dulu lagi." ucap Hendri jujur.
"Tapi aku tidak bisa Hendri." Ucap Kalisa tegas.
"Apa itu karena Rama?" Hendri tak mau kalah.
Kalisa menelan ludahnya berkali-kali. Bagaimana bisa Hendri tahu tentang dirinya dan juga Rama?
"Dengar aku baik-baik, ada atau tidaknya Rama. Aku sudah benar-benar tidak ingin kembali padamu..."
"Harusnya kamu paham dengan semua yang sudah menimpa mu? Aku sudah melepasmu agar kamu belajar, dan berusaha menjadi lebih baik. Tapi kenapa kamu masih saja tidak berubah? Aku sudah tahu semuanya, aku sudah bertemu Sela." terang Kalisa dengan gamblang, berharap Hendri mengerti kali ini. Bahwa ia sudah tak ingin kembali lagi.
Wajah Hendri berubah pias, ia membayangkan kembali bagaimana perlakuan kasarnya pada Sela semenjak mereka keluar dari rumah itu. Ia akui ia memang lelaki bejat, lelaki yang tidak tahu diri yang seenaknya ingin kembali setelah menyakiti.
"Aku ingin kamu benar-benar melepasku Hen, aku ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang kamu lagi dalam hidupku. Begitu pun dengan kamu. Kita sudah lama berpisah, jadi aku mohon... Hiduplah dengan kehidupan kita masing-masing."
Kalisa mengambil jeda sejenak, matanya memanas, ini harapan terakhirnya untuk memberitahu Hendri kalau ia tak ingin kembali lagi.
"Apa kamu akan bahagia jika aku tidak ada?" tanya Hendri, ingin rasanya ia mendengar Kalisa menjawab TIDAK, tapi apalah daya, luka yang ia toreh sudah begitu banyak. Hingga harapan itu tak mungkin ia dapatkan.
Kalisa mengangguk disertai lelehan air mata. Ia terisak kecil.
"Aku rasa, semua tentang kita sudah cukup. Kita ini hanya dua orang yang pernah saling mencintai, bukan orang yang akan tetap mencintai untuk selamanya. Untuk Reyhan dan May, aku tidak akan pernah melarangmu untuk bertemu mereka. Jika kamu mau, silahkan saja. Aku malah senang, jika mereka mau bertemu denganmu."
Hati Hendri semakin sakit mendengar ini semua, air matanya tumpah tak tertahankan. Pipinya bagai di tampar oleh tangan besar.
"Masuklah." ucap Kalisa tiba-tiba, lalu membuang muka.
Seketika terdengar pintu dibuka dari luar, pandangan Hendri langsung beralih.
Sosok wanita masuk ke dalam ruangan itu, membuat Hendri kembali menatap tak percaya.
Sela, wanita itulah yang masuk ke ruangan Hendri dan duduk disebelah Kalisa. Hendri langsung membuang muka, sedangkan Kalisa tersenyum ke arah wanita itu.
Mereka sudah saling bicara dari hati ke hati, dan keputusan Sela sudah bulat, ia bersedia memaafkan Hendri.
"Hen, aku tahu dulu dalam hatimu kamu bisa mencintai dua wanita sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Namun, karena kamu mengetahui kalau Sela berkhianat padamu, kamu jadi membenci nya. Dan melampiaskan segala kekesalan mu padanya. Tapi kamu juga pasti sadarkan, Sela tidak pernah membalasmu, saat itu dia mau berubah hanya karena dia sudah mencintaimu—"
"Lalu kamu mau apa Kalisa?" potong Hendri.
"Hen, dia sudah mau berubah untukmu, dia sudah menemani kamu dalam kesusahan. Bukankah kamu butuh sosok yang seperti itu? Jadi aku mohon, jaga dia Hen, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa, dia mau memaafkan segala kesalahanmu, jadi aku mau kamu kembali bersama nya." jelas Kalisa, ia sudah benar-benar tidak merasakan apa-apa. Semua rasa sakit, perih itu seolah sudah runtuh.
Hendri menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa Kalisa, yang aku cinta hanya kamu."
"Tapi hatimu tidak bisa dibohongi Hen, dalam hati kecilmu masih ada Sela. Matamu yang berbicara, kamu hanya mengingkarinya..... Aku minta untuk yang terakhir kalinya, jaga dia, cintai dia lebih dari kamu mencintaiku. Aku pergi." Kalisa langsung berdiri dan berniat melangkah, sedangkan Hendri mematung sambil merenungi semuanya. Segala perbuatannya yang mengakibatkan keluarga nya hancur, sampai Sela pun kini meninggalkannya.
Ya, semua adalah salahnya, ia yang tak bisa mengontrol diri, bahkan juga tak bisa menjaga hati.
Tangan Kalisa sudah menggapai gagang pintu, namun seketika kalimat Hendri menghentikan nya.
"Tunggu! Aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya Kalisa."
Kalisa langsung berbalik, menatap lurus ke arah Hendri, ia tersenyum dalam tangisnya. Sungguh ia sudah rela.
"Jika, memang kamu benar-benar sudah tak ingin kembali padaku, tidak apa. Aku akan melepaskan kamu Kalisa, sepenuhnya. Aku minta maaf, selama ini aku tidak sadar-sadar dengan kesalahanku. Aku memang lelaki pengecut, lelaki bejat yang tak pantas bersanding denganmu. Tapi mulai hari ini, aku putuskan aku akan berhenti mengejar mu Kal. Aku akan belajar dari kesalahan-kesalahan ku..."
"Terimakasih sudah menyadarkan ku Kalisa. Kamu wanita baik, kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku." ucap Hendri dengan berusaha tegar. Akhirnya mata hatinya terbuka, akhirnya ia bisa berlapang dada untuk melepas Kalisa. Cinta pertama nya.
Kalisa mematung dengan terisak kecil. Ia lega, akhirnya apa yang ia harapkan sesuai.
Sela yang melihat itu semua menjadi terharu, ia mendekat dan memeluk Kalisa dari samping. Ia benar-benar sudah menganggap Kalisa sebagai kakaknya.
"Pergilah..... Aku akan menjaga Sela seperti yang kamu bilang, aku akan mencintai dia, menyayangi dia. Dan mempertahankan dia agar tetap disisiku. Kamu benar Kal, semua ini mungkin teguran dari Tuhan untukku. Balasan atas semua yang telah aku perbuat. Tapi kali ini aku akan belajar untuk lebih baik lagi, agar aku tidak mengulanginya kembali."
Kalisa meregangkan pelukan Sela, ia menatap Hendri sebentar, lalu mengangguk.
"Terimakasih Hendri, terimakasih... Aku pergi." ucap Kalisa lalu pamit undur diri, ia menepuk bahu Sela beberapa kali, lalu melangkah kembali melanjutkan niatannya. Meninggalkan Hendri dan juga Sela.
__ADS_1
...****************...