Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Malam Minggu malam panjang


__ADS_3

Malam minggu kembali datang menyapa, biasanya akan dihabiskan untuk kencan bagi siapa saja yang berpasangan. Katanya, malam Minggu adalah malam panjang, tapi sepertinya itu tidak termasuk bagi Kalisa, malam Minggu kali ini sangat singkat untuknya. Kenapa bisa begitu yah?


"Mas, kamu mau ajak kita kemana?" Tanya Kalisa, mereka berempat sudah berada di dalam mobil milik Rama, lelaki itu sengaja datang sehabis isya demi mengajak sang pujaan dan calon anak-anak nya untuk pergi.


"Nanti kamu juga tahu Kalisa." Balas Rama dengan tenang, ia tersenyum di balik kemudi nya. Jantungnya selalu saja berdebar dengan indah jika ada di dekat wanita satu ini.


Kalisa manggut-manggut, ia menurut saja pada Rama, ia percaya pada lelaki di sampingnya ini, pasti akan membawa ke suatu tempat yang tidak terduga.


Tak berapa lama kemudian Rama mengemudikan mobilnya ke samping jalan, sudah di pastikan ia akan parkir, dan benar saja. Disinilah mereka sekarang, di pasar malam.


"Bunda, kakak mau naik itu." Ucap Reyhan ketika mobil baru saja terparkir, ia langsung menunjuk-nunjuk permainan yang sedang berputar ke atas dan ke bawah seperti roda.


Kalisa tersenyum senang, meskipun hanya sebuah pasar malam, entah kenapa jika yang membawanya adalah Rama, tempat ini jadi lebih istimewa.


"Makasih ya mas." ucap Kalisa masih mempertahankan senyum manisnya, Rama mengangguk, lalu dengan cepat ia membuka pintu mobil. Tak lupa juga untuk membukakan pintu untuk sang calon Ratu.


"Nda... May mau ituh, mau ituh." ucap May, Kalisa hanya mengangguk mengiyakan, lalu mereka berjalan beriringan dan saling bergandengan.


Pasar malam ini terlihat cukup ramai, ada banyak jajanan dan juga permainan anak-anak. Cocok untuk hiburan keluarga, sebagai alat melepas penat di akhir pekan.


May dan Reyhan langsung meminta naik komedi putar, begitu turun kedua anak itu langsung berlari kembali ke istana balon. Mereka terlihat sangat bahagia, rasanya baru kali ini Kalisa melihat senyum tulus itu lagi.


Kalisa duduk di kursi besi, sambil memperhatikan anak-anaknya. Sedangkan Rama membeli minuman dan beberapa makanan.


Kalisa tak bosan untuk melengkungkan kedua sudut bibirnya, sesekali ia juga melirik ke arah Rama yang berdiri di stand minuman tak jauh dari tempatnya duduk. Begitu menyadari, lelaki itu melambai ke arahnya.


Tak berapa lama kemudian Rama kembali dengan dua coklat panas dan satu cup besar berondong jagung.


Lelaki itu menyerahkannya tepat di depan wajah Kalisa. Kalisa langsung mendongak, lalu menerima makanan itu dari tangan Rama.


"Buat anak-anak nanti saja yah, kalo mereka sudah puas bermain." ucap Rama seraya mendudukkan dirinya di samping Kalisa. Kalisa mengangguk setuju.


Mereka menikmati coklat panas dengan saling mendiami, tak tahu harus membicarakan apa, rasa canggung itu masih melanda.


Namun merasa ini adalah kesempatan yang bagus, Kalisa mulai berpikir untuk bertanya pada Rama.


"Mas...." panggil Kalisa, Rama langsung menoleh kesamping. Tapi Kalisa mengurungkan niatnya, ia malah menggigit kecil bibirnya merasa gugup.


Akankah pertanyaan ini ia tanyakan sekarang pada Rama? Kenapa hatiku jadi tidak karuan begini? Bagaimana kalau jawabannya tidak sesuai dengan yang aku harapkan? Benarkah aku akan rela melepaskan?


"Ada apa? " tanya Rama, ia tahu ada sesuatu yang ingin Kalisa sampaikan, namun terasa enggan bagi wanita beranak dua itu.

__ADS_1


Kalisa menatap Rama sebentar, ia tersenyum tipis, lalu kembali menatap ke depan. Gamang.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, bolehkah? " Kalisa meletakan coklat panas itu disamping tubuhnya, setelah menyesapnya sedikit. Ia benar-benar gugup sekarang.


Rama pun melakukan hal yang sama.


"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan, dan sesuatu yang mengganggu pikiranmu. " balas Rama.


Beberapa detik Kalisa terdiam, namun dengan tekad yang bulat akhirnya ia kembali membuka suara.


"Mas... Selama ini kamu sudah tahu, bagaimana kondisi keluargaku. Kamu juga sudah membantu aku terlalu banyak, termasuk membantu aku untuk membuat Reyhan bangkit pasca perceraian ku dan Mas Hendri. Aku hanya ingin tanya." Kalisa melihat ke arah Rama, tatapan penuh menyelidik, jauh ingin menyelami kejujuran Rama dalam sorot matanya.


"Apa kamu memiliki tujuan melakukan ini semua? Atau bahkan kamu ingin sebuah imbalan dariku? " tercetus sudah apa yang ada di pikiran Kalisa selama ini.


Bukan tak ada maksud, ia menanyakan ini semua. Jika memang tujuan Rama hanya ingin mendapatkan hatinya, maka setelah itu terjadi ia yakin sikap Rama akan berubah. Dan Kalisa tidak mau itu. Ia ingin seseorang yang tulus yang berada di samping nya dan untuk kedua anaknya.


Rama tersenyum mendapati pertanyaan itu dari Kalisa, ia tahu betul, Kalisa khawatir dirinya hanya memanfaatkan Reyhan dan juga May untuk tujuan tertentu.


"Kalisa... " panggil Rama, Kalisa semakin menatap penuh tanya.


"Aku tahu, kamu pasti sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari, bahkan mungkin sejak aku masuk ke dalam kehidupanmu."


"Jujur saja, aku memang memiliki tujuan. Dan tujuanku itu ganda. "


"Tujuan pertama ku adalah membuat Reyhan dan May tak lagi merasa kekurangan kasih sayang. Aku jelas begitu tahu, bagaimana rasanya tidak memiliki kedua orangtua, bagaimana rasanya tumbuh tanpa sosok ayah dan ibu. Aku ini yatim piatu Kalisa, sampai aku duduk di kelas 6 sekolah dasar, akhirnya ada sepasang suami istri yang baik hati yang mau mengadopsiku. Dan disitulah aku baru tahu, apa yang dinamakan perhatian dan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Aku hanya ingin membuat Reyhan dan juga May memiliki semangat seperti anak-anak yang lain, dan tidak menyalahkan dirimu atas perceraian antara kamu dan Hendri."


"Dan tujuan keduaku, adalah..... Memiliki mu. Entah sejak kapan debaran di dada ini begitu hebat saat aku hanya memikirkan tentang kamu Kalisa. Awalnya, aku merasa sesuatu ini hanya ilusiku saja, tapi semakin aku menolak perasaan ini. Ia malah semakin menghantui."


"Bagaimana aku bisa mengelak jika itu yang terjadi? Tapi kamu tenang saja, aku tidak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku. Semua keputusan ada di tanganmu, kamu memilih ku atau tidak, itu tidak menjadi masalah, aku akan tetap menjadi orang yang selalu menyayangi Reyhan dan juga May. Heuh... Mungkin pertama-pertama aku hanya akan depresi. Tapi setelahnya, aku yakinkan Rama tetaplah Rama." Rama tersenyum kembali mengakhiri jawabannya, ia berharap Kalisa puas dengan apa yang ia sampaikan. Kalaupun tidak, entah lah, haruskah ia tetap menduda?


Sedangkan Kalisa yang mendengar itu semua merasa dirinya begitu tak sebanding dengan orang sebaik Rama.


Wanita itu meneteskan sedikit air matanya, lalu mengusapnya dengan cepat.


Ia menarik nafas lalu membuangnya kasar.


"Kamu benar-benar ingin bersama ku? " tanya Kalisa, Rama langsung mematung. Lalu detik selanjutnya ia mengangguk.


"Baik. Entah ini keputusan yang benar atau tidak, yang jelas aku tidak memiliki alasan lain lagi. Aku akan segera memberi tahu ayah tentangmu, jika kamu serius datang dan minta lah aku kepadanya." Kalisa langsung menunduk setelah mengucapkan kalimat itu. Ia terlalu malu untuk kembali menatap Rama.


Sedangkan lelaki yang berada disampingnya menatap tak percaya, hatinya bersorak gembira. Penantian dan usahanya tak lagi sia-sia, sebentar lagi ia bisa mendapatkan Kalisa secara sah.

__ADS_1


"Kal, benarkah yang kamu ucapkan?" tanya Rama memastikan, dan Kalisa hanya mengangguk mengiyakan.


"Kalisa... Terimakasih." ucap Rama sambil tersenyum, senyum kebahagiaan yang tak ingin tertanggal sedikitpun dari bibirnya. Ingin rasanya ia segera memeluk tubuh wanita di sampingnya.


Kalisa hanya mengangguk lagi. Melirik Rama sebentar lalu kembali membuang muka.


Rama yang merasa lucu jadi memiliki ide untuk menggoda Kalisa.


"Kal, ada apa dengan wajahmu?" tanya Rama serius.


Kalisa yang mendapati pertanyaan itu reflek memegang wajahnya dengan kedua tangan.


"Ada apa?" balik bertanya.


"Wajahmu memerah, apa kamu memiliki alergi dengan kata-kata cinta?" goda Rama.


Kalisa langsung tersenyum kikuk, bisa-bisa nya Rama menggodanya.


"Kalisa aku serius, lihat pipimu yang memerah sudah seperti badut." Rama terkekeh melihat Kalisa yang meraba-raba pipinya sendiri merasa tak percaya.


"Aku akan pergi melihatnya, aku ke toilet sebentar." pamit Kalisa, baru saja ingin melangkah, tapi tangan Rama lebih cepat menahannya.


"Aku bercanda, kamu cantik Kalisa." Rama menatap lekat wajah ayu yang terlihat gugup itu, Kalisa yang sudah tersipu malu tak sanggup lagi untuk membalas tatapan Rama.


"Mas apa yang kamu bicarakan, aku malu. Kamu tahu?"


"Aku tahu, tapi kamu jadi terlihat lucu." Rama tak henti-hentinya menggoda Kalisa malam ini, ia semakin tersenyum senang ketika Kalisa mulai berani membalas tatapan matanya.


Binar itu seperti sihir, enggan untuk memutuskannya. Sampai akhirnya suara dua bocah cilik berhasil membuat Kalisa dan Rama jadi salah tingkah.


"Cie-cie bunda sama om baik pegang-pegangan tangan." ucap Reyhan dan May kompak.


Reflek Rama langsung melepaskan cekalan tangannya dipergelangan tangan Kalisa, keduanya jadi berubah salah tingkah. Sedangkan kedua bocah itu malah tertawa-tawa. Merasa lucu dengan tingkah Rama dan bunda mereka.


Rama mengajak ketiga orang itu untuk membeli jajanan terlebih dahulu, mereka bercanda dan tertawa seakan tanpa beban yang menghimpit dada. Tak memperdulikan meski ada sepasang mata yang sedang memperhatikan interaksi mereka, dari jarak yang cukup dekat sambil meremat kesal tangannya.


Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, karena waktu bergulir dengan cepatnya. Tak peduli seberapa besar kebahagiaan mereka, waktu tetaplah waktu. Bisa memisahkan antar mereka, kapan saja.


Katanya malam Minggu itu malam yang panjang, tetapi kenapa terasa begitu cepat, saat aku menyadari bahwa mas Rama mulai mengisi kekosongan hati ini.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


__ADS_2