Kau Lupa Aku Ratumu

Kau Lupa Aku Ratumu
Ya Humairah


__ADS_3

Setelah menghabiskan dua permainan, akhirnya Kalisa dan Rama sama-sama tumbang. Dada itu terlihat naik turun, masih terasa sengatan pelepasan yang baru saja mereka dapatkan.


Sengatan yang meluluhkan seluruh urat syarafnya.


Terasa sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan. Bagai menari di atas awan, mereka berdua melayang-layang.


Rasa ini terasa sangat berbeda dari percintaan sebelumnya. Lebih memabukan, bahkan mampu melumpuhkan kesadaran Kalisa.


Di bawah tubuh Rama, bibir wanita itu melenguh merdu seraya terus menyebut nama suaminya dengan mesra.


Mas Rama. Panggilan itu seperti mantra bagi si pemilik nama.


Tak hanya Kalisa, Rama pun melakukan hal yang sama, lelaki mengalunkan lagu-lagu cinta. Tepat di telinga istrinya.


Sedangkan di dalam hati keduanya, doa terus mengalir tanpa henti, meminta pada yang kuasa agar rumah tangga mereka, di beri nikmat sakinah, mawadah dan warahmah.


Sebelum Rama berbaring, lelaki itu menyempatkan diri mencium dalam kening istrinya yang basah. Basah karena peluh akibat kegiatan mereka.

__ADS_1


Rama ambruk di samping tubuh Kalisa.


Suara nafas terdengar saling memburu, menormalkan tekanan udara.


Rama meluruskan lengan, lalu mengangkat kepala Kalisa dan meletakkannya disana. Menjadikan lengannya sebagai bantalan.


Kedua netra mereka saling tatap, saat Rama dan Kalisa memiringkan tubuh mereka. Lalu uluman senyum terlempar satu sama lain.


"Aku mencintaimu, Kalisa." Ungkap Rama, kebiasaan setelah mereka bercinta, lelaki itu tidak pernah absen dan selalu mengucapkan kalimat itu.


Dan anehnya, seperti tak pernah bosan, sebanyak apapun Rama mengatakannya, dada Kalisa selalu merasa berdebar-debar sekaligus salah tingkah.


"Kebiasaan." Ucapan Rama membuat Kalisa berpikir, kebiasaan apa? Batinnya.


"Kebiasaan pipinya suka merah-merah." Sambung lelaki itu seraya terkekeh kecil. Merasa lucu akan tingkah istrinya.


Wanita itu mencebik. "Makanya jangan godain aku." Rengek Kalisa terdengar manja dari balik ketiak Rama. Ia masih ingin terus sembunyi, belum mau menampakkan wajah di depan suaminya.

__ADS_1


Pelan, lelaki itu menarik wajah sang istri, tidak ada penolakan tetapi Kalisa masih berusaha untuk menghindar dari tatapan itu, tatapan teduh penuh cinta, ah rasanya hal itu ingin membuat Kalisa gila. Ya, dia tergila-gila pada seorang Rama.


"Ya Humairah..." Panggil Rama mesra, penuh kelembutan membuat hati Kalisa berdesir hebat.


Wanita itu jelas tahu arti dari panggilan itu, Humairah adalah panggilan kesayangan Rasulullah SAW untuk istri tercintanya, Ummul mukminin, wanita mulia sayyidatina Aisyah RA, yang artinya 'Wahai pipi yang kemerah-merahan' Romantis sekali bukan?


"Ya Humairah..." Panggil Rama sekali lagi. Sedangkan jari telunjuk lelaki itu bergerak-gerak di atas pipi istrinya.


Ya Allah, jantung Kalisa tidak berhenti berdebar. Kenapa Rama suka sekali membuatnya melayang seperti ini.


Pelan, Kalisa menoleh, memandang wajah tampan dengan bola mata kecokelatan itu. Wanita itu mengulum senyum, dan Rama membalasnya dengan kedipan genit.


Reflek Kalisa memukul dada bidang itu. "Ingat, Humairah itu anak kita." Ucap Kalisa bercanda. Padahal hatinya berbunga-bunga, seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam sana.


Rama mencondongkan wajah, menempelkan pucuk hidungnya dengan pucuk hidung Kalisa, dan menggeseknya.


"Tapi yang ini Humairahku." Balas Rama, lalu mengecup cepat pipi Kalisa. Merengkuh pinggang ramping itu.

__ADS_1


Dan keduanya terkekeh secara bersamaan.


__ADS_2