
Rutinitas harian tiada yang berbeda dari sebelumnya, kehidupan Kalisa hanyalah rumah dan toko milik nya saja. Namun hari ini tiba-tiba Astri menelpon, meminta Kalisa untuk datang ke rumahnya, seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Tanpa pikir panjang, ia langsung mengiyakan permintaan sahabat nya itu. Setelah Reyhan pamit ke sekolah, Kalisa terlebih dahulu berangkat ke toko bersama May, ia menitipkan kembali toko pada karyawannya Atikah dan bergegas ke rumah sahabat nya.
Dan disinilah ia sekarang, rumah yang sudah dijadikan toko juga oleh pemiliknya.
Kalisa duduk di kursi empuk yang ada diruang tamu bersama putrinya, sedangkan Astri sedang mengambil beberapa camilan.
Saat kembali ke ruang tamu, Astri tak hanya sendiri, melainkan ia datang dengan wanita yang begitu Kalisa kenali. Seketika raut wajah Kalisa berubah, antara bingung dan ingin marah. Bahkan sebelumnya Astri tak memberitahu apapun tentang keberadaan Sela.
Apa maksudnya ini semua?
Astri duduk disebelah Kalisa, sedangkan wanita bernama Sela yang dibawa pulang oleh Astri duduk berseberangan dengan keduanya.
Kalisa masih sama, masih memasang wajah tanpa ekspresi sedikitpun. Ia hanya melirik sesekali wajah yang terlihat semakin tirus itu, matanya cekung bahkan ada beberapa bekas luka yang masih membiru.
Sebenarnya ada apa? Ingin sekali Kalisa berteriak seperti itu. Tetapi ia tahan, ia ingin Sela atau pun Astri yang menjelaskan nya sendiri.
"Kal." Panggil Astri seraya menepuk pelan bahu sahabat nya, membuat Kalisa seketika menoleh ke samping. Menatap wajah Astri penuh tanda tanya.
"Aku yang membawanya pulang." Ucap Astri lagi, Kalisa semakin mengernyit bingung, tak mengerti situasi apa yang sedang ia hadapi. Untuk apa Astri membawa wanita ini, sedangkan ia tahu bagaimana Astri begitu membenci dan mengutuki Sela untuk membelanya.
"Aku sama sekali tidak mengerti As." Ucap Kalisa, lalu bangkit berniat ingin pergi.
"Kal, dengarkan dulu. Sela akan menjelaskan semuanya. Aku tidak memiliki maksud apapun membawanya pulang seperti ini, ini murni karena aku ingin menolongnya, menolong atas dasar kita sesama wanita." Ucap Astri menahan Kalisa yang sudah hampir berdiri, perlahan tubuh Kalisa melemah, ia menjatuhkan kembali tubuhnya di sofa.
"Aku akan membawa May sebentar. Kalian bicaralah berdua." Sambung Astri, ia menepuk nepuk bahu Kalisa beberapa kali, lalu tak permisi lagi ia membawa May ke ruangan sebelah, dimana barang dagangannya berada.
Dengan tenang Sela bangkit dari duduknya, ia berpindah ke sisi Kalisa. Tetapi Kalisa bergeming, merasa bahwa ia tak bersama orang lain.
"Mbak." Panggil Sela untuk yang pertama kalinya. Seketika Kalisa mendongak, lalu memutuskan pandangan itu.
Sela mengerti, kesalahannya benar-benar berat dan tak mungkin termaafkan, tapi ia juga benar-benar ingin berubah, ia ingin berubah untuk hidup dan masa depannya. Dan langkah pertama untuk memulai itu semua adalah mendapat maaf dari Kalisa. Wanita yang sudah ia hancur kan kebahagiaan nya.
__ADS_1
"Aku benar-benar mengaku salah mbak. Aku banyak berbuat dosa pada mbak Kalisa... Tapi sekarang aku telah mendapat karmaku, aku juga telah mendapat sesuatu yang pantas atas perbuatanku dahulu. Kau boleh menertawakan ku sekarang, karena aku telah kalah dari takdir sang Kuasa. Bahwasanya orang yang bersalah akan mendapatkan balasannya, dan aku sudah mendapatkan nya. Mbak Kalisa boleh tertawa sepuasnya, atau jika belum puas Mbak bisa lakukan apapun padaku, asalkan satu. Aku minta, maafkan aku mbak."
Untuk pertama kalinya Sela mengucapkan maaf begitu tulus, air matanya luruh menggambarkan betapa tersiksanya ia dengan bayang-bayang rasa bersalah itu.
Kalisa masih mematung, didalam hati kecil nya, ia ingin sekali memeluk Sela dan memaafkan segala kesalahan wanita itu, tapi otaknya seakan tak merestui. Bahkan ia membisikan bahwa semua ini hanyalah kepura-puraan.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" Akhirnya Kalisa buka suara, ia tak ingin menerka-nerka, ia ingin semuanya jelas tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Apa mbak akan memaafkan aku setelah aku bercerita? Apa mbak akan percaya?" Tak langsung mengabulkan permintaan Kalisa, Sela lebih memilih bertanya.
"Tergantung. Jika apa yang kamu bicarakan adalah kebenaran. Maka aku maafkan. Tetapi jika kamu bohong! Jangan harap aku sudi menemuimu lagi." Jawab Kalisa dengan lugas. Ia tak ingin dibohongi, ia harus pastikan sendiri apa yang Sela ucapkan adalah sebuah fakta.
Sela menyanggupi kesepakatan bersama Kalisa. Dengan perlahan ia mulai menjelaskan duduk permasalahan rumah tangganya bersama Hendri setelah ia dan sang suami keluar dari rumah itu.
Otaknya terus diajak berputar ke waktu yang telah lalu, dan mulutnya bercerita dengan lancar kejadian demi kejadian yang ia alami. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan akan terjadi dalam hidupnya.
Begitu banyak kesakitan yang ia dapatkan dalam hubungannya bersama Hendri, padahal waktu bersama mereka sangat singkat, tak disangka lukanya membekas begitu dalam.
Dengan satu kali tarikan nafas, ia mengakhiri ceritanya, dengan suara yang terus bergetar ia meminta maaf pada Kalisa, maaf yang datang dari hati kecilnya. Ia telah lega.
Dari tatapan Sela yang sedari tadi bercerita, Kalisa menangkap banyak sekali luka disana, luka yang ia simpan sendiri hingga hari ini, sampai akhirnya hati Kalisa terketuk, tak ingin mengingat lagi masa lalu kelam mereka.
"Aku memaafkanmu Sela, aku memaafkanmu. Dan percayalah padaku, kita telah mencintai lelaki yang salah." Ucap Kalisa, keduanya terisak bersama, menyelesaikan perasaan saling membenci yang pernah ada diantara keduanya, hanya karena satu lelaki pengecut yang pernah berdiri ditengah-tengah mereka.
*****
Malam ini entah perasaan rindu atau apa Hendri mengunjungi rumah ibundanya, dengan membawa martabak kesukaan wanita tua itu Hendri melangkah dengan jalan yang masih sedikit mengengkang.
Sudah 2 bulan terakhir ia tak datang kemari, karena kunjungan pertamanya masih di tolak sang ibu, hingga berakhir tak menemui.
Seseorang membuka pintu dari dalam setelah mendengar ada orang yang mengucap salam.
Begitu pintu terbuka, ia langsung disuguhi pertanyaan sang kakak "Sha ibu mana?" tanya Hendri.
__ADS_1
Belum sempat menjawab pertanyaan sang kakak, sang ibu juga bertanya padanya.
"Dek, siapa yang datang?" tanya ibu Hendri dari dalam, di dengar dari suaranya si ibu kini sedang melangkah ke arah pintu rumah.
Baru saja terlihat bayang-bayang ibu nya, Hendri langsung menyelonong masuk bermaksud menemui sang ibu.
"Ibu..." panggilnya dengan wajah sumringah.
Bukannya senang anaknya datang, ibu Hendri malah memasang wajah datar.
"Bu... Apa ibu tidak senang Hendri datang?" tanya Hendri, ia memperhatikan wajah ibunya yang masam.
"Ibu tahu kamu datang pasti ada maunya, bukan tulus untuk menjenguk ibu ataupun adikmu." ucap ibu dingin, beliau berjalan menjauhi Hendri lalu duduk di sofa. Hendri mengekor pada sang ibu, lalu ikut duduk di samping wanita tua itu.
"Apasih yang ibu bicarakan? Hendri benar-benar ingin menjenguk ibu dan Maya. Kenapa sikap ibu begini?" tak ingin di acuhkan, ia mencoba mendapatkan kembali simpati ibunya.
Aku tidak boleh gagal. Kalisa harus menjadi milikku lagi, dan ibu pasti akan membantuku untuk itu.
"Sudah katakan saja apa yang kamu inginkan?" titah ibu tak ingin berbasa-basi lebih lama lagi. Sudah banyak kecewa yang ia dapat dari putra sulungnya ini, nasihat demi nasihat sudah sering ia berikan, namun sepertinya hanya masuk telinga kanan lalu keluar lagi melalu telinga kiri.
"Bu... Sebenarnya aku kesini ingin meminta bantuan ibu. Ternyata Kalisa sedang dekat dengan bos Hendri, dan itu tidak boleh terjadi."
"Kenapa tidak boleh?" tanya ibu dengan tatapan tak suka.
"Karena aku ingin kembali kepada Kalisa." balas Hendri dengan tegas. Tak peduli siapapun yang akan menjadi saingannya, soal mendapatkan Kalisa ia akan memperjuangkan nya.
"Tidak boleh!" jawab ibu cepat.
"Kenapa tidak boleh Bu? Ibu harusnya dukung aku untuk mendapatkan kembali menantumu itu." tanya Hendri sedikit gusar.
"Karena bersamamu, dia tidak akan pernah mendapat kan kebahagiaan. Kalau kamu benar-benar mencintai Kalisa, lebih baik lupakan cinta omong kosong mu itu Hendri. Lepaskan dia! Kamu memang putra ibu, tetapi sejatinya ibu tidak benar-benar mengenalimu sebagai putraku, ibu akan dukung, apapun keputusan Kalisa. Malah bagus jika Kalisa benar-benar memiliki hubungan dengan bos mu, sadar tidak sadar itu semua mengingatkan mu, bahwa batu berlian akan di beli dengan harga jual yang mahal."
"Tapi bu—"
__ADS_1
"Lebih baik kamu pergi dan renungi kembali perbuatan mu Hendri." sela ibu tak ingin mendengar apapun lagi dari mulut lelaki didepannya ini.
...****************...