
Setelah hari itu, akhirnya Akbar diboyong ke ibu kota untuk ikut tinggal bersama Rama. Karena Rama dan Kama, sepakat membagi tugas untuk mengurus Akbar secara bergantian, membuat pria paruh baya itu benar-benar merasa bersyukur.
Tuhan memang begitu baik, hingga mengirimkan malaikat seperti kedua putranya.
Hingga tak terasa perjalanan hidup mereka bergerak dengan sangat cepat. Kandungan Kalisa sudah memenuhi bulannya, dan wanita itu sudah mantap untuk melahirkan secara normal.
Tinggal menunggu HPL (Hari Perkiraan Lahir) bayi mereka yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan akan melihat keindahan dunia.
Seperti hari-hari biasa, setiap pagi Kalisa akan membantu asisten rumah tangganya untuk membuat sarapan.
Dengan perut buncit, Kalisa menuangkan susu hangat ke dalam gelas. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan kontraksi dadakan, hingga membuat dia langsung berpegangan pada meja.
"Argh," erang Kalisa, sudah dari semalam perutnya terasa melilit. Namun, dia berpikir hal tersebut adalah sesuatu yang biasa.
"Ada apa, Bu?" tanya Mbak Darmi pada Kalisa.
"Perutku sakit, Mbak," balas Kalisa, semakin dibiarkan kontraksi itu semakin terasa dahsyat.
"Ya Allah, sebentar ya, Bu. Biar saya panggil Mas Rama dulu."
Mbak Darmi langsung pergi ke kamar majikannya untuk memanggil Rama. Sementara Bi Asmi yang baru selesai menjemur pakaian langsung dibuat terperangah ketika melihat Kalisa yang meringis kesakitan.
Begitu pun juga dengan Rama, saat mendengar sang istri mengalami kontraksi, dia langsung berlari dan membawa Kalisa masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita langsung ke rumah sakit saja, Sayang," ujar Rama dengan raut wajah yang terlihat sangat panik.
"Iya, Mas," balas Kalisa dengan suara lemah.
Rama langsung meminta Bi Asmi untuk membawakan barang-barang yang sebelumnya sudah mereka siapkan. Lalu dia sendiri yang akan menyetir.
"Bi, tolong urus anak-anak dan ayah yah, aku dan Kalisa pergi dulu," ucap Rama sebelum membawa kendaraan roda empat itu membelah jalan raya.
Bi Asmi langsung mengangguk patuh, dan detik selanjutnya Rama menancap gas untuk sampai di rumah sakit yang sebelumnya sudah dia rencanakan untuk kelahiran putra-putrinya.
Kurang dari satu jam, akhirnya mereka tiba. Kalisa langsung mendapat penanganan, dan ternyata pembukaan yang didapat wanita itu sangatlah cepat.
Rama dan Mbak Darmi sama-sama menunggu dengan cemas. Pasalnya frekuensi rasa sakit akibat kontraksi semakin sering Kalisa dapat.
"Mas, bayi kita seperti mau keluar," lirih Kalisa, merasakan dorongan yang semakin besar.
Rama pun akhirnya kembali memanggil dokter, dan ternyata pembukaan Kalisa memang sudah sempurna. Wanita itu langsung dibawa ke ruang persalinan bersama Rama yang selalu menemaninya.
Dengan berusaha sekuat tenaga, dan tentunya diiringi untaian doa, akhirnya terdengar suara tangis bayi laki-laki dan disusul bayi perempuan.
"Allahuakbar," ucap Rama dengan takjub, Kalisa langsung melepaskan pegangan tangannya, dan hal tersebut membuat Rama langsung bersujud di lantai karena merasa bersyukur bisa melihat buah hatinya lahir ke dunia.
Dengan bibir dan tubuh yang gemetar Rama mengadzani kedua anak kembarnya. Tiap bait yang keluar, menghasilkan tangis yang begitu luar biasa.
__ADS_1
Karena dia tidak percaya, kini dia benar-benar sudah menyandang status sebagai seorang ayah.
Setelah kedua bayi itu dibersihkan, begitu juga dengan Kalisa. Mereka langsung dipindahkan ke ruang perawatan, dan Kalisa diperbolehkan untuk menyusui kedua anaknya.
Pada saat itu Rama berdiri di sisi istrinya sambil memperhatikan wajah anak mereka. Ada senyum kecil yang terukir, menandakan kebahagiaan yang begitu membuncah.
"Boleh aku yang kasih nama mereka, Sayang?" tanya Rama tiba-tiba, membuat Kalisa mendongak.
"Kenapa bertanya seperti itu, Mas? Tentu saja boleh, mereka kan anakmu."
Lagi, Rama tersenyum semakin lebar, dia mengusap puncak kepala Kalisa dan meninggalkan kecupan singkat di sana.
"Yang laki-laki akan aku beri nama Haidar Islam Putra Rama dan yang perempuan Hafiza Putri Rama. Bagaimana menurutmu, Sayang?"
Kalisa langsung mengangguk setuju, entah kenapa dia merasa suka dengan nama yang diberikan oleh suaminya.
"Boleh, Sayang. Jadi nama anak kita Haidar dan Hafiza. Halo, Sayang, sekarang kalian sudah ada namanya yah, Masya Allah ...."
Kalisa mengajak anak-anaknya bicara, tetapi kedua bayi itu hanya mampu berkedip-kedip lucu.
Dan kelahiran mereka menjadi penutup kisah antara Kalisa dan Rama. Dua sejoli yang akan selalu bergandengan tangan meski banyak badai yang menerpa rumah tangga mereka.
...BENAR-BENAR TAMAT...
__ADS_1