
POV Kalisa
Siang itu aku berniat menyiapkan makan siang untuk anak-anak serta ayah dan ibuku. Namun, langkahku terhenti diambang pintu kamar, begitu aku melihat ayah keluar dengan tergesa, dan cepat-cepat menutup pintu. Mau apa yah ayah? Akhirnya dengan rasa penasaran aku melihat dari kaca jendela ke pintu gerbang, dimana ayah dan, aku sedikit mempertajam penglihatan ku. Memastikan bahwa apa yang ku lihat adalah benar. Ayah dan dua orang preman pasar? Untuk apa ayah bertemu mereka? Apa mereka tidak sengaja bertemu di depan? Apa sekarang ayah sedang diancam yah? Apa mereka cari gara-gara yah? Ah banyak sekali pemikiran ku, penglihatan ku sedikit terhalang oleh tembok pembatas, tapi aku sangat yakin ayah sedang berbicara dengan mereka, bahkan ada gerakan tangan menyerahkan sesuatu juga. Itu apa?
Sepertinya aku harus keluar dan membantu ayah menyelesaikan masalah dengan dua orang preman itu. Dengan segala keberanian yang terkumpul, aku membuka pintu, tetapi begitu aku akan melangkah, ayah dan dua orang itu membubarkan diri seperti telah selesai dengan urusan mereka. Tapi ayah tidak kembali ke dalam rumah, beliau malah meneruskan langkahnya entah menuju kemana. Ah lebih baik aku kembali ke dalam dan menanyakannya nanti pada ayah.
*****
POV Hendri
Aku berjalan tertatih ke arah rumah kontrakan yang sedikit kumuh, tempat dimana kini aku dan Sela tinggal, karena hanya rumah itu lah yang sanggup aku bayar sekarang. Rahangku benar-benar terasa sakit, tubuh ku remuk redam akibat pukulan bertubi-tubi yang aku terima tadi. Hanya gara-gara kaleng sialan, aku jadi seperti ini.
Belum lagi aku tidak mendapatkan pekerjaan, lalu dengan apa aku bisa bertahan hidup untuk kedepannya. Sepertinya aku harus memaksa Sela bekerja juga, ya dengan itu ia bisa membantuku mendapatkan uang. Enak saja dia hanya diam dan menerima nafkah dariku, sedangkan aku tersiksa seperti ini.
Bruk!
Aku mendudukkan diriku di kursi reot yang ada di depan rumah. Menarik nafas sejenak, berusaha melepas beban dan rasa lelah.
"Sela, Sela." Teriakku sebisa mungkin, mulutku juga terasa sakit saat bicara. Aku memegangi pipiku, lalu kembali berteriak memanggil nama Sela yang tak kunjung keluar juga. Sebenarnya sedang apa dia? Apa dia sedang enak-enakan tidur siang?
"Selaaaa!"
Ceklek!
"I iya mas." Balasnya agak tergagap, merasa bersalah karena lama tidak membukakan aku pintu, lalu ku lihat dua bola matanya membulat sempurna melihat keadaan ku yang begitu memprihatinkan. Baju acak-acakan, noda darah dimana-mana, bahkan tubuhku lebam membiru disetiap sisinya.
__ADS_1
"Mas kamu kenapa?" Tanyanya cemas, lalu mengamati setiap inchi wajahku. Tangannya dengan terburu-buru ingin meraih luka itu, tetapi sebelum itu terjadi aku kembali bersuara, menghentikan niatannya.
"Bawa aku ke dalam, dan jangan banyak tanya." Ucapku ketus, lalu bibirnya langsung melipat ke dalam dan bungkam. Ia memapahku untuk masuk ke dalam kamar. Begitu sampai aku segera berbaring, dan dia tanpa permisi berlalu keluar.
Aku memejamkan mataku sejenak, menerawang jauh ke belakang, sampai suara langkah Sela kembali memenuhi gendang telingaku. Ia kembali dengan membawa alat kompres, dan ku yakin itu untukku.
"Mas aku kompres yah." Ucapnya, aku diam saja. Tidak ingin menerima ataupun menolak izinnya, yang ku inginkan hanya Kalisa, aku ingin Kalisa yang merawatku. Kalisa...
Ku tau Sela bimbang namun dengan tangan gemetar ia perlahan membawa tangannya menuju wajahku yang memar.
"Awww!" Pekikku, rasanya perih sekali. Seperih hati ini begitu mengetahui semua kebenaran yang terlambat datangnya.
"Pelan-pelan." Ucapku masih dengan nada dingin, dan Sela mengangguk cepat.
"Awww!"
"Mas aku ini kan sedang mengobati mu, bukan menyakitimu." Ucapnya pengertian. Tapi aku tetap tidak peduli, ia mencoba mengobatiku lagi. Dan aku kembali merasakan sakit, akhirnya tanganku reflek menangkis tangan Sela dengan kasar, hingga handuk itu jatuh ke lantai. Dan diam-diam ku lihat mata Sela mulai berkaca-kaca.
"Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu, dan aku hanya ingin diurus oleh Kalisa, wanita yang aku cinta."
*****
Setelah kepergian Sela aku kembali memejamkan mata, ku rasakan bulir bening mulai mengalir merembes dengan sendirinya, mengingat lagi tentang masa-masa dengan Kalisa, rasa bersalahku pada Kalisa lebih dominan ketimbang rasa benciku terhadapnya. Aku yang sudah membuat nerakaku sendiri di dunia ini, menarik Kalisa untuk masuk ke dalamnya, tetapi ternyata dia pintar hingga ia tak sampai terjerumus lebih dalam, kali ini ia akan bahagia tanpa aku, bukan. Bukan hanya dia tetapi juga anak-anak ku, seiring berjalannya waktu ku yakin May dan Reyhan juga akan melupakan ku begitu Kalisa memiliki suami pengganti sekaligus ayah baru untuk darah dagingku.
Segala sesal itu begitu menyesakkan dada, hingga ku tahan perih ini sampai aku benar-benar terlelap membawa luka yang ku toreh sendiri.
__ADS_1
****
Jam empat sore aku terbangun, mendapati Sela yang masuk ke dalam kamar dengan satu lilit handuk yang membungkus tubuhnya, tubuh yang molek yang membuatku dulu lupa kalau aku sudah memiliki keluarga yang sederhana, namun bahagia.
Cih!
Memikirkan itu aku jadi jijik dengan diriku sendiri, sama sekali tidak pantas untuk disebut menjadi seorang laki-laki.
"Mas kalau kamu butuh apa-apa panggil aku aja." Ucap Sela, begitu ia menyelesaikan aktivitas memakai bajunya. Aku meliriknya sekilas, entah kenapa malah dengan melihatnya aku jadi ingin marah.
Diam, mulutku terkunci, rasanya begitu malas bicara dengannya. Tapi aku teringat, kalau aku ingin menyuruh Sela bekerja juga. Aku tak mau hanya aku yang ia andalkan, ia juga harus ikut menanggung semua ini.
"Aku ingin bicara." Ucapku seraya bangkit dari posisi tidurku.
"Ada apa mas?" Tanyanya sambil mendekat ke arahku.
"Tidak usah dekat-dekat, sana agak jauh." Usirku dengan kata-kata dan menggerakkan tangan mengusirnya.
Sela menurut. Lalu aku menegakkan diri, bersandar di kepala ranjang.
"Aku ingin kamu juga bekerja." Ucapku to the points.
Wanita itu menatapku dengan wajah terperangah, seolah tak percaya bahwa dirinya juga harus susah payah mencari uang untuk kelangsungan hidup kami berdua, ku yakin dia ingin menolak permintaan ku. Bukan, tepatnya perintahku.
"Mas tapi bekerja apa? Aku ini tidak bisa apa-apa? Apa iya aku bisa bekerja?" Ucapnya mengeluh. Sangat jauh dengan sifat Kalisa yang selalu mengerti kondisiku.
__ADS_1
Aku menarik sudut bibirku ke atas sinis, "Terserah, kamu mau jadi pembantu kek, tukang sapu dijalanan kek, atau apa sajalah, terserah. Yang penting jangan membebaniku, ingat! Jangan jadi benalu." Ucapku sungguh-sungguh, setelah itu tanpa menunggu jawaban Sela aku langsung bangkit, keluar dan berniat membersihkan diri.
Brak!