
POV Rama
Aku sudah rapih dengan kemeja hitam dan jas berwarna abu-abu pilihan Kalisa. Sedangkan ku lihat Kalisa memakai gamis berwarna senada dengan potongan sederhana.
Hijab panjang menutup kepala, lalu polesan tipis yang menghias wajahnya, membuat aku semakin tidak rela untuk membawanya keluar rumah.
Dia mengambil satu tas selempang, dan memeluk tasku pula. Berjalan ke arahku dengan senyum manis yang membuatku selalu luluh.
"Ayo, Mas. Anak-anak pasti udah pada nunggu di bawah." Ajak Kalisa saat dia sudah berdiri tepat di depanku.
Aku mengangguk, tapi sebelum itu aku mengambil sesuatu dari balik laci nakas. Lalu meminta Kalisa untuk memakainya.
"Kenapa, Mas? Kenapa aku harus pakai masker?" Tanyanya dengan kening yang sedikit mengernyit.
"Sayang diluar sedang hujan, aku takut kamu flu, dan tunggu disini." Untuk membuat Kalisa semakin percaya alibiku, aku mengambil mantel tebal, dan membalutkannya di tubuh Kalisa.
"Biar kamu selalu hangat." Ucapku dengan tersenyum lebar.
Padahal semua ku lakukan, karena aku tidak mau orang lain mengagumi kecantikan dzohir istriku.
Dia membalasku dengan anggukan kepala lalu memeluk lenganku erat. "Sama Mas pasti aku hangat terus." Ucapnya, lalu buru-buru menarikku untuk keluar.
Mendengar ucapannya itu, aku hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
Berani menggoda tapi tidak mau tanggung jawab, itulah Kalisa.
****
__ADS_1
Hujan memang turun dari semalam, hingga pagi ini menyisakan rintik-rintik kecil, membuat bumi selalu basah.
Sampai di sekolah baru anak-anakku, aku meminta Kalisa untuk tetap diam di dalam mobil. Aku mengambil payung, dan mengantarkan May dan juga Reyhan.
Aku benar-benar memenuhi janjiku, untuk menempatkan mereka di sekolah yang sama.
"Mas, aku juga ingin turun." Ucap Kalisa setengah merengek, saat aku sudah kembali ke dalam mobil. Mendengar rengekkannya, aku tahu, dia pasti ingin memastikan kedua anak kami, bisa menerima suasana baru mereka.
Dan akhirnya aku mengangguk, lalu membawa Kalisa turun untuk menemui Reyhan dan juga May.
"Rey, May," panggil Kalisa saat kedua anak itu sudah digandeng oleh guru mereka masing-masing, untuk masuk ke dalam kelas.
Kedua bocah itu berbalik, lalu sedikit berlari ke arah sang bunda yang sudah berjongkok dan merentangkan tangannya.
Kalisa memeluk Reyhan dan May secara bersamaan. "Sayang, baik-baik yah. Belajar dengan semangat, supaya cepat pintar." Ucap Kalisa memberi pesan, seraya mengepalkan kedua tangan.
"Ingat pesan Bunda yah, Nak. Nanti kalau sudah pulang dijemput sama pak Amir. Oke?" Jelasku sebelum aku dan Kalisa benar-benar pergi menuju perusahaan.
"Siap, Papa." Jawab mereka kompak bahkan sampai membuat gerakan hormat.
Aku dan Kalisa saling memandang dan mengulum senyum. Sekali lagi, Kalisa memeluk kedua anak kami. Lalu berdiri. "Kalau begitu, assalamualaikum?" Ucapku seraya menggenggam tangan Kalisa.
"Waalaikumussalam."
******
Tak butuh waktu lama, aku dan Kalisa sudah sampai di perusahaan. Ku lihat Kalisa menelisik sekeliling, bahkan ke segala penjuru arah.
__ADS_1
Kami ada di baseman perusahaan. Tempat luas, dengan banyak mobil yang berjajar rapih.
"Sayang," panggilku. Dan Kalisa menoleh, dia hendak membuka masker, tapi aku segera menahannya.
"Kenapa, Mas? Apa Mas ingin aku selalu memakainya?" Tanya Kalisa dan aku mengangguk sebagai jawaban.
Dia menurut, tetapi seketika ide jahil muncul, aku kembali menghadap Kalisa, pelan membuka masker itu, lalu tanpa aba-aba aku mencium bibir Kalisa, wanita itu tersentak, tapi aku menahan tengkuknya.
Hingga saat kami kehabisan oksigen, aku baru melepas pagutan itu. Aku tersenyum puas sedangkan Kalisa langsung mencebik, mengelap sisa-sisa ciuman kami dengan punggung tangannya.
"Mas, ih. Tidak tahu tempat." Protesnya padaku sambil celingukan, dan aku hanya bisa terkekeh menikmati wajah kesal itu.
Terlihat sangat menggemaskan.
Aku tahu banyak orang berlalu lalang, tapikan kaca mobilku tidak tembus pandang.
"Mereka tidak akan tahu, Sayang." Ucapku kembali mencodongkan wajah untuk menggodanya.
Cukup keras Kalisa mendorong dadaku, dan lagi-lagi aku terkekeh, terkekeh keras membuat Kalisa semakin cemberut.
"Aku mau turun, Mas." Cebiknya.
"Iya-iya Sayang, kita turun. Tapi aku minta cium dulu."
Namun, bukannya menurut, Kalisa justru mengepalkan tangannya, membuat gerakan ingin memukul dengan mata yang melotot tajam.
Wow, sepertinya sifat asli Kalisa akan semakin terbuka. Aku harus waspada.
__ADS_1