Kembalinya Gea

Kembalinya Gea
Halaman = 83


__ADS_3

Bara segera diletakkan di atas kayu yang mereka jadikan untuk tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat kepala masih mengeluarkan darah. ” Ini harus di hentikan agar dia tidak kehilangan banyak darah!. Gea makin panik mendengarnya.


” Pak saya mohon , lakukan sesuatu agar tuan selamat!. Gea memohon sembari menangis. Pria yang sudah menolongnya segera mengambil air dan garam ” Ini untuk mencegah agar lukanya tidak infeksi”. Bara meregangkan tubuhnya menahan rasa sakit di bagian kepalanya.


Gea tidak kuat melihatnya hanya bisa menangis di sampingnya. Gea meraih tangan Bara menguatkannya agar kuat menahan rasa perih. " Tuan bertahanlah sebentar lagi bantuan akan segera tiba!. Bara merintih kesakitan memegang kuat tangan Gea cukup lama. lambat laun genggaman tangannya mulai lemah.


” Tuan!!. tuan.. pak kenapa dia tidak bergerak!. Gea panik mendapati Bara tidak bergerak lagi tubuhnya tiba-tiba lemas. ” Nona anda tenang dulu, dia hanya pingsan, tadi dia bergerak karena merasakan pedih di lukanya”. Mendengar penjelasan dari pria itu Gea sedikit tenang.


” Gimana dia bisa mendapatkan luka seperti itu nona?” Tanyanya. Gea menceritakan semuanya kepada pemburu itu. Tidak lama terdengar suara helikopter.


" Akhirnya bantuan datang, Bara segera di bawa ke helikopter bersama Gea. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Bara di bawa keruangan UGD.


Gea terus menguatkan Bara agar bertahan. Bara mulai siuman tubuhnya sangat lemah, Bara melihat wajah Gea sangat dekat dengannya. Bara ingin sekali menyentuhnya namun tenaganya tidak kuat.


” Nona, pasien akan di operasi tolong tunggu diluar!” Pinta dokter. Bara tidak ingin Gea keluar, tangannya di genggamnya dengan kuat!.. Gea yang sadar ia tau kalau Bara butuh dirinya. " Dok saya mohon, biarkan saya tetap disini?” Dokter pun setuju.


Operasi segera dilakukan . Bara pingsan namun tangannya masih memegang tangan Gea. ” Tuan aku bingung dengan perasaanku saat ini” Batin Gea sedih.


2 jam berlalu operasinya selesai. Bara melepaskan tangannya. Rasa lelah mulai terasa, Gea tidur di samping tempat tidur Bara.


*****

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Aksan bersama polisi sudah bersiap. Tidak lama Mobil Bara masuk ke Apartemen Karisa. Aksan melotot melihatnya. " Apa jangan² Bara terlibat!. Namun dugaan salah yang turun bukan Bara tapi pria lain.


Pak Rey segera masuk ke gedung apartemen. ” Sepertinya itu Rey!. Saut polisi. ” Itu mobil teman saya pak, kenapa mobilnya ada di dia?” Aksan bingung. " Lebih baiknya kita ikuti aja mereka.


30 menit kemudian Karisa dan Pak Rey keluar dari loby dan masuk ke mobil Bara. Mereka melajukan mobilnya pergi.


Cukup lama mereka berhenti di sebuah supermarket tidak lama Pak Ripan dan putrinya masuk ke dalam mobil. ” itu pamannya Gea dan perempuan itu putrinya, sepertinya mereka kerja sama. Kata Aksan.


” Aku pikir kamu pakai mobil biasa?" Saut Jena. " Ini mobil Bara, saya sengaja membawanya agar tidak ada yang curiga!. jawab Pak Rey. ” Benar kata ayah pria ini memang licik, dulu aja berpihak pada Bara sekarang ingin kerja sama. Batin Jena. Pak Ripan dan putrinya hanya saling melihat.


” Rey, saya sudah bawa sertifikat atas pengalihan pengelolaan perusahaan tripani, setelah saya mendapatkan tanda tangannya terserah kalian mau di apakah wanita itu!. ucap Pak Ripan.


” Gimana soal bayaran untuk mereka?” Tanya pak Pak Rey. " tenang saja saya sudah menyiapkan uangnya!". Jawab pak Ripan sembari tersenyum licik. " Enak aja gua harus ngeluarin uang banyak cuma minta tanda tangan" Batin Pak Ripan.


Semuanya turun, mobil Dahlan masih ada di belakang mobilnya berhenti lumayan cukup jauh. Dahlan turun lebih dulu mengikuti mereka.


Pak Ripan melihat ke arah belakang. " Sayang ayo, ngapain kamu berdiri di situ?" Tanya Pak Ripan melihat Jena membeku tidak bergerak.


" Ayah, aku gak mau masuk ke hutan itu, coba ayah lihat sendiri jalananya kotor dan banyak nyamuk!. Mendengar anaknya ngeluh Pak Ripan menghampirinya. ” Bukannya kita sepakat setelah Gea tanda tangan kita tidak ada urusan lagi sama mereka!. Mendengar perkataan ayahnya Jena mulai melangkahkan kakinya lagi.


Pak Rey dan Karisa hanya berdecak kesel mendengar keluhan Jena yang manja sepanjang jalan. Dengan suara Jena Dahlan bisa mengikuti mereka ke dalam hutan.

__ADS_1


Sampai di bangunan tua. Mereka segera masuk kedalam. Pak Rey melotot melihat keadaan anak buahnya tergeletak di lantai. Ia segera mengeceknya. ” Bangun kalian!!” Teriaknya. Kedua pria itu membuka matanya.


Tubuhnya babak belur. Karisa mencari Bara disekelilingnya. ” Kalian apakan Bara hah??" Teriak Karisa.


Pak Rey terkejut mendengar pertanyaan Karisa yang hanya peduli sama Bara. Pak Ripan dan Jena hanya menyimak.


” Pria itu memukuli kami tuan sampai babak belur dan mereka kabur!. Jawabnya sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. ” Dasar bodoh!!,” Pak Rey mengeluarkan pistolnya.


” Bara akan jadi tersangka jika kalian mati bukan?” Melihat Pak Rey mengeluarkan pistol semuanya terkejut. ” Tuan ampuni kami, kami akan segera mencarinya. Kedua pria itu memohon ampun.


” Kalian jangan bergerak letakan pistol anda!!. Polisi sudah mengepungnya. Semuanya terkejut melihat polisi datang tiba-tiba. Jena dan Pak Ripan panik hendak pergi namun Aksan dan Dahlan segera menghadangnya.


Aksan langsung memberikan bogem mentah kepada Rey. ” bruag” Pak Rey terjatuh. ” Di mana Gea hah??” Tanya Aksan dengan amarahnya. Karisa ketakutan melihat aksan marah seperti itu. Pak Rey terseyum licik. ” Wanita ****** itu sudah mati kali!. Mendengar hinaannya Aksan hendak memukulnya lagi. Dahlan mencegahnya. ” Tuan jangan kotorin tangan anda demi manusia sampah seperti dia!.. Aksan melepaskan tangannya dari Dahlan.


” Aku gak tau Aksan!. Jawab Karisa takut karena Aksan memandanginya. Aksan hanya mengepalkan tangannya saja. " Bawa mereka pak, dan jebloskan mereka kepenjara!!. kata Aksan.


Polisi segera membawanya. ” Saya tidak bersalah pak, saya kemari hanya ingin melihat ponakan saya" Saut pak Ripan . Jena juga sama bilang kepada polisi jika dia tidak bersalah. Tetap aja polisi menyeretnya ” Pak nona Gea sudah melarikan diri, dan tadi saya dengar ia dibantu seseorang bernama Bara!” Aksan melongo mendengarnya. " Sepertinya diantara mereka terluka tuan!. Polisi melihat ada darah mengering di lantai.


” Mungkin tidak jauh dari sini kita harus mencarinya!. kata Aksan. Semua bergegas mencari Gea ke hutan.


” Gea.... Gea..." Aksan memangilnya sembari teriak.

__ADS_1


*******


Bersambung jika suka tolong bantu like dan VOTE terimakasih 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2