
Tapi mata Zeje tiba-tiba tertuju pada sebuah lukisan.
Zeje memperhatikan lukisan itu dengan seksama "kenapa lukisan ini mirip dengan wajah ku"batin Zeje.
Farel yang melihat istri nya memperhatikan lukisan tersebut, langsung menghampiri Zeje dan tersenyum.
"sayang apa kamu mengenal lukisan itu?"
"ini seperti wajah ku mas" jawab Zeje masih melihat lukisan itu.
"itu memang wajah mu sayang, mas sendiri yang melukis nya saat pertama kali kamu datang ke rumah ini" jawab Farel tersenyum.
"sejak kapan mas pandai melukis?
"sebenar nya dulu mas pernah belajar melukis dari seorang seniman, tapi setelah seniman itu meninggal, mas tidak pernah lagi datang ketempat itu. Mas hanya belajar sendiri dan saat mas mulai bekerja diperusahaan, mas tidak pernah lagi memegang kuas. Tapi entah kenapa saat melihat kamu, mas ingin sekali melukis wajah kamu" jawab Farel.
"lukisan nya bagus, apa sekarang mas masih bisa melukis?"
"mas tidak tahu, karena ini lukisan mas yang terakhir sebelum kejadian naas itu menimpa mas" jawab Farel.
"aku bangga sama kamu mas, ternyata kamu laki-laki yang serba bisa"
"mas juga bangga sama kamu, kamu itu istri yang hebat buat mas"
"ayo mas kita keluar, aku sudah ngantuk"
"ayo sayang, tapi sebelum tidur, kasi ininkan mas mengunjungi dedek bayi dulu ya" kata Farel mengedip kan mata nya.
"iya, mas boleh kok mengunjungi dedek bayi nya" kata Zeje tersenyum.
Maka malam itu pun berakhir dengan erangan dan ******* kenikmatan dari mereka yang sedang memadu kasih. Walau pun sedang hamil besar, Farel sangat berhati-hati saat menyentuh istri nya itu. Malam itu berakhir sangat panjang bagi mereka berdua.
Pagi itu Farel sengaja datang terlambat ke kantor. Dia masih merasa lelah, maka nya Farel mengutus Andri mengganti kan nya rapat pagi itu. Zeje sudah selesai mandi dan memakai baju santai, sedang kan Farel masih tertidur pulas. Zeje gak tega membangun kan suami nya, maka Zeje memutuskan untuk turun kebawah menuju meja makan.
"bik, kok sepi yang lain pada kemana? Tanya Zeje setelah sampai di dapur.
"eh non Zeje, nyonya dan Tuan sudah pergi sedang kan Manda sudah berangkat kesekolah" jawab bibik.
"emang nya mama dan papa kemana bik?"
"nyonya pergi kebutik , sedang kan Tuan pergi ke kantor cabang non"
"oh gitu ya bik, oh ya bik temani aku makan dong, gak asik makan sendiri"
__ADS_1
Bibik pun duduk di kursi sebelah Zeje menemani Zeje makan. Sedang kan bibik hanya minum teh saja karena dia sudah serapan.
Selesai serapan Zeje berniat membantu bibik tapi suara bel terdengar di depan seperti nya ada yang datang.
"ting tong ting tong"
"bik seperti nya ada yang datang"kata Zeje.
"iya non, biar bibik lihat dulu"
"gak usah bik, bibik terusin aja kerjaan nya, biar saya yang lihat siapa yang datang" kata Zeje lalu bangkit dari duduk nya.
Zeje pyn berjalan perlahan menuju pintu depan.
"kamu, ada apa pagi-pagi kesini? Kata Zeje melihat siapa yang datang.
"hai..saya mau bertemu dengan tante Sofi" kata Delia melenggang masuk tanpa dipersilah kan.
Zeje yang melihat tingkah laku Delia yang tak sopan hanya menggeleng kan kepala.
"mama gak ada, mama sudah pergi dari tadi"
"oh gitu, bagus lah jadi aku bisa berbicara dengan mu" kata Delia sembari duduk di sofa.
"gak ada sih, cuma ingin ngobrol saja. Enak juga sofa nya empuk, kira-kira gimana rasa nya jadi nona muda di keluarga ini. Munkin sangat asik ya, memiliki harta banyak, memiliki uang banyak dan suami yang tampan. Coba saja aku yang berada di posisi mu munkin hidup ku akan menjadi indah"
Kata Delia tanpa rasa malu.
"oh tentu dong, menjadi salah satu dikeluarga Wijaksana menjadi salah satu keberuntungan buat ku. Mertua baik, harta berlimpah, dan suami yang tampan dan sangat memanjakan ku. Ku rasa semua wanita di luaran sana juga mengingin kan posisi ku, tapi sayang nya mereka tidak seberuntung diri ku"jawab Zeje dengan santai.
"kamu benar, salah satu wanita itu adalah aku, apa kamu tidak takut jika suami mu berpaling ke arah ku?"
"kenapa aku harus takut, silah kan ambil jika dia mau dengan mu. Tapi ku rasa suami ku tidak tertarik dengan diri mu" kata Zeje memindai tubuh Delia dari atas sampai bawah"
"haha..kamu sangat yakin dengan ucapan mu, apa kamu tidak tahu jika suami mu itu pernah tidur dengan ku? Kata Delia mengarang cerita agar Zeje merasa terbakar api cemburu.
"oh ya, aku baru tahu dan baru dengar. Apa mas Farel juga menyentuh mu, aku tidak yakin jika mas Farel menyentuh sembarang wanita, apa lagi wanita itu diri mu"
"ternyata kamu wanita naif juga ya. Mana ada laki-laki yang mau ngaku jika dia sudah pernah tidur dengan wanita lain. Bahkan tubuh suami mu itu sudah pernah aku nikmati" kata Delia tersenyum mengejek.
"bagus dong kalau kamu sudah pernah menikmati tubuh suami ku, bearti sekarang kamu tidak perlu lagi untuk merasa kan nya kan"
"kamu..."Delia tidakelanjutkan ucapan nya.
__ADS_1
"sayang, mas dengar ada suara ribut-ribut" kata Farel yang turun dari kamar tapi dia tidak meliahat Delia yang sedang duduk. Karena Delia membelakangi Farel.
"mas, kamu sudah bangun?"
"ya sayang, mas sangat lelah setelah melahap kamu. Kamu itu sungguh menggoda" kata Farel.
"oh ya, apa mas juga akan tergoda dengan wanita lain jika ada perempuan yang datang untuk menggoda mas?
"tidak sayang, mas tidak akan tergoda dengan wanita lain. Bahkan menyentuh wanita lain saja mas gak pernah" jawab Farel dengan serius.
"menyentuh sih gak pernah, kalau tidur dengan wanita lain pasti pernah kan" kata Zeje sambil membenarkan dasi suami nya.
"sayang, kenapa kamu bicara seperti itu? Mas berani sumpah demi Allah mas gak pernah menyentuh wanita lain apa lagi sampai tidur dengan nya. Hanya kamu perempuan satu-satu nya yang sudah mas tiduri sampai perut nya besar seperti ini"
Delia yang mendengar ucapan Farel, merasa cemburu. Apa lagi saat ini Farel sedang merangkul istri nya dengan mesra.
"sayang, siapa yang datang?"
"tuh, tamu gak di undang" kata Zeje
Farel langsung melihat kearah yang di tuju Zeje.
"Delia, ngapain kamu di sini?" kata Farel langsung merubah wajah nya datar.
"Farel, aku hanya ingin ngobrol dengan istri mu, kebetulan aku lewat dan mampir sekalian" jawab Delia memasang wajah manis.
"apa ngobrol nya sudah selesai, kalau sudah silah kan pergi dari sini"
"Farel, aku tuh kangen sama kamu, kenapa sih dari dulu kamu gak pernah melihat aku.
"karena tidak ada yang istimewa untuk dilihat dari diri mu"
"jadi apa istimewa nya wanita kampung ini dibandingkan diri ku? Kata Delia menunjuk Zeje"
"haha..dia istri ku tidak dapat di bandingkan dengan siapa pun. Karena tidak ada yang dapat menandingi keistimewaan nya termasuk diri mu. Biar pun dia wanita kampung seperti yang kamu kata kan, tapi dia sangat sangat bisa menjaga kehormatan nya. Dibandingkan dengan wanita sosialita seperti mu yang tidak bisa menjaga kehormatan nya. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang selama ini kamu lakukan. Aku juga tahu apa alasan mu sebenar nya kembali ke negara ini" kata Farel dengan wajah yang sangat garang.
"Farel, apa maksud mu, aku kembali hanya untuk mu"
"berhenti lah berpura-pura, lebih baik kau kembali ke keluarga mu, dan beri waktu dan perhatian buat anak semata wayang mu"
"ja..jadi..kau..
"ya aku sudah tahu semua nya. Ku peringat kan pada mu jangan ganggu rumah tangga ku, apa lagi berencana mencelakai istri ku jika kau masih sayang dengan nyawa mu"
__ADS_1
Mendengar ucapan Farel, Delia tidak berkutik. Bahkan dia merasa sudah dipermalu kan. Delia pun memutuskan untuk pergi dari kediaman Wijaksana.