
...BAB 10...
...Permintaan Sindy...
"Sin, Sindy?! Siapa dia?" Dika mengelak pura-pura tak tahu.
Vira tersenyum miris. "Mas, sudahlah tak perlu menutupinya lagi. Apakah benar? Diam-diam Mas punya kekasih di belakangku?" tanya Vira yang kini kedua maniknya berkaca-kaca menatap suaminya.
Dika kesulitan menelan ludahnya. Memalingkan wajahnya yang kini telah memucat sebab pertanyaan Vira padanya.
"E, em... Apa maksud pertanyaanmu Vira. Bagaimana bisa kamu berpikir itu tentangku? Siapa Sindy? Aku sama sekali tidak kenal dengan yang namanya Sindy! Mungkin kamu salah dengar waktu di telepon..." sangkalnya lagi. Dengan langkah santainya Dika menghampiri Vira lalu mengusap sisi kedua bahu istrinya. Menatap lekat manik pemilik bulu lentik itu.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi ya... Mungkin saat itu kamu sedang kecapean, dan berhalusinasi jadi seolah-olah mendengar nama emm...Siapa tadi?!" tanyanya lagi mengernyitkan dahinya dan merapatkan mata seperti berpikir, pura-pura lupa. Vira menghembus kasar.
"Sindy..." jelasnya dengan nada yang tinggi
"Ah ya itu, benar. Sindy!" Dika mengangkat telunjuk membulatkan bola matanya setelahnya dia menggeleng-geleng kepala, menarik tangan istrinya dan membawanya dalam dekapannya.
"Kamu hanya perlu istirahat yang banyak, jadi tak mendengar lagi hal-hal aneh." pesannya. "Mas pergi dulu sebentar ya. Setelah mengantar teman, Mas janji akan langsung pulang lagi. Oke..." Dika tersenyum semanis mungkin untuk menghilangkan kekhawatiran pada Vira. Merangkup kedua pipi Vira. Lalu kembali memeluknya hangat.
Vira hanya bergeming dengan tatapan lembut Dika padanya tadi. Seketika itu ia jadi tak berkutik, saat Dika memeluknya penuh kasih sayang sembari mengusap-ngusap punggungnya, menenangkan hatinya yang masih bergejolak menahan amarah. Setelahnya Dika pun pamit pergi.
Tak lama kepergian Dika, Vira terduduk menghempas pinggulnya di tepi kasur dan mencengkram spreinya, mengeluarkan air mata yang sempat tadi terbendung.
"Kenapa kamu membohongiku Mas? Sebenarnya kamu anggap apa aku ini? Aku tidak buta dan tuli Mas Dika! Aku jelas-jelas melihatmu bergandengan tangan dengan wanita lain dan menyebut nama Sindy di telepon tadi..." lirihnya terisak pelan, mengusap wajahnya yang sudah basah dengan air matanya.
*****
Tiiiiiiddtt...
Suara klason mobil Dika mengejutkan Sindy yang tengah berdiri di samping Vicky yang sedang berjongkok di sisi mobil dekat ban yang bocor di sana.
Sindy menoleh, senyumnya yang melebar semakin manis di lihat.
"Sayaanng..." serunya. Wanita itu berlari kecil menghampiri mobil Dika.
"Hai....Sin, Vick! Ada apa dengan mobilmu?" tanyanya setelah dia turun dari mobil. Sindy pun menyambut Dika dengan menggelayut manja di lengannya. Mereka pun menghampiri Vicky.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat bannya tiba-tiba saja bocor." sahut Vicky menunjuk ban mobilnya, lalu lelaki itu beranjak seraya merentangkan punggungnya yang sudah pegal karena dari tadi berjongkok untuk melihat kondisi bannya.
"Apa sudah menghubungi tukang derek?" tanya Dika mengangkat dua alisnya.
"Sudah ini masih di perjalanan..."
"Oke kalau begitu, mari saya antarkan pulang" tawarnya pada Vicky dan Sindy.
"Tidak perlu aku akan menunggu dulu sampai tukangnya datang. Kamu tolong antarkan pulang Sindy saja. Tapi jangan sampai bawa adikku kemana-mana!" pesan Vicky sambil menunjuk tegas wajah Dika di sana. Dika tersenyum kaku, dan mengangguk-angguk.
"Tidak perlu khawatir. Aku pasti antar pulang adikmu dengan selamat sampai tujuan." ucap Dika terkekeh kecil seraya mengusap tengkuknya yang sedikiy berkeringat.
"Ayo cepat..." Sindy menarik tangan Dika tak sabar ingin masuk mobil.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan Vicky sendirian di sana. Vicky mengambil gawainya di mobil dan menelepon seseorang.
"Dam, tolong antarkan motor sportku..." titahnya pada asistennya.
****
Hampir satu jam lebih mereka telah sampai rumah Vicky. Keduanya masih betah duduk bersampingan di dalam mobil. Sindy yang tak pernah lepas menyenderkan kepalanya di bahu Dika. Sementara Dika yang tak bosan terus mengecup mesra tangan dan jari-jari lentik Sindy yang putih bersih. Lalu keduanya berhadapan dan saling menatap lekat.
"Aku juga sayangku..." balas Sindy. "Maaf ya... Aku tak bisa menemanimu makan malam di hari ultahmu. Kau tahu sendiri kan Kak Vicky! d
Dia tak mengijinkanku lama-lama dengan lelaki yang belum sah menikahiku." renggutnya.
Dika menggeleng pelan seraya menyelipkan helaian rambut Sindy ke belakang telinga.
"Tidak apa aku mengerti kok! Kakak sepupumu sangat posesif sekali. Hahaha aku sampai tak bisa bernafas jika berdekatan dengannya." keruh Dika membuat Sindy melotot dan ikut terbahak.
"Dia memang orangnya sangat kaku. Tapi walaupun begitu, Kak Vicky lelaki yang baik dan setia..." ucap Sindy yang mengagumi saudara sepupunya. Dika mengangkat satu alisnya tak percaya.
"Masa sih?!" peliknya meremehkan.
"Iya, buktinya saja sampai saat ini Kak Vicky belum juga menikah dan ternyata dia ingin menunggu kekasihnya yang tak tahu sekarang gimana keadaannya?" ujar Sindy dengan helaan nafasnya. Sindy menoleh lagi pada Dika.
"Dia so sweet sekali bukan?! Aku yakin kalian berdua akan akrab jika sudah saling mengenal." ujar Sindy.
__ADS_1
Dika menggedikkan bahunya. "Aku tak terlalu yakin soal itu..." cebiknya.
"Sayang... please deh, Kak Vicky itu sudah seperti kakak kandungku sendiri. Dia yang bantuin aku nguliahin sampai lulus wisuda. Papa ku sakit dan tak bisa lagi bekerja mencari uang setelah aku lulus SMA. Sedangkan Mamaku hanya Ibu rumah tangga biasa. Kak Vicky lah yang banyak berjasa padaku. Jadi setidaknya kamu mau mengakrabkan diri dengannya..."
"Baiklah akan ku coba itu. Tapi aku tidak janji ya..." sahutnya dengan senyum terpaksa.
"Nah gitu dong sayang..." Sindy mengulas senyum manis di bibirnya, sehingga deretan giginya nampak. Semakin cantik terlihat.
Dika yang melihatnya jadi tergoda lalu mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan bibir mereka.
Keduanya kini terhening, saling menikmati benda kenyal yang terpaut. Hanya suara kecapan-kecapan yang terdengar.
"Sayang... Kapan kau akan kenalkan aku pada orangtuamu? Katanya dulu kamu ingin ngenalin aku pada mereka." tanya Sindy tiba-tiba, setelah mereka selesai melampiaskan nafsu dengan pelukan dan ciuman panas yang cukup memakan waktu.
Dika jadi tergugup gelisah, melepas cepat tangannya yang tadi betah bersemayam di pinggang ramping milik Sindy.
"Em, sabar ya sayang, aku pasti akan mengenalkanmu. Tapi tidak untuk waktu dekat ini. Sebenarnya kedua orangtuaku sedang tidak berada disini. Mereka pergi ke luar kota untuk beberapa bulan lamanya. Karena ada urusan keluarga." elaknya yang lagi-lagi Dika pintar berdusta.
Sindy merenggut, menghempaskan punggungnya di bangku samping kemudi. Lekas ia mendekap dua tangan di dadanya.
"Huuft baiklah aku tunggu sampai kedua orangtuamu pulang." cebiknya seraya mendelikan matanya pada Dika. "Tapi kamu janji ya, setelah aku bertemu mereka kamu akan langsung melamarku. Aku tak ingin lama-lama menjalani hubungan tanpa ada ikatan pernikahan ini. Aku sudah tak sabar ingin menjadi istrimu." ujar Sindy mengangkat satu sudut bibir merahnya.
"Benarkah kamu sudah tak sabar ingin menikah denganku? Dulu saja kamu melarang aku ketemu kedua orangtuamu!" timpal Dika.
"Ya... Itu kan dulu sekarang lain lagi. Dulu kan aku belum lulus kuliah, aku khawatir Mama dan Papaku tak menyetujui aku pacaran dulu. Sekarang kan aku sudah lulus. Jadi kita jalani hubungan yang serius..."
Dika menggaruk alisnya dengan jarinya.
"Iya sayang, tunggu waktu yang tepat ya... Aku pasti akan melamarmu secepatnya. Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu."
"Janji ya sayang..." Sindy tersenyum senang lalu merebahkan kepalanya di dada Dika.
Dika mengangguk kikuk. Kini di hatinya tengah bingung dengan apa yang akan di rencanakannya nanti.
Bersambung....
...*****...
__ADS_1
Jangan lupa like dan beri komentar yaa biar author semakin semangat lanjutin kisah mereka... ❤️❤️❤️ terimakasih...