
...BAB 68...
...Perhiasan Yang Dijual...
"Apa yang sudah kalian bicarakan tadi saat aku ke parkiran?" tanya Vicky lembut. Ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Entah mengapa perasaannya jadi tak tenang, ketika tadi Dika meminta istrinya untuk selalu mengunjungi rumah mantan mertuanya. Vicky merasa itu hanya akal-akalannya Dika saja, agar bisa lebih leluasa mencuri hati Vira lagi, atau rencananya untuk bisa merebut Aqilla dari Vira.
"Kami hanya membicarakan Aqilla, katanya Mama Diana ingin bertemu Aqilla Mas... beliau kangen berat."
"Emm, tidak ada hal lain lagi 'kan?!" selidiknya lagi penuh kekhawatiran.
Vira menggeleng tersenyum ke arahnya. "Tidak Mas,.." Vira lebih baik bungkam soal Dika yang menuduh suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain. Entah mengapa perasaan Vira begitu yakin, jika yang di lihat di foto itu tidaklah benar.
"Mas..."
"Hem..." Vicky menoleh sekilas. "Ada apa?" tanyanya. Vira tergugup, sedikit ragu untuk menanyakannya.
"Em, tadi Mas lama banget ke toilet? Apa lagi sakit perut atau gimana gitu?" tanya Vira dengan hati-hati, agar tak menyinggung dengan pertanyaan anehnya.
Vicky menoleh sebentar lalu kembali memandang fokus ke depan.
"Oh, tadi Mas tak sengaja bertemu Riska di depan toilet. Dia ingin mengajakku ngobrol sebentar, tapi aku bilang terburu-buru karena istri dan anakku sedang menungguku..." jawabnya jujur.
"Riska?! Siapa dia?" Vira mengernyitkan dahinya, pura-pura tak mengenalnya. Vicky tersenyum lagi pada Vira.
"Dia wanita yang aku tolak ketika perjodohan kami dulu. Wanita yang selalu di agung-agungkan oleh Sophia..." jelasnya. "Aku tolak dia demi dirimu..." lanjutnya lagi, dengan senyumannya yang semakin lebar menatap istrinya. Vira melebarkan matanya, lalu mengulum senyumnya tersipu.
"Ohh yaa,.." Terdengar helaan nafas lega dari Vira, Vicky pun meliriknya heran.
"Kenapa senyum-senyum?"
Vira yang ketahuan pun jadi salah tingkah. "Aah tidak kok..." ujarnya menggelengkan kepala, perlahan kepalanya ia senderkan di bahu suaminya.
"Mas..." manjanya.
"Ya sayang..."
"I love you..." ocehnya pelan, menutup wajahnya yang kini sudah memerah.
Vicky pun terkekeh setelah mendengarnya, lalu menggosok-gosok puncak kepala istrinya dengan sisi pipi kirinya hingga rambutnya Vira sedikit berantakan. Karena kedua tangannya masih mengendalikan setir mobil.
"I Love you too..." balasnya cepat, seraya mengusap sekilas pipi Vira yang kian berisi.
Seperti banyak bunga yang bermekaran di hatinya Vira saat itu. Vira mulai lega setelah mendengarnya, selama yang ia tahu Vicky tak pernah menyembunyikan apapun darinya, ini sudah cukup membuktikan kalau dia selalu berkata jujur dengan perkataannya. Jawaban Vicky memuaskan hati Vira, dia semakin percaya bahwa suaminya itu tidak akan pernah bermain hati di belakangnya. Trauma pernikahan di masalalunya bersama Dika, cukuplah ia jadikan pelajaran, dan Vira berharap kesakitan itu tidak akan pernah lagi terjadi.
Vicky menepikan sejenak mobilnya.
"Kenapa mobilnya berhenti?" tanya Vira heran.
"Aku lupa sesuatu."
"Lupa ap_?" ucap Vira terhenti karena Vicky dengan cepat membungkam mulut istrinya dengan bibirnya.
__ADS_1
"Ini..." selanya, Vicky meraup belakang kepala Vira, lalu kembali menciumnya dengan rakus dan lama. Hingga nafas Vira pun terasa sesak di rasa. Pelan Vicky melepas pagutannya, lalu menatap lekat-lekat manik hitam istrinya. "Malam ini, bersiaplah..."
"Ber-siap apa?" tanya Vira seraya membuang nafasnya yang sudah ngos-ngosan.
"Bikin baby..." celetuknya yang sudah tak lagi menahannya has-ratnya, beberapa kali Vicky mencumbui istrinya tak pernah puas.
"Aahh iya sabar-sabar, masss..." pekiknya meronta-ronta, sontak membuat Aqilla terbangun dan ngelindur.
"Unda.. Ayaah...Huuhuu...!" tiba-tiba saja tangisnya pecah karena merasakan mobilnya berguncang hebat karena ulah mereka.
"Mas, tuh kan Aqilla jadi bangun!" gerutunya sambil memukul-mukul pelan dada suaminya. Vicky hanya terkekeh-kekeh dengan wajah tanpa berdosanya. Vira menoleh ke belakang kemudi lalu mengulurkan tangannya meraih Aqilla, yang barusan tertidur di belakang kemudi dengan kasur kecil, khusus untuk Aqilla tidur bila sedang berpergian
"Oh, sini sayang.... Bunda di sini..."
Aqilla terus menangis dan langsung menghambur merangkul leher Vira.
"Cup cup cup bobo lagi ya sayang..."
"Iya kalau nggak bobo nanti Ayah dan Bunda nggak bisa buat adek buat kamu,." celetuk Vicky yang lekas lengannya di cubit oleh Vira.
"Apa sih Mas??"
Vicky terkekeh-kekeh lagi, dia pun lekas kembali menyetir dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
****
Dika baru saja sampai Apartemennya, namun dia tak melihat keberadaan Sindy, hanya ART nya saja yang terlihat sibuk menyetrika pakaiannya dan juga Sindy di ruang televisi.
"Oh Non Sindy, Tuan?! Tadi katanya mau keluar sebentar." jawabnya seraya menghentikan dulu sebentar aktivitasnya.
"Keluar? Apa dia tidak bilang mau keluar kemana?" tanya Dika lagi, si bibik hanya menggeleng tak tahu.
"Tidak Tuan," dahinya mengernyit. "Katanya Nyonya sih, hanya keluar sebentar saja." sahutnya lagi.
Dika menghembus nafasnya kasar, semakin hari dia semakin bosan saja menjalani pernikahannya dengan Sindy. Entah mengapa, dulu dia begitu sangat berambisi untuk menikahinya, tetapi setelah kian lama di jalani lambat laun rasa cinta itu seolah terkikis perlahan-lahan di hatinya.
Selain sikap istrinya yang egois, Sindy pun tak pernah sekalipun memenuhi segala kebutuhannya layaknya seorang istri. Dika mencoba bersabar dengan perilakunya, selain itu dia juga ingin memberinya kesempatan untuk berubah, namun nyatanya tak ada perubahan sama sekali dengannya. Hampir dua tahun ini Sindy tetap menolak mempunyai anak. Diana pun semakin jengah dengan perilaku menantunya tersebut, malah pernah meminta Dika untuk menceraikan istrinya dan mencari istri baru. Namun keinginan Diana belum di ketahui Sindy. Dika hanya tak ingin membuat hati Sindy terluka dengan ucapan Diana, mesti Sindy sudah membuatnya kecewa.
Hampir dua bulan lamanya setelah pertengkaran itu. Sindy pun enggan melayaninya lagi, di dalam batinnya Dika benar-benar sangat tersiksa dengan ulahnya.
Dika gegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi, lalu melakukannya sendiri seperti biasanya. Dia pun menghela nafasnya terengah-engah, rasa lega setelah selesai mengeluarkannya walau dengan usaha tangannya sendiri.
Entah kenapa melihat Vira tadi, pikirannya jadi kotor teringat akan kebersamaannya dengan mantan istrinya tersebut. Wajah dan tubuh Vira seakan terus menempel di dalam ingatannya.
"Aahh, kenapa dia semakin cantik saja, dan tubuhnya begitu berisi..." pekiknya geram seraya melempar handuk kecilnya di atas kasur, seakan hidupnya menyedihkan sekali.
Dika lekas menepis pikirannya, lalu berjalan mendekati lemari dan membukanya, mengambil piyama tidur berwarna birunya yang tergantung. Namun sekilas ia pun melirik bagian bawah lemarinya, tak nampak kotak hitam yang selalu dia simpan di sana.
Dika pun lekas berjongkok dan menyingkap helaian-helaian baju yang tergantung menjulur ke bawah. Maniknya semakin melebar saat tak lagi melihat kotak hitam itu di sana.
"Di-dimana kotak perhiasanku?! Ha, dimana kotak itu!!" gelagapnya. Dika membanting pintu lemari lalu segera memakai piyamanya sambil berteriak memanggil-manggil ARTnya.
"Bikkk Bibiiikk!!"
__ADS_1
Tak berapa lama wanita paruh baya yang memakai ciput abu-abu itu menghampiri di depan pintu kamarnya Dika.
"Ya, ada apa Tuan?!" tanyanya panik.
"Siapa yang membuka-buka lemari bajuku?! Siapa??" sentaknya bertanya sambil menunjuk ke lemarinya. Wajahnya memerah padam setelah tahu kotak perhiasannya telah hilang.
"Ah em... Ta-tadi Nyonya Tuan, saat itu saya hanya di suruh beresin pakaian Tuan yang berantakan." jawabnya dengan jujur.
"Sindyy!!" geramnya, dengan tangan terkepal kencang.
"I-iya Tuan..." jawabnya terbata-bata.
****
"Sudah ya Ma, Sindy udah kirim 20 juta barusan ke rekening Mama. Ini terakhir loh, Sindy berikan segitu... Seterusnya Sindy hanya bisa kasih 2 juta saja. Karena Mas Dika sekarang hanya memberikan setengah gajinya untukku setiap bulan..."
["Iya sayang tak apa-apa Mama mencoba mengerti, tapi ngomong-ngomong kamu dapat darimana uang sebanyak itu Nak?"] selidiknya yang ingin tahu.
"Ada deh Mah, Mama gak perlu tahu soal uang itu. Yang terpenting hari ini Mama bisa bayar hutangnya Papa yang belum lunas di Bank, terus biasakan Mama juga jangan boros-boros lagi memakai keuangan... Sindy juga kan yang repot nyarinya..."
Terdengar helaan nafasnya Ria di seberang telepon, lalu dia pun pasrah dengan permintaan putrinya.
"Ya sudah kalau begitu, Mah... Sindy tutup dulu ya teleponnya. Lain kali di sambung lagi."
["Iya sayang..."]
Setelah menelepon Mamanya, Sindy lekas turun dari mobil yang sudah dia parkirkan di basement. Lalu melangkah menuju lift. Sindy tahu mungkin saat ini Dika sudah pulang dan menunggunya.
Setelah sampai, dan membuka pintu. Bersamaan itu juga ARTnya keluar membuka pintu. Hendak pamit pulang, karena pekerjaan menyetrikanya telah selesai.
"Eh, Nyonya..." gelagapnya terkejut.
"Bik, apa Tuan udah pulang?"
"Sudah Nyonya, Tuan sekarang ada di kamar sedang nunggu Nyonya pulang. Ya sudah saya permisi pamit pulang dulu ya Nyonya, besok saya kemari lagi..." ujarnya dengan wajah pucat, seolah ketakutan.
"I-iya..." Sindy pun perlahan menutup pintunya setelah Assisten rumah tangganya pergi. Tak berapa lama Dika muncul dari belakangnya.
"Darimana saja kamu, hah?!" bentaknya, Sindy pun terperanjat, lalu menoleh ke belakang.
Kali itu dia di sambut dengan tatapan nyalang Dika. Tampak wajah Dika tidak sedang baik-baik saja. Seolah ingin meluapkan lahar panas padanya. Sindy mengatur nafasnya agar tak nampak tegang.
"Aku hanya keluar sebentar kok, cari angin..." ucapnya acuh, lalu melangkah melewati Dika, namun dengan cepat Dika menahan tangannya.
"Sini kembalikan itu!" pintanya
"Kembalikan apa sih Mas?" Sindy berpura-pura heran.
"Aku bilang kembalikan kotak perhiasan yang telah kau ambil dari lemariku!" bentaknya lagi kasar.
Bersambung....
...****...
__ADS_1