
...BAB 18...
...Hal Yang Wajar...
"SINDY!!!" sentaknya kencang yang membuat kedua pasangan itu terkejut. Terlebih mereka sedang melakukan ciuman panas di tepi kasur hingga bahu putih Sindy terekspos jelas terlihat.
Walaupun mereka masih berpakaian lengkap namun tetap saja Vicky tak menyukainya. Apalagi yang di lakukan Sindy adalah hal yang memalukan, membiarkan lelaki yang belum sah menjadi suaminya di dalam kamarnya sendiri. Jelas itu salah dan melanggar agama.
Bagaimana kalau sampai kedua orangtua Sindy tahu, jika perilaku putrinya sendiri seperti ini setelah dia tinggal di Jakarta. Sebelum Sindy pergi ke Jakarta atas permintaan orangtuanya sendiri. Papanya sudah berpesan dan menitipkan Sindy terlebih dahulu pada Vicky, untuk menjaga dan mengawasi baik-baik putrinya. Melihat Sindy bersama Dika jelas membuat amarah Vicky memuncak. Sebagai kakak sepupunya yang menggantikan sosok Ayah Sindy di sini, Vicky berhak memperingatkan Sindy. Khawatir adiknya terjerumus pada hal-hal yang tidak dia inginkan.
"Apa yang sedang kalian lakukan di dalam kamar berduaan heh?!" sentaknya geram, pada Dika dan Sindy bergantian, dengan tatapan tajam bak seekor singa buas yang siap menerkam buruannya.
Sindy buru-buru menaikan pakaian di bahunya yang tadi terbuka, serta merapikannya lagi.
"Vi-Vicky aku .." ucap Dika terbata-bata gugup, gegas ia menghampiri Vicky.
Tampak dua kancing depan kemejanya Dika juga sudah terbuka. Kedua manik Vicky semakin lebar menyalang melihatnya.
"Keluar! Keluar kau!" titahnya lugas. Menarik kasar kemeja Dika. Sindy menjerit menutup mulutnya panik, khawatir Vicky berbuat kasar pada kekasihnya.
"Kak aku yang menyuruhnya ke kamarku untuk ganti baju. Soalnya pakaian Dika basah, aku nggak sengaja numpahin minuman ke Dika tadi!" sela Sindy menahan tangan Vicky agar tak menyakiti Dika lagi.
Vicky pun menghempas kasar Dika keluar pintu kamar Sindy, hingga Dika terhuyung ke belakang membentur dinding.
"Vick, maaf.." Nafas Dika tersengal, ia beranjak dan kembali menghampiri Vicky ingin menjelaskan hal sebenarnya.
"Apa kau tuli? Keluar kataku!" usirnya dengan suara keras dan lantangnya Vicky mampu menggelegarkan seisi rumahnya yang luas. Belasan pelayan di rumah itu pun ikut terkejut takut, mendengar bentakan Tuannya dari bawah.
"Vick, ayo kita bicarakan ini baik-baik..." tawarnya.
Dika mencoba menenanginya, agar Vicky jangan dulu tersulut emosi. Dika tahu dari cerita Sindy, jika sikap kasar Vicky terjadi karena dampak trauma yang di alaminya di masalalu, kehilangan Mama kandungnya membuat dirinya sulit berteman dan akrab dengan siapapun. Jadi wajar saja jika dia akan marah pada sesuatu hal yang tidak dia sukai menurutnya.
Vicky menyipitkan matanya sinis pada Dika, mendengus kasar menahan geram. Namun akhirnya Vicky menuruti saran Dika.
"Baiklah, kalau begitu kalian berdua ikut denganku kebawah!" titahnya dingin dan tegas. Vicky melangkah panjang menuju ruang keluarga duluan, tak lama di ikuti oleh Sindy dan juga Dika di belakangnya.
Setelah beberapa menit mereka semua terdiam di sebuah ruangan. Dika dan Sindy berdiri bersampingan dengan kepala masih tertunduk malu dan takut. Sedangkan Vicky terduduk di sofa, menyilangkan kedua tangannya di dada serta kaki satunya di tumpu ke kaki satunya lagi. Kedua mata elangnya terus mengawasi mereka dengan wajah yang tak bersahabatnya.
__ADS_1
"Kak, sungguh kami hanya berciuman tidak lebih!" sahut Sindy membela diri. "Percayalah, ini tidak seperti sangkaanmu Kak Vicky..." yang kini suaranya melirih dan bergetar. Memohon pada Vicky agar tak memperpanjang lagi masalahnya.
"Sindy, apa kau pikir kakakmu ini bodoh? mana ada yang tahu kalian sedang melakukan apa sebelum-sebelumnya di belakangku? Aku tetap tidak percaya pada kalian berdua." tukasnya, Vicky tetap dengan pandangan tak suka pada Dika, yang kini lelaki itu masih bergeming di tempatnya berdiri, makin resah. "Dan kau Dika apa yang ingin kau jelaskan padaku tadi?!"
"Aku hanya ingin bilang, bahwa yang di katakan Sindy barusan memang benar adanya. Kami hanya melakukan hal biasa layaknya seperti orang berpacaran." sahut Dika sembari mengangkat kedua tangannya di samping untuk menjelaskan.
"Ah... Dan aku yakin sekali, kau juga pasti pernah merasakan masa pacaran sebelumnya seperti kami bukan?! Jadi... Menurutku ini sebuah hal yang wajar!" jelas Dika lagi tersenyum miring seraya mengangkat kedua bahunya bersamaan yang sekarang mencoba bersikap santai menghadapinya. Lalu kedua tangan kekarnya ia masukan ke dalam saku celananya.
Braakk
Vicky mendelik lantas dia menggebrak meja dengan keras hingga Dika dan Sindy tersentak bersamaan. Kedua mata mereka membelalak kaget.
"Jadi menurutmu ini sebuah kewajaran?! Heh--" sinisnya seraya menatap tajam lagi mata Dika.
"Memang aku tidak salah bicara 'kan?! Akui saja kita pasti pernah melakukan itu dengan pasangan kita sendiri!" timpal Dika bertambah berani. Hatinya ikut terbawa kesal karena sikap sok alim dari Vicky. "Jangan munafik dan berlebihan!" sindirnya.
"Beraninya kau!" Vicky beranjak dari kursi dan kembali menyalang tajam menatap Dika.
"Kakak..." Sindy menahan Vicky yang ingin maju mendekati Dika. "Sudahlah Kak, Dika benar... Kak Vicky jangan terlalu berlebihan menanggapinya. Kami tak melakukan di luar batas itu kok! Percayalaah..." Sindy memohon agar Vicky tak lagi menghakimi mereka.
"Kak Vicky! Sudah dong.. Jangan marah lagi yaa... Dika memang tak pernah berbuat macam-macam kok sama aku. Sueer! Kami hanya melakukan sebatas itu saja kok!" jelasnya lagi tersenyum sendu, kembali ia membela kekasihnya. Raut wajahnya mengiba. Vicky menoleh pada Sindy dan berdecak kencang.
"Kau tahu perbuatanmu itu Sindy? Jika saja kedua orangtuamu tahu kelakuanmu seperti ini. Mereka pasti akan lebih marah di bandingkan aku. Mungkin sebaiknya kalian berdua memang harus segera ku nikahkan. Akan ku beritahukan semua pada Papamu segera, dan kamu Dika, bergegaslah ajak kedua orangtuamu datang untuk menemuiku!" titahnya dengan tegas.
Sontak Dika tersohok dengan permintaan Vicky. mendadak wajahnya menjadi pias seperti mayat hidup.
"Ma-maksudnya?!" Dika tergagap.
"Aku ingin kalian berdua menikah secepatnya. Kau mengerti?! Jadi kau jangan berpikir untuk kabur dariku!" pekiknya mengancam, yang lalu Vicky pergi melengos setelah menabrak bahu Dika dengan kasar, dia pun meninggalkan mereka berdua di sana. Pergi ke tempat peraduannya.
Dika masih tergugu di tempatnya berdiri, lalu dia menoleh pada Sindy yang biasa saja meresponnya. Wajahnya malah terlihat senang sekali.
"Sin, apa kakakmu itu sudah gila? Dia bilang ingin kita secepatnya menikah?!" matanya kembali melebar, sangat kalut.
"Kenapa memangnya, bukankah itu ide bagus? Dengan begitu kita akan sering berduaan tanpa harus khawatir lagi kan... " ucap Sindy seraya mengulum senyumnya. Dia menghampiri Dika dan merangkul leher pria itu seperti biasanya. Namun Dika lekas melepasnya lagi ikatan tangan Sindy, merasa tak enak hati.
"Bukan itu maksudku sayang, tapi aku kan pernah katakan padamu. Orangtuaku tidak ada di sini." sangkalnya lagi, yang sebenarnya Dika masih belum siap untuk menikahi Sindy.
__ADS_1
Karena untuk saat-saat ini ia belum sempat memikirkannya. Sebab resikonya terlalu besar jika sampai Vira ataupun kedua orangtuanya tahu apa yang selalu di sembunyikannya selama ini. Dulu dia menikahi Vira, itu karena keinginan dari Diana sendiri karena yang dikiranya, Dika belum juga punya kekasih. Padahal usia Dika sudah cukup mapan. Tapi saat dirinya di kenalkan Vira, dia pun tak menyangkalnya jika dirinya juga tertarik pada Vira, terlebih lagi jika dirinya terlalu lama dan jauh dari Sindy membuat dia tidak bisa melampiaskan gejolak hasratnya sendiri, selain terpaksa untuk menikahi Vira waktu itu.
Sindy sedikit merenggut. "Tapi pernikahan kan, tak harus melulu menunggu restu dari orangtua Pria. Betul kan?! Kau cukup nikahi aku saja dulu, lalu setelahnya kau bisa kenalkan aku pada mereka bahwa kita sudah menikah sebelumnya..." sahutnya menyarankan.
Dika menatap tertegun mendengar saran Sindy, dan memang sepertinya idenya cukup cermelang juga.
"Betul juga?!" matanya melirik genit kekasihnya, diiringi senyum nakal khasnya
Sindy mengangguk-angguk lagi dan membalas senyum Dika. "Iya kan.. Cukup orangtuaku saja yang nanti jadi wali dan saksi kita." ucapnya.
"Baiklah kalau begitu... Aku setuju dengan saranmu..." Dika pun menghampiri Sindy dan kedua tangannya memegang pinggang ramping Sindy, kembali melanjutkan ciuman tadi yang sempat terganggu.
*****
Di sebuah kamar yang luas. Seorang Pria kini tengah terbaring di kasur dengan menumpu kedua tangannya di belakang kepala. Memandangi plavon kamar tanpa cahaya. Hanya lampu tidur di sisinya saja yang meneranginya.
Bayangan masa lalu kembali muncul di benaknya. Bak kaset yang kembali di putar ulang.
...~Flashback on~...
Empat belas tahun yang lalu kali pertamanya Vicky mengungkapkan perasaannya pada seorang perempuan remaja yang selisih dua tahun lebih muda darinya. Baginya sosok Vira menenangkan jiwanya yang membara. Kelembutan dan kasih sayangnya membuat dia mampu meluluhkannya dan bertekuk lutut di kakinya.
Plaak
Tamparan keras mengenai pipi kiri Vicky. Kala Vicky menyentuh bibir manis Vira dengan bibirnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan?!" Vira terlihat marah dan kesal. Tiba-tiba saja Vicky datang menghampirinya dan langsung menciumnya yang sedang fokus memetik cabe di kebun sayuran.
"Aku ingin menciummu, memangnya aku salah ya?! Bukankah kita sudah pacaran..." jawabnya santai.
"Apa harus ya berpacaran dengan melakukan ciuman segala!" pekiknya lagi.
"Kenapa? Bukankah itu hal yang wajar di lakukan oleh setiap pasangan!" timpalnya.
Bersambung...
...****...
__ADS_1