Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Merahasiakan Demi Menjaga Perasaan


__ADS_3

...BAB 43...


...Merahasiakan Demi Menjaga Perasaan...


...~Flasback on~...


"Aku sudah mendengar semuanya dari Irfan. Dia pernah memergoki suamimu bersama wanita lain di kantorku, saat itu Irfan ingin mengembalikan mobilku." ungkap Vicky.


"I-Irfan?" gagapnya terkejut. Vira sama sekali tak menyangka jika Irfan sudah pernah melihat Dika bersama Sindy. Namun Irfan diam-diam menyembunyikannya dari Vira.


"Ke, kenapa? Irfan tak pernah memberitahukanku selama ini--?" ucapnya tersendat-sendat. Kedua netra wanita itu kini berkaca-kaca.


Vicky mengangguk-angguk pelan. "Mungkin, dia tak ingin melihatmu sedih dan jadi banyak pikiran karenanya..."


Vira pun terhenyak, matanya menganak sungai dan akhirnya tangisannya pecah karena tak tahan lagi untuk menahan sesak di dada. Vira menutupi wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Tubuhnya merosot ke bawah, membenamkan kepalanya di atas kedua lututnya, hingga punggungnya bergetar kencang karena isakan tangisnya.


Vicky yang melihatnya, hatinya ikut terenyuh, lantas dia ikut berjongkok dan mengusap-ngusap pelan punggungnya Vira.


"Tumpahkan rasa kekesalanmu. Menangislah sepuasmu! Tapi kau pun harus ingat! Pria seperti dia tidaklah pantas kau tangisi dan harapkan lagi. Jangan biarkan kamu terpuruk karenanya, bangkitlah dan kuatkan dirimu lagi Vira..." tegas Vicky. "Aku yakin kamu pasti bisa berdiri tegar tanpanya lagi di sisimu..." lanjutnya lagi.


Vira menggeleng cepat dan semakin kencang menangis, hingga akhirnya dia menghambur memeluk pinggang Vicky. Membenamkan kepalanya di dada Vicky.


"Apakah begini rasanya sakit hati karena di khianati? Apakah begini perasaan Mamamu ketika ia di duakan oleh Papamu dulu? Vicky... Hatiku sakit sekali rasanya~!" lirihnya terisak-isak. "Kenapa suamiku tega melakukan ini padaku?! Apa salahku padanya, Vickyy~?"


Sontak Vicky terhenyak mendengar pengakuan Vira. Hatinya tiba-tiba mencelos, ikut nyeri. Lantas Vicky mendongak, memenjam rapat-rapat kedua matanya agar air matanya tak ikut tumpah. Berbeda dengan keadaan Vira, nyeri yang ia rasakan justru cintanya-lah sendiri yang kini bertepuk sebelah tangan. Vicky lekas merengkuh tubuh Vira, menariknya ke dalam dekapannya semakin erat.


"Kamu tak salah Vira. Dialah yang tidak bisa menghargaimu sebagai istrinya, lupakanlah dia. Lelaki yang mengkhianati wanita, bukanlah lelaki yang baik, dan lelaki seperti itu tidaklah pantas untuk di pertahankan lagi." lontar Vicky dengan suaranya yang parau, dia mengangguk berusaha memahami Vira, walau kenyataan hati kecilnya, Vicky juga merasa sakit terbakar api cemburu. Melihat begitu besarnya cinta Vira pada Dika, terlihat sekali bagaimana Vira begitu hancur dan kecewa karenanya.


Vira mengangguk mendengar penuturan Vicky padanya. Perlahan-lahan rasa lega dan nyaman itu muncul, menyelimuti ke dalam hatinya. Setelah Vira selesai meluapkan semua sedihnya pada Vicky.

__ADS_1


Vicky pun melepas pelukannya, lalu mengusap air mata Vira yang terus membasahi pipi merahnya.


"Sekarang berhentilah menangisi dia lagi. Aku berjanji padamu, mulai detik ini dan seterusnya aku akan ada untukmu, di sampingmu, menemani kamu dalam suka dan dukamu, Vira..." ucapnya meyakininya, seolah ingin memberikan kehidupan baru padanya. Samar masih terdengar isakan kecil dari bibir Vira, perasaan sedihnya mendadak berubah menjadi haru.


"Terimakasih banyak Vicky, terimakasih karna kamu selalu memberiku perhatian. Tapi aku tidak pernah sekalipun bisa membalasmu. Aku tersanjung dengan semua yang kamu lakukan untukku selama ini..." lirihnya terharu.


Vicky mengangguk tersenyum, lalu membantu Vira berdiri, merangkul bahunya dan membawanya ke dalam kamar, menyuruhnya untuk istirahat.


...~Flasback of~...


Malam itu dimana Dika dan Sindy telah menikah. Vicky mengantar Vira pulang ke kontrakan Irfan.


"Yakin, kamu tidak ingin tinggal lagi di Mansionku?" tawar Vicky lagi, tersenyum kecewa karena Vira lebih memilih tinggal bersama Irfan. "Bukankah kemarin kamu bilang, mansionku sangat indah dan kamu sangat betah bila tinggal di sana." Vira menggeleng tersenyum.


"Tidak, terimakasih atas tawaranmu Vicky. Aku tidak enak bila harus berlama-lama tinggal bersamamu. Kita ini bukanlah suami istri, tidak baik jika terus satu rumah. Lagi pula aku juga belum resmi bercerai dengan suamiku. Terimakasih juga selama ini, kamu sudah mendengar keluh kesahku. Berkatmu aku semakin yakin dan kuat menghadapi hidup ini ke depannya nanti." papar Vira dengan senyuman ikhlasnya. Matanya berbinar, berusaha tegar. Walau sebenarnya di hatinya ia masih mencintai Dika. Apalagi kini dia tengah mengandung anaknya Dika.


Vicky mengangguk dan memberikan seulas senyum penyemangat untuknya seraya mengusap lembut bahu Vira.


"Kok kamu jadi seromantis seperti ini sih, beda dengan Vicky yang ku kenal dulu. Ngomong-ngomong, kamu belajar darimana?" celetuk Vira yang lalu ia menutupi mulutnya menahan tawa kecil, meledeki Vicky di sana.


"Kenapa memangnya, apa kau tidak menyukainya?" cebiknya sedikit tersinggung.


Vira pun mengulum senyum dan kembali menggeleng.


"Vicky yang sekarang lebih pandai berkata-kata. Jujur aku sangat menyukainya, sekarang sikapmu juga lebih dewasa dan kalem. Tapi kamu sudah tidak main pukul lagi kan, sekarang?" tanya Vira mengangkat dua alisnya ke atas, mengusuti.


Sontak Vicky menelan kasar salivanya yang lalu ia tersenyum kikuk, tentu tak sepenuhnya penilaian Vira tentang dirinya adalah benar.


"Ah, itu__ ya tentu saja tidak!" gagapnya berdusta. "Seiring berjalannya waktu dan usia kita bertambah. Tentu kita harus bisa menghilangkan kebiasaan buruk kita. Bukankah begitu... Hehe---" sangkalnya, tertawa hambar.

__ADS_1


Vira tergelak mendengarnya lalu mengangguk mengangkat dua jempol ke arah Vicky. "Betul banget tuh! Keren deh, pertahankan yaa..."


Vicky hanya tersenyum sambil mengusap tengkuk lehernya yang mulai berkeringat, merasa bodoh. Karena perkataannya sama sekali tidaklah sesuai dengan hatinya. Jujur saja dia memang masih belum bisa meninggalkan kebiasaan lama. Entah bagaimana jadinya jika Vira tahu, kalau dia pernah memukul Dika, suaminya. Bisa-bisa Vira jantungan melihatnya.


Setelah mereka bercanda dan mengobrol lama di dalam mobil. Vicky pun lekas keluar dari mobil dan berjalan ke depan memutar, membukakan pintu untuk Vira. Di luar teras tampak Irfan di sana sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kak Vicky, mbak Vira!" serunya melambaikan tangannya lalu berlari kecil membantu Vicky mengeluarkan koper Vira dari bagasi.


Dua minggu lamanya, Vira tinggal di Mansion Vicky, untuk menenangkan hatinya yang masih kemelut. Akibat pecahnya rumah tangga yang baru dia rasakan seumur jagung. Kini dia sudah benar-benar ikhlas jika dirinya berpisah dari Dika nanti.


Sedang Vicky sendiri, yang sebenarnya belum menceritakan keseluruhan tentangnya. Bahwa dia adalah sepupu Sindy selama ini. Kakak sepupunya dari wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga Vira dan Dika. Jujur dalam hatinya, Vicky belum siap jika harus menceritakan itu semua. Khawatir mereka akan bertengkar karena kedua-duanya adalah wanita yang berarti baginya. Sindy sudah di anggap seperti adik kandungnya sendiri. Orangtuanya selalu menitipkan dia padanya. Apa di kata jika Vira tahu, mungkin kah dia akan membenci dirinya? Menyangkanya telah membela dan mendukung Sindy bersama Dika selama ini, yang seharusnya Vicky berusaha memberikan arahan yang terbaik untuk Sindy. Supaya Sindy memilih mundur dan tak merusak hubungan rumah tangga mereka.


Namun Sindy pun juga tak tahu, jika selama ini Vira adalah mantan kekasihnya yang ia cintai dan selalu ia ceritakan kepada Sindy. Entahlah, sekarang dia harus bagaimana bersikap? Harus ikut sedihkah dia dengan hancurnya rumah tangga Vira, atau malah bahagia mendengarnya? justru karena inilah kesempatan baginya untuk bisa kembali merajut kasih dengan Vira. Namun kini hatinya benar-benar bimbang, harus memihak pada siapa di antara kebahagiaan Sindy ataukah Vira yang lebih utama? Vicky pun hanya menggeleng resah, hatinya benar-benar kalut saat itu, dan tak mampu berpikir lagi.


Irfan menghambur dan memeluk Vira dengan erat. Dia terharu bisa kembali bersatu dengan kakak satu-satunya. Setelah melihat pertemuan kakak beradik yang mengharukan itu. Vicky pun pamit pulang pada mereka.


Irfan membawa koper kakaknya masuk ke dalam kamar, yang sudah di siapkan dari tadi untuk Vira.


"Ayo masuk Mbak. Mbak pasti lelah kan..." tanya Irfan. Vira mengangguk lalu ikut masuk ke dalam kamarnya. "Mbak rebahan saja dulu di kasur, nanti Irfan buatkan teh hangat." titah Irfan lagi.


"Terimakasih Fan." ucapnya yang di angguki Irfan. Irfan pergi ke dapur. Sedang Vira menaruh tas selempangnya di gantungan pintu dalam kamar. Bukannya ia tiduran seperti yang di suruh Irfan barusan, Vira malah pergi keluar dari kamar untuk mengambil sebuah tabloid edisi terbaru di rak televisi.


Setelah mengambil yang ia mau, sontak Vira pun terkejut, matanya terbelalak melihat ada sebuah amplop coklat berlogo pengadilan agama dan sampul kertas merah undangan pernikahan sudah berada di bawah tabloidnya. Tangannya bergetar dan meraih kedua benda itu.


Matanya memanas perih. Baru saja ia ingin melupakan dan melepaskan Dika di hatinya. Melihat itu pun hatinya kembali mencelos dan nelangsa.


"Baiklah, berarti kita memang sudah sepakat untuk berpisah Mas..., Selamat tinggal dan selamat atas pernikahanmu dengan kekasihmu itu. Semoga kamu bahagia dengannya Mas Dika." lirihnya mendoakan Dika dengan tulus, mesti hatinya sangatlah perih. Vira tertunduk dan me-remas kartu undangan pernikahan itu di dadanya. Kartu undangan yang di dalamnya terdapat foto pre-wedding mereka.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2