Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Vira Menghilang


__ADS_3

...BAB 37...


...Vira Menghilang...


...~Flashback on~...


Hampir menghabiskan waktu semalam suntuk, akhirnya Dika berhasil membujuk Sindy kembali dalam pelukannya. Sindy yang teramat mencintai Dika, memang tak munafik hatinya tak bisa berpaling darinya meski ia telah di kecewakan. Undangan pernikahan sudah dia sebarkan ke teman-teman kuliahnya di medsos. Tak mungkin Sindy membatalkannya secara tiba-tiba. Hal itu pasti akan membuat dirinya dan keluarganya menanggung malu. Apalagi Dika sudah menjanjikan akan membelikan mobil mewah sebagai mahar pernikahan untuknya. Tak menampiknya, Sindy memang terlahir dari keluarga biasa seperti Bagaskara ayahnya Vicky dulu sebelum menikahi Citra, namun sekali lagi mereka beruntung karena semua berkat jasa dari mendiang Mamanya Vicky dahulu, yang telah mengangkat derajat dan membantu kehidupan finansial mereka.


Dika tersenyum haru, lalu menggandeng Sindy dan hendak membawanya masuk lagi ke apartemen, tetapi Sindy menolaknya dan lebih memilih di antar pulang saja, menunggunya di basement. Alasan dia masih belum siap bertemu dengan Vira lagi. Dika pun tak memaksanya, ia masuk ke apartemennya lagi sendiri, hanya untuk mengambil kunci mobilnya.


Sepi, Dika melirik kanan-kirinya tak lagi ia lihat Vira di sana. Lekas dia menepis semua pikirannya tentang Vira untuk saat ini, dan bersikap bodo amat. Saat ini yang terpenting baginya hanyalah Sindy dan Sindy seorang. Wanita yang teramat dia cintai selama ini, jika kehilangannya ibarat seperti kehilangan benda yang sangat berharga dalam hidupnya. Kecantikan Sindy yang ia akui, memang tak bisa menandingi wanita manapun termasuk Vira, istrinya.


Dika pun masuk, ingin mengambil kunci mobilnya yang ia simpan di atas meja tamu. Namun sontak dia terkejut melihat kartu atm dan kredit punya Vira yang ia berikan serta cincin pernikahannya sudah tergeletak di meja dekat kuncinya. Dika meraihnya, menatap nanar cincin pernikahan yang pernah ia sematkan di jari manis Vira. Bayang-bayang bertemu Vira hingga mereka menikah kembali menari-nari di benaknya. Baru saja ia ingin melupakan Vira, namun malah teringat lagi pada sosoknya. Hati merasa tersentil, teringat lagi akan perlakuan kasarnya pada Istri sebaik Vira yang selalu melayaninya dengan tulus. Sebenarnya dalam hati kecilnya, Dika juga tak rela dengan kepergian Vira walau pun tak pernah ia mencintainya.


"Aku akan mencarimu lagi, tapi nanti setelah mengantarkan Sindy pulang." gumamnya dengan menatap sendu cincin di tangannya, tak lama dia genggam erat lalu menyimpannya di saku celana jinsnya.


Dika pun bergegas pergi mengantarkan Sindy pulang. Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju kontrakan Irfan. Tetapi sesampainya di kontrakan, Irfan juga tak ada di sana. Dika lekas menghubunginya, ternyata Irfan sedang ada di Bogor menghadiri acara pernikahan putra sulungnya Pak Iwan, Bosnya di Bengkel. Besok siangnya Irfan baru bisa pulang ke Jakarta. Irfan pun di sebrang sana ikut mencemaskan dan tak berhenti memaki Dika yang tak becus menjadi suami kakaknya. Setelah Dika menceritakan Vira yang pergi entah kemana.


Dika mulai gelisah. Hati jadi tak tenang mengingat Vira sedang hamil dan kondisi badannya yang masih belum sehat betul. Tambah lagi dia tak membawa ponselnya karena ponsel Dika sembunyikan sendiri.


"Kemana kamu Vira..." lirihnya panik. "Jangan buat aku cemas... Mama pasti marah padaku..."


Sepanjang jalan Dika terus mencari tapi tak dia temukan sosok Vira. Hingga tak terasa waktu sudah pukul setengah satu malam. Dika menyerah dan kembali pulang ke apartemennya. Karena lelah dia pun tertidur di sofa tamu. Hingga pagi datang, pintu di gedor kasar dari luar. Tiba-tiba Vicky datang lalu menghajarnya tanpa sebab.


...~Flashback of~...


"Vira...Viraa..." sahut Vicky seraya mengetuk pintu kamar. Namun tak terdengar suara jawaban dari dalam.


Dika beranjak berdiri dengan rintihannya. "Kau cari siapa heh?!" tanyanya melangkah tertatih-tatih mendekati Vicky. Raut wajahnya bertambah bingung, yang sejak kapan Vicky mengenal Vira, istrinya.


"Vira! Kemana dia?!" bentaknya semakin marah. "Dimana kau sembunyikan dia?" desaknya. Vicky lagi meraup kasar baju depan Dika. Kedua mata elangnya menyalang tajam.

__ADS_1


"Apa urusanmu mencarinya? Dia itu--"


"Yah, aku tahu dia adalah istrimu! Namun istri yang telah kau sia-siakan hidupnya!" sela Vicky, sinis. Dika menciut, lalu tertunduk pasrah tak bisa membela dirinya, yang memang kenyataannya begitu.


"Ah maaf, aku tahu kau pasti sudah dengar semuanya dari Sindy...." Dika tergugup, lalu memegang kedua tangan Vicky di kerahnya dan melepasnya.


"Maaf, aku memang sudah mengecewakan Sindy namun_" sesalnya.


"Penyesalanmu sudah tidak ada artinya lagi, lebih baik kau tinggalkan keduanya. Sindy dan juga Vira. Kau tidaklah pantas menyandang nama suami di antara keduanya." debatnya tegas.


Dika mengernyitkan dahinya bertambah bingung. "Memangnya ada hubungan apa kau dengan istriku? Kenapa kau begitu sangat peduli padanya?" tanya Dika semakin di penuhi rasa penasaran.


"Aku?!" delik Vicky lalu ia tersenyum miring dan berdecih. "Kau tidak perlu tahu semua tentangku!" ucapnya singkat. Lalu Vicky menabrak bahu Dika dan hendak keluar pergi, merogoh ponsel di sakunya


"Aku akan mencari Vira di kontrakan Irfan?" gumamnya.


"Percuma saja! Dia juga tidak ada di sana!" seru Dika sambil mengelap darahnya yang masih mengucur di lubang hidungnya dengan tissue.


"Ya, semalaman aku sudah mencarinya, tapi dia tak ku temukan!" jelas Dika.


"Brengsek! Ini semua karenamu!" tunjuk Vicky kembali emosi. "Kalau saja kau tidak menyakiti hatinya, dia mungkin tidak akan pergi!" Vicky kembali melangkah cepat ingin sekali lagi menghajar Dika. Namun segera di hentikan oleh suara teriakan wanita di depan pintu.


"Hentikan!! Siapa kau!" teriaknya tiba-tiba. Vicky dan Dika terperangah dan menoleh.


Wanita paruh baya itu berlari dan lekas mendorong kasar Vicky, melepaskan cengkraman tangannya di bajunya Dika. "Apa yang kau lakukan pada putraku, heh!" bentaknya menatap tajam mata Vicky.


Vicky kembali berdecih dan tersenyum sinis. "Dia Ibumu?" tanyanya yang kini beralih pada Dika. Kembali dia di kejutkan oleh ucapan bohong Dika minggu lalu padanya. Dika yang mengatakan jika kedua orangtuanya pergi keluar kota. Namun ternyata semuanya bohong belaka.


"Kau memang pintar bersandiwara!" sindirnya. Dika memalingkan wajahnya.


"Heh, bicaralah yang sopan di depan orangtua!" tunjuk Diana geram pada Vicky.

__ADS_1


"Okey Tante, aku akan sopan. Namun alangkah baiknya tante menegasi anak tante sendiri. Katakan padanya, jangan jadi lelaki pengecut yang menyembunyikan status istrinya di depan adik sepupuku. Aku tidak rela jika dia menikahi adik sepupuku!" tegas Vicky, dan berhasil membuat Diana terperangah kaget.


Vicky pun pergi tanpa pamit pada mereka dengan sikapnya yang pongah. Diana melongo setelah kepergian Vicky dan sejenak melupakan Dika yang terluka.


"Mah..." rintih Dika.


Diana terperanjat dan langsung tersadar, melihat Dika yang sudah terduduk di lantai dengan keadaan babak belur di wajahnya.


"Kamu kenapa Dika? Sebenarnya siapa lelaki sombong itu? Kenapa dia bisa memukulmu seperti ini Nak?!" tanyanya panik. Diana lekas membantu putranya berdiri dan pindah duduk di sofa.


"Ceritanya panjang Mah, sekarang bantu Dika mengobati luka Dika dulu..."


Diana lekas mengambil kotak obat di bawah rak televisi.


"Ya Tuhan... Ada apa ini? Lalu kemana Vira?" tanya Diana lagi. Dika pun menelan kasar ludahnya.


"Vira... Dia, dia sudah pergi Mah," ucapnya pelan dan terbata-bata.


Diana menoleh terkejut menjatuhkan kain kasa yang ada di tangannya. "Apa katamu?! Vira pergi..." cicitnya, matanya membulat sempurna.


Dika mengangguk pelan. "Iya Mah, dia marah dan tak setuju dengan pernikahanku bersama Sindy, dan dia terus meminta bercerai dariku jika aku tetap menikahi Sindy..."


Diana menghempas tubuhnya ke sofa. Mengusap kasar wajahnya. "Vira... Bagaimana ini? Maafkan Mama Nak," lirihnya.


"Em... Ada yang harus Mama ketahui pula." Perlahan Dika mengambil sesuatu di laci bupet, memberikan secarik kertas hasil USG Vira pada Diana.


"Apa ini?" Diana membuka kertasnya yang terlipat, tampak sebuah foto janin yang baru sebesar biji kacang hijau. Bibirnya bergetar saat mengucap. "Vi, Vira hamil?" mulutnya menganga tak percaya yang lantas dia menutupinya dengan satu tangan. Matanya berkaca-kaca haru.


Dika di sampingnya hanya mengangguk lesu.


Bersambung...

__ADS_1


...****...


__ADS_2