Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Dika Mabuk, Riska Terlena


__ADS_3

...BAB 70...


...Dika Mabuk, Riska Terlena...


Sindy terkesiap bangun, saat ia terjatuh dari sofa tamu. Setelah kepergian Dika tadi, ia duduk sampai ketiduran di sofa menunggu kepulangan Dika, namun sampai sekarang Dika pun tak juga pulang.


"Kenapa lama sekali? Padahal ini sudah hampir pukul sebelas malam..." gumamnya sendiri setelah melirik jam di dinding. "Kemana sebenarnya Mas Dika?!" tanyanya lagi, yang mulai mencemaskan suaminya.


Sindy lekas mengambil ponselnya di atas meja tamu, hendak menelepon Dika. Namun ternyata ponselnya tak menyala karena kehabisan baterai. Terpaksa Sindy menchargernya lebih dulu dan menunggu hingga batreinya terisi beberapa persen untuk bisa di aktifkan lagi. Sambil menunggu, Sindy pun ke kamar kecil dahulu untuk menunaikan hajatnya.


Tak berapa lama Sindy keluar dari kamar mandi. Lalu berjalan ke arah dapur mencari makanan. Malam itu dia lupa kalau belum sempat makan, perutnya tiba-tiba sangat lapar sekali. Tapi tak ada satu pun makanan di atas meja.


"Apakah Mas Dika lupa tak membeli makanan untukku?!" gumamnya kesal. Biasanya pulang kerja Dika selalu membelinya makanan untuk makan malam. Atau pergi keluar bersama mencarinya, tapi sekarang sepertinya Dika seolah cuek padanya.


Sindy menjerit kesal, pasalnya dia memang tak pernah memasak selama menikah dengan Dika. Karena dari sejak kecil dia selalu di manja, dan Mamanya tak pernah sekalipun mengajarinya memasak.


Terpaksa malam itu Sindy pergi keluar lagi dan mencari rumah makan yang buka. Pergi tanpa membawa ponselnya.


****


Dika berjalan limbung ke arah mobilnya, berniat untuk pulang karena malam sudah semakin larut. Namun dia sangat kesulitan saat membuka pintu mobilnya karena kurang fokus akibat tak mengontrol minumnya hingga malam itu ia sangat mabuk.


"Dika?!" tiba-tiba Riska berjalan menghampirinya yang juga baru saja keluar dari tempat itu. "Bukankah kau Dika?" tanyanya terheran. Dika di sana menoleh dan nyaris saja terjatuh karena kurang keseimbangan, kalau saja Riska tidak segera menahan tubuhnya.


Penglihatan Dika sangat buram, sesekali dia mengerjap matanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Samar dia pun melihat sosok wanita yang tengah berdiri di depannya. Dika memenjam matanya lagi, lalu membukanya. Seketika hanya wajah cantik Vira yang terlihat olehnya. Bibirnya tersenyum menyungging ke arah Riska.


"Vi~raa... Apakah itu kau?" lanturnya tiba-tiba. Maniknya tampak merah, berkaca-kaca. "Hehehe, kau ingin menemuiku karena menyesal berpisah dariku iya, kan..." ujarnya terkekeh. "Jujurlah padaku kalau kau masih mencintaiku..."


Dika mengusap lembut pipi Riska yang dia kiranya adalah Vira. Riska pun terkejut dan lekas menghindari sentuhannya.


"Eh, aku ini Riska bukan Vira! Sepertinya kau memang sangat mabuk. Jadi mengira aku ini adalah mantan istrimu, hah apa kau ini sudah gila? Bagaimana dengan perasaan Sindy kalau dia tahu kau masih mengingat mantanmu itu?" pekiknya. Lantas Riska membuka ponselnya di dalam tas. "Sebaiknya aku segera telepon Sindy saja dan memberitahukannya!"


Riska berjalan ke samping, dan dengan cepat ia menyambungkan teleponnya ke nomer Sindy, namun ternyata nomernya tidak aktif. "Kemana dia? Suaminya mabuk tapi dia tidak ada?!" gerutunya.


"Viraa... Aku senang akhirnya kau mau kembali~" Dika kembali ngelantur dan memeluk Riska dari belakang dengan erat. Menyenderkan kepalanya di atas bahu Riska yang terbuka. "Ayo kita rujuk lagi, dan mulai hidup baru bersa~ma...."


"Aaah, Dika hentikan, sadarlah!!" teriaknya melepas pelukan Dika, hingga akhirnya Dika terjatuh ke tanah. "Sebaiknya aku antarkan saja dia pulang, ayo masuk ke dalam mobilku!" ajaknya yang langsung memapah Dika masuk ke dalam mobilnya. Terpaksa Riska pun harus mengantarkannya pulang ke apartemen.


Tapi setelah dua puluh menit mereka sampai di apartemen, ternyata di sana juga tak ada siapa-siapa. Riska sampai pegal mengetuk pintu apartemen mereka karena tak ada sahutan sama sekali.


"Kemana sih anak itu? Suaminya mabuk, tapi dia juga pergi keluyuran yang entah kemana!" sungutnya bertambah kesal, dengan terpaksa Riska kembali ke parkiran dan mengambil access card di dompet Dika lalu meminta tolong dua security di sana untuk menggotong tubuh Dika, membawanya masuk ke dalam apartemen.

__ADS_1


Setelah berterimakasih pada security, Riska menatap Dika yang sudah berbaring di atas sofa tamu. Sambil bersedekap tangan di dadanya.


"Ah... baiklah sekarang aku harus pulang, ya sudah aku tinggal yaa daah..." ucapnya melambai pada Dika dan hendak pergi, tapi tiba-tiba saja Dika meraih tangan Riska dengan cepat dan menariknya hingga masuk ke dalam pelukannya.


"Aaahhh...." Riska menjerit kaget.


"Tunggu, jangan pergi...." ocehnya lagi dan berhasil membuat Riska terjatuh di atas tubuhnya. Dika mengusap pipi Riska dengan tatapan nanar.


"Kenapa setelah terpisah dariku, kau begitu sangat mempesona..."


"Hentikan Dika lepaskan kau itu sedang mabuk!" kesalnya.


Riska memberontak, berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Dika, tapi lelaki itu malah semakin erat memeluk tubuhnya dan mencium paksa Riska, dan Riska pun yang sudah lama di tinggal oleh kekasihnya, lama-lama mulai menikmati sentuhan Dika yang membuatnya jadi mabuk kepayang.


Ya, Riska tak munafik dia memang sangat membutuhkan seorang Pria untuk menyalurkan hasratnya, ingin sekali dia merebut Vicky dari Vira, namun rasanya itu sangat mustahil. Pria itu tak mudah dia goda. Riska frustasi karena akhir-akhir ini kariernya pun juga menurun drastis sejak hubungannya putus dengan Michael, model keturunan Amerika yang sudah mencampakkannya setelah lelaki barat itu beberapa kali puas menikmati tubuhnya. Riska pikir Michael akan serius dengan hubungan mereka, hingga sampai ke pernikahan, tapi tak sangka dia malah pergi dengan wanita lain dan mengatakan kalau dirinya hanyalah ingin bermain-main saja.


Perlahan Riska mulai membuka diri dan pasrah, membiarkan Dika menggeledah tubuhnya yang mulai panas, seakan ingin memintanya lebih dan lebih. Pikiran dan hatinya mulai terlena di buatnya.


Namun tak berapa lama, tanpa mereka sadari Sindy sudah berdiri mematung di depan pintu yang dia buka, matanya terbelalak kaget melihat suami dan teman baiknya sedang bergumul di atas sofa. Seketika bungkusan makanan yang berada di tangannya pun terjatuh, berceceran di lantai.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!" pekiknya kencang.


Riska terperanjat, sedang Dika masih meneruskan aksinya tanpa dia sadari ada Sindy di sana, dia tetap mengira Riska adalah Vira.


Riska buru-buru membenarkan lagi pakaiannya. "Sin-Sindy, ini semua salah suamimu. Dia mabuk dan memaksaku tadi!!" jelasnya agak gugup.


"Bohong! Tadi kulihat kau sama-sama menikmatinya juga, iya 'kan?!" sentaknya, dengan bibir yang bergetar. Kedua matanya memerah, panas.


Riska sontak menyangkalnya lagi dan ingin menjelaskannya, tapi segera di usir oleh Sindy.


"Pergi, pergilah aku tidak ingin mendengarkanmu dan jangan pernah bertemu aku lagi!" usirnya, lalu menutup kencang pintunya setelah Riska keluar.


Setelah itu Sindy berlari ke kamar mandi dan membawa air dalam gayung, lalu saat itu juga dia menyiramkan air ke atas kepalanya Dika.


Dika terperangah lantas mencari nafasnya. "Hhaah apa yang kau lakukan?! Hah kenapa menyiramku!" bentaknya yang mulai tersadar. Dika mengusap-ngusap kasar wajahnya yang kini sudah basah kuyup.


Sindy melempar gayung di depannya. "Dasar Pria hidung belang, kau apakan Kak Riska tadi hah! Nyaris saja kalian berhubungan intim di depan mataku!"


Dika kembali terperangah dan menatap lebar ke arah Sindy.


****

__ADS_1


"Pagiii...." seorang gadis muda mencubit kedua pipi Irfan yang masih terpulas tidur di atas kasurnya. Irfan sontak memegang kedua tangan kecil itu di pipinya.


"Ah aw aw..." ringisnya.


"Ayo bangun-banguunn, ini sudah pukul lima subuh!" sahutnya lagi.


"Ella?! Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku?" Irfan terperanjat bangkit dan duduk, menatap tajam karyawannya yang sudah ada di kamarnya.


"Kamu sudah lupa ya, semalam kita kan habis gadang buat kue ulangtahunnya Aqilla..." terangnya. "Terus kamu juga yang maksa aku buat nginap di sini, karena kamu memang belum mahir buat kue tart itu!"


Irfan mengerutkan dahinya lantas ia menepuk kencang jidatnya sendiri sesaat baru menyadarinya. "Ah iya, maaf... Aku lupa.." cengengesnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gimana sih, masa udah jadi bos masih aja lupaan!" ledeknya sambil bersedekap tangan di dada.


"Maaf-maaf namanya juga lupa!" dumelnya "Aku mau sholat subuh dulu!" Irfan pun turun dari kasur dan bergegas mengambil handuknya di gantungan.


"Ya sudah cepetan sana! Karena kita masih ada pekerjaan lain lagi yang harus di lakukan!"


"Pekerjaan lain apa?" tanya Irfan polis setelah membalikkan lagi tubuhnya menatap Ella.


"Ya elaah kita kan harus ngedekor ruangan tamu dan halaman, gimana sih bos?!" gerutu Ella sambil berkacak pinggang di depannya. "Jam sembilan ini Mbak Vira kan mau ngerayain ulangtahunnya Aqilla di sini..."


Irfan mengacak rambutnya, sangking terlalu larut bergadang buat roti dan kue. Akhir-akhir ini, dia pun jadi banyak lupa. Untungnya saja Ella selalu mengingatkan dia.


"Ya Tuhan!! Kenapa aku bisa lupa ya!"


"Kebanyakan makan tepung sih!!" ledeknya lagi tertawa lagi.


"Iya-iya maaf, dasar bawel!!" gemas Irfan dengan membalas cubitan di pipinya Ella.


"Aa aa awww..."


Irfan terkekeh-kekeh melihat Ella yang kesakitan, lalu lekas berbalik pergi ke kamar mandi setelah puas mencubit Ella.


Ella menghembus kencang nafasnya. Lalu setelahnya dia tersenyum lebar memandangi punggung Irfan dari kejauhan. Tak sangka sudah hampir delapan bulan itu dia bekerja di tokonya Irfan. Banyak sekali lika-liku yang sudah dia hadapi selama hidup sendirian di Jakarta, kehadiran Irfan dalam hidupnya bagaikan air hujan di tengah gurun sahara.


Bersambung...


...****...


Mau lanjutin lagi cerita tapi lihat like dan komentarnya tambah berkurang. Jadi author upnya santai aja, bisanya dua hari sekali up... hehe maaf ya... mungkin karena ceritanya juga kurang menarik pembaca. Bertambah lagi author pun banyak kerjaan di dunia nyata jadi pikirannya bercabang... belum lagi nyari ide-ide ceritanya yang pas gitu.

__ADS_1


Tapi makasih banyak yang masih tetap setia like dan komen. Karena itu yang selalu bikin semangat para author menulis... 🤧😍


__ADS_2