Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Emosinya Sang Mama Mertua


__ADS_3

...BAB 28...


...Emosinya Sang Mama Mertua...


"Mas Dika, kami bertengkar karena dia berencana ingin menikah lagi Mah dan saat ini Mas Dika sedang melamar perempuan itu..." lanjutnya lagi, dengan suara yang terbata-bata.


Diana tercengang dan nyaris saja jantungan mendengarnya. Menekan dada kirinya nyaris dia limbung ke belakang.


"Apa katamu?!" pekiknya.


Vira kembali berurai air mata. Sedang Diana menggeleng dengan mulut terbuka, masih tak percaya mendengar kenyataan ini. Vira lekas menuntun tangan Mama mertuanya untuk duduk di sofa.


"Kamu jangan bercanda Vira, tidak mungkin anak itu mau nikah lagi? Kamu saja belum habis, kok berani-beraninya dia pengen nikah lagi tanpa sepengetahuan Mama. Dasar anak itu, dia minta Mama hajar rupanya!"


Diana semakin geram, mengepal kedua tangannya hingga kulit kuku-kukunya memutih. Wajahnya memerah menahan emosinya pada Dika.


Vira mengusap lembut punggung tangan mertuanya menenangkan mertuanya yang tengah emosi.


"Mah, sebenarnya Mas Dika dan perempuan itu sudah pacaran sejak lama, sebelum Mas Dika menikah dengan Vira. Mas Dika sudah berkata sejujurnya pada Vira. Kalau saja Vira tidak memergokinya lebih dulu. Mungkin saja Mas Dika akan terus diam tak bicara dan seterusnya akan membohongi kita semua soal ini..." terang Vira dengan sekali-kali menarik nafasnya dalam-dalam, menetralkan suasana hatinya yang kian bergemuruh.


"Ya Tuhan, Nak. Maafkan kesalahan Dika ya... Mama juga tidak tahu soal ini. Bukankah dulu dia bilang pada Mama, belum punya pacar. Makanya Mama nikahkan Dika sama kamu, lagipula Mama sudah senang punya mantu kamu. Cukup cuma kamu saja yang jadi menantu Mama satu-satunya. Mama tak ingin ada menantu yang lain lagi. Hubungan Mama dan Ibumu dulu sangat dekat seperti saudara kandung dan Mama tak ingin anak Mama menyakitimu, itu sama saja kami telah menyakiti mendiang Ibumu. Dika memang sudah keterlaluan, anak itu sudah gila. Sekarang kemana perginya dia?!" tanya Diana yang tak habis pikir dengan kelakuan putranya. Kepalanya mendadak berdenyut, sakit. Vira hanya menggelengkan kepala.


"Vira tidak tahu Mah, yang pasti tadi pagi Mas Dika sudah berpenampilan rapi dan katanya akan bersiap melamar kekasihnya hari ini."


"Dasar kau Dika, awas saja ya kamu!!" Diana sontak beranjak dari duduknya. "Mama akan telepon dia sekarang juga, dan menyuruhnya untuk pulang secepatnya!"


Tanpa pikir panjang lagi, Diana gegas mengambil gawainya di tas. Menghubungi kontak nomor putra semata wayangnya. Beberapa kali suara deringan telepon berbunyi. Namun di seberang Dika tak jua mengangkat teleponnya.


"Kemana dia?! Kenapa teleponnya tidak diangkat-angkat juga!" gerutu Diana seraya mondar-mandir di depan Vira yang ikut resah.


****


Sementara itu, di sebuah rumah megah milik Vicky. Acara lamaran sederhana telah selesai di lakukan. Tiga hari sebelumnya, orangtua Sindy telah di kabari. Mereka sangat senang sekali mendapat kabar gembira dari putri semata wayangnya, bahwa Sindy akan di lamar oleh seorang Pria sukses dan mapan seperti Dika, di kota Jakarta.

__ADS_1


Sebuah kebahagiaan tentunya bagi Sindy karena dua tahun lamanya menjalin hubungan jarak jauh dengan Dika. Akhirnya Dika bisa menikahinya sesuai dengan janjinya. Begitupun bagi Dika sendiri, yang tak kalah lebih bahagianya di banding Sindy. Setelah menunggu sekian lama, sebentar lagi keinginannya untuk menjadikan Sindy istrinya akan tercapai. Walaupun Dika, harus dengan cara membohongi Sindy dan keluarga besarnya. Kalau dirinya sudah menikah dengan wanita lain. Baginya masalah tentang Vira dan juga kedua orangtuanya adalah hal yang belakangan, yang terpenting menikahi Sindy terlebih dulu.


Bibir Dika tak berhenti menyungging, melirik Sindy dari kamar yang terbuka di kejauhan. Gadis pujaannya sangat cantik mempesona dengan gaun pernikahan yang Dika pilihkan untuknya.


"Silahkan di minum dulu kopinya, nak Dika." sahut Irman, Papanya Sindy. Setelah proses lamaran mereka selesai. Mereka berbincang di ruang tamu untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka yang akan di rencanakan dua minggu lagi. Termasuk juga dengan Vicky yang turut membicarakannya bersama mereka.


Sedangkan Sindy terlihat bahagia sekali dengan wajah meronanya. Di dalam kamar, dia mencoba beberapa gaun pernikahan di depan cermin di bantu oleh Ria mamanya dan juga seorang desainer terkenal, yang sengaja Dika bawa dari luar.


"Ngomong-ngomong apa nanti kedua orangtuamu akan hadir di hari pernikahanmu?" celetuk Vicky, yang sontak Dika jadi terbatuk kaget setelah meneguk kopinya.


"Uhuk.. uhukk!"


"Pelan-pelan saja nak Dika..." sahut Irman terkekeh-kekeh melihat kegugupan Dika di depannya. Dika meletakkan lagi cangkirnya di meja.


"Em, mohon maaf mungkin soal itu. Orangtuaku tidak bisa hadir. Karena urusan mereka di luar kota yang belum selesai. Mungkin sekitar sebulan atau dua bulan lagi mereka akan pulang." sangkalnya lagi.


Irman tampak mengangguk memakluminya. Sedang Vicky memiliki perasaan yang entahlah, melihat Dika seolah dia belum percaya sepenuhnya, karena belum tahu pasti tentang latar belakang keluarganya.


"Aku tinggal di sebuah Apartemen. Maaf semenjak aku bekerja, aku biasa tinggal sendirian di apartemenku." ujar Dika berusaha sesantai mungkin di hadapan Vicky, demi tak ingin terlihat kedustaannya yang dia tutup-tutupi.


Vicky dan Irman sama-sama mengangguk.


"Baiklah soal orangtuamu nanti bisa belakangan kami temui, yang pastinya mereka sudah di beritahu dan setuju dengan pernikahan ini. Tapi ngomong-ngomong, kapan kau ajak kami pergi untuk melihat-lihat apartemenmu?" pinta Vicky lagi.


Sontak tenggorokan Dika jadi tercekat dengan permintaan Vicky, melebarkan sedikit matanya. Sebenarnya siapa Papanya Sindy. Dirinya atau Om Irman? bathin Dika menahan nafas mulai jengkel melihat tingkah Vicky yang sok bijak melebihi Papa kandungnya Sindy sendiri.


"Oh, itu kapan pun kalau kau mau..." Dika terkekeh hambar padanya, tak mungkin dia melarangnya juga, bisa-bisa ketahuan jika memang dia tengah berbohong.


"Ajak kemana Kak?" Sindy tiba-tiba muncul di belakang Vicky dan Irman membawa gaun putih di tangannya, baru saja selesai mencoba beberapa pilihan gaun pengantin untuk acara akad dan juga resepsi pernikahan mereka nantinya.


"Baiklah bagaimana kalau besok saja, kami melihat apartemenmu. Bisa kan?!" Vicky mengangkat satu sudut bibirnya seraya menyipitkan tatapan tajamnya pada Dika. Hal yang penasaran jika dia tak menyelidikinya sendiri.


"Tentu, baiklah..." jawab Dika mencoba bersikap santai.

__ADS_1


"Aku ikut ya..." seru Sindy sambil duduk di tangan sofa samping Irman.


Dika mengangguk kembali gugup. "Iyaa kamu juga boleh ikut..." sahutnya tersenyum terpaksa. "Tentunya jika kita resmi menikah, aku akan ajak kamu tinggal di sana bersamaku..."


"Benarkah itu sayang?" Sindy semringah mendengarnya, tampak gigi putihnya berjejer rapi. Semakin menambah pesonanya. Ah, pantas saja Dika begitu sangat tergila-gila padanya. Semakin Dika melupakan masalahnya sendiri di rumah.


Sangking senangnya memandang Sindy, bahkan suara getar ponsel di saku celananya tak dia rasakan dari tadi. Hingga hening tercipta di antara mereka, barulah ia tersadar.


Drrtttt drrrrtttt


"Sepertinya ponselmu dari tadi bergetar." celetuk Vicky, yang menyadarinya lebih dulu.


Sontak Dika terkejut dan berdiri, lalu buru-buru merogoh ponselnya dari dalam saku. "Oh iya, maaf!"


Melihat siapa yang meneleponnya. Dika melebarkan matanya, tegang. Ma-Mama gumamnya dalam hati. Wajahnya berubah pucat.


"Em, maaf permisi saya harus segera mengangkat telepon dulu." ujarnya tergugup, lalu di angguki oleh mereka.


"Silakan, silakan Nak Dika..." ujar Irman.


Dika gegas melangkah cepat keluar menuju teras rumah. Menoleh ke belakangnya, memastikan tak ada yang menguping pembicaraannya dengan Mamanya.


"Hallo Mah?!" sahutnya dengan suara yang sangat pelan.


["Darimana kamu Dika?! Apa kau sudah sinting, mengurung Vira di dalam kamarnya sendirian, heh! Cepat pulang sekarang juga! Atau Mama nanti minta Papamu untuk menghajarmu sampai babak belur!"] terdengar suara omelan panjang dan kencang Diana, sontak Dika menjauhkan gawainya dari telinganya.


"Ma, maafin Dika Mah... Please Mama jangan marah-marah dulu. Sebentar lagi Dika pasti pulang, oke!" jawabnya yang mulai gelisah. "Dika, Dika pasti akan jelaskan semuanya sama Mama dan juga Papa. Kalau gitu Dika tutup dulu ya teleponnya..." Setelah mengucap itu. Dika buru-buru mematikan ponselnya lagi.


"Gawat! Aku lupa kalau setiap akhir bulan Mama selalu datang ke apartemenku. Aku yakin sekali Vira pasti telah menceritakan semuanya pada Mama!" Dika menghembus kasar nafasnya mulai resah gulana.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2