Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Nyaris Di Lecehkan


__ADS_3

...BAB 39...


...Nyaris Di Lecehkan...


Tak berapa lama pesanan sotonya terhidang di meja. Setelah mengucap basmalah Vira pun menyantapnya dengan lahap. Mungkin karena pengaruh obat dari Dokter Fuji, tak ia rasakan lagi rasa mual dan muntah saat makan. Vira bersyukur yang akhirnya perutnya bisa masuk makanan seperti biasanya.


Lumayan lama Vira berdiam termangu di warung makan tersebut setelah selesai menghabiskan makanannya, hingga si Ibu penjual soto itu menatapnya heran. Ia mulai berkemas bersiap akan pulang. Karena jualannya sudah habis. Tetapi Vira tak juga mau beranjak pergi.


"Em maaf Non, warungnya mau saya beresin sudah mau tutup." sahutnya merasa tak enak, karena kursi dan meja yang di tempati Vira juga harus di bereskan lagi. Vira yang dari tadi melamun, sontak beranjak dan berdiri.


"Oh iya Bu, ma-maaf. Saya belum bayar, semuanya jadi berapa ya?" sahutnya terbata-bata, tersipu malu. Vira cepat mengambil dompetnya di dalam tas selempangnya.


"Semuanya empat puluh ribu saja Non.." sahutnya. Vira pun mengocek uang lembaran lima puluh ribuan. Karena gugup dia tak sengaja menjatuhkan kartu nama Vicky di dalam dompetnya. Vira tertunduk, dan lekas mengambilnya lagi. Bibirnya tersenyum sendu menatap kartu nama Vicky dan nomer ponselnya di sana. Vira menghembus nafas pelan lalu menyimpannya lagi di dompet.


"Ini Bu..." sodor Vira.


Ibu penjual soto itu menerima uangnya dan lekas mengeluarkan kembalian sepuluh ribuan. Namun cepat Vira menolaknya dengan halus.


"Tidak usah di kembalikan Bu. Kembaliannya buat Ibu saja..." ucap Vira tersenyum. Ibu itu pun tersenyum haru.


"Oh, benarkah ini Non? Makasih banyak ya Non..." angguknya senang.


Vira mengangguk juga tersenyum. Lalu dengan berat hati Vira terpaksa harus pergi. Menarik kopernya, melanjutkan lagi perjalanannya yang tak tahu harus tidur dimana malam ini.


Setelah melangkah keluar dari warung, Vira kembali menoleh ke belakang. Terlihat si Ibu penjual soto juga hendak bersiap pulang.


"Bu..." seru Vira tiba-tiba. Ibu itu pun menoleh terkejut.


"Eh, iya Non ada apa?" tanyanya.


Vira cukup sungkan meminta bantuan padanya. Tapi malam itu dia benar-benar sangat letih sekali dan ingin cepat istirahat.


"Anu, bolehkah saya menginap di rumah Ibu semalaman ini?" pintanya dengan tatapan yang mengiba. Ibu itu tampak melongo.


"Memangnya si Non mau pergi kemana?" tanyanya ikut cemas.


"Sebenarnya tadi saya mau pulang ke kontrakan adik saya Bu... Tapi di kontrakannya sepi. Adik saya nggak tahu pergi kemana. Saya juga sudah tak punya ponsel lagi. Jadi bolehkan kalau saya menginap di rumahnya Ibu, semalam saja..." pintanya lagi.


Si ibu itu tampak ragu dan berpikir keras, agak resah. Namun karena kasihan melihat Vira seorang diri dengan bawaan yang banyak, dia pun akhirnya mengijinkan Vira menginap semalam di rumahnya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi rumah Ibu sempit Non, bertambah lagi agak kotor. Emangnya si Non mau ya kalau tidur di sana?" ucapnya agak ragu. Karena melihat dari penampilan Vira sendiri yang cantik dan terawat, Ibunya berpikir kalau Vira adalah anak orang kaya yang sengaja minggat dari rumah mewahnya.


Vira menggeleng cepat. "Tidak apa-apa Bu, yang penting saya bisa istirahat..." ucap Vira, senyumnya semakin terbit di bibirnya.


"Baiklah, kalau begitu ayo ikut Ibu. Rumah Ibu tak terlalu jauh kok dari sini..." ajaknya. Vira pun mengangguk dan mengikutinya.


Tak berapa lama, mereka berdua sampai di sebuah rumah kecil dan tampak suram. Terasnya pun hanya di lapisi tanah lembab. Vira duduk di kursi dipan.


"Ayo masuk Non, ini maaf rumah Ibu kotor begini. Ibu cuma tinggal berdua dengan anak Ibu. Tapi dia juga jarang pulang ke rumah kok."


"Oh, iya Bu terimakasih..." Vira masuk ke dalam rumah yang gelap dan agak berantakan. Ibu itu lekas menyalakan lampu pijar.


"Nah Non, sekarang boleh tidur di kamar kecil ini." titahnya sembari merapikan kasur kapuk yang sudah sobek di pinggir-pinggirnya. spreinya hanya sebuah kain yang usang. Vira terenyuh, ia kembali teringat rumahnya yang dulu di Surabaya. Tak jauh beda dengan rumah si Ibu penjual soto ini.


"Terimakasih Bu, hmm memangnya anak Ibu kemana kok jarang pulang? Terus suami Ibu sendiri sekarang ada di mana?" tanya Vira setelah menyimpan tas dan juga kopernya, lalu Vira duduk di tepi kasur.


Ibu itu tampak tertegun dengan pertanyaan Vira. Tatapannya mendadak jadi sendu. "Ah suami Ibu sudah meninggal setahun yang lalu, Non.."


"Oh maaf Bu... Saya tidak tahu..." ujar Vira prihatin. Ibu itu menggeleng lemah.


"Sementara anaknya Ibu, hiks hiks..." lanjutnya, namun Ibu itu malah terisak menangis. "Dia benar-benar tidak bisa di andalkan. Kerjaannya hanya mabuk dan bermain judi. Pulang-pulang hanya minta makan dan juga uang jika kehabisan. Entahlah kelakuannya membuat Ibu semakin stress saja, Non. Harusnya dia itu menggantikan Bapaknya yang meninggal untuk menafkahi Ibu. Hiks hiks..." Ibu itu terus menangis, dan tak sanggup lagi untuk melanjutkan ceritanya.


Vira mengusap lembut punggungnya untuk menenangkannya. Vira sangat mengerti sekali dengan keadaan si Ibu penjual soto tersebut. Kondisi ekonomi yang menghimpitnya bertambah lagi dengan anak yang tak menurut juga urakan, membuat cobaan si ibu berkali-kali lipat di rasakan.


Setelah keduanya banyak cerita dan memperkenalkan dirinya masing-masing. Vira pun pamit tidur. Karena malam sudah sangat larut sekali.


...~Flashback of~...


Subuh pun berlalu. Vira beranjak pergi ke kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya, setelah Ibu Imah pamit padanya pergi ke pasar tadi pagi sekali. Pesannya, Vira tak boleh pergi dulu sebelum Ibu Imah buat sarapan untuknya.


Vira menurutinya. Di rumah Bu Imah ia hanya sendirian saja, jadi merasa lebih leluasa saat ingin membuka pakaiannya. Vira mengambil handuk yang sudah di sediakan Bu Imah di gantungan pintu. Lalu pelan masuk ke dalam kamar mandi yang agak kecil dan kotor. Vira menyalakan kran air di sana. Airnya bersih dan bening. Sehingga sekali guyuran saja membuat badannya kembali segar.


Kreeetttt


Seketika terdengar samar suara derit pintu dari luar kamar mandi, Vira mengernyitkan dahinya. Berpikir mungkin itu Ibu Imah yang sudah pulang dari pasar.


Selang sepuluh menit Vira selesai membersihkan dirinya. Lalu kembali ke kamar untuk memakai pakaian baru. Tetapi saat masuk kamar, Vira sontak terkejut dan nyaris menjerit namun refleks dia tutup mulutnya.


Seorang lelaki gondrong dan brewokan sudah berada di atas tempat tidur yang Vira tempati semalam tadi. Lelaki itu merebahkan tubuhnya dengan posisi kaki dia tumpu di atas kakinya yang lain. Kedua tangannya ia silang di tindih di belakang kepalanya.

__ADS_1


Mata yang terpejam tadi kini terbuka lebar karena mendengar suara pekikan kecil Vira. Melihat pemandangan indah di depan matanya. Membuatnya jadi terbangun dan semakin melebarkan matanya. Kaget tentunya melihat seorang wanita cantik yang hanya berbalut handuk sebatas dada dan di atas lutut, tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya.


"Siapa kau?!" tanyanya seraya memiringkan bibir dan wajahnya. Lekas ia berdiri dan perlahan mendekati Vira. Menatap lamat-lamat tubuh Vira dari atas kepala hingga bawah kakinya. Vira melangkah mundur. Tubuhnya gemetaran semakin takut.


"A-aku.. " Vira gelagapan tak mampu menjawabnya karena Lelaki itu semakin mendekatinya, mengikis jarak. Hingga aroma alkohol dari nafasnya tercium oleh Vira.


Vira semakin kencang memegang handuknya di atas dada dan terus mundur ke belakang. Hingga Lelaki itu berhasil membuat Vira terpojok di sudut kamar. Wajah sangarnya tersenyum menyungging, semakin mendekati Vira dan mencium aroma sabun di tubuh Vira.


"Hei cantik kenapa jadi diam saja hmm...?" tanyanya lagi menggoda. "Jangan takut, kan ada abang..." godanya.


Vira sontak terkejut. Lelaki itu mulai menggerayangi pipinya lalu ke bahu putih milik Vira. Spontan Vira mendorongnya kasar dan berlari menjauh darinya mendekati pintu.


"Pergi, jangan sentuh aku!" gertaknya.


"Hehehe mau kemana kamu. Kenapa bisa ada di rumahku? Apa kau datang ingin menjadi istriku hmmm?" tanyanya kembali mendekat.


Vira menggeleng cepat, wajahnya semakin takut, dengan gerak cepat lelaki itu menarik bawah handuk Vira. Hingga setengah balutannya terbuka.


"Jangaaannn!!" Vira berteriak menangis histeris. "Lepaskan aku!!"


Lelaki itu tertawa menyeringai. "Mau kemana toh?? Sini aja temani abang ya..." celetuknya terkekeh-kekeh lagi.


"Pergi, aku mohon jangan ganggu aku!!" Vira kembali mendorongnya kasar, menendang kakinya hingga tersungkur ke lantai. Lalu Vira mengambil mantel dan memakainya dengan asal menutupi bagian atas dadanya. Vira pun lari keluar rumah, tanpa memperdulikan tampilannya.


Vira terus berlari tanpa alas kaki. Sekali-kali ia merintih sakit di telapak kakinya, karena menginjak kerikil-kerikil tajam di jalan.


Lelaki itu geram, dan mengejar Vira dari belakang. Mereka berlarian masuk ke gang, hingga jalan besar.


Vira yang tak fokus berlari, yang sesekali terus menoleh ke belakang, memastikan bahwa lelaki itu tak lagi mengejarnya. Namun ia malah tak sengaja menabrak seseorang di depannya.


Brukkk


Matanya terbuka lebar melihat sosok Pria kekar tinggi, memakai kacamata hitam tengah berdiri di hadapannya. Pria itu pun terkejut dan menatap lekat wajah Vira.


Membuka ponsel yang terus dia pegang. Sambil sesekali melihat wajah Vira. Dia tersenyum miring.


"Ikut aku!" ajaknya tiba-tiba, menggandeng lengan Vira.


"Eeh siapa kamu?! Mau di bawa kemana aku? Lepaskaan tolooonnng!!" teriak Vira. Semakin takut dan panik. Baru saja dirinya lolos dari lelaki yang ingin melecehkannya tadi. Tapi tiba-tiba dia malah tertangkap lagi oleh Pria tak di kenal lainnya.

__ADS_1


Bersambung....


...****...


__ADS_2