Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Senyuman Langka Vicky


__ADS_3

...BAB 15...


...Senyuman Langka Vicky...


"Mbak, ini rantang kemarin yang sudah ku cuci bersih..." Irfan langsung masuk ke ruang makan tanpa mempedulikan Dika yang masih kasak-kusuk mengikutinya di belakang.


"Oh iya sini, mbak isi lagi." Vira mengambil rantangnya di tangan Irfan. Lalu lekas mengisinya dengan nasi dan makanan yang dia masak tadi. Sambil menunggu bekalnya di siapkan, Irfan menarik kursi dan duduk di depannya Vira.


Sedang Dika dengan perasaan yang masih gelisah, berjalan perlahan mendekati Vira yang sedang sibuk, dan duduk di sampingnya.


"Ja-jadi kedatangan kamu kemari..." tanya Dika terbata menatap pada Irfan yang juga sedang melihatinya sinis.


"Di kontrakan Irfan gak sempet masak Mas. Makanya itu, aku suruh dia kemari pagi-pagi sekali, buat ngambil sarapannya. Soalnya dia harus ada di bengkel setengah tujuh pagi, ya kan Fan?!" tanya Vira tersenyum pada adiknya. Irfan mengangguk.


"Ya mbak..."


"Ooh," mulut Dika membulat kecil. Lalu dia membalikkan piring yang sudah tertelungkup di atas meja. Mengambil nasinya sendiri.


"Nah sudah. Ini nanti kamu makan, awas loh jangan sampe di sisain! Nanti bisa seret rezekinya..." gurau Vira berpesan, seraya menyodorkan lagi rantang yang sudah terisi penuh pada Irfan.


"Siap mbak, tenang aja pasti Irfan bakal habisin semua kok, sampe rantang-rantangnya nanti bersih dan mengkilat lagi seperti habis di cuci_ hehehe!" balas canda Irfan, maksud Irfan sisa kuahnya di rantang dia jilati sampe bersih tanpa di cuci. Mendengar itu sontak perut Dika terasa mual.


"Hiii... Jorok banget sih lu Fan!" Dika bergidig memikirkannya, makan pun jadi tak selera. Vira hanya menggeleng dan tertawa renyah mendengar lelucon adiknya. Irfan hanya menyengir sinis pada Dika dari jauh.


"Kalau gitu Irfan pamit dulu ya mbak, gak bisa lama-lama nih..." sahutnya, Irfan mencium punggung tangan Vira seperti biasa. Namun saat melangkah menuju ruang tamu, dia kembali menoleh.


"Oh ya mbak, sebenarnya sih tadi ada sesuatu yang ingin aku ceritakan sama mbak Vira. Tapi kayaknya, ini bukan waktu yang tepat." sahut Irfan sekilas dia melirik lagi Dika yang baru saja memasukan nasinya ke dalam mulut. Lantas dia jadi tersedak-sedak.


Uhuukk uhukk...


Ekspresi wajahnya kembali panik, di pukul-pukulnya bagian dadanya sendiri.


"Mas, pelan-pelan dong makannya..." Vira gegas mengambilkan air minum untuk Dika.


"Te-terimakasih! Uhuik!!

__ADS_1


"Mau membicarakan apa?" tanya Vira pada Irfan setelah Dika kembali tenang.


Dika melirik lagi Irfan, dahinya mengerut dalam, semakin gelisah. Kedua matanya tak henti menyipit tajam pada Irfan. Memberi kode, agar Irfan jangan berani macam-macam.


Irfan hanya tersenyum menyungging melihat ketakutan wajah Dika, merasa tak nyaman jika Irfan terus berlama-lama di apartemennya. Padahal Irfan belum bicara apa-apa tapi Dika sudah paranoid duluan.


"Nanti saja mbak kalau ada waktu lagi kita bicarakan. Hehe ya sudah Irfan pergi dulu! Mau langsung ke bengkel. Takut di cariin si Bos!"


"Ya udah nanti kita bicarakan lagi, hati-hati di jalan ya Fan, jangan ngebut-ngebut naik motornya." pesan Vira lagi.


"Oke mbak siap... Assalamu'alaikum mbak, mas..."


"Wa'alaikum salam..."


Irfan pun berjalan keluar pintu. Vira dan Dika membuntutinya dari belakang seraya membalas salam Irfan. Dika menghela nafas lega setelah melihat kepergian Irfan dari celah pintu.


Vira pun menoleh pada Dika di belakangnya. "Lho kok Mas, makannya di tinggalin. Emangnya sudah abis?" tanya Vira.


"Belum!" jawabnya ketus.


"Aku jadi gak selera. Gara-gara adikmu yang jorok itu, Mas jadi malas lanjutin makan!" sungutnya. Tiba-tiba Dika berwajah masam dan kesal.


Aah lebih baik aku mengajak pergi makan Sindy saja... gumamnya di hati, bibirnya menyungging senyum.


Vira mengernyitkan dahinya. Menatap sayang pada makanan yang tak di habiskan Dika.


"Terus ini sisa makananmu gimana?"


"Buang saja ke sampah!" teriaknya yang lalu Dika bergegas ke kamarnya memakai pakaian kerja.


Vira menghembus kasar dan memenjamkan rapat matanya. Baru saja semalam tadi Dika perhatian padanya, kini sikapnya berubah kembali acuh. Bahkan, sekarang Dika mulai berani bicara kasar hanya karena hal sepele yang tidak dia sukainya.


"Ada apa sama Mas Dika? Biasanya dia tak sekesal itu kalau Irfan lagi bercanda?"


Vira terpaksa memakan habis nasi bekas Dika. Hal itu sudah biasa di lakukan Vira sejak kecil di Keluarganya. Orangtuanya selalu mendidiknya agar tak boleh membuang-buang makanan walau satu butir nasi pun. Karena katanya, di dalam makanan terdapat keberkahan yang Allah berikan.

__ADS_1


Tak lama setengah jam Dika sudah bersiap diri membawa tas kerjanya.


"Aku berangkat dulu..." sahutnya setelah memakai sepatu kerja.


Vira mengangguk dan meraih tangan suaminya untuk di cium. Setelahnya Dika melengos pergi tanpa membalas kecupan di kening Vira seperti biasanya, bahkan untuk berucap salam pun dia tidak menyampaikannya.


Vira hanya memandang nanar punggung suaminya yang sudah melenggang pergi. Lalu kepalanya menggeleng pelan. "Mas Dika, akhir-akhir ini sikapnya aneh sekali..." gumamnya ngebathin.


*****


Matahari pun mulai terbenam. Langit putih berganti jingga.


Para pegawai di perusahaan Vicky tampak sibuk untuk mempersiapkan diri mereka masing-masing, lekas mereka menghentikan aktivitasnya yang sudah menguras pikiran dan tenaga. Pulang dan beristirahat hanya itu saja keinginan dalam benak mereka saat ini.


"Kamu pulang sendiri ya, atau minta Dika yang menjemputmu! Hari ini aku ada urusan penting,"


Vicky beranjak dari kursi setelah merapikan mejanya. Lalu dia membenarkan jas kerjanya. Sesekali dia memandangi tampangnya di cermin lemari buku. Menyisir rambutnya ke belakang.


Aah Perfect ucap dalam hatinya memuji.


"Memangnya Kak Vicky mau pergi kemana?" Sindy yang sudah siap pulang, sambil menenteng tas kerjanya di bahu, sontak terheran, tiba-tiba saja Vicky memintanya pulang sendiri.


Vicky tersenyum lebar, kedua matanya berbinar.. "Ada saja... Nanti ku beritahu setelah di rumah!" ucapnya santai.


Sindy yang melihat pancaran berbeda di kedua manik sepupunya. Sekilas ia terpana dan kaget.


"Aaah... Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Kak Vicky yaa?? Apa jangan-jangan?! Kakak sudah bertemu lagi dengan man~"


"Kau akan tahu sendiri Sin, bila saatnya tiba aku pasti akan perkenalkan dia kepadamu." selanya. Matanya mengerling dari jauh, dengan percaya dirinya Vicky keluar dari ruang kerjanya sore itu. Tetap dengan senyumnya yang semakin merekah.


Sindy masih berdiri tertegun di ruang Vicky, melihat tingkah kakak sepupunya yang tak biasanya. "Beginilah jadinya kalau si Pria kaku sedang jatuh cinta..." gumamnya seraya mengangkat kedua alisnya bersamaan, lalu menjentikkan jarinya.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


.


__ADS_2