
...BAB 61...
...Merebutkan Aqilla...
"Dimana Aqilla?" teriak Vira sambil berlari menghampiri Sophia yang baru saja turun dari mobil Pajeronya. "Aqillaaaa...." Vira mendekati mobil dan melihat-lihat ke dalam jendela. Mencari-cari keberadaan putrinya dan juga Bi Ina di dalam sana.
Malam itu Vira datang sendirian karena permintaan Sophia, setelah siangnya Sophia mengirimkan alamatnya untuk pertemuannya dengan Vira. Tempat yang begitu sepi dan jauh dari perkampungannya. Sophia sangat yakin jika di tempat itu tak akan ada orang yang tahu tentang kejahatannya.
Kedua pengawal Sophia pun melenggang pergi meninggalkan mereka berdua untuk berjaga-jaga melihat situasi. Memastikan jika Vira hanya datang seorang diri.
Vira membelalakan matanya, sangat terkejut kalau Sophia ternyata tak membawa Aqilla dan juga Bi Ina. Dia pun kembali histeris.
"Dimana putriku!! Kenapa kau tak bawa dia! Kembalikan putriku...!!" teriaknya lagi menggeleng-geleng cepat, sambil mengguncang-guncangkan bahunya Sophia.
"Jangan pernah menyentuhku!" hardiknya mendorong Vira dengan kasar, hingga tubuh Vira terhuyung kebelakang.
Sophia pun tersenyum miring serta menatap angkuh pada Vira. Kedua tangannya kini bersedekap di dada.
"Berhentilah menangis, aku pasti akan mengembalikan anakmu. Tapi dengan syarat kau harus menggugat cerai Vicky di hadapanku. Sekarang juga!" perintahnya tegas. "Kalau kau tak ikuti perintahku, kau tahu sendiri bukan akibatnya!" ancamnya kali itu sembari mendorong kencang dada kiri Vira dengan menjauh darinya. "Bayimu, perlahan-lahan akan mati karena kelaparan..."
Sophia mengambil ponselnya dan memperlihatkan video dari kamera cctv, Bi Ina yang terlihat menggendong Aqilla di kurung di sebuah ruangan kecil. Terdengar tangisan kencang Aqilla karena dia tak mau menyusui susu dot yang di berikan Bi Ina. Vira tahu jika Aqilla tak pernah mau dan tak cocok diberi susu formula. Hanya ASI nya lah yang mau dia minum.
"Aqilla..." lirihnya.
Vira terhenyak dalam, maniknya membulat lebar. Bibirnya bergetar seakan dia sulit berucap, dia belumlah siap dengan semua permintaan Sophia saat itu. Memutuskan harus kehilangan Aqilla, ataukah memilih berpisah dengan Vicky? rasa bimbang kini menyergap hatinya. Karena dia pun sudah berjanji tak akan pernah meninggalkan Vicky lagi mesti banyak rintangan yang mereka hadapi. Tapi nyawa Aqilla sangatlah penting baginya.
Lutut Vira seakan lemas tak bertulang, ia tak sanggup jika harus kehilangan putri kecilnya.
"A-aku_" ucapnya terbata.
"Kenapa?! Apakah hubungan kalian itu lebih penting dari pada kehilangan anakmu sendiri? heh!" selanya, Sophia memincing sinis. "Dasar wanita miskin! Bukankah dulu aku pernah katakan kepadamu, jauhi Vicky!" ucapnya tegas. "Beginilah akibatnya jika kau nekad menentangku!"
Tangan Sophia terulur dan menarik kencang rambut Vira. Mendekatkan wajahnya, dengan tatapan marah dan geram.
"Aaaahhhkk!!" Vira menjerit sakit. Menahan tangan Sophia yang menjambak rambutnya dengan kuat.
"Sadarlah dengan posisimu, siapa dirimu ini, Vira?! Bahkan anakmu itu bukanlah darah dagingnya Vicky! Berani-beraninya kau sudah merayu Vicky agar menikahimu!" bentak Sophia. "Dasar kau memang wanita murahan!!"
Seketika tangan Sophia hendak melayang ke pipi Vira, ingin menamparnya. Namun saat itu juga seseorang sudah menahan tangannya lebih dulu dengan kuat.
Graap
"Kaulah yang murahan Sophia!!" pekiknya kencang.
Sophia dan Vira pun menoleh dan terbelalak bersamaan.
"M-mas_!!" Vira tergagap kaget, entah kapan Vicky sudah ada di Jakarta. "Bukankah kamu..."
"Vi-Vicky_!" gelagap Sophia terbata-bata, wajahnya kini memucat.
Vicky tersenyum pahit, menatap sendu wajah istrinya yang sudah terlihat panik dan ketakutan.
"Kan sudah aku katakan padamu, ini semua tak akan pernah terjadi..." ucapnya dengan wajah serius.
__ADS_1
Vira tersenyum lirih, menarik nafasnya lega. Maniknya berkaca-kaca menatap wajah suaminya yang kini sudah berada di hadapannya.
"Vi-Vicky kenapa bisa kau ad..." Sophia pun ikut gelagapan, sangat shock. Lalu Vicky beralih menatap tajam Ibu tirinya.
"Kau bilang jika Aqilla bukanlah darah dagingku? Lalu siapa kau ini? Kaupun sama bukanlah Ibu kandungku?!" sindirnya, sinis.
Sophia menegak air ludahnya yang sulit dia telan. Tatapannya getir.
"Vic-!" Sophia tergugup.
"Huh, jadi inikah cara licikmu ingin memisahkan kami lagi?! Kau pikir dengan mengelabuiku. Kau bisa mengancam Vira lagi dan memintanya agar menjauhiku!! Begitu maksudmu, haah!!" sentaknya mencengkram lengan Sophia sangat kencang.
Sophia pun meringis kesakitan.
"Vi-Vicky..."
Saaattttth
Dengan kasar, Vicky pun menghempas kencang tangan Sophia, hingga wanita berusia 49 tahunan itu tersungkur jatuh ke tanah. Vicky tak peduli walaupun umur Sophia di atasnya, dia tak segan-segan untuk menghukum orang yang sudah mengusik hidupnya. Siapapun itu.
Vicky berdecih, sangat jijik melihat bisanya ular wanita simpanan Papanya dulu. Wanita yang sudah menghancurkan hidup Mamanya.
"Kau memang manusia iblis, Sophia!! Setelah kau membunuh Mamaku! Lalu kau ingin melakukan itu pada istriku!!" bentaknya lagi.
"Akh, dengarkan aku Vicky semua tak seperti yang kamu bayangkan, aku tak membunuh Mamamu..." Sophia menciut, lekas menyangkalnya. Tubuhnya beringsut mundur, wajahnya kini pucat sekali. Lalu dia menoleh ke kanan kirinya mencari-cari suruhannya yang tak datang-datang menolongnya.
"Apakah anda mencari-cari mereka nyonya?" Adam pun datang dengan membawa dua pengawal Sophia yang kini sudah di ringkus oleh kedua bodyguard Vicky yang lebih kekar dan tinggi daripada mereka.
Sophia pun terperangah, lalu lekas ia menatap pada Vira dengan geram. Seolah Vira sudah memberitahukan ini semua pada Vicky. Tapi Vira menggeleng-geleng benar-benar tak tahu, diam-diam ternyata Vicky sudah membuntutinya tanpa sepengetahuannya sendiri.
"Adam, bawa mereka ke kantor polisi." titah Vicky tiba-tiba, yang segera di angguki Adam.
"Baik Tuan!"
Sophia pun terbelalak, maniknya tercengang.
"A, apa kau ingin membawaku ke kantor polisi!" gagap Sophia. "Kau benar-benar keterlaluan Vicky!"
"Jika kau ingin membela dirimu sendiri, katakan saja itu setelah di kantor polisi!" sergah Vicky sambil tersenyum miring.
"Ayo silakan ikut saya Nyonya Sophia..." ajak Adam seraya menyekal tangan Sophia.
"Kau_ awas kau Vira!" pekiknya pelan. Mengepal kencang tangannya. Menatap nyalang pada Vira.
...~Flashback on~...
Pagi itu Vicky di kejutkan oleh telepon dari Adam, terkait perusahaan cabangnya di Bandung, karena ada kecelakaan pabrik yang mengakibatkan beberapa orang karyawan terluka berat dan harus di larikan ke Rumah Sakit, serta ratusan barang produksinya pun banyak yang rusak dan tak jadi di eksporkan ke luar negeri pada hari itu.
"Apa? benarkah itu?" Dahi Vicky berkerut, namun dirinya tetap tenang menanggapinya, seolah ia tak terkejut mendengar berita dadakan itu.
Adam pun mengirimkan video beberapa karyawan tak lebih dari sepuluh orang kini tengah terbaring terluka di bangsal, pada Vicky. Memperlihatkan beberapa ratus barang produksinya di pabrik rusak tercecer di lantai.
["Iya bagaimana Tuan, apakah kita langsung pergi ke sana saja. Untuk melihat dan menyelidiki kasus kecelakaan ini?"]
__ADS_1
"Apa kau yakin semua kecelakaan itu tidak di sengaja?" tukas Vicky.
["Maksud Tuan?"] dahi Adam berkerut, tak mengerti.
"Kita akan pura-pura pergi ke Bandung. Kamu suruh seseorang untuk pergi ke sana menggantikan kita untuk menyelidikinya. Aku yakin, ini hanyalah permainan seseorang di balik rencananya yang terselubung."
Adam tampak berpikir, tapi dia pun akhirnya mengerti dengan maksud Vicky.
["Baik Tuan!"] Adam pun segera menutup panggilannya. Menuruti semua perintah Vicky.
Pagi itu perasaan Vicky sudah tak enak, firasatnya mengatakan, jika kecelakaan itu hanya akal-akalan seseorang saja agar dirinya bisa pergi jauh dari Vira.
Sebelumnya memang dia sudah menawarkan Vira untuk di antarkan ke Mansionnya lebih dulu. Namun Vira menolaknya, Vicky pun tak ingin memaksanya. Agar terlihat benar-benar pergi dia pura-pura mengambil sesuatu di rumahnya, seolah Bagas dan Sophia tahu jika dirinya memang tengah terburu-buru berangkat ke Bandung pagi itu.
Namun Vicky diam-diam sudah meminta seseorang untuk memantau kontrakan Vira, dan terjadilah sesuatu yang tak diinginkan. Suruhan Sophia datang dan menculik Aqilla dan juga Bi Ina. Vicky menyuruh anak buahnya terus mengikuti mereka.
Sehingga siang setelah kabar penculikan itu terjadi, Irfan meneleponnya.
...~Flashback of~...
Setelah Adam dan dua anak buah Vicky membawa Sophia dan pengawalnya pergi. Vira menangis tersedu dan menghambur merangkul leher Vicky dalam pelukannya.
"Kenapa, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah saat ini seharusnya kamu ada di Bandung, Mas?" Vira memberondong pertanyaan untuknya. Dia pikir dia akan menghadapi kesulitan itu seorang diri.
"Aku sengaja tak memberitahukanmu, aku memang pura-pura pergi untuk melancarkan semua rencana Sophia dan Papaku. Aku sudah merasa jika mereka tak akan pernah diam untuk mencari cara agar kita terpisah lagi." ujar Vicky melepas pelukan istrinya. Lalu mengusap wajah istrinya yang sudah basah dengan air mata.
"Mas... Terimakasih kamu datang tepat waktu. Mungkin jika tidak ada dirimu, saat ini aku benar-benar kesulitan." lirihnya. "Sekarang dimana mereka menyembunyikan Aqilla dan Bi Ina?" tanyanya yang masih belum merasa lega, karena belum bertemu Aqilla.
"Kamu tak perlu khawatir. Mereka sudah ada di kontrakan bersama Irfan. Anak buahku sudah mengatasinya sebelum mereka pergi menemuimu."
"Benarkah itu?!" Vira melebarkan matanya tak percaya, hatinya sangat senang sekali mendengarnya, Vicky mengangguk lagi tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, ayo cepat kita pulang, Mas! Aku kasihan sama Aqilla, dia pasti sudah kelaparan saat ini!" gegas Vira menarik tangan Vicky dan pulang. Mereka berdua pun menaiki motor Vicky, lalu memacu roda duanya dengan kecepatan tinggi.
****
Mereka pun telah sampai di depan kontrakan dan terjadi keributan di dalam sana. Suara Irfan dan Dika terdengar seperti sedang berdebat malam itu.
"Kau tak kuijinkan untuk membawa keponakanku pergi!" Irfan hendak merebut Aqilla yang menangis kencang di pangkuan Dika saat ini. "Kembalikan dia!!" cecarnya.
"Aqilla adalah putriku, dan aku berhak membawanya pergi!" timpal Dika tak peduli.
"Itu tak akan pernah terjadi!" Vicky pun datang dan dengan gesit ia merampas lagi Aqilla dari Dika. Irfan pun membantu Vicky menahan tubuh Dika yang terus memberontak.
Vicky pun memberikan Aqilla ke pangkuan Vira dan menyuruhnya pergi ke kamar.
"Hei brengsek kembalikan putriku! Dia darah dagingku! Jika dia terus bersama ibunya, malah banyak bahaya yang mengancam hidupnya. Ayo kemarikan putriku, Vira!!" teriak Dika menengadahkan tangannya pada mantan istrinya tersebut. Namun Vira menggeleng menolaknya.
"Tidak Mas, Aqilla akan tetap bersamaku!" jawabnya tegas.
Dika tersenyum miring. "Apa kau sama sekali tidak melihat kejadian ini sebagai pelajaran untukmu?! Kau jangan bodoh Vira, menikah dengannya malah akan membahayakan putri kita. Biarkan aku dan Mama yang akan merawat Aqilla..." pintanya tegas.
Bersambung...
__ADS_1
...****...