
...BAB 52...
...Kenapa Cinta Datang Terlambat?...
Dika membuang nafasnya perlahan, mengerjapkan netranya yang sudah basah. Tak ingin lama-lama melihatnya, lantas dia pergi setelah meletakkan bucket bunga di bawah lantai depan pintu kamar rawat Vira.
Dia pun pergi, kakinya mengayun pelan menghampiri Mamanya di sana yang sedang menemani putrinya tertidur di box bayi ruangan khusus bayi.
"Mah..." panggilnya, Diana menoleh kaget. "Dika, pamit pulang dulu. Mau mandi dan ganti pakaian," sahutnya melas, semangat seakan musnah dalam hidupnya. Diana mengangguk tersenyum.
"Ya sudah, kamu pulang duluan saja sana. Mama tidak apa-apa di tinggal di sini..." katanya tersenyum sendu, seraya mengusap pundak putranya. "Sabar ya Nak..." ucap Diana lagi. Memberikan suntikan semangat.
Dika pun tersenyum tipis, lalu kembali memandangi putrinya yang masih terlelap tidur. Perlahan dia mendekatkan wajahnya, mengecup pelan di kening bayi mungilnya
"Sayang, jaga baik-baik Bundamu ya... Titip salam dari Ayah untuknya..." bisiknya pelan. Air matanya pun menetes tak tertahankan lagi, hingga terjatuh ke pipi mulus merahnya.
Setelahnya Dika pamit, ia berjalan gontai menuju parkiran Rumah Sakit, menaiki roda empatnya, lalu melajukannya dengan kecepatan tak terlalu tinggi menuju apartemen. Namun dia tidaklah pulang ke apartemen baru yang kini di tempatinya bersama Sindy. Tetapi pulang ke apartemen lama yang pernah ia tinggali dulu bersama Vira. Dika diam-diam memang tak menjual apartemen lamanya seperti yang di perintahkan Sindy kepadanya saat itu. Karena Dika pikir dia akan kembali menaklukan hati Vira setelah perceraian itu, lalu rujuk kembali dan tinggal bersama seperti dulu di apartemen mereka.
Setelah sampai dan membuka kunci apartemennya dengan access card. Dika masuk ke dalam dengan pandangan yang nanar, menyisir setiap sudut ruangan yang sudah menjadi kenangannya bersama Vira.
Seketika dia mengingat kembali dengan perkataan Vira tadi di Rumah Sakit.
"Tidak itu tidak mungkin. Aku tahu sifat Mas Dika, dia tak mungkin menyesalinya. Dia sudah pernah jujur padaku. Bahwa dia tak pernah mencintaiku selama ini..."
"Cinta?!" Vira terkekeh kecil. "Sepertinya rasa itu sudah hilang Vicky. Entahlah, aku pun baru menyadarinya. Mungkin karena aku terlalu fokus pada anakku... Mas Dika adalah masalaluku yang harus aku lupakan secepatnya... Aku hanya ingin bahagia menjalani masa depanku bersama putriku dan juga... Bersamamu..."
Hatinya terhenyak semakin dalam, netranya mendadak terasa perih, air matanya mulai menggenang menutupi pandangannya. Di raihnya foto pernikahan mereka setahun yang lalu di dinding kamarnya, tangannya mengusap pelan foto cantik Vira, buliran air pun menetes-netes membasahi pipinya.
"Ma~af aku baru menyadarinya, ternyata kamu memang cantik sekali. Kau tahu aku sangat rindu padamu... Rindu sekali dengan belaian tanganmu. Aku rindu dengan semua yang pernah kau berikan untukku..." lirihnya sendu. "A-aku tak menyangka, secepat itukah kamu melupakanku, Viraa..." lanjutnya dengan suara tersendat dan bergetar. Dika mendekap foto itu rapat-rapat ke dalam pelukannya. Rasa penyesalan perlahan masuk ke dalam hatinya.
"Kenapa cinta datang terlambat setelah kau bukan lagi milikku..." helanya dengan nafas yang berat dan sesak. Tubuhnya kini merosot ke bawah, terduduk meringkuk di lantai yang sangat dingin.
Tiba-tiba saja, Dika merasakan tubuhnya menggigil kedinginan dan rasa gatal di kulit tangannya mulai terasa.
"Akh sial!" desisnya berdecak kesal, mengusap-ngusap kasar bagian kulit yang terasa gatal.
__ADS_1
****
"Permisi, Bu Pak..." seorang pengantar makanan memanggil dari luar pintu kamar Vira, membawakan makan malam beserta segelas susu yang diam-diam di pesan oleh Vicky sebelumnya, susu yang mereka berdua beli di mall tadi siang.
Vicky pun lantas berdiri dan membuka lebar pintunya, mbak itu tersenyum pada Vicky
"Pak ini pesanannya tadi..," ramahnya.
"Ya, silakan bawa masuk itu ke dalam," Vicky menyilakannya. Namun sebelum pengantar makanan itu masuk mendorong troli makanannya, dia mengambil bunga yang dia temukan tadi di depan pintu.
"Akh maaf Pak, ini bunganya apa memang sengaja di biarkan tergeletak di bawah begitu saja ya..." tanyanya menyodorkan bucket itu pada Vicky. Sontak Vicky pun mengerutkan dahinya, mengamati bucket itu terheran. Lalu ia mengambilnya dari tangan mbak pelayan Rumah Sakit tersebut.
"Maaf, tapi ini bukan punyaku..." jawab Vicky. Mbak itu terheran lagi.
"Oh kalau bukan punya bapak, lalu punya siapa dong?" mbak itu mengerutkan dahinya, bertanya lagi.
Vicky menggeleng lagi. "Tidak tahu..." Lalu mengembalikannya lagi pada mbak pelayannya.
"Ada apa?" Vira yang mendengar Vicky berbincang serius dengan pelayan Rumah Sakit itu, lantas ikut bertanya.
Vira memandang pada bucket mawar merah di tangan mbaknya. Alisnya mengerut, seketika ia pun jadi teringat.
Bunga mawar adalah bunga yang Vira sukai selama ini, dan orang yang tahu bunga kesukaannya hanyalah Vicky dan Dika saja selain Irfan dan mendiang Ibunya. Vira pernah menanam bunga di pot yang ia simpan balkon luar kamar apartemennya dulu. Namun Dika melarangnya karena dia sangat alergi pada bunga mawar, pernah dia tak sengaja menyentuh bunga itu, beberapa menit kemudian tubuh Dika menggigil kedinginan tak hanya itu, kulitnya juga jadi gatal dan banyak ruam di sana-sini.
Sontak Vira pun tercengang, ia menelan kasar salivanya yang tercekat di tenggorokan.
"M-mungkin itu dari Mas Dika..." gagapnya sedikit khawatir. Mendengar namanya, lantas Vicky melipat keningnya tak suka, lalu ia menghembus kasar nafasnya.
"Oh jadi dari dia rupanya!" cebik Vicky, dia pun melirik Vira yang kini maniknya terlihat samar seperti tengah berkaca-kaca.
"Apa kamu ingin menyimpannya?" tanya Vicky lagi. Vira mendongak kaget, lantas ia menggeleng pelan dan tersenyum kikuk.
"Tidak perlu, buat mbaknya saja." celetuk Vira. Sontak mbak itu melohok.
"Eh, loh kok jadi buat saya sih, Bu?" katanya menunjuki dirinya kaget. "Tapi serius nih buat saya?!" tanyanya lagi senang tentunya.
__ADS_1
Vira tertawa renyah melihat ekspresi lucu mbak pengantar makanan itu. Lalu ia mengangguk-angguk lagi yakin. "Iya itu buatmu, mbak. Terima saja bunganya, kan sayang daripada di buang..." sahut Vira lagi, tersenyum.
"Waah makasih banyak ya Bu... Heheh... Lumayan buat pajangan di meja kamar kosan saya..." sahutnya terkekeh-kekeh girang, sambil mencium dalam-dalam wanginya bunga mawar merekah di tangannya. Lalu lekas ia menyimpannya di rak bawah troli.
Setelahnya Mbak pelayan tersebut berjalan mendekati Vira, meletakkan nampan makanan di meja sisi tempat tidur. "Silakan di makan ya Bu, biar tubuhnya kembali bertenaga." ujarnya.
"Ya terimakasih banyak..." ucap Vira.
Mbak itu mengangguk lagi tersenyum, lalu pamit pergi setelah selesai melakukan tugasnya dan kembali menutup pintunya dengan rapat.
Setelah memastikan pelayan tadi pergi, Vicky kembali mendekati kekasih hatinya, mendelikkan mata sipitnya. Lalu berdeham pelan.
"Ekhm hem.."
"Apa?" Vira membalas memincingkan matanya.
"Yakin nih, hatimu menolak pemberian bunga itu darinya?" sindirnya. "Ngg... Itu bunga Mawar lho!" godanya mengejek.
Vira mengerucutkan bibirnya. "Memangnya kenapa kalau aku menolaknya? Kalau aku terima, nanti ada yang marah lagi?!" balasnya menyindir.
Lantas Vicky melebarkan bibirnya tertawa terbahak-bahak. "Tahu saja, hahaaha..."
"Tentu saja siapa yang tak hafal sifatmu yang cemburuan itu," cebiknya.
Tanpa sadar Vicky ingin sekali memeluk Vira, namun Vira refleks mendorong dadanya.
"Aduh Vicky, jangan ini di Rumah Sakit. Nanti ada orang yang lihat tahuu..." pekik Vira memelankan suaranya.
"Tapi tadi di mall juga kan aku sudah memelukmu dan kau tidak menolakku?!" cebiknya sewot.
"Iya, tapi sekarang aku tak mau lagi di peluk kamu. Sebelum kita benar-benar sudah menikah, titik!" tegasnya melototkan maniknya, lalu Vira jadi menahan tawanya saat melihat Vicky yang menghela nafasnya sangat kecewa.
"Baiklah-baiklah... Aku akan sabar menunggu sampai akad nikah kita selesai." riuhnya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mereka pun akhirnya tertawa bersamaan.
Bersambung....
__ADS_1
...****...