
...BAB 16...
...Kisah Kita Sudah Usai...
Sindy masih berdiri tertegun di ruang Vicky, melihat tingkah kakak sepupunya yang tak biasanya. "Beginilah jadinya kalau si Pria kaku sedang jatuh cinta..." gumamnya seraya mengangkat kedua alisnya bersamaan, lalu menjentikkan jarinya.
Saat langkah tegap dan panjangnya melewati para pegawai di sana. Mereka melirik atasannya terheran-heran. Vicky yang tak pernah berwajah ramah sekalipun, bahkan senyum tak pernah terbit di bibirnya.
"Dia itu Pak Vicky bukan?" bisik-bisik mereka terdengar halus di kuping Vicky. Namun Vicky tak peduli dia terus melangkah menaiki mobilnya di parkiran dan melajukan roda empatnya membelah jalanan. Penuh semangat.
Tak ada lima belas menit Vicky sampai di bengkel tempat Irfan bekerja. Dia pun menghampiri bos bengkel dan menanyakan Irfan.
"Ooh hoho... Sore Pak, apa kabar?" tanya Pak Iwan menghampiri Vicky, yang sebenarnya sudah mengenali pelanggannya. Vicky memang jarang ke bengkel Iwan. Dia selalu meminta assistennya saja yang mengurus kendaraannya bila ada kerusakan.
"Sore Pak. Aku ingin bertemu dengan salah satu karyawanmu yang kemarin mengantar mobilku."
"Irfan? Ada apa Pak? Apa dia sudah berbuat salah? Apa mobil anda ada yang rusak?!" sahutnya terbelalak.
Pak Iwan tampak cemas, lantas dia tergopoh menghampiri mobil sedan milik Vicky, memeriksa setiap jengkal body mobil. Khawatir jika Irfan, karyawannya membuat kelalaian sehingga merusak mobil pelanggannya.
"Bukan, bukan begitu Pak! Aku hanya ingin bertemu dengan Irfan dan mengajaknya mengobrol sebentar. Boleh kan..." ijinnya.
Pak Iwan melongo lalu tak lama dia berpikir keras. Vicky mengerti dengan membaca raut wajah tuanya. Bengkel Pak Iwan memang satu-satunya bengke yang paling melejit. Karena di percaya sangat memuaskan pelanggan. Service kendaraannya sangat berkualitas baik. Sehingga dia berperan tegas mendisiplinkan karyawannya sendiri.
"Jangan khawatir Pak, aku akan bertanggung jawab mengganti rugi waktunya Irfan." ucap Vicky yang tak lama di angguki oleh Pak Iwan.
"Ooh oke oke, terimakasih banyak Pak. Baiklah segera akan aku panggilkan anak itu hehe.." Pak Iwan terkekeh lalu melangkah masuk mencari Irfan.
Vicky pun melangkah masuk lagi ke dalam mobil menyemprotkan minyak misknya ke seluruh badan. Melirik lagi buket bunga yang dia simpan di belakang jok mobil tadi. Senyum tampannya terus menyungging.
Cukup lama menunggu akhirnya Irfan keluar dan menghampiri Vicky yang sudah duduk manis di bangku kemudi mobilnya.
Vicky mengklakson Irfan yang berlari kecil menghampirinya.
__ADS_1
"Kak..." sapa Irfan, tergopoh-gopoh.
"Ayo naik!" titahnya. Menggeser dagunya memberi kode pada Irfan agar cepat naik mobilnya.
"Ta-tapi kan kak, aku ma..."
"Sudah naik saja, barusan aku sudah minta ijin sama bosmu, hari ini kau temani aku. Antarkan aku menemui kakakmu." ucap Vicky lancar.
Sontak Irfan tercenung dengan pandangan ragu, namun pada akhirnya dia juga terpaksa masuk ke dalam mobil Vicky dan menuruti kemauannya.
Di tengah perjalanan mereka. Irfan pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Kak, apa Kak Vicky yakin ingin menemui Mbak Vira?" tanyanya semakin ragu. Khawatir Vicky akan kecewa setelah mereka bertemu.
"Tentu saja Fan, aku ingin melihat keadaan Vira. Sebenarnya sih kami sudah pernah bertemu. Namun saat itu sepertinya Kakakmu masih tampak kesal padaku. Makanya dia bilang tidak ingin bertemu lagi denganku. Tolong jangan katakan dulu pada Vira. Bahwa aku akan datang melamarnya ya!" ungkapnya yang membuat
hati Irfan mencelos prihatin, hatinya bertambah tak tega jika memberitahukan yang sebenarnya pada Vicky bahwa Vira, kakaknya sudah menikah dengan Pria lain.
"Ta, tapi Kak!" Irfan terbata-bata. Belum sempat Irfan berkata, Vicky mendadak mengerem mobilnya tiba-tiba.
"VIRAA!"
Deg deg deg
Jantung Vicky berdebar kencang. Tak sangka dia akan menemui lagi Vira dalam keadaan yang nyaris saja menabraknya.
"Mbak Vira!" lirih Irfan lalu dia turun dan menghampiri kakaknya. "Kamu tidak apa-apa Mbak?"
"Irfan kok kamu ada di sini?!" Vira mengerutkan dahinya heran. Lalu dia menatap lagi mobil yang di naiki Irfan barusan. Wajahnya memucat tatkala melihat siapa yang ada di dalamnya.
Vicky perlahan membuka pintu mobil dan turun, Kacamata yang selalu bertengger di hidungnya dia lepaskan. Vira yang melihat Vicky dan Irfan bersamaan sontak bertanya-tanya dalam pikirannya.
"Ka, kamu..." Vira terbata. Bibirnya bergetar gugup.
__ADS_1
Vicky berjalan mendekati Vira yang masih tegang mematung.
"Vira..." lirihnya, Vira berangsur mundur
"Jangan mendekatiku. Kita sudah tak punya hubungan apa-apa lagi!" pekiknya mencegah Vicky menghampirinya.
Kedua manik Vicky berkaca-kaca. Menatap sendu wajah wanita yang selalu dia cintai. Cinta yang tak pernah luntur di hatinya. Walaupun dirinya pernah bersikap kasar dan egois.
"Mbak, jangan begitu. Kak Vicky hanya ingin melihat keadaanmu saja..." Irfan merangkul bahu Vira menenangkan hati kakaknya yang masih terlihat kesal dengan Vicky.
"Kamu bicara apa sih Fan? Jadi maksud kamu tadi pagi. Soal ini yang ingin kamu ceritakan pada Mbak?!" tanya Vira.
Irfan mengangguk pelan. "Ya, kemarin aku bertemu Kak Vicky di kantornya. Dia ingin bertemu Mbak Vira. Kak Vicky ikut sedih saat ku ceritakan kalau Ibu sudah meninggal. Mbak dan Kak Vicky sudah lama tak bertemu. Jadi sudah waktunya kalian saling memaafkan..."
Vira menggeleng pelan. Hatinya terhenyak. Kedua matanya mengembun.
"Ya Irfan benar, sudah waktunya kita saling memaafkan." Vicky memberanikan lagi mendekati Vira dan mengulurkan tangannya.
"Aku benar-benar tulus meminta maaf padamu..."
Vira memalingkan wajahnya, sedikit terisak menutupi kesedihannya.
"Aku ingin kembali melanjutkan kisah cinta kita yang belum usai... Aku ingin memperbaikinya lagi, dan menjalani hidup bersamamu. Tanpa ada yang menghalangi langkah kita bersama..." ungkap Vicky dengan tatapan sendu dan penuh harap.
Vira lagi tersentak dan menatap lagi wajah Vicky dengan kedua netra yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Vira pun menggeleng tersenyum padanya.
"Maafkan aku Vicky, tapi kisah kita sudah usai sejak lama. Karena aku, karena aku sudah menikah." ucap Vira dengan nada lirihnya dia mengangkat perlahan tangan kirinya sebatas dadanya. Memperlihatkan jelas cincin emas pernikahannya dengan Dika.
Duaaarr
Tubuhnya berguncang bagaikan tersambar petir. Cinta yang sudah lama dia nantikan, harus musnah begitu saja dengan cara yang menyakitkan. Vicky tak menyangkakan akan kesetiaannya selama ini harus terhempas jauh ke dasar jurang. Matanya semakin memanas perih. Namun hatinya lah yang bertambah perih, menatap getir pada cincin yang melingkar di jari manis wanita yang dia cintai. Seharusnya cincin pemberiannyalah yang melingkari jari Vira. Tetapi tanpa di ketahuinya selama ini sudah ada Pria lain yang memasangkannya lebih dulu.
Bersambung....
__ADS_1
...****...