
...BAB 31...
...Kedatangan Vicky...
"Berhentilah kau bersikap egois! Walaupun kau ingin mogok makan sekali pun demi untuk meluluhkan aku. Aku akan tetap dengan niatku menikahi Sindy. Sekarang Mama sudah setuju dengan pernikahan keduaku. Apa lagi yang ingin kau katakan? Kau itu sudah beruntung sudah aku nikahi dan nafkahi. Dulu kau hidup hanya berdua dengan adikmu. Kalian tak punya rumah. Harusnya kamu bersyukur karna aku menikahimu meski aku tak pernah mencintaimu!" tegas Dika, yang tak sadar tiba-tiba dia keceplosan bicara.
Sontak Vira terhenyak, hatinya seperti di cabik-cabik tak berbentuk. Ucapan Dika berhasil menyayat hatinya yang paling dalam.
"Oh jadi begitu, berarti semua yang kau ucapkan dulu padaku. Perkataanmu di depan penghulu dan semua saksi, semuanya hanyalah dustamu?" sindirnya datar, sorot matanya berubah dingin dan sayu. Dika menganga. Pupil matanya bergerak-gerak memandang Vira, gugup.
Vira menarik tangannya setelah Dika melepasnya, lalu melangkah mundur. Air matanya kembali menetes dengan deras.
"Ku pikir, kau adalah Pria terakhir dalam hidupku Mas, Pria yang akan selalu mencintaiku sepenuhnya dengan tulus. Aku sadar, aku memang lahir dari keluarga miskin. Tapi bukan berarti, aku mau menikah denganmu karena memandangmu orang berada. Aku mau denganmu, karena sikap dewasa dan perhatianmu padaku dulu, kau sudah berhasil membuatku luluh dan jatuh hati, aku pikir kamulah yang mampu menyembuhkan luka masalaluku dengan Pria yang telah menyakitiku. Tetapi ternyata aku salah, aku salah telah jatuh cinta padamu." lirihnya, dengan suara paraunya.
Dika kesulitan menelan salivanya hatinya berdenyut seperti di cubit. "Vira... Maaf bukan maksudku berkata seperti itu. Aku hanya ingin kamu mengerti. Aku sudah mencintai Sindy sebelum kamu hadir di dalam hidupku. Aku hanya merasa bersalah telah mengecewakannya, karena diam-diam sudah menikahimu tanpa dia ketahui sama sekali." paparnya dengan raut wajah sendunya. Vira mendongak.
"Lalu, apa kau tidak pernah merasa bersalah karena sudah mengecewakan aku? Jadi selama ini kamu anggap aku apa? Kau bahkan katakan padanya aku adalah Tantemu!" timpalnya lagi, menyindir.
Vira memalingkan wajahnya dengan mengusap kasar di pipinya. Menghapus air mata yang terus berjatuhan tiada henti. "Kau tahu, kau telah berhasil melukai hatiku Mas, untuk apa lagi kita teruskan pernikahan ini, jika banyak kebohongan di dalamnya? Aku akan tetap memilih perceraian, walau kau dan Mamamu tak pernah menyetujuinya." tegasnya lagi.
Dika menghela nafas berat, dan menggeleng-geleng kepala. Refleks Dika menarik tubuh Vira dan memeluknya erat dari belakang.
"Beri aku waktu! Iya aku minta maaf padamu, itu karena aku tidak bisa berpikir saat itu. Tapi tolong beri aku waktu untuk menjelaskannya pada Sindy siapa dirimu. Ku mohon Vira, aku janji akan bersikap adil pada kalian berdua. Asalkan kau jangan memintaku untuk menceraikanmu..." pintanya lagi, memohon.
Vira tetap menggelengkan kepala, bersamaan linangan air matanya. "Kau tak akan pernah bisa bersikap adil. Aku sadar siapa diriku, kau tak mungkin mencintaiku seperti Sindy Mas..."
"Tidak aku akan adil percayalah padaku. Asalkan kau mau memberiku waktu, Vira dengarkan aku!" Dika membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap padanya.
"Aku pasti akan mencintaimu juga seperti aku mencintai Sindy." tegasnya meyakinkan Vira lagi. Vira menggeleng lagi.
"Tidak Mas, ku mohon tolong lepaskan aku... Jangan pernah kau paksakan lagi, bila memang tak pernah cinta..." Vira melepas kedua tangan kekar Dika di bahunya. Lalu berpaling dari Dika dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai.
__ADS_1
Dika mengusap kasar wajahnya gusar. Mulai frustasi, karena tidak bisa membuat hati Vira luluh padanya. Tapi malah semakin Vira bertambah sakit hati karena ucapan jujurnya. Ya, Dika telah kelepasan bicara. Memang dia akui, dirinya tak pernah mencintai Vira. Vira yang baginya hanya sebatas pelampiasan naf-sunya belaka, di kala dia terbayang-bayang dengan sosok Sindy.
Tak lama Vira keluar lagi dari kamar mandi lalu membawa barang-barangnya seperti tas dan beberapa make-up-nya walaupun jarang Vira memakainya. Lalu berjalan hendak keluar kamar.
"Mau kemana? Kau mau bawa kemana barang-barangmu itu?" tanya Dika terheran.
"Untuk malam ini aku akan tidur di kamar sebelah. Aku tahu aku sudah tidak layak untukmu. Selamat ya, karena sebentar lagi kamu akan menikahi kekasih pujaan hatimu..." ucapnya datar tanpa menoleh dan melihat Dika.
"Kenapa kau bicara begitu terus, Vira!" Dika semakin frustasi.
Vira tak peduli lagi dengan sahutan Dika di belakang, dia terus berjalan keluar kamar dan masuk ke kamar sebelah. Mengistirahatkan dirinya di sana sementara waktu, sebelum dia memikirkan lagi cara untuk pergi dan menggugat cerai Dika.
****
Keesokan paginya. Dika terperanjat bangun karena suara dering alarm ponselnya Vira yang ada di dalam tas kerjanya. Karena Dika sengaja memang tak memberikan ponselnya lagi. Khawatir kalau Vira akan meminta Irfan datang dan membawanya kabur.
"Ya Tuhan, aku sudah telat! Kemana Vira kenapa dia tidak membangunkanku?!" kesalnya. Dika menoleh di sampingnya tidur. Dirinya lupa jika semalam Vira sudah tak lagi tidur bersamanya.
Setelah selesai mandi Dika memanggil istrinya untuk menyiapkan keperluannya. Tapi Vira sama sekali tak menyahut panggilannya. Dika semakin kesal dan menutup kasar lagi lemari bajunya. Lalu keluar kamar mencari istrinya dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Melangkah cepat ke kamar sebelah. Dika membuka pintunya lebar.
"Vira! Kenapa pakaian kerjaku belum juga kau siapkan?!" teriaknya. Tapi Vira tak ada di dalam kamarnya dan barangnya masih ada di meja. Terdengar suara orang yang muntah dari dalam kamar mandi. Dika lekas berjalan mendekati pintu. Mendekatkan telinganya di daun pintu.
"Vira?! Kau kenapa?" tanyanya heran. "Apa kau sakit heh?!"
Tak lama pintu terbuka dari dalam. Tampak wajah Vira semakin pucat pasi. "Apa kau sakit? Rasakan saja, itulah akibatnya jika tak makan kemarin!" sindirnya, dengan sedikit nada sinis.
Vira tak memperdulikan ocehan Dika dia berjalan dan kembali berbaring di kasur. Menutupi semua tubuhnya dengan selimut.
"Ayo bangun, bersiaplah! Aku bawa kamu periksa ke Dokter sekarang. Hari ini aku minta ijin tak masuk!" titahnya yang langsung melengos pergi.
"Tidak perlu, pergilah ke kantor. Aku tidak apa..." jawab Vira yang berhasil menghentikan gerak langkah Dika. Dika kembali menoleh padanya dan mendengus kesal.
__ADS_1
"Huuh kau?" jengkelnya, seraya mengepal erat tangannya. Mulai kesal dengan Vira yang bersikap tak biasanya. Karena sekarang Vira lebih sulit menurutinya. "Vira aku tak mau kau sakit. Mama pasti akan memarahiku nanti. Ayo turutilah perintah suamimu!"
Vira tetap tak menggubris perkataannya. Tapi Dika tetap juga bersikeras akan memeriksa keadaannya, walau Vira tak mau. Dika pergi ke kamarnya, meraih ponselnya di atas nakas lalu menghubungi Dokter untuk datang ke apartemennya.
Setelah menelepon dan sambil menunggu Dokternya datang. Dika memakai pakaian santai seadanya lebih dulu, untuk menelepon atasannya ijin tak masuk kerja hari ini, tapi ponsel berbunyi duluan sebelum Dika mengambilnya. Terlihat nama Sindy di layar ponselnya. Gegas Dika mengangkatnya dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Hallo pagi sayang..." ucapnya semringah.
["Hallo... Sayang, sekarang aku dan Kak Vicky sedang di perjalanan menuju apartemenmu.]
"A-apa?!" Dika terbelalak terkejut, panik. "Sekarang?"
["Ya sekaranglah masa tahun depan, ini aku bawakan banyak makanan untuk sarapan kamu, karena semalam kamu tak jadi makan malam di rumah Kak Vicky. Jadi ya aku bawa aja makanan ini ke apartemenmu."
"Em ta-tapi sayang, aku..." gagapnya.
["Jangan dulu berangkat kerja ya, ini bentar lagi kami mau nyampe kok! Dah dulu yaa...Byee...]
Tut tut tuuuttt....
"Sin, Sindy!"
Telepon sudah di matikan. Dika gelisah dan semakin panik. Dika menghembus kasar nafasnya. Lalu dengan kasar ia membanting ponselnya di atas kasur.
"Si*alan! Kenapa mereka buru-buru sekali ingin datang kemari! Aku yakin ini pasti hanya akal-akalan si lelaki sok bijak dan kaku itu!" umpatnya pada Vicky.
Bersambung....
...****...
Lanjuttt gaaak!! Ramein komentarnya yaah biar author semangat lanjutin kisahnya ❤️❤️❤️
__ADS_1