
...BAB 14...
...Sifat Asli Dika...
Malam pukul tujuh, Dika bergegas pulang setelah menelepon Vira, di kantornya, sedikit iseng menanyai kabar istrinya yang sedang melakukan apa. Ternyata Vira sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti acara pesta ulangtahun di mall, yang katanya sekalian belanja untuk kebutuhan dapur.
Dika hanya khawatir jika Irfan akan lebih dulu datang ke Apartemen mereka dan mengadukan soal tadi siang tentang kebersamaannya dengan Sindy. Karena semenjak itu dia juga belum sempat lagi bertemu dengan Irfan.
Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Dika masuk ke lift dengan langkah cepat. Senyumnya menyungging kala melihat Vira sudah berdiri di depan pintu apartement sambil memegang access card untuk membuka pintunya.
"Sayang kamu sudah pulang?" tanya Dika seraya melingkarkan tangan di pinggang Vira di sampingnya. Vira terkesiap kaget, menoleh pada Dika.
"Eh, Mas! kamu juga sudah pulang ya?!" sahutnya mengernyit, heran.
"Iya sayang... Hari ini Mas sengaja pulang cepat." ujarnya tersenyum gugup, lalu ia membantu Vira membawa keranjang belanjaan untuk mengisi kulkas mereka dan juga kantung bingkisan makanan dari customer yang merayakan ulangtahunnya tadi sore, mereka lalu masuk bersama.
Dika memang sudah tahu pekerjaan istrinya. Setelah menikah dengan Dika, Vira memang sudah tak lagi bekerja di toko kue. Karena tak di ijinkan Diana maupun Dika sendiri. Tapi Vira juga tak mau terus-terusan berdiam diri di rumah yang membuatnya jenuh tanpa aktivitas lain, hingga dia berinisiatif membuka pesanan kue ulangtahun dan pernikahan yang dia kerjakan sendirian di apartemen mereka. Dika tak melarang asalkan Vira jangan terlalu kelelahan.
"Bagaimana, kamu dapat berapa hari ini?" tanya Dika perhatian.
"Em, alhamdulillah hari ini aku dapat pesanan dua box besar kue ulangtahun, jadi total untungnya semua dapat 250 ribu, Mas..." ujarnya senang dan puas.
"Syukurlah sayang... Ya udah kalau gitu ayo kita makan bareng. Tadi Mas sengaja beliin gulai kambing di seberang kantor. Mas tahu kamu itu punya riwayat darah rendah jadi banyak-banyaklah makan daging kambing yah..." ucapnya perhatian.
"Terimakasih Mas, kebetulan siang tadi aku juga belum sempat masak." ujar Vira terharu.
"Iya, makanya itu aku tahu kamu pasti sibuk bikin kue. Aku juga tadi ga sempat sarapan masakan kamu. Sebagai gantinya aku beliin deh buat makan malam kita berdua." ungkapnya membuat Vira tersenyum tersipu.
"Terimakasih sekali lagi ya Mas... Aku pikir kamu sedang gak mood lagi makan bareng aku," Vira menundukkan wajahnya, hatinya tersentuh dengan semua perhatian Dika padanya. "Soalnya, tadi kamu juga sampai melupakan jam tangan pemberianku, jadi aku berpikir yang tidak-tidak tentangmu..." lirih Vira berkaca-kaca.
Vira menghela nafasnya dalam-dalam, mungkin sudah saatnya dia melupakan kecurigaannya itu pada Dika. Mungkin perkataan Dika juga ada benarnya, bisa jadi dirinya terlalu letih bekerja, hingga dia berhalusinasi tentang perempuan yang bersama Dika selama ini. Buktinya saja Dika tetap bersikap manis dan perhatian padanya.
Dika memeluk istrinya dan mengusap-ngusap punggungnya dengan lembut
"Kenapa kamu ngomongnya gitu terus sih? Maaf ya, tadi pagi memang Mas ada rapat mendadak di kantor, jadi lupa gak pake jam tangan kamu." dustanya lagi. Pria itu mengangkat satu sudut bibirnya, bangga tentunya. Karena begitu mudahnya bagi dia untuk merayu dan membuat Vira kembali percaya padanya.
Dika lalu mengurai pelukannya, menggandeng Vira ke ruang makan.
"Ayo kita makan bersama." ajaknya.
Dika menarik kursi untuk Vira duduk. Lalu dia mencuci tangannya dan mengambil mangkuk juga piring di rak.
"Biar aku saja Mas..." Vira menahan tangan Dika yang akan membuka bungkus gulai untuk di tuangkan di mangkuk.
"Sudah! Tidak apa-apa sekali-kali Mas saja yang lakukan. Kamu cukup diam dan duduk saja..." seulas senyum tampan Dika mampu membuat Vira kembali menurut.
Mereka pun telah siap duduk dan menyantap makan malam bersama.
__ADS_1
"Oh ya, tadi siang apa Irfan kemari?" tanya Dika tiba-tiba, di sela-sela makan mereka.
Vira mengangkat satu alisnya menoleh. "Irfan?! Tidak..." katanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ouuh, Mas pikir..." Dika mengangguk-angguk.
"Memangnya kenapa Mas, tanyain Irfan?!" Vira bertanya dengan dua alis terangkat.
Dika menggaruk keningnya yang tak gatal sambil memalingkan pandangannya.
"Ahh em, tidak ada kok, hanya tanya saja. Itu soal oleh-oleh yang aku belikan untuk dia, apa sudah kamu berikan padanya?" ngelesnya.
Vira mengangguk sambil meneguk air minum. Lalu meletakkan lagi gelasnya di samping piringnya.
"Udah Mas, tadi pagi aku mampir ke bengkelnya sekalian mengantarkan sarapan kita untuk dia makan." ujar Vira.
"Ooh... Syukurlah..." Dika pura-pura bernafas lega. Padahal bukan itu yang sebenarnya dia khawatirkan.
Vira melirik sekilas suaminya di sampingnya makan. Terlihat seperti ada yang tengah di pikirkan Dika dalam diamnya.
Dika yang tak sadar di perhatikan Vira, dia hanya tertegun dengan pikirannya sendiri. Menatap piringnya yang masih penuh dengan nasi dan gulainya. Wajahnya sedikit memerah. Benar-benar resah.
Aku harus siaga. Jangan sampai Irfan datang kemari dan memberitahukan masalah tadi siang ke Vira. geramnya dalam hati. Sambil mengepal sendok dan garpu di tangannya.
"Kamu kenapa Mas? Kok diam saja?" tanya Vira menyentuh lengan Dika dengan lembut. Sontak Dika tersadar dari pikirannya dan tergugup lagi.
"Ya sudah kalau begitu ayo cepat habiskan makannya. Lalu kamu mandi dan istirahat." titah Vira yang baru saja menghabiskan makanannya dengan lahap tadi.
Dika mengangguk-angguk sambil terus melanjutkan santapannya. "Iya sayang..."
Di kursinya makan, Dika tergugu, seraya netranya memperhatikan Vira yang berjalan mendekati wastafel menaruh piring dan gelas bekasnya makan yang lalu mencucinya langsung.
*****
Esoknya Vira kembali bergelut pada aktivitasnya di dapur, pukul lima setelah sholat subuh. Karena hal itu sudah terbiasa dia lakukan jadi ringan bagi dia untuk mengerjakannya. Apalagi sekarang, dia bertambah semangat memasak sarapan untuk tiga orang. Untuk dirinya, suaminya, dan juga adiknya.
Walaupun Irfan seorang lelaki tapi sebenarnya dia anak yang mandiri dan tak mau merepotkan kakaknya lagi. Setelah Vira menikah, Irfan tetap memilih tinggal di kontrakannya sendiri dan urusan dapur dia juga melakukannya sebisa mungkin. Namun karena pekerjaan di bengkel akhir-akhir ini menyita banyak waktunya, Irfan tak bisa lagi memasak sendiri atau sempat beli di warung makan. Untungnya Irfan punya kakak seperhatian Vira dan dengan senang hati kakaknya itu mau memberinya jatah sarapan setiap hari.
Dika yang sudah selesai mandi bergegas ke ruang makan menyusul istrinya, dengan masih memakai kolor juga kaos dalam warna putih ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh Dika yang atletis. Rambutnya yang masih basah dia usap-usapkan dengan handuk kecilnya yang menggantung di leher.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu, mengagetkannya yang sedang melangkah menuju dapur.
"Siapa itu? Pagi-pagi begini, sudah datang bertamu?" tanya Dika pada Vira yang sedang menghidangkan sarapan mereka.
"Ouhh... Itu paling Irfan!" jawab Vira sambil tangan memegang spatula dan satunya lagi memegang wajan berisi capcay campur udang yang masih mengepul panas, hendak di tuangkannya di piring berbentuk elips di meja makan.
__ADS_1
"I-Irfan?!" Dika tersohok kedua bola matanya bergerak-gerak. Kembali panik.
"Iya... Aku yang__" Vira yang belum sempat melanjutkan bicaranya, tetapi Dika sudah melengos pergi dengan secepat kilat menuju pintu depan.
Vira melongo yang lantas mengangkat kedua bahunya, terheran.
Sedangkan di luar, Irfan yang masih menunggu, berdiri di depan pintu. Cukup terkejut karena kakak iparnya yang membuka pintunya.
"Assalamu'alaikum... Pagi Mas Dika.." sapanya.
"Irfan!" Dika menatap bulat, menelan kasar salivanya, yang lalu Pria itu cepat-cepat menarik lengan adik iparnya agak menjauh dari pintu apartemen. "Sini dulu!"
"Ada apa Mas?!"
"Irfan mau apa kamu kemari pagi-pagi begini?!" semburnya dengan nafas yang sedikit tersentak benar-benar panik, takut apa yang di pikirkannya akan terjadi.
"Mas Dika ini aneh sekali, tentu saja aku kemari ingin bertemu mbak Vira." ucapnya santai.
"Mau apa bertemu Vira sepagi ini? Pastinya ada yang ingin kau bicarakam padanya bukan?!"
Irfan menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Ya... Tentu saja lah Mas.. Kan mbak Vira kakakku sendiri.."
Deg
Jantung Dika seakan tak berfungsi di situ. Semakin gusar. Dika mengusap kasar wajahnya yang mulai berkeringat.
"Fan! Mas mohon padamu, tolong kamu jangan ceritakan soal kemarin pada Vira. Kamu tak mau kan jika mbak mu sedih dan memikirkan yang tidak-tidak tentangku?!" pintanya tiba-tiba, dengan wajahnya mengiba.
Irfan hanya tersenyum menyungging menanggapi perkataan Dika padanya. Terlihat jelas dari sikap kekhawatiran kakak iparnya sendiri, seakan dia takut ketahuan Vira kalau dia memang benar-benar telah bermain serong dengan wanita lain.
"Oh kalau gitu, jadi benar perempuan itu adalah selingkuhanmu Mas?!" sindirnya membuat Dika telak dan bungkam.
"Benarkan?! Mas sudah main serong di belakangnya Mbak Vira?!" hunusnya dengan mata menatap tajam. Irfan tak merasa takut walau Dika adalah kakak Iparnya sendiri. Kalau dia di posisi benar tentu Irfan harus memperingatkan.
"A, ah...Bu-bukan begitu Fan! Tentu saja bukan. Aku tak berselingkuh dengannya!" sangkal Dika lagi, gelagapan dan jadi salah tingkah. Dia benar-benar terkecoh saat ini.
"Kalau memang bukan. Lalu kenapa Mas Dika harus ketakutan kayak gitu, heh...?! Justru sikap Mas yang gak tenang beginilah malah semakin Irfan curiga!" serkahnya.
Sontak Dika tercekat hingga kesulitan menelan air liurnya. Ya, Irfan benar kenapa dia malah terpancing dengan emosinya sendiri.
"Permisi Mas. Aku mau menemui Mbak Vira. Soalnya aku buru-buru!" ketus Irfan. Irfan melengos meninggalkan Dika yang masih gugup di sana.
"E-e Fan! Tunggu dulu!!" Dika pun melangkah cepat, mengejarnya.
Bersambung...
...****...
__ADS_1