Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Cinta Seorang Tukang Kebun


__ADS_3

...BAB 82...


...Cinta Seorang Tukang Kebun...


Satu minggu berlalu, akhirnya Sindy di perbolehkan Dokter pulang dan boleh melakukan rawat jalan di rumahnya. Kedua orangtuanya memutuskan akan membawa Sindy pulang ke rumah mewah milik Vicky, setelah Sindy yakin dengan keputusannya untuk tidak lagi tinggal bersama Dika. Hatinya masih sangat sakit, dengan perlakuan dan ucapan Dika padanya selama ini. Walau dirinya memang masih mencintai Dika sepenuhnya. Namun perasaan itu sekarang berbeda, dan Sindy menyadarinya jika saat ini keadaannya tidaklah sama seperti dulu. Mempertahankan pernikahannya dengan kondisi matanya yang sudah cacat?! Hanya akan menambah Dika semakin terbebani dan Sindy juga tak mau Dika menjadi malu mempunyai istri buta seperti dirinya, maka dari itu Sindy lebih baik menyerah dan menerima semua takdirnya. Jika memang suaminya berniat ingin berpisah darinya.


Keputusan itu tentu sangat di setujui oleh Vicky dan juga Ria, tetapi berbeda dengan Irman yang justru kurang setuju dengan perceraian itu. Karena menurutnya Dika adalah lelaki yang penuh tanggungjawab. Walaupun memang menantunya itu sudah melakukan kesalahan pada putrinya.


Di sela pembicaraan Vicky dan juga kedua orangtuanya Sindy. Vicky berjanji pada mereka akan mengobati kedua matanya Sindy, sampai Sindy benar-benar sembuh dan bisa melihat lagi, walaupun dia harus mengeluarkan banyak uang. Vicky tak perduli dia akan terus berjuang untuk kesembuhan adik sepupunya yang paling dia sayangi.


"Permisi, Nyonya Ria Nona Sindy. Apakah semuanya sudah siap?" dengan ramah Adam bertanya setelah mengetuk pelan pintu kamar rawat Sindy.


"Belum tunggu sebentar lagi." jawab Ria sedikit acuh, tanpa menoleh ke arah pintu. Selain masih sibuk mengemasi pakaian Sindy ke dalam koper. Ria juga malas bicara pada lelaki yang kini sudah bekerja menjadi assisten pribadinya Vicky, sekaligus juga putra dari mantan pembantunya di rumah besarnya dahulu sebelum terjadinya kebangkrutan bisnis perusahaan Irman yang ada di kota Semarang.


Entah mengapa Ria selalu enggan bertatapan mata dengan Adam setiap kali mereka bertemu, apakah karena malu pada dirinya sendiri ataukah masih tidak menyukai Adam? Adam belum pasti bisa menebaknya.


Sepintas Adam kembali teringat kejadian tujuh tahun yang lalu sebelum dia di usir Ria dan sebelum dia bekerja mendampingi Vicky, kejadian yang membuatnya malu setengah mati hingga sampai saat ini, sekaligus rasa sakit di hatinya, yang membuat harga dirinya terinjak-injak karena sebuah penghinaan Ria padanya dahulu. Saat itu Adam kepergok tengah sedang memperhatikan Sindy di balik tanaman bunga yang bermekaran, dari jauh.


Adam memang menyukai Sindy semenjak pertama kali ia bekerja menjadi tukang kebun di rumahnya Ria dan Irman. Kebetulan Ibunya Adam juga masih bekerja di sana sebagai Asissten Rumah Tangganya Ria. Karena saat itu Irman masih mampu memperkerjakan pembantu untuk membantu istrinya.


Adam tahu Ibunya sudah terlalu tua untuk mencari nafkah, begitu pun dengan Ayahnya yang sudah tidak di pekerjakan lagi di tempat keluarga Bagaskara karena saat itu Citra mendiang Ibunya Vicky telah tiada sehingga Adam berinisiatif menawarkan dirinya bekerja di rumahnya Irman sebagai pengurus tukang kebun, sekaligus ingin menemani Ibunya di sana.


Sejak itu usia Adam masih 22 tahun. Sementara Sindy masih berusia 17 tahun. Menurut Adam, selain cantik Sindy juga gadis baik dan ramah. Mesti Sindy seorang gadis yang lahir dari keluarga lumayan berada, tetapi dia tak pernah tidak menyapanya setiap kali mereka berpas-pasan bertemu di halaman rumah. Senyuman manis Sindy padanya membuat dada Adam berdebar-debar kencang. Hatinya selalu berbunga-bunga hanya dengan mendengar sapaannya saja.


"Apa yang sedang kau lihat?" pekik Ria menatap tajam ke arah Adam yang sedang berdiri memandangi Sindy dari jauh, dan tangannya yang masih menggenggam gunting rumput.


Sontak Adam terperanjat dan berbalik menoleh pada Ria, lalu menundukkan kepalanya tergugup, seketika wajahnya memerah malu.


"A-eh Nyonya. Sa-saya tidak melihat apapun Nyonya.." gelagap Adam menggeleng-gelengkan kepalanya kikuk.


Ria mengernyitkan dahinya lalu melirik Sindy di depan pagar besi, dan kembali menoleh pada Adam dengan wajahnya yang masam.


"Heh, memangnya aku tidak tahu apa yang sedang kau lihat barusan? Kau sedang melihat Putriku di sana iya kan?" tuduhnya seraya mendekap kedua tangannya di dada. Menunjuk ke arah Sindy yang sedang mengantar temannya pulang sampai gerbang pagar, dengan dagunya.


Adam menggeleng-geleng kepalanya lagi. "Maaf Nyonya saya tidak berani.." gelagapnya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura kamu. Sudah jelas tadi kulihat matamu itu melihat Putriku, enak saja Putriku di lihat-lihat seperti itu tadi olehmu. Jika aku melihatmu masih curi-curi perhatian dengan Putriku lagi, aku tak segan-segan memecatmu dari pekerjaan ini, dan jangan harap Ibumu juga bisa bekerja lagi di rumahku ini, mengerti!" gertaknya.


"Ya, aku akui Sindy putriku memang sangatlah cantik. Tapi meskipun begitu, Putriku tak akan pernah tertarik dengan lelaki miskin sepertimu, dan kau hanyalah anak daei seorang pembantu. Hahaha... Jadi berhentilah kamu bermimpi dari tidurmu, dan aku hanya akan merestui Sindy dengan Pria kaya dan bermartabat tentunya..." seringainya dengan gelak tawa yang menghina.


Adam meneguk cepat salivanya, wajahnya memerah menahan marah. "Maaf Nyonya, saya sama sekali tidak bermaksud begitu. Saya hanya sebatas menghormati juga mengagumi kebaikan Nona Sindy selama ini pada saya, selaku saya hanya seorang tukang kebun maaf jika memang saya sudah melakukan kesalahan..." ujar Adam dengan kepala tertunduk.


Ria mencebik bibirnya. "Ya, baguslah, kalau kau sadar diri! Awas saja kalau sampai kau berani macam-macam lagi, aku minta suamiku untuk pecat kau dan Ibumu!"


Adam mengangguk patuh, dan sejak itulah dia tak pernah lagi masuk ke dalam rumah walau rumah belakangnya Ria untuk meminta makan kepada ibunya. Adam khawatir jika dia berpas-pasan lagi dengan Sindy di dapur. Adam pun lekas mengambil makan siangnya ke belakang halaman rumah, setelah Ibunya memberikannya.


Adam pun duduk di samping kolam ikan hias mahal peliharaan keluarga Irman sambil menyantap makanannya. Tanpa sepengetahuannya tiba-tiba Sindy datang dan menghampirinya.


"Adam, kemana saja kamu selama seminggu ini? Aku tak pernah lihat kamu, kupikir kamu sudah tak bekerja lagi di rumahku.." ujarnya terlihat sedih namun kembali senang.


"Eh, No-Nona aku..." gegas Adam menundukkan kepalanya sambil menggaruk tengkuk lehernya, tak ingin melihat wajah putri majikannya. Khawatir dia tak kuat menahan pesonanya. Juga khawatir jika tiba-tiba Ria memergokinya lagi.


"Kata Ibumu kamu sedang makan di sini... Ini ada cemilan buatmu, aku baru saja pulang di pesta ulangtahun temanku di sekolah. Dimakan ya..." sodor Sindy tersenyum. "Ayo ambil..." titah Sindy lagi. Tampak ragu, namun Adam meraih bingkisan paper bag di tangan Sindy dan mengucapkan terimakasih.


Sindy pun mengangguk lalu berbalik kembali ke dalam rumah. Namun, setelah menapakkan satu kakinya ke lantai tiba-tiba Sindy terpeleset, karena lantai teras belakang masih licin karena baru selesai di pel Adam barusan.


"No-Nona tidak apa-apa kan?" Adam sangat cemas lalu berjongkok di hadapan Sindy, memeriksa semua badan Sindy, dan tak sadar tangannya menyentuh tangan juga lutut Sindy. Khawatir ada yang luka di sana.


Sindy menggeleng kepalanya sambil meringis kecil. "Nggak, nggak papa kok Dam.. Cuma sakit sedikit saja di pinggul. Untung ada kamu yang gesit nolongin aku barusan, coba aja kalau nggak ada kamu. Kepalaku bisa berdarah kena batu itu." tunjuk Sindy pada batu di samping kolam hias.


"Syukurlah kalau begitu..." Adam tersenyum lega, dan tak sengaja mereka kembali saling memandang.


Sindy memberinya senyuman manis lagi membuat jantung Adam kembali berdetak kencang, pipinya sontak memerah padam. Dan dia benar-benar tidak bisa untuk menyembunyikan perasaannya itu, kalau kenyataannya Adam memang sangatlah menyukai Sindy.


Sedang di dalam ruang keluarga, Ria yang mendengar teriakan Sindy gegas melangkah menuju dapur.


"Ada apa ini?" tanyanya pada Ibu Adam.


"Saya tidak tahu Nyah? Sepertinya itu suara Non Sindy..."


Ria mengerutkan dahinya, lalu keluar dengan cepat ke belakang rumahnya, di ikuti oleh Ibunya Adam. Sontak Ria tercengang melihat pemandangan putrinya bersama Adam yang sedang duduk di atas tanah. Saling berhadapan.

__ADS_1


"Ada apa ini? Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?" sentak Ria menatap tajam manik Adam.


Semenjak itulah timbullah kesalahpahaman dan kebencian Ria terhadap Adam, hingga saat ini seakan tidak pernah pudar. Adam di pecat hingga dia akhirnya bisa di percaya dan di pekerjakan oleh Vicky.


****


"Mah, aku boleh nggak naik mobil duluan?" pinta Sindy tiba-tiba. Ria mendongak ke arah putrinya yang duduk di tepi ranjang. Mengernyitkan dahinya heran.


"Kenapa Nak?"


"Aku takut kalau nanti, Mas Dika datang dan membujukku ikut dengannya. Sindy tidak ingin bertemu lagi dengannya Ma..." lirihnya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sindy sudah tak ingin mendengar suaranya, rasanya sudah malas untuk bicara dengannya lagi..."


Ria pun menghela nafasnya dalam lalu berdiri dan mendekati putrinya.


"Baiklah sayang, pergilah duluan ke mobil." angguk Ria. Sindy tersenyum dan mengangguk. Ria terpaksa meminta bantuan Adam lagi tanpa menoleh ke arahnya seperti biasanya.


"Eh kamu tolong bawa Sindy ke mobil duluan, aku masih mengemasi pakaiannya dulu..." ketusnya.


"E, em baik Nyonya..." Adam mengangguk tergugup. Lalu berjalan pelan mendekati Sindy yang masih duduk di tepi ranjang.


"Mari, Nona Sindy..." Adam agak ragu untuk mengulurkan tangannya, tapi dia berikan tongkat yang ada di samping meja untuk Sindy.


"Ya, terimakasih Adam..." angguk Sindy sambil mencari-cari pegangan tongkat itu. Namun tiba-tiba saja satu tangannya Sindy menyentuh tangan Adam dan memegang baju lengannya.


"Maaf ya aku selalu merepotkanmu, Adam..." ucap Sindy lirih dengan mata sendu menatap lurus ke depan.


Adam terkesiap, dan tersenyum menunduk. "Tidak apa-apa Nona... Tidak perlu minta maaf ini sudah tugasku dari dulu..." ucapnya.


Dari samping Ria melirik Adam yang membantu Sindy berjalan keluar pintu dengan hati-hati


Terbesit ada rasa malu pada dirinya sendiri, yang sudah pernah menghina dan mencaci Pemuda itu. Sekarang Ria pun seolah mendapatkan karmanya, kini dia memang sudah tak memiliki kekayaan seperti dulu lagi. Jika saja tak ada Vicky yang membantu perekonomian keluarganya, mungkin saat ini keluarganya sudah hidup terlantar di jalanan.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2