Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Sarapan Bersama


__ADS_3

...BAB 87...


...Sarapan Bersama...


Suara pintu kamar pun terdengar di ketuk dari luar. "Maaf permisi Tuan, Nyonya..."


"Iya Bi?" jawab Vira dari arah balkon hendak masuk ke dalam kamar.


"Sarapannya sudah siap, Tuan, Nyonya dan Nona Sindy sudah menunggu di meja makan.." serunya.


"Ya Bi, terimakasih nanti kami menyusul." seru Vira lagi.


Sementara Vicky ke kamar mandi, Vira dan Aqilla turun duluan pergi ke ruang makan. Di sana Ria tengah menyiapkan sarapan bersama dua pelayan, Sindy dan Irman duduk bersampingan sambil berbincang. Vira yang ingin membantu Ria pun, tiba-tiba mengurungkan niatnya karena terdengar suara bel berbunyi dari luar.


"Em, biar aku saja yang bukakan pintunya..." ucap Vira pada mereka. Vira tahu diri kalau semua pelayan sedang sibuk di dapur dan di ruang makan, maka itu Vira menawarkan diri untuk ingin meringankan pekerjaan mereka.


"Qilla ituut..." Aqilla berlari kecil mengekori Vira di belakang lalu Vira menggandeng putrinya berjalan bersama ke depan pintu.


Vira membuka pelan daun pintu sehingga terlihatlah seorang lelaki manis tengah berdiri tegak dan tersenyum ramah pada Vira.


"Adam?!" sahut Vira menaikkan dua alisnya, membalas senyum lelaki yang tak jauh dari usianya. Lalu Vira membuka pintu itu dengan lebar.


"Pagi Nyonya Vira,.. dan hallo juga anak cantikk..." sapanya pada Aqilla, sambil mengusap puncuk kepala balita itu.


"Maaf Nyonya bila kedatangan pagi saya ini mengganggu..."


"Tidak ganggu kok Dam, baru saja kami mau sarapan bersama. Ayo masuklah. Mas Vicky masih mandi." ujar Vira yang di angguki langsung oleh Adam. Adam pun masuk mengikuti Vira dan duduk di sofa ruang tamu.


"Em... Nyonya, saya kesini hanya ingin memberikan dokumen yang Pak Vicky tanyakan kemarin sore.."


"Oh, ya sudah nanti biar aku berikan padanya. Kamu ikut sarapan dulu yuk sama kami.." ajak Vira pada Adam.


"Ah terimakasih Nyonya, tidak perlu..." ucap Adam menggeleng sangat sungkan.


"Ayolah Dam, biasanya juga kan kamu ikut makan bersama di mansion..." tutur Vira merenggutkan bibirnya, Adam sebenarnya ingin menolak lagi, tapi tiba-tiba Aqilla menarik tangannya seperti biasanya, yang pernah ia lakukan jika tinggal di Mansion, hingga masuk ke ruang makan.


"Ayuuk, Om ayuuk.. Itut mamam ma Qillaa.."


"Ah, Aqilla jangan Om belum lapar..." bisiknya pelan.


"Hei Adam?" sapa Irman.

__ADS_1


"Pagi Tuan, Nyonya..." rengkuh Adam sopan pada mereka.


Inilah yang membuat Adam sungkan dan enggan di ajak makan Vira seperti biasanya. Karena di depan mantan majikannya dulu, ada rasa trauma terdalam. Adam selalu merasa rendah diri di depan mereka terutama di depan Ria, sebab dia hanyalah seorang anak dari keluarga miskin dan tidak lah pantas untuk duduk dan ikut makan bersama mereka. Namun berbeda halnya dengan perilaku Vicky dan Vira terhadapnya, yang selalu menganggapnya sebagai keluarga.


"Adam?" Sindy terkesiap mendengar suara lelaki yang pernah membuat dia tersenyum saat dia masih remaja.


"Pagi Nona Sindy..." sapanya.


"Kemarilah duduk makan bersama kami..." ajak Sindy tersenyum senang, Sindy pun menarik kursi kosong di samping kirinya.


"Em, terimakasih sa-saya..." Adam tergugup tiba-tiba saja Sindy menyuruhnya untuk duduk di sampingnya, sementara mata lelaki itu masih melirik takut ke arah Ria yang sepertinya acuh dengan kehadirannya, seolah menutup mata dan telinganya. Apa yang terjadi dengan mantan majikan Ibu dan dirinya, Adam pun tak mampu memprediksinya.


"Duduklah Dam..." titah Irman lagi.


Adam menoleh pada Vira untuk meminta pendapatnya, namun lekas di angguki Vira sembari tersenyum.


"Ayo jangan malu-malu, udah kayak siapa aja sih kami ini sama kamu..." celoteh Vira menghilangkan kecanggungan yang ada pada asisten suaminya tersebut.


Awalnya ragu, tapi karena desakan mereka. Adam pun akhirnya menurutinya. Dia duduk di samping Sindy dengan perasaan gugup. Jantungnya kembali berdebar sama seperti tujuh tahun lalu. Ketika Sindy mengajaknya untuk makan bersama. Namun saat itu juga selalu di tentang oleh Ria, tapi sekarang Ria tak memperdulikannya. Mungkinkah Ria sudah tak membencinya lagi, pikir Adam dalam hati.


Tak lama Vicky turun dan menghampiri mereka. "Waah sudah berkumpul semua rupanya?"


"Iya Om.."


"Ayaah cinii-cinii dekat Qillaaa..." teriak Aqilla. Vicky pun lekas mendekati Aqilla dan Vira. Lalu sorot matanya tertuju pada Adam di sampingnya Sindy.


"Dam, kapan kau kemari?"


"Hehe baru saja Bos.." cengirnya.


Di ruang makan yang besar itu. Mereka pun menikmati sarapan bersama. Vira yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi, selesai mengambilkan nasi dan juga makanan untuk suaminya. Tiba-tiba suara bel berbunyi lagi dengan nyaring, dan mengejutkan mereka semuanya.


Mereka pun saling menatap terheran. "Wah siapa lagi tuh yang datang?" tanya Irman mengerutkan dahinya yang keriput. Vicky menggelengkan kepalanya.


"Em, biar aku saja yang lihat lagi, Om..." ucap Vira, dan ia kembali berdiri, lalu berjalan ke depan membukakan pintunya.


"Ya..?" Vira terkejut karena kali itu Dika-lah yang datang. "Ma-Mas Dika?" lirihnya. Vira pun menatap nanar wajah mantan suaminya yang sudah terluka sama halnya seperti Vicky. Sudah pasti itu akibat dari perkelahian mereka kemarin sore.


"Hallo Vira senang bertemu denganmu lagi..." ucapnya gugup.


Vira tersenyum mengangguk. "Mas mau cari Sindy kan?" tebaknya. Dika mengangguk kikuk.

__ADS_1


"I-Iya, apa dia baik-baik saja..." tanyanya.


"Iya, alhamdulillah Sindy baik, ayo masuklah... Temuilah dia, kebetulan pagi ini kami semua sedang sarapan bersama. Kamu juga ikut makan bersama kami ya..." ajak Vira.


"Ah, tapi..."


"Ayolah Mas... Aku tahu maksud kedatanganmu kemari. Kita bicarakan setelah sarapan bersama nanti ya..." saran Vira tersenyum.


Dika pun melangkah masuk dengan ragu, membuntuti Vira dari belakang. Setelah keduanya sampai di ruang makan, Dika tersohok melihat Sindy yang duduk di sampingnya Adam sambil tertawa renyah. Padahal kondisi matanya yang buta. Tapi Sindy terlihat bahagia di temani oleh asisten suami mantan istrinya tersebut.


"Ehm, ehm..." Dika mendeham pelan sehingga suasana ramai di meja makan itu mendadak sunyi.


Irman, Ria dan Adam menoleh bersamaan dan cukup terkejut melihat kedatangan Dika. Termasuk Vicky, tapi dia hanya melihat dengan tatapan datar. Masih tergambar rasa tak suka di raut wajahnya.


Namun Vicky masih di ingatkan dengan perkataan istrinya barusan di atas balkon kamar, sehingga dia memilih untuk diam dan memalingkan wajahnya. Dika di sana menatap Vicky yang membuang muka darinya, tak sangka jika Vicky akan diam tak meresponnya, tidak seperti yang di bayangkan sebelum ia datang kemari. Vicky akan marah dan mengusirnya keluar.


"Selamat pagi semuanya... Papa, Ma..." sapa Dika yang langsung meraih tangan kedua mertuanya bergantian.


"Dika hei, ayo-ayo ikut makan bersama kami..." sambut Irman tersenyum lebar. Namun tidak dengan Sindy, yang lekas wanita itu beranjak dari kursinya. Pupil matanya bergetar dan berkaca-kaca merah.


"Mau apa kau kemari?" tanyanya dingin.


"Sindy kita harus bicara..."


"Pergi!! pergi dari rumah ini!" bentaknya. Sindy menggeleng cepat kepalanya. "Aku tidak ingin bertemu denganmu, bahkan mendengar suaramu lagi aku sudah sangat muak!"


"Sin, aku mohon maafkan aku..." lirih Dika, kini dia berjalan mendekati Sindy dengan tatapan sendunya. "Aku tahu aku bersalah padamu..." ucapnya lalu meraih tangan Sindy, namun segera di tepisnya lagi.


Sindy pun bergerak ingin menghindari Dika namun dia malah tersandung kursi dan nyaris saja terjatuh. Kalau saja Adam tak menahan tubuhnya di belakang.


"Ah, hati-hati Nona!!" paniknya.


"Aah, Adam..." desah Sindy, spontan wajahnya menoleh ke samping.


Sehingga wajah Sindy saat itu pun, sangat dekat dengan wajah Adam, dan wajah Adam berubah memerah ketika merasakan nafas hangat Sindy yang membelai wajahnya.


Sedang Dika tercengang melihat adegan yang tak di sengaja itu.


Bersambung...


...****...

__ADS_1


__ADS_2