Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Sama-Sama Anak Korban Perselingkuhan


__ADS_3

...BAB 85...


...Sama-Sama Anak Korban Perselingkuhan...


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Vira masih terjaga dan baru saja selesai menidurkan Aqilla di tempat tidurnya. Lalu Vira melirik jam di ponselnya. Dahinya mengerut dalam dan bertanya.


"Sudah jam sembilan, tapi Mas Vicky belum juga pulang ya? Tumbenan sekali..." gumamnya mulai cemas, lalu Vira mencoba menghubungi Vicky sambil berjalan keluar kamar, menutup pintu dengan pelan. Vira hanya tak ingin jika suaranya nanti akan menganggu putrinya yang baru saja tertidur setelah susah payah membujuknya.


Tak lama telepon pun di angkat oleh Vicky. "Hallo Mas, kamu masih di mana? Kok tumben jam segini kamu belum pulang?" tanya Vira.


["Maaf sayang, ini Mas masih di kantor. A-ah.. Ssshhh pelan-pelan..."] ringisnya.


"Mas kamu kenapa?" tanya Vira terkejut panik. Mendengar suara Vicky seperti tengah terluka yang sedang dalam di obati.


["Ah-aa tidak-apa-apa sayang hehe..."] gelagapnya terdengar sangat gugup.


"Bohong, barusan ku dengar suara kamu kayak kesakitan gitu?" selidik Vira, mengerutkan dahinya penuh tanya.


["Beneran tidak apa-apa sayang hehe... Em sayang malam ini, Mas ijin nginep di kantor dulu ya. Banyak sekali pekerjaan yang belum terselesaikan disini..."] sahutnya tiba-tiba.


Mendengarnya, membuat Adam yang duduk di sampingnya Vicky yang sedang fokus dengan ponselnya, hanya menggelengkan kepala sambil bibir berdecak meledeknya.


["Katakan saja, nggak perlu di tutup-tutupi lagi..."] celetuk suara Adam samar terdengar oleh Vira.


Vicky menoleh dan sontak melototi Adam dengan wajah memerahnya, agar Adam tak memberitahukan sebenarnya apa yang sudah terjadi pada dirinya kepada istrinya. Adam pun menahan tawanya sambil menekan perutnya.


"Apa maksudmu Dam?" tanya Vira. "Apa yang nggak usah di tutup-tutupi? Hallo Mas Vicky, Adam? Apa yang sudah terjadi?" sahut Vira semakin cemas. Dahinya berkerut penasaran.


["Ah em, tidak ada apa-apa sayang... Adam, dia... Sedang bicara dengan beberapa karyawan yang ku suruh lembur di sini..."] dustanya berusaha bersikap santai.


"Benarkah? Ya sudah kalau memang tidak ada apa-apa. Baiklah aku ijinkan kamu tak pulang semalam ini. Tapi besok pagi kamu harus sudah ada di rumah dan ikut sarapan bersama kami ya... Soalnya Aqilla tanyain kamu terus dari tadi..."


["Ah ta-tapi?] Vicky semakin tergugup dengan keringat mengucur di dahinya. Sulit untuk tidak bisa menolaknya.


"Tidak ada tapi-tapian Mas... Kasihan Aqilla tadi dia susah tidur karena nangis terus nyariin kamu..."


[Benarkah, ah kasihan sekali putriku, dimana dia sekarang?"]


"Dia baru saja tidur, kamu tahu sendiri 'kan kalau malam dia pengennya tidur sama kamu terus..."


["Aah, iya kamu benar... Baiklah Mas akan usahakan untuk pulang pagi, walau sebenarnya sih pekerjaan Mas di sini benar-benar tidak bisa di tinggalkan. Tadinya Mas mau dua atau tiga hari nginep di kantor dulu..."] dustanya lagi.


"Maaf ya Mas..." desah Vira.


["Tidak apa-apa sayang.. Demi putri kecilku akan kulakukan apapun... Meski aku harus mengorbankan nyawaku sendiri..."] ucapnya. Vira yang mendengarnya mendadak maniknya jadi berkaca-kaca terharu.


"Makasih banyak ya Mas... Kamu terlalu baik untuk Aqilla.. Aku sangat beruntung sekali, bisa menjadi istrimu..." lirih Vira tak bisa menahan air matanya karena perlakuan Vicky pada putri tirinya.

__ADS_1


["Kamu tidak perlu berterimakasih padaku sayang, sudah sepatutnya aku menyayangi Aqilla. Melihat Aqilla seolah aku melihat diriku sendiri..." Vicky menghela nafasnya dalam-dalam lalu ia tersenyum miris. "Kau pun pasti tak menyangkanya kan, kenapa aku begitu sangat menyayangi Aqilla..."]


Vira lagi-lagi terenyuh dengan ucapan suaminya tersebut. Vira mengangguk mengerti, kenapa Vicky begitu sangat menyayangi putrinya. Karena mereka adalah sama-sama anak korban perselingkuhan. Terlihat jelas di saat Dika membawa Aqilla pergi, dia sangat marah dan seakan takut akan kehilangannya.


Setelah Vicky mendapat ijin Vira untuk menginap dulu, Vicky pamit dan menutup sambungan teleponnya. Dia berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya yang masih menumpuk, padahal dia hanya ingin menghindar dari pertanyaan istrinya dulu agar Vira tak shock saat melihat keadaan dirinya yang sudah babak belur karena ulah Dika.


"Kau nyaris saja beritahu istriku!" gerutunya pada Adam yang langsung terkekeh kencang melihat wajah Bosnya yang sudah pucat pasi karena ketakutan.


"Ku pikir kau lelaki yang hebat Bos, tapi di depan istrimu ternyata kau ini tidak ada apa-apanya, badanmu saja yang tinggi besar. Tapi tipe-tipe lelaki susis!" ledeknya. Vicky mendelik kesal.


"Susis apaan tuh? Sosis kali?"


"Susis Bos, bukan sosis..." ralat Adam. "Ya itu alias Suami takut Istri..." jelas Adam menekankan nada suaranya.


Sontak wajah Vicky memerah padam, malu bercampur jengkel tentunya, dan Adam memang tak salah jika Vicky tipe lelaki takut istri. Takut akan kehilangan Vira untuk yang kedua kalinya.


Adam di sana kembali tertawa nyaring, sudah lama sekali Adam tidak mencandai Bosnya lagi. Walaupun Vicky lelaki yang terkesan kaku dan serius. Tapi kadang-kadang Adam juga suka mencandainya di sela waktu yang tak begitu padat, agar Bosnya itu selalu rileks untuk menghadapi hidupnya. Dokter Damar sekaligus juga Dokter pribadi keluarga Bagaskara, yang baru saja selesai mengobati luka lebam di wajah Vicky pun ikut tergelak tawa mendengar ledekan Adam.


Vicky mencebikkan bibirnya. "Ada-ada saja kau ini!" Lalu Vicky tertunduk tersipu, wajahnya bertambah merah sambil memandangi foto profil Vira yang sedang memangku Aqilla.


Setelahnya dia menyenderkan kepalanya ke belakang sofa. "Aah, sekarang bagaimana aku harus jelaskan soal luka-luka lebam di wajahku ini padanya nanti?" desahnya mulai frustasi. Adam dan Dokter Damar itu hanya saling menatap dan mengangkat bahunya


****


Matahari pagi mulai terbit, tepat pukul tujuh pagi. Mobil Vicky telah sampai di pelataran rumah. Pelan langkah kaki panjang pemilik lelaki berwibawa itu memasuki rumah. Berusaha untuk terlihat baik, walau sebagian wajahnya masih terlihat membiru bekas luka pukulan Dika semalam.


"Vicky, kamu sudah pulang Nak?" sambut Ria dan juga Sindy di sampingnya.


"Pagi Tante, Sindy... Bagaimana kabarmu sekarang?" sapa Vicky yang langsung memeluk adik sepupu kesayangannya setelah mencium punggung tangannya Ria.


"Aku baik Kak... Hanya saja semalaman aku kurang tidur karena anak itu terus saja menangis mencarimu." sindir Sindy yang sebenarnya di hatinya sedang menggerutu kesal.


"Aqilla maksudmu?"


Sindy mengangguk. "Ya anak siapa lagi di sini Kak, selain Aqilla?"


Vicky menahan senyumnya. "Maaf ya, aku tahu kamu masih belum terbiasa tinggal bersama Aqilla. Tapi lama-kelamaan kamu pasti akan senang ada Aqilla di sini."


"Ya, senang tak senang lah Vick. Namanya juga anak, tapi ya... Kita sebagai orangtua juga harus tegesin. Anak itu nyaris saja buat luka di kakinya Sindy." celetuk Ria sambil mendekapkan kedua tangannya di dada. Vicky menoleh terkejut dengan ucapan Ria.


"Apa? Memangnya ada apa Tante dengan Aqilla?" tanya Vicky membulatkan matanya.


"Kemarin Aqilla pecahin gelasnya Sindy dan jatuh tepat di kakinya. Untung saja tidak ada luka yang serius. Ya kan sayang?" jelasnya lagi menoleh pada Sindy sambil mengusap punggungnya. Sindy pun mengangguk-angguk mengiyakan perkataan Ria.


"Mecahin gelas?" Dahi Vicky berkerut. Ria kembali mengangguk. "Oh tapi benarkan kamu tidak apa-apa Sin?" tanya Vicky khawatir juga dengan kondisi Sindy lalu Vicky berjongkok hanya ingin melihat kaki adiknya memastikan tidak ada yang terluka di sana.


Sindy menggeleng. "Tidak ada Kak, cuma saja pecahannya nyaris menusuk kakiku.." jawabnya dengan nada manjanya di depan Vicky.

__ADS_1


"Em, kakak minta maaf ya... nanti Kakak akan bilangin Vira, supaya Aqilla lebih di awasi..." ucap Vicky mengusap rambut kepala Sindy.


"Iya memang sebaiknya begitu..." Ria membenarkan tindakan Vicky lalu sekilas Ria menyadari jika ada lebam di wajah keponakannya itu. "Vick, kenapa dengan wajahmu? Kamu habis berkelahi?" tanyanya, mengernyitkan dahinya memperhatikan lebih jelas wajah Vicky.


Sindy ikut terkejut mendengarnya namun dia tak bisa melihat wajah Vicky, sangat kesal rasanya.


"Tidak ada Tante, i-ini Vicky habis terjatuh di kursi kantor kemarin..." dustanya lagi sambil menggaruk tengkuk lehernya. "Oh iya sekarang dimana Vira dan Aqilla?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Nak Vira sedang memandikan Aqilla di kamarnya Vicky, loh kamu baru pulang ya?" jawab Irman yang baru saja masuk dari pintu belakang selesai berolahraga pagi.


"Ah iya Om.."


"Kenapa dengan wajahmu, Nak?"


"Tidak apa-apa Om hanya sedikit lecet, pas itu Vicky ketiduran jadi jatuh di kursi deh." sangkalnya lagi. "Oh ya Vicky ke atas sebentar dulu ya Om Tante mau mandi dan ganti pakaian.."


"Iya sayang..." jawab Ria.


****


Vicky lekas bergegas ke kamar, dia sudah ingin sekali bertemu dengan istrinya dan putrinya.


"Sayang... Kamu dimana?"


"Mas, aku disini..." serunya. Vira masih duduk di kursi teras balkon kamarnya.


Vicky pun melangkah keluar balkon kamarnya, dan terkejut melihat Vira yang sedang asyik menyuapi Aqilla di sana.


"Ayaaah..." Aqilla meloncat gembira lalu berlari memeluk Vicky. Vicky pun menyambut memeluk putrinya.


"Sayang kok kamu nyuapin makan Aqilla di sini?" tanyanya heran. Setelah menggendong Aqilla.


Sejenak Vira tertunduk lalu kembali mendongak tersenyum menatap suaminya. "Tidak apa-apa Mas... Di sini tempatnya nyaman, bisa lihat pemandangan kota Jakarta juga dari atas." kilahnya.


"Oh, kirain kamu tak mau makan di ruang makan seperti biasanya..."


"Bukan kok, Aqilla cuma rewel saja dari kemarin siang. Makanya aku ajak makan di sini. Supaya dia terhibur..."


"Ohh.." Vicky mengangguk mengerti. Lalu Vira berdiri dan mendekati Vicky setelah menyimpan mangkuk makan Aqilla di meja kecil. Dahinya mengerut ketat, melihat jelas luka lebam di pipi dan bibir suaminya. Lalu tangannya terulur menyentuh dagunya.


"Kamu kenapa Mas? Apa yang sudah terjadi dengan wajahmu? Kamu habis berantem iya?" tanyanya beruntun dengan menatap sorot tajam manik suaminya.


Vicky pun menghembuskan panjang nafasnya lalu tersenyum kikuk dan memalingkan pandangannya. "Ini Mas, kemarin habis terjatuh dari kur_"


"Bohong, aku tahu kalau itu adalah luka pukulan!" sela Vira tegas, memotong ucapan Vicky.


Bersambung...

__ADS_1


...***...


Buat readers setia aku double up hari ini ya... Makasih yang selalu beri like dan komennya. Makasih dukungan dan semangatnya 🥰


__ADS_2