Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Pov Vira Adelia


__ADS_3

...BAB 6...


...POV VIRA...


Aku Vira Adelia, hari ini aku menginjak usia ke 29 tahun, aku berasal dari kota Surabaya. Aku sudah tak memiliki Ayah dan Ibu lagi, keduanya sudah menghadap Illahi lebih dulu. Ayah meninggal waktu usiaku masih 10 tahun. Beliau meninggal karena mengalami kecelakaan saat bekerja melakukan proyek bangunan, beliau terjatuh dari ketinggian 50 kaki. Sedang Ibuku meninggal setahun yang lalu karena beliau mengidap sakit jantung yang bocor.


Kini satu-satunya keluarga yang ku miliki hanyalah adik laki-lakiku seorang, Irfan Ardinata itulah namanya. Dia adalah adik yang pengertian, sabar dan penyayang. Bahkan ketika Ibuku sakit dan harus segera di larikan ke Rumah Sakit di Jakarta 7 tahun yang lalu. Irfan tidak keberatan kalau dia harus keluar dan tak meneruskan lagi sekolahnya. Saat itu Irfan masih duduk di bangku kelas Xll SMA. Padahal sebentar lagi dia akan menjelang kelulusan. Namun karena keadaanlah yang harus membuat kami terpaksa pindah ke Jakarta. Setelah rumah kami laku terjual di Surabaya. Aku dan adikku membawa Ibu kami ke Jakarta untuk pengobatan namun tak bertahan sampai 6 tahun beliau akhirnya meninggal di Jakarta.


Hasil penjualan rumah kami di Surabaya hanya laku 300 juta rupiah. Saat di Jakarta kami tinggal di tempat kontrakan kecil karena kami tak mampu membeli rumah. Sebagian uangnya harus kami gunakan untuk biaya pengobatan Ibu.


Sebelum kami pindah ke Jakarta. Sebenarnya aku sedih harus meninggalkan kota kelahiran kami. Di sana banyak kenangan indah bersama mantan kekasihku, Vicky Bahru Sanusi. Kami terpaut usia hanya dua tahun. Dia kakak kelasku sendiri. Walaupun usianya lebih tua dariku tetapi Pria itu masih kekanakan sekali juga sikapnya yang keras kepala membuat aku agak pusing memikirkannya. Tapi meskipun begitu aku sangat mencintainya. Karena dia Pria pertama kalinya yang mengenalkan ku apa artinya cinta? Cinta yang suci dan juga sebuah ketulusan tanpa memandang perbedaan.


Pertama kali aku bertemu dengannya dia dalam keadaan di keroyoki oleh para siswa SMA tetangga. Aku yang baru tahu jika kami ternyata di satu sekolah yang sama dengan melihat logo sekolah kami, sebab aku siswi baru menginjak kelas X SMA jadi tak terlalu mengenal Vicky. Melihat dia di sakiti, segera aku lari menolong dan membelanya.

__ADS_1


Aku tak suka kekerasan. Mereka langsung aku laporkan saja kepada pihak yang berwajib. Vicky aku bawa ke rumahku dan aku obati lukanya.


Namun setelah dia ku bawa ke rumah kecilku, dia terlihat iba dengan keadaan rumahku yang tak layak menurutnya. Ya, mau bagaimana lagi. Aku memang terlahir dari orangtua yang tak mampu. Namun walau begitu aku tetap menyayangi mereka, kedua orangtuaku yang telah membesarkanku. Vicky merasa prihatin dengan keadaan diriku yang setiap sekolah melihatku selalu berjalan kaki. Akhirnya dia datang dan menawariku untuk naik motor bersamanya. Aku menolaknya secara halus karena aku tahu banyak siswi-siswi di sekolah kami yang begitu mengagumi Vicky. Aku hanya khawatir kedekatan kami membuat siswi lain jadi cemburu dan membenciku. Jelas banyak sekali yang menyukai Vicky, dia tak hanya anak dari keluarga kaya raya, namun wajahnya juga tak kalah tampan seperti oppa artis korea.


"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku biasa berjalan kaki. Lagipula rumahku kan tidak terlalu jauh dari sekolah..." ucapku.


"Naiklah, aku bilang kamu naik ya naik! Jangan membuatku kesal!" gerutunya.


Ya, semenjak aku menolong dia. Dia berjanji akan mengantar dan menjemputku sekolah. Aku sudah katakan bahwa aku tulus menyelamatkan dirinya. Tapi dia tetap terus ingin membantuku. Hingga pada waktu dimana aku nyaris saja di berhentikan di sekolah karena tak mampu membayar iuran bulanan. Vicky terenyuh dan turun tangan membantu membayar semua biaya sekolahku hingga sampai aku lulus di sekolah itu.


Betapa banyak jasa yang sudah Vicky berikan untuk keluargaku. Aku jadi tak enak hati. Tapi dia senang melakukannya. Bahkan dia juga membiayai sekolah Irfan yang masih SMP. Vicky melakukannya semata-mata karena ingin membantu meringankan ibuku yang memiliki penyakit jantung.


Inilah kenapa aku sangat menyukai Vicky dia ringan tangan, mudah mengulurkan bantuan pada oranglain.

__ADS_1


Ketika aku mulai menyukainya bukan karena sebagai teman tapi layaknya seorang wanita pada Pria. Kupikir aku hanya memendam perasaanku sendiri. Tapi aku bagaikan di atas angin, ternyata Vicky juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dia menyatakan cintanya setelah dia lulus dari Sekolah. Dia ingin aku menunggunya setelah dia selesai kuliah. Dia berjanji akan melamarku dan menjadikan aku satu-satunya wanita yang dia cintai.


Aku bahagia sekali kala itu, namun ternyata semua hanya impian omong kosong bagiku. Setelah aku di perkenalkan oleh Vicky pada keluarganya. Ternyata Mamanya Vicky tak menyetujui hubungan kami. Dia memintaku untuk menjauhi Vicky. Karena mereka sudah menjodohkan Vicky dengan wanita lain. Hatiku hancur berkeping-keping mendengarnya. Tak terima, tapi Sophia terus mengancamku dan membuat aku menderita. Akhirnya aku mundur dan menyerah mempertahankan Vicky.


Seminggu setelahnya, aku berusaha menjaga jarak pada Vicky. Aku tak ingin terus bergantung padanya. Aku menghindarinya setiap kali dia ingin bertemu denganku. Dia kesal dan frustasi, mungkin dia bertanya pada pikirannya. Kenapa aku bisa berubah?


Hingga suatu hari Vicky datang menemuiku di tempat kerjaku. Dia tiba-tiba membentakku dengan kasar dan lalu menuduhku telah menjual tubuhku pada Pria lain.


Hal yang menyakitkan dalam hidupku ketika seseorang yang teramat aku cintai, dengan tega memfitnah dan menghinaku terang-terangan. Aku akhirnya memutuskan hubungan sepihak dan pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Mungkin itu lebih baik dan kami tidak lagi saling mengharap untuk bersama lagi.


Bersambung....


...****...

__ADS_1


__ADS_2