Kisah Yang Belum Usai

Kisah Yang Belum Usai
Hamil Tiga Minggu


__ADS_3

...BAB 22...


...Hamil Tiga Minggu...


Mobil taksi berhenti di salah satu Rumah Sakit di Jakarta. Vicky memangku Vira dengan hati-hati keluar dari mobil, setelah supir taksinya membukakan pintu untuknya.


Perawat-perawat di area Rumah Sakit itu ikut panik melihatnya dan dengan sigap mereka mengambil sebuah brangkar untuk membaringkan Vira di sana, membantu Vicky membawanya masuk ke ruang UGD.


"Kenapa dengan istrinya Pak?" tanya salah satu suster tersebut seraya mendorong brangkar di lorong Rumah Sakit. Vicky yang di tanya malah gelagapan jadi salah tingkah, rona di wajahnya berubah merah. Suster-suster itu menyangkakan bahwa Vira adalah istrinya Vicky sendiri.


Ah seandainya itu benar. Kalau Vira adalah istriku... bathinnya yang masih sangat kecewa.


"Eng... Barusan tiba-tiba saja pingsan." jawab Vicky singkat.


"Oh... Ya sudah kalau begitu, Bapak bisa tunggu dulu di sini. Kami lakukan pemeriksaan dulu sama istri Bapak ya..." ujar suster itu lagi, yang lalu di angguki oleh Vicky di sana.


"Baiklah, silakan suster!"


Lalu kedua suster tadi menutup pintu ruang UGD setelah membawa brangkar Vira masuk ke dalam.


Vicky pun tampak gelisah seorang diri di sana. Lalu berjalan mondar-mandir di ruang tunggu menghilangkan kecemasannya. Dia berharap tak terjadi sesuatu yang buruk dengan Vira.


****


Sementara itu, Dika yang sedari tadi duduk terdiam saja di kursi sebuah Restoran, tanpa sedikit pun ia menyentuh makanannya di meja. Rasa-rasanya selera makannya jadi hilang begitu saja, karena pikirannya terus pada Vira, yang entah bagaimana keadaannya sekarang? Setelah dia mengetahui kalau Dika sudah mengkhianatinya. Rasanya Dika ingin segera pulang untuk menyusul Vira, namun dia juga tak enak jika harus meninggalkan Sindy tiba-tiba.


"Eh, tadi katanya dia adik Mamamu. Kok kamu nggak pernah ngasih tahu ke aku sih, kalau punya tante cantik kayak gitu?!" cebik Sindy. "Terus sebenarnya Mama dan Papa kamu ada dimana?" Sindy sontak membuyarkan lamunannya Dika.

__ADS_1


"Em.. Sudah aku katakan sebelumnya padamu kan, kedua orangtuaku sedang tidak di Jakarta."


"Iya tahu tidak di Jakarta! Tapi pergi ke kota mana? Aku sebenarnya ingin sekali bisa berjumpa dengan keluargamu." sahutnya yang tak sabaran ingin sekali berkenalan dengan keluarga Dika.


Dika menggaruk belakang kepalanya, sempat bingung dan semakin risau. Sebenarnya soal tentang kedua orangtuanya Dika, dirinya juga sudah berbohong pada Sindy. Orangtua Dika yang sebenarnya tidak sedang pergi, dan memang ada di Jakarta ini.


"Mereka ada di Bandung..." jawab Dika dengan santai lalu meneruskan kembali makannya.


Sindy mengangguk percaya. "Ouh di Bandung... Lalu itu bekal makan siangnya kamu mau makan juga? Mamamu perhatian banget sih, sampe-sampe nyuruh Tantemu, mengantarkannya untukmu." Sindy terkekeh kecil meledek Dika.


Dika lagi bergeming seraya melirik bekal nasi buatan Vira, yang dia simpan di sisi mejanya. "Iya, tentu aku akan memakannya. Tapi nanti, kalau perutku terasa lapar lagi di kantor." ucapnya.


"Ayo habiskan makananmu. Nanti aku antar kamu lagi ke kantor. Jam istirahatku sebentar lagi juga sudah mau habis." Dika pura-pura melirik jam di tangannya, memburu-burukan Sindy.


"Oke, baiklah..." Sindy pun lekas menghabiskan makanannya.


Setelah setengah jam lamanya, mereka di Restoran. Dika pun mengantar lagi Sindy ke kantornya Vicky. Lalu dia kembali pergi ke kantor. Namun saat di tengah perjalanan, Dika menghentikan mobilnya dan mencoba menghubungi Vira. Telepon pun terus berdering tak di angkat-angkatnya.


"Apa selama ini Irfan sudah memberitahu Vira diam-diam soal kebersamaanku dengan Sindy?! Aah sial*n, kenapa aku bisa kecolongan segala sih! Buktinya Vira sampai membuntutiku menemui Sindy! Awas saja kau Irfan! Karena kau yang telah mengadukan ini semua, rumah tangga kami jadi berantakan! Kaulah yang harus bertanggung jawab dengan semua ini!" geramnya, nafasnya naik turun dan kedua tangannya mengepal kencang pada setir. Dika pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


****


Supir taksi tergopoh menghampiri Vicky yang masih setia menunggu Vira di depan ruang UGD yang masih dalam pemeriksaan Dokter.


"Pak, maaf ini tasnya Ibu.." sahutnya memberikan tas selempang Vira yang tertinggal di mobilnya. "Barusan ponselnya berbunyi terus di dalam tasnya." lanjutnya lagi.


"Oh terimakasih banyak..." ucap Vicky. Pak supir itu mengangguk, lalu dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ragu untuk menyampaikan.

__ADS_1


"Ngg.. Anu Pak, itu sebenarnya saya mau pamit bekerja karena harus kembali mencari penumpang lain..." ucapnya kikuk. "Dan... Ibu ini belum bayar ongkosnya, Pak!" katanya terkekeh kecil.


Vicky mengangkat satu alisnya lantas menatap seksama pada si Bapak supir. Lalu dia menepuk pelan keningnya. Sangking mencemaskan Vira, dia jadi melupakan si supir taksi yang belum dia bayar.


"Oh-ooh ya, maaf-maaf Pak! Baiklah berapa semuanya?" Vicky mengangguk-angguk dan lekas merogoh dompetnya di saku celana belakangnya.


"Tadi Ibunya bilang mau bayar dua kali lipat pada saya. Karena saya sudah mengantarnya ke sana kemari. Tapi, karena kondisi ibunya juga sedang tidak sehat, jadi nggak usah gak apa-apa. Saya ikhlas kok, jadi semuanya hanya 200 ribu saja Pak... Tarif normal."


Vicky mengeluarkan uang lima lembar uang merah. "Ya sudah, ini ambillah. Apa itu cukup!"


"Wah, ini mah terlalu kebanyakan Pak!" celotehnya tercengang, sambil menggaruk-garuk pipi kirinya. Vicky tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu si Bapak supir itu.


"Tidak apa-apa, ambil saja itu, semuanya buat Bapak, anggap saja itu rezeki dari Allah..." sahut Vicky.


"Kalau begitu saya ucapkan banyak terimakasih ya Pak.. terimakasih banyak .." Si supir taksi itu tak berhenti mengucapkan terimakasih pada Vicky, lalu ia pergi setelah pamitan dan mendoakan Vira agar cepat sadar kembali.


Tak lama kepergian si supir, seorang Dokter dan suster keluar dari ruangan setelah selesai pemeriksaan.


"Bagaimana Dokter keadaannya?!" Vicky pun buru-buru menanyakannya.


Dokter wanita itu tersenyum prihatin melihat Vicky. "Tidak apa-apa Pak. Anda tidak perlu khawatir. Istri anda hanya mengalami anemia karena terlalu kelelahan, akibatnya tensinya juga rendah. Jadi biarkan dia cukup istirahat dan banyak makanan-makanan yang bernutrisi. Terus selain itu ada kabar baik juga buat Bapak yang perlu kami sampaikan." jelasnya, membuat Vicky kembali mengerutkan dahinya bertanya.


"Ka-kabar baik?!" gelagapnya. Dokter itu mengangguk tersenyum.


"Iya, kabar baiknya... Istri anda tengah mengandung dan baru berusia sekitar tiga mingguan ini." terang Dokter itu lagi, yang sontak Vicky terhenyak kaget mendengarnya.


Tapi walau bagaimanapun, itulah kenyataannya yang terjadi. Wajar jika Vira hamil karena dia memang sudah menikah. Ada rasa nyeri di lubuk hatinya yang paling dalam. Dia sangat menyesali sekali. Toh, kenapa tidak dia saja yang menjadi suaminya saat ini dan mengandung anaknya sendiri pasti berita ini akan sangat membahagiakan bagi dirinya Pancaran di kedua manik Vicky semakin kian meredup karena tertimbun cairan bening yang menggenang di sana. Lekas dia menyeka buliran air itu di sudut-sudut matanya, yang entahlah harus bagaimanakah dia bersikap di depan Dokter dan para suster itu, berpura-pura sedihkah atau gembirakah?

__ADS_1


Bersambung...


...****...


__ADS_2